Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Khawatir


__ADS_3

Semalaman ini Riana tidak dapat tidur. Padahal Gavin tidur sangat nyenyak. Aksa yang merasa terganggu karena tubuh Riana yang tak mau diam, akhirnya membuka mata dan menghidupkan lampu meja di sebelahnya.


"Kenapa?" Aksa sudah memeluk Riana dari belakang. Dia membenamkan wajahnya di punggung sang istri.


Riana membalikkan tubuhnya dan memandang wajah sang suami. Tangannya pun melingkar di pinggang Aksara.


"Ada apa?" Aksa membelai rambut Riana. Kemudian, mencium bibir Riana dengan singkat.


"Gimana kalau Ri hamil?" Aksa tersenyum dan semakin memeluk erat tubuh istrinya. Mengecup kening Riana sangat dalam. Ternyata istirnya benar-benar ketakutan akan ucapan sang mommy.


"Kamu belum siap?" Dengan cepat Riana menggeleng. Aksa pun tersenyum dan mengusap lembut pipi istrinya. "Anak itu adalah rezeki untuk kita. Anggap saja kita diberi pengganti Kakak Gavina."


Mendengar nama putrinya yang telah gugur membuat Riana sendu. Apa yang dikatakan oleh suaminya ada benarnya juga. Seharusnya dia memiliki dua orang anak, tetapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan mengambil Kakak Gavina dari mereka sedari kandungan.


"Apa ini adalah penggantimu, Nak?"


Ada kesedihan yang menyelimuti hati Riana jika mengingat kembaran dari Gavin. Ketika dia sudah sangat bahagia karena anak yang dikandungnya kembar, tetapi Tuah. berkata lain. Anaknya gugur satu dan hanya tumbuh benih Gavin. Sedih, sudah pasti. Namun, Riana juga harus menerima takdir Tuhan.


"Jangan takut, Sayang. Kamu hamil juga punya suami 'kan." Riana pun terkekeh dan mencium lembut bibir sang suami membuat Aksa tersenyum lebar. "Abang akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kamu dan juga calon adik Empin kelak."


Bukankah itu sudah kewajiban seorang suami? Riana menatap suaminya jengah. Lagi-lagi kalimat itu yang keluar dari mulut Aksara.


Kekhawatiran Riana malah dimanfaatkan oleh Aksa. Dia tak kuasa menahan hasrat yang mulai panas lagi. Dia pun melakukan hal yang memabukkan untuk kesekian kalinya. Istrinya pun tidak menolak malah dia meladeni dengan nikmat.


Keesokan paginya Ayanda menggelengkan kepala ketika melihat rambut menantunya sudah basah lagi. Tanda merah di leher pun bertambah. Ucapannya kelas Aksa maupun Riana benar-benar tidak digubris. Sungguh membuat Ayanda kesal.

__ADS_1


"Berapa ronde semalam?" Sergahan Ayanda membuat Gio yang tengah meneguk kopi tersedak. Mulut istrinya kini tak pernah disaring. Dia pun menatap anak dan menantunya yang baru saja bergabung dengan senyum penuh arti.


"Mommy mah kepo," sahut Aksa. Dia memilih mengambilkan makanan untuk istrinya dan menyuapi Riana yang tengah memangku Gavin. Dia tidak ingin Riana merasa disudutkan oleh ucapan ibunya yang terkadang membuat telinga pengang.


"Biarin aja sih, Mom. Biar rumah kita ramai," ujar Gio. "Baru juga punya empat cucu," lanjutnya lagi. Gio selalu bersikap santai karena anaknya sudah dewasa. Perihal anak itu adalah rejeki pemberian dari Tuhan. Tidak bisa ditolak.


Bukannya Ayanda tidak bahagia jika nantinya Riana hamil kembali. Namun, dia kasihan karena baru juga melahirkan sudah hamil lagi. Apalagi melahirkan Gavin kemarin secara normal. Dia sangat tahu bagaimana sakitnya melahirkan secara normal dengan beberapa jahitan.


Selama sarapan, Riana hanya terdiam. Dia merasa takut untuk menegakkan kepala karena ibu mertuanya tepat berada di hadapannya. Baru kali ini Ayanda berkata ketus kepadanya. Biasanya sangat lembut.


"Udah ya, jangan terlalu dipikirin. Itu tanda sayang Mommy ke kamu." Aksa tahu perasaan Riana. Istrinya ini adalah wanita yang sangat perasa. Terlalu melow jatuhnya. Berbeda dengan yang masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Aksa mengecup kening istrinya sangat lama sebelum berangkat kerja. Sedangkan sang putra tengah digendong oleh ibu mertuanya di dalam. Itu sudah menjadi aktifitas setiap pagi di rumah Giondra yang besar ini.


Setiap hari Riana selalu diselimuti rasa takut dan khawatir. Kekhawtiran itu semakin menjalar ketika bulan berikutnya Riana tak kunjung PMS. Ada rasa cemas di hatinya. Namun, dia belum mengungkapkan kepada sang suami. Dia menunggu beberapa hari ke depan. Jika, tak kunjung datang bulan, dia akan berbicara kepada suaminya.


Sudah terlambat seminggu, Riana hanya menghembuskan napas berat. Dia masih menatap kalendar meja yang dia tandai dengan spidol merah.


"Apa kamu siap jadi seorang Kakak?" tanyanya pada Gavin yang tengah tertidur. Dia menekan pipi gembul Gavin.


Akhirnya dia memberanikan diri untuk mengungkapkan kepada suaminya. Namun, hanya dengan kode.


"Bang, pulang kerja bisa mampir ke apotek dulu gak?"


Dahi Aksa mengkerut ketika membaca pesan singkat dari istrinya. Dia belum mengerti tujuan dari istrinya.


"Beliin testpack."

__ADS_1


Pesan kedua masuk ke dalam ponsel Aksa dan membuat Aksa tersenyum bahagia. Kekhawtiran Riana adalah kebahagiaan untuknya. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan ingin segera pulang. Sebelumnya, dia juga harus mampir ke apotek untuk membeli pesanan sang istri tercinta. Seperti biasa, sepuluh buat test pack Aksa beli. Dari harga murah hingga mahal untuk memastikan kearutannya dan juga lebih puas mengetesnya.


Aksa tiba di rumah sebelum maghrib. Dia melihat istrinya tengah terpejam di atas ranjang. Dia tahu, Riana tengah memikirkan kehamilannya yang tidak direncanakan ini.


"Sayang." Sentuhan hangat tangan Aksa membuat Riana membuka mata. "Kamu sakit?" Riana menggeleng. Dia bangun dari posisi semula dan memeluk tubuh sang suami. Aksa merasakan ada yang berbeda dari istrinya. Sama seperti kehamilan Riana yang pertama. Tubuh Riana terlihat lemah, tetapi suhu tubuhnya normal.


Aksa meletakkan plastik berisi testpack dari berbagai merk di pangkuan Riana. "Besok pagi langsung cek, ya." Riana pun mengangguk. Aksa memeluk tubuh istrinya memberikannya kehangatan dan ketenangan.


"Jangan takut, banyak kok yang kejadian seperti kamu ini. Anak masih merah, tapi di perut sudah tumbuh lagi." Riana tidak menjawab. Dia malah melingkarkan tangannya di perut sang suami.


Mereka berempat sudah ada di meja makan untuk makan malam. Terlihat wajah Riana yang sudah pucat. Ya, sedari tadi Riana sudah menahan mual yang luar biasa karena bau seafood. Menu makan malam hari ini. Sekuat tenaga Riana menahan perutnya yang bergejolak. Kini sudah tidak bisa tertahan lagi. Riana berlari ke kamar mandi membuat semua orang menatap bingung kepada Riana, termasuk suaminya.


"Huek!"


Aksa segera berlari menyusil Riana sedangkan mata Ayanda sudah melebar mendengar menantunya yang tengah mengeluarkan isi perutnya.


"Tokcer juga si Abang," gumam Giondra.


Aksa mengurut belakang leher istrinya dengan lembut hingga Riana berhenti memuntahkan isi perutnya.


"Udah?" Riana mengangguk pelan. Aksa menarik tangan Riana ke dalam pelukannya. Mengecup ujung kepala Riana dengan sangat mesra. Masih memeluknya di kamar mandi hingga Riana meminta untuk keluar.


"Welcome to adik Empin."


...****************...

__ADS_1


Komen dong....


Yang belum nemu kisah Bang As silahkan klik profil aku. Di sana ada semua karya yang sudah aku tulis.


__ADS_2