
Riana meneteskan air mata membaca caption pada foto tersebut. Dia menangis bahagia karena mendapatkan suami yang luar biasa mencintainya. Aksa yang sedikit melirik ke arah sang istri terkejut dan segera menghampiri Riana.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aksa. Riana menatap ke arah Aksa dengan bulir bening yang terus berjatuhan. "Apa ada yang sakit?" lanjut Aksa dengan sorot penuh kepanikan.
Riana menggeleng dan dia menunjukkan layar ponsel kepada suaminya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Aksa memeluk tubuh istrinya dengan sangat erat. Ada kelegaan di hatinya karena Riana hanya terharu. Bukan terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Makasih ... sudah mau mempersunting Ri," ucapnya.
Aksa tersenyum dan dia mengusap lembut punggung sang istri. Dia semakin mengeratkan pelukannya. Ketika keharuan terjadi, pintu ruangan terbuka dengan sedikit kasar.
"Bisa gak sih bermesraannya di kamar aja," omel pria yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu. Aksa pun berdecak kesal dan mengurai pelukannya. Tangan Aksa menghapus jejak air mata yang membasahi wajah istrinya.
"Kenapa Riana nangis? Lu apain?" Kini pria itu memarahi Aksa kembali. Hanya tatapan tajam yang Aksa berikan, sedangkan Riana sudah memeluk pinggang suaminya dengan sangat erat.
"Mau ngapain lu ke sini? Jingga sama siapa?" Ya, pria itu adalah adiknya sendiri, Askara.
Bukannya menjawab, Aska malah ikut duduk di sofa tepat di samping sang abang. Dia menyandarkan tubuhnya dan terlihat jelas raut berbeda dari biasanya.
"Bang," panggil Aska yang kini menatap kembarannya. Aksa pun menoleh dan menatap penuh tanya kepada Aska.
"Gua mau ngelamar Jingga."
Kalimat yang mampu membuat Aksa maupun Riana terlonjak. Kini, mereka berdua menatap tajam ke arah Aska.
"Gak usah bercanda!" sentak Aksa. Aksa baru saja melihat ketidak seriusan adiknya terhadap hatinya, sekarang adiknya datang dan mengatakan ingin melamar Jingga. Sungguh di luar nalar.
"Gua serius, Bang. Bukankah wanita itu perlu kepastian?" sergah Askara yang kini menatap ke arah Riana serta Aksa.
"Sebelum lu bilang seperti itu, harusnya lu introspeksi diri dulu," balas Aksa dengan nada yang berbeda.
"Apa hati lu udah pasti? Jangan hanya pandai mengucapkan 'aku mencintaimu' kalau pada nyatanya gak bisa bersikap tegas sama hati lu sendiri." Kalimat yang langsung menembus ulu hati Askara. Abangnya ini jika berbicara terkadang tidak pandang orang. Adiknya pun bisa babak belur oleh perkataan abangnya sendiri.
Mendengar perkataan suaminya, Riana mendongakkan kepalanya menatap penuh cinta ke arah suami tampannya. Aksa memanglah pria yang berbeda. Pria yang tegas kepada siapapun dan kepada dirinya sendiri. Apalagi jika sudah menyangkut hati. Bukan buat untuk dipermainkan. Riana merasa sangat beruntung bisa menjadi seorang istri daei Aksara. Ucapan Aksa dengan tindakannya memang sesuai.
"Gua serius, Bang," ucap Aska frustasi. Sepertinya dia salah orang untuk diajak tukar pikiran. Malah Aska yang terkena bisa mematikan yang abangnya miliki.
__ADS_1
Aksa hanya terdiam dengan tatapan yang sangat tajam. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Aksa untuk menyahuti ucapan adiknya.
"Bang, bantu gua," pinta Aska. Bagi Aska, sebelum dia menghadap kepada kedua orang tuanya hal yang pertama kali harus dia lewati adalah abangnya. Ketika kedua orang tuanya tidak menyukai pasti abangnya akan membantunya untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
"Ri, bantu gua dong," pintanya pada Riana. Diamnya Aksa menandakan bahwa abangnya tidak setuju.
Riana yang sedang memeluk pinggang sang suami pun kini menegakkan posisi duduknya dan menatap ke arah Aska dengan tatapan tak bisa terbaca.
"Kakak yakin akan serius mencintai Jingga?" Pertanyaan yang terdengar meragukan keputusan Aska dan membuat Aska mengerutkan dahinya.
"Kalau Kakak tidak serius, lebih baik Kakak tinggalkan Jingga. Sudah banyak sekali kesakitan juga kesedihan yang Jingga terima. Ri, hanya ingin Jingga bahagia dengan siapapun pria yang bisa memberikan kebahagiaan untuknya," tutur Riana.
Kakak iparnya juga ternyata tidak jauh berbeda dengan sang Abang. Tidak ada dukungan sama sekali dari kedua orang ini. Aska pun merasa frustasi, dia memilih pergi tanpa pamit.
Aksa dan Riana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Aska. Helaan napas kasar keluar dari mulut Aksa.
"Sayang, ponsel Abang," pinta Aksa kepada sang istri. Riana memberikannya dan Aksa segera menghubungi seseorang.
"Ikuti Aska! Laporkan semuanya!"
Kalimat perintah yang Aksa berikan kepada orang kepercayaannya. Riana kembali melingkarkan kedua tangannya di perut sang suami.
"Dia orang yang nekat."
Apa yang dikatakan Aksa memang benar. Aska pergi ke sebuah mall untuk mencari cincin yang cantik untuk Jingga. Dia sudah teguh dengan niatannya untuk melamar Jingga. Lamaran dadakan yang pastinya akan mengejutkan.
Sebuah cincin emas putih dengan ukiran indah langsung membuat Aska jatuh cinta. Dia segera memilih cincin tersebut. Harganya tidaklah mahal, tetapi Aska lupa membawa kartu ATM yang dia bawa hanya kartu kredit.
"Sial!" umpatnya.
"Bagaimana, Mas? Jadi atau tidak?" tanya karyawan toko perhiasan tersebut.
"Iya jadi, Mbak," jawab Aska.
"Lah masa iya gua ngelamar si Jigong dengan cara dikredit. Gak banget atuh."
__ADS_1
Aska sejenak berpikir dan Dewi Fortuna tengah berpihak kepadanya. Ada seorang pria yang sangat dia kenali ada di dalam mall tersebut.
"Bandit!" panggilnya dengan suara lantang.
Merasa tak asing dengan panggilan tersebut, Raditya Addhitama pun menoleh. Dia sedang bersama seorang pria yang berpakaian rapih. Dahi Radit mengkerut ketika dia melihat lambaian tangan adik iparnya.
"Saya ke adik saya dulu," ucapnya kepada asistennya.
Radit segera menghampiri Aska yang sudah tersenyum sangat bahagia.
"Bayarin ini dulu, gua gak bawa ATM. Cuma bawa kartu kredit," ucapnya ketika Radit baru saja ada di depannya.
Decakan kesal keluar dari mulut ayah dari tiga orang anak kembar ini. "Please, Bang Radit ...."
Radit melirik malas ke arah Aska. Jika, tidak ada maunya adik iparnya ini tidak akan pernah memanggilnya dengan sebutan yang benar.
"Emangnya lu beli apa?" tanya Radit.
"Cincin."
"Kenapa gak lu pakai kartu kredit lu aja. Sama aja 'kan. Orang Papah yang bayarnya," lanjut Radit sambil mengeluarkan dompetnya. Kemudian menyerahkan kartu ATM ke penjaga toko.
"Masa iya gua mau ngelamar cewek dengan cara kredit," balas Aska.
"Gaya lu, Malih!" seru Radit yang sedang memasukkan nomor pin kartu ATM-nya.
"Sekarang aja lu ngutang sama gua. Berarti lu ngelamar cewek dengan cara dihutang," sergahnya.
"Gak gitu juga, Bang. Nanti gua transfer ke lu lagi," kilahnya. Radit hanya mencebikkan bibirnya.
Bodohnya Aksa sudah tidak membawa kartu ATM juga ponselnya mati, lupa diisi daya.
"Gua doain semoga ditolak, ya."
...****************...
__ADS_1
Komen atuh ...
Semoga bisa UP lagi hari ini.