Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Atasan dan Sekretaris


__ADS_3

Riana tersenyum mendengar ucapan yang sangat tulus dari sang suami. Dia menatap suaminya dengan sangat intens hingga Aksa mulai mendekatkan wajahnya dan disambut hangat oleh Riana. Momen romantis yang sudah jarang terjadi karena kehadiran Gavin harus berakhir ketika suara barito terdengar.


"Eh, maaf, maaf." Aksa dan Riana segera menoleh ke asal suara dan sudah ada Giondra di sana. "Lanjut lagi deh," tambah Gio seraya mengulum senyum. Wajah Riana nampak memerah karena malu. Namun, suaminya malah terlihat biasa.


"Ada apa, Dad?" Aksa sudah menarik Riana ke dalam dekapannya karena dia tahu Riana pasti tengah menahan malu tak terkira.


"Kalian sudahan?" Aksa pun berdecak kesal ketika mendengar kalimat ejekan dari sang ayah.


"Maunya lanjut, tapi Daddy malah datang di waktu yang gak tepat," sungut Aksara.


Riana tersentak mendengar ucapan dari sang suami kepada ayah mertuanya, seperti berbicara kepada teman.


"Mana Daddy tahu ada Riana di sini," sahutnya.


Riana sekarang menemukan jawaban atas pertanyaan yang bersarang di kepalanya selama menikah. Aksara yang merupakan pria galak dan cuek, tetapi memiliki tingkat kemesoeman luar biasa ternyata menurun dari ayah mertuanya. Apalagi sekarang tengah terjadi perbincangan perihal masalah ranjang. Lebih baik Riana tak mendengarkan dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang suami.


"Ada meeting di sebuah mall jam satu nanti," ujar Gio ketika sudah mengubah topik pembicaraan. "Daddy tidak bisa ke sana karena harus memantau perusahaan yang ada di Bogor," lanjutnya.


Aksa tersenyum dan tangannya membelai lembut rambut Riana. "Boleh bawa Riana 'kan?" Giondra hanya tertawa melihat Aksa seperti anak kecil.


"Boleh, sekalian kenalkan kepada mereka bahwa Giondra Aresta Wiguna memiliki menantu yang cantik jelita," kelakarnya.


Aksa hanya tertawa dan menatap ke arah Riana. "Mau 'kan temani Abang." Hanya seulas senyum yang Riana berikan.


Senyum pun melengkung di wajah Giondra. Kebahagiaan anak-anaknya adalah kebahagiaan untuknya. Apalagi melihat ketulusan cinta mereka berdua membuat Gio merasa lega.


"Ya udah, Daddy berangkat, ya."

__ADS_1


Setelah makan siang, Aksa juga Riana pergi ke mall di mana meeting itu dilaksanakan. Para karyawan yang bekerja di perusahaan Giondra merasa kagum kepada atasannya itu. Pasangan yang sangat cocok, tampan dan juga cantik. Apalagi Aksa terus menggandeng tangan Riana dengan sangat erat.


Kali ini, Aksa membawa mobilnya sendiri karena dia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya. Tibanya di sebuah mall, sudah ada klien yang menunggunya. Aksa menyapanya dengan sopan. Namun, mata klien yang usianya masih muda itu tak henti memandang wajah istrinya membuat Aksa berdecak kesal.


Tangannya pelan-pelan menggenggam tangan Riana membuat sang empunya tangan menoleh dan menatap manik mata sang suami.


"Ri, tunggu di lain tempat aja, ya," bisiknya. Dia tidak mau menganggu suaminya.


"Tetap di sini," tegas Aksa yang masih menatap ke arah kliennya.


Riana pun mengikuti kemauan sang suami. Dia duduk di samping Aksa yang tengah membaca lembar demi lembar kertas yang diberikan oleh kliennya tersebut. Ujung mata Aksa melirik ke arah sang klien yang masih saja memandangi istrinya dengan tatapan berbeda. Aksa meletakkan lembaran-lembaran tersebut membuat kliennya terkejut. Dia membuka jas yang tengah dia kenakan dan meletakkannya di atas paha Riana. Sang istri menoleh ke arah Aksa yang kini sudah mengambil lembaran-lembaran kertas yang ada di atas map tersebut. Seulas senyum Riana berikan kepada suaminya.


Masalah pekerjaan tidak boleh disangkut pautkan dengan masalah pribadi. Itulah yang dipegang teguh oleh Aksara, dan Riana sangat tahu akan itu.


Setelah semuanya selesai dan Aksa pun berjanji akan memberikan jawabannya satu dikali dua puluh empat jam. Klien itu pun tersenyum bahagia. Mereka menikmati kopi terlebih dahulu hingga suara klien itu terbuka. "Pak Aksara." Aksa menatap kliennya dengan datar, "Sekretaris Anda cantik sekali," ujarnya.


"Bolehkah saya mengenal sekretaris Anda lebih dalam lagi?" Saya masih single loh, Pak."


Kedua tangan Aksa sudah mengepal dengan sangat keras. Ingin sekali dia menghajar mulut pria yang tidak tahu etika tersebut.


"Maaf, Pak. Saya sudah menikah." Riana menunjukkan punggung tangannya. Di mana di jari manisnya terdapat cincin emas putih yang sangat indah. Klien itu pun terdiam, menolak untuk percaya. Kemudian, Riana menarik tangan kiri Aksa dan dia menyandingkan tangan kirinya dan tangan kiri suaminya. "Pak Aksara adalah suami saya."


Klien itu terdiam mendengar ucapan dari Riana. Dia merangkul lengan Aksa dengan sangat manja. Aksa tersenyum dan tak segan mengecup kening Riana sangat dalam.


Kena mental, itulah yang klien itu rasakan. Dia segera pergi meninggalakan Aksa juga Riana. Istri dari Aksa pun terkekeh melihat klien suaminya. Namun, Aksa memasang wajah datar bak papan bangunan.


"Kenapa sih?" tanya Riana sambil menangkup wajah sang suami. Aksa menatap Riana dengan malas.

__ADS_1


"Dih, cemburunya jelek banget," goda Riana. Dia memberanikan diri mengecup bibir Aksa sekilas membuat Aksa tersenyum tipis.


Aksa merengkuh pinggang istrinya dan balik mengecup bibir Riana dengan ganas. Untung saja mereka berada di ruangan private.


Mereka pun tertawa setelah melepaskan ciuman maut. Riana membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami dengan tangan yang melingkar di pinggang Aksara.


"Ri, sangat merindukan momen berdua seperti ini."


Hati Aksa mencelos mendengarnya. Dia juga merindukan hal seperti ini. AKhir-akhir ini dia sangat sibuk di kantor hingga jarang mengobrol berdua bersama sang istri jika malam tiba. Apalagi jika dia pulang, Riana sudah tertidur karena kelelahan. Dia tidak tega membangunkannya.


"Maafkan Abang, ya."


Riana tersenyum dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


"Abang sibuk nyari uang buat Ri sama Empin. Jadi, gak perlu minta maaf."


Aksa mengecup kening Riana dengan sangat dalam. "Sesibuk apapun Abang, seharusnya Abang bisa meluangkan waktu untuk kamu juga anak kita. Abang janji, ke depannya Abang akan lebih mengatur waktu lagi."


Ada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan oleh Riana. Suaminya akan menjadi suami yang luar biasa sekali. Tanpa Riana berbicara, dia seakan mengerti apa yang diinginkan oleh dirinya. Seperti sekarang, hanya memberi kode Aksa sudah mengerti apa yang diinginkan Riana.


Keharmonisan rumah tangga itu bukan dinilai seberapa romantisnya pasangan. Banyak pasangan yang sama-sama cuek tapi tetap harmonis. Itu karena mereka selalu bertukar pikiran, mengobrol ringan untuk membuat hubungan suami-istri itu tetap terjaga. Percuma romantis hanya sekadar pencitraan semata.


Beruntungnya Riana, dia mendapat suami yang romantis luar dan dalam. Di manapun dia berada akan memperlakukan Riana bak putri raja.


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2