Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Digigit


__ADS_3

"Aska kembali ke rumah dengan sedikit kelegaan di hati. Dia berpapasan dengan sang Abang yang baru saja turun dari lantai atas untuk mengambil minum.


"Baru balik?" tanya Aksa. Aska hanya mengangguk.


"Lu yang nyuruh Kakak?" tebak Aska. Aksa tersenyum kecil dan menepuk pundak adiknya.


"Gua gak bisa keluar. Riana akan muntah-muntah terus kalau gua gak ada di samping dia," jelas Aksa. Aska hanya tersenyum dan memeluk tubuh abangnya.


"Makasih."


Mereka terbiasa mengucapkan terimakasih ketika ada orang yang membantu mereka. Aksa membalas pelukan adiknya tersebut.


"Gua akan selalu dukung lu. Jangan sungkan untuk minta bantuan." Aksa akan berada di garda terdepan untuk Aksa. Dia adalah saudara yang tahu diri karena berhutang budi kepada adiknya.


Di kamar, Aska membaringkan tubuhnya yang sudah dia bersihkan. Lengannya menjadi bantalan kepalanya. Dia pun menatap ke arah langit-langit kamar. Kata-kata sang kakak masih terngiang-ngiang di kepalanya.


"Kamu tidak secantik mommy, kakak serta Riana. Dibanding Fahrani juga Christina kamu tidak ada apa-apanya," gumam Aska. "Tapi, kamu mampu membuat aku jatuh cinta karena apa adanya diri kamu," lanjutnya.


***


Ketika subuh menjelang, Aksa yang sudah berbaring di samping sang istri membuat Riana mengerutkan dahi. Dia tersenyum, tangannya membelai wajah sang suami yang terlihat lelah.


"Maafkan Ri, Abang," ucapnya pelan. Riana mengecup kening sang suami membuat Aksa membuka lebar matanya. Lengkungan senyum terukir di wajah tampannya.


"Kok udah bangun?" Riana terkejut ketika Aksa sudah terjaga.


"Sentuhan kamu membangunkan Abang dan adik Abang, Sayang." Mata Riana melebar mendengar ucapan Aksa. Tangan Riana Aksa tuntun ke arah bawah yang sudah menegang.


Aksa sudah menelusupkan wajahnya ke dada sang istri. Tangannya mulai nakal dan mulai membuka kancing piyama Riana satu per satu.


"Abang," rintih Riana.


"Pelan-pelan, Sayang."


Aksa benar-benar sudah rindu untuk menyusuri surga dunia yang memabukkan. Dia sudah cukup lama berpuasa. Ketika dia berkonsultasi kepada dokter Gwen ternyata sudah diperbolehkan, dengan catatan ritmenya harus pelan dan lembut. Cukup dua sampai tiga kali dalam seminggu.


Aksa sudah menyusuri semuanya, jejak-jejak cinta pun sudah dia tinggalkan di kulit putih Riana. Le nguhan sang istri membuat gejolaknya semakin naik.


"Daddy akan jenguk kamu, Nak," bisikan serta kecupan hangat Aksa berikan pada perut Riana.


"Ahh ...."


Suara mereka berdua bersamaan, seperti pertama kali melakukannya. The Sahan manja keluar dari bibir Riana yang sudah tak berdaya. Dia sangat menikmati permainan Aksa kali ini. Kelembutannya membuat Riana terus merasakan kenikmatan. Tidak dipungkiri, dia juga merindukan belaian hangat sang suami.

__ADS_1


Satu jam berselang, mereka masih menyelami lautan kenikmatan. Peluh sudah berjatuhan. Napas sudah terengah-engah, tetapi Aksa masih belum mencapai puncak. Riana sudah menjerit kecil lebih dari lima kali karena saking tidak kuatnya.


"Nikmat banget, Sayang." Riana pun merasakan hal yang sama. Meskipun lelah, dia masih bisa merasakan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Tepat jam enam pagi, Aksa melenguh panjang dan memeluk istrinya dengan sangat erat. Tubuh mereka dibanjiri keringat. Satu kali dengan durasi satu setengah jam apa tidak membagongkan?


Aksa berbaring di samping sang istri yang tak menggunakan sehelai benang pun di tubuhnya. Dia mencium mesra dan lembut bibir mungil Riana.


"Makasih, Sayang." Riana hanya mengangguk pelan. Matanya pun terpejam dengan tangan yang melingkar di pinggang Aksa. Nampaknya, Riana kelelahan..


Ada kebahagiaan yang Aksa rasakan. Dia tak henti mengecup kening Riana dengan sangat lembut. Perlahan, Aksa turun dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya ketika Riana terlelap. Dia mengecup kening istrinya lagi dan tersenyum kecil ketika melihat tanda merah di leher sang istri.


"Sebegitu beringasnyakah diriku?" tanyanya pada diri sendiri.


Jejak cinta yang Aksa berikan bukan hanya satu atau dua, melainkan empat. Berderet layaknya kereta api di leher putih sang istri.


Setelah rapi, Aksa kembali ke kamar tamu. Parfum yang Aksa gunakan menyeruak dan mampu membuat tidur Riana sedikit terganggu. Dia membuka mata dan suaminya sudah tersenyum hangat kepadanya. Sikap manja Riana muncul, dia merentangkan kedua tangannya untuk dipeluk sang suami tampannya.


"Mau sarapan gak?" tanya Aksa seraya memeluk Riana. Dia hanya mengangguk. Namun, enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Aksa hanya tersenyum, sama sekali dia tidak merasa terganggu.


Suaminya membawa Riana ke dalam kamar mandi. Dia menggulung lengan kemejanya untuk membantu sang istri membersihkan tubuh. Aksa juga yang menggendong tubuh Riana. Dia juga membantu sang istri menggulung rambut.


"Masih lemas?" tanya Aksa ketika memberikan handuk kepada istrinya.


Riana sudah selesai mencuci wajahnya. Dia juga mengikat rambutnya asal. Memperlihatkan jejak cinta yang sudah Aksa berikan.


"Kamu yakin mau keluar dengan keadaan seperti ini?" Riana mengkerutkan dahinya tak mengerti. Aksa menunjuk leher jenjang sang istri.


"Biarin aja, biar mereka tahu betapa ganasnaya Abang," balas Riana. Aksa pun tergelak mendengar ucapan sang istri. Tangan Riana sudah menggandeng tangan sang suami membuat Aksa semakin cinta kepada istrinya ini.


Langkah kaki dari arah anak tangga membuat lima orang yang berada di meja makan terperangah. Aska yang tengah mengunyah makanannya mendadak tersedak karena melihat banyaknya mawar merah di leher sang kakak ipar. Mulutnya sudah gatal untuk mengejek, tetapi ada tiga orang anak kecil di sana.


Plak!


Plak!


Plak!


Tiga pukulan dilayangkan ke tubuh Aksa oleh ketiga keponakannya hingga Aksa mengaduh. Ayanda baru saja ingin angkat bicara, tetapi sergahan Aleeya membuatnya tertawa. "Apa salah Aunty? Kenapa senang banget gigit leher Aunty."


Aska tertawa puas mendengar ocehan ketiga keponakannya. Mereka sudah mewakili jiwa irinya yang tiba-tiba muncul. Begitu juga dengan Ayanda yang sudah mengulum senyum seraya menggelengkan kepala.


"Kenapa sih laki-laki senang banget gigit leher perempuan?" selidik Aleena.

__ADS_1


"Baba senang gigit Bubu kalau Bubu gak nurut. Padahal digigit itu sakit 'kan," tutur Aleesa.


"Bukan sakit Aleesa, tapi nikmat." Ingin rasanya Aksa menjawab seperti itu. Namun, otak cerdasnya tidak akan mampu menyaingi keingintahuan ketiga keponakannya. Apalagi Aleena, Aksa akan menyerah sebelum mulut Aleena terus melontarkan pertanyaan.


"Berapa ronde?" tanya Aska dengan wajah mengejeknya. Riana tidak menjawab, dia asyik mengunyah buah potong yang sudah disiapkan oleh sang mertua.


"Siapa yang main tinju?" Anak cerdas ini menanggapi ucapan Aska. Omnya tersebut hanya dapat menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Salah bicara gua," batin Aska.


"Emang udah boleh, Bang?" Kini, pertanyaan datang dari Ayanda.


"Main tinju itu gak boleh Mimo, kecuali di atas ring tinju," ucap Aleena.


Keempat orang dewasa tersebut hanya terdiam. Mereka memilih untuk menutup mulut mereka karena jika diteruskan anak pertama Radit akan terus menimpali dengan jiwa keingin tahuan yang luar biasa.


"Selamat pagi semua," sapa Radit dengan senyum secerah mentari.


"Baba."


Ketiga bocah itupun berlari ke arah Radit, sedangkan Echa memilih segera duduk di meja makan karena tubuhnya seperti tulang ayam lunak.


"Tuh Kakak yang beronde-ronde," celetuk Aksa yang sudah menatap ke arah Echa. Istri dari Raditya Addhitama hanya terdiam. Dia malah menuangkan susu hangat rasa cokleat ke dalam gelas.


"Bubu!" seru ketiga anaknya. Echa yang baru saja hendak minum susu yang baru saja dia tuangkan, menoleh ke arah ketiga putrinya.


"Kenapa Bubu gigit leher Baba?" Aska yang sedang minum tersedak air putih yang baru saja masuk ke dalam tenggorokan.


"Baba nakal, Sayang. Baba selalu mengganggu Bubu," adunya pada ketiga buah hatinya.


"Emang malam ini malam Jum'at?" cibir Aska. "Kok pada banyak yang digigit," lanjutnya lagi sama seraya meledek kedua kakaknya.


"Makanya nikah! Biar tahu rasanya digigit itu seperti apa."


Jleb.


Perkataan Radit sangat menusuk ulu hati Aska.


...****************...


Jangan lupa komen, ya ...


Yang rindu Yang Terluka Sudan up ya ...

__ADS_1


__ADS_2