
"Oh ... atu tila buat adit cepelti Mimo buat donat."
Aksa pun tertawa mendengar ucapan sang putra yang sudah duduk manis di kursi belakang.
"Mau ke mana lagi?" tanya Aksa kepada Gavin. Balita itu melihat ke arah ibunya yang terlihat lemas.
"Puyang, ada."
Tibanya di rumah ternyata sudah ada keluarga besar Rion di kediaman Ayanda. Gavin sangat bahagia ketika melihat ketiga kakaknya, yaitu si triplets.
"Pucat banget, Ri." Sang ayah menegur Riana yang terlihat tak bersemangat.
"Lagi kurang sehat, Yah," sahut Aksa. "Abang bawa Riana istirahat dulu, ya." Rion pun mengangguk. Dia ikut bermain dengan keempat cucunya.
"Ri, bersihin badan dulu, ya." Aksa mengangguk. Dia terduduk di samping tempat tidur. Permintaan Gavin membuat lengkungan senyum menghiasi wajahnya.
"Kita rencanakan memiliki momongan lagi ketika Empin memintanya. Abang gak mau kasih sayang kita terbagi."
Itulah kalimat yang pernah Aksa berikan kepada Riana seminggu setelah Riana keguguran. Mereka berkomitmen dengan hal itu. Lebih dari satu tahun berlalu, mereka masih menundanya. Hari ini, permintaan Gavin terdengar dan sudah saatnya mereka memberikan adik kepada Gavin.
"Bang," panggil Riana.
Aksa menoleh dan menarik tangan sang istri hingga duduk di pangkuannya. "Kamu sudah siap?" Aksa sudah mencium tengkuk leher Riana.
"Insha Allah." Aksa pun tersenyum mendengar ucapan istrinya.
"Kalau Tuhan memberikan cobaan lagi seperti yang sudah-sudah." Riana menatap manik mata Aksara dan memberikan senyuman hangatnya.
"Berarti Tuhan belum mengijinkan, yang penting kita sudah berusaha dan berdoa. Hasilnya biar Tuhan yang menentukan."
Riana belajar banyak dari sang kakak tentang arti kehilangan sesungguhnya. Kakaknya yang kehilangan rahim untuk selamanya pun bisa tegar. Sedangkan dirinya yang belum diberikan kepercayaan oleh Tuhan tak pantas untuk bersedih berlarut-larut. Setidaknya rahimnya masih sangat sehat.
"Kamu istirahat, ya. Abang temani Gavin di bawah." Riana mengangguk.
Inilah yang Aksa dan Riana bagi setiap hari. Aksa memang seorang ayah, tapi dia juga tidak ingin melewatkan tumbuh kembang putranya. Jika, dia pulang cepat dia akan menemani Gavin bermain di malam hari juga menidurkannya. Membiarkan istrinya beristirahat. Walaupun Riana tidak mengerjakan pekerjaan yang lain, mengurus anak bukan perkara mudah. Banyak emosi yang harus Riana tahan. Banyak waktu yang dilimpahkan kepada sang putra hingga dia melupakan kebahagiaannya sendiri. Mengesampingkan keinginan demi sang buah hati. Di situlah Aksa harus menjadikan Riana ratu dalam rumah tangganya. Tak menyepelekan wanita yang hanya mengurus rumah tangga. Pada nyatanya, seorang ibu rumah tangga tak mengenal lelah. Tak mengenal sakit demi mengurus anak-anaknya.
Ketika Aksa menghampiri semua orang yang berada di ruang keluarga, mata mereka semua memicing terhadap Aksa. Dahi Aksa mengkerut ketika menerima bidikan tajam dari mereka.
"Kalian serius?" Pertanyaan pertama terlontar dari mulut ibundanya.
"Gavin masih kecil, sedang aktif-aktifnya lagi." Ucapan kedua datang dari mertuanya, Rion Juanda.
"Apa Riana sanggup mengurus dua buah hati yang berusia balita?" Kakaknya kini mulai angkat suara.
Aksa menghembuskan napas kasar dan ikut duduk di lantai beralas karpet bersama keluarganya.
"Insha Allah."
Jawaban singkat, jelas dan padat yang keluar dari mulut Aksa. Namun, mereka tidak bisa mencegah karena wajah Aksa penuh dengan keyakinan serta Gavin yang sangat antusias dalam bercerita perihal adik.
"Sepi katanya di rumah. Kakak kembar tiga sekolah. Mimonya sibuk di butik, dia hanya bermain bersama Riana. Palingan juga sama pak sopir."
Mendengar ucapan dari Aksa membuat semua orang mengerti. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Biasanya Gavin bisa bermain dengan sepupu-sepupunya atau om-nya.
"Udahlah, ijinkan Abang dan Riana menjalani program ini," ujarnya. "Anak adalah rezeki. Banyak orang yang melakukan program keluarga berencana, tetapi jika Tuhan menghendaki mereka memiliki anak lagi, manusia bisa berbuat apa?"
Sebagai keluarga mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Jika, Riana hamil pun dia memiliki seorang suami. Tidak menjadi aib pula untuk keluarga. Mereka hanya mengkhawatirkan Gavin. Padahal itu adalah permintaan dari balita kesayangan mereka.
Aksa membawa Gavin ke dalam kamarnya. Dia ikut berbaring bersama sang putra yang masih berceloteh.
"Atu inin Puna adit tewe."
Dahi Aksa mengkerut, biasanya anak laki-laki cenderung menginginkan adik laki-laki. Bukan adik perempuan, beda halnya dengan Gavin.
"Kenapa? Kalau adiknya cewek, nanti Empin gak ada teman buat berantem-beranteman," balas Aksa yang kini memiringkan tubuhnya ke arah Gavin.
"Tan ada Daddy. Bial Mommy duda puna temen buat diadak nonton dlama towo-towo tantik."
(Kan ada Daddy. Biar Mommy juga punya teman buat diajak nonton drama cowok-cowok cantik)
Aksa terkekeh mendengar ucapan sang putra. Gavin sering bercerita kepadanya bahwa ibunya sering menangis atau tertawa sendiri jika menonton drama Korea. Menurut Gavin, pemain laki-laki di drama yang ibunya tonton bukan tampan melainkan cantik. Kadang, Riana pun mengubah model rambut Gavin seperti oppa-oppa Korea. Itulah yang membuat Gavin tidak suka.
__ADS_1
"Ya udah, Empin sekarang tidur, ya." Gavin pun mengangguk. "Baca doa dulu."
"Bismiyahilohmannilohim. Bismita awohuma ahya wabismita amut."
(Bukan mengajarkan ajaran yang salah, tetapi ini adalah ucapan dari anak balita yang usianya kurang dari dua tahun.🙏🏻)
Aksa mematikan lampu kamar Gavin dengan remote yang ada di atas nakas. Hanya lampu tidur yang terpasang. Secara otomatis ada instrumen lagu pengantar tidur yang akan membuat orang yang mendengarkan rileks dan cepat tertidur.
.
Pagi harinya Gavin laporan kepada sang pipo perihal keinginannya untuk memiliki adik. Gio hanya tersenyum mendengar ucapan cucu tampannya itu.
"Sudah buat jadwal dengan dokter Gwen?" Riana mengangguk. "Setelah makan siang, Mom."
Ayanda mengangguk dan memberikan saran kepada menantunya agar tidak terlalu kelelahan jika tengah melakukan program kehamilan. Ayanda pun bersedia untuk menyediakan makanan sehat untuk menantunya. Itulah yang membuat Riana merasa sangat bahagia.
Seperti biasa balita itu sangat aktif sekali. Bermain di lapangan basket adalah favoritnya. Sebagai seorang ibu dia tidak akan melarang, berkotor-kotoran pun tak masalah untuknya. Riana hanya akan mengawasi putranya dari pinggir lapangan.
"My, aus."
Riana tersenyum dan mengambilkan minum yang memang sudah dia siapkan.
"Udahan yuk, udah siang." Gavin mengangguk dan segera berlari menuju ke dalam rumah.
Sebenarnya Riana sudah melarang Gavin bermain basket di lapangan tempat ayah dan juga om dari Gavin berolahraga. Mengingat kaki Gavin yang masih terluka, tetapi anak itu sangat keras kepala. Akhirnya, Riana mengijinkannya.
"Mandi dulu, Nak."
"Iya, My."
Gavin masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya sedangkan sang ibu tengah memunguti baju kotor sang putra. Riana masuk ke dalam kamar mandi memandikan putra tampannya.
"My, talo atu puna adit, atu dak au dimandiin. Atu udah betal." Riana tersenyum mendengar ucapan dari Gavin.
"Empin harus bantu Mommy kalau adik Empin sudah lahir," balas Riana.
"Tentu, My."
"Bubu." Gavin segera berhambur tubuh Echa.
"Kakak gak kerja?" Echa hanya tersenyum menjawab pertanyaan itu.
"Enggak, mau jagain Empin ganteng selama Mommy-nya ke rumah sakit," jawab Echa.
"Lumah tatit?" Echa mengangguk.
"Mommy harus periksa perutnya biar bisa cepat ada adeknya di dalam perut Mommy." Mata Gavin berbinar mendengar kata adik yang keluar dari mulut Echa.
"Apa Empin mau ikut ke rumah sakit?" Dia menggeleng.
"Bau obat, pucing."
Echa pun tertawa dan meraih baju yang Riana bawa. Kini, Echa yang memakaikan baju kepada Gavin, keponakan tampannya.
"Sudah selesai. Kita ke rumah Engkong, abis itu kita jemput kakak kembar tiga." Anak balita itu bersorak gembira.
Riana hanya tersenyum dan tak lupa memberikan uang kepada Gavin untuk bekal jajan.
"Apaan sih, Ri." Echa mengambil uang yang sudah berada di tangan Gavin. Dia memberikannya kembali kepada Riana. "Kakak masih mampu jajanin keponakan Kakak," tolaknya. Riana hanya meresponnya dengan senyuman.
Setelah Gavin dibawa oleh kakaknya, Riana bersiap untuk pergi ke kantor sang suami karena Aksa tidak bisa menjemput Riana. Dia diantar oleh sopir ke kantor Aksa. Namun, kali ini dia menggunakan masker karena tidak enak karena sudah dua hari ini dia terus datang ke kantor suaminya.
Masker Riana dibuka ketika berada di lantai tempat ruangan suaminya berada. Sekretaris Aksa tersenyum hangat kepadanya.
"Pak Aksa sedang ada tamu, Bu." Sekretaris itu menjelaskan kepada Riana. "Mau saya telponkan dulu?" tawarnya.
Riana menolak,dia sendiri yang akan menghubungi suaminua. Dipanggilan pertama Aksa sudah menjawabnya.
"Iya, Sayang. Masuk aja."
Itulah jawaban dari Aksa dan Riana hanya tersenyum. Dia berbicara kepada sekretarisnya. Sebelum membuka pintu ruangan sang suami, dia mengetuk pintu terlebih dahulu. Sekretaris itu tersenyum bangga kepada Riana. Wanita yang penuh dengan sopan santun.
__ADS_1
Aksa tersenyum ke arah sang istri yang baru saja tiba. Dia menyambut hangat Riana dengan sebuah pelukan dan kecupan hangat.
"Abang yang nyuruh Kakak buat gak kerja?" sergah Riana. Aksa hanya tertawa.
Aksa menyuruh Riana untuk duduk di kursi kebesarannya karena dia harus berbicara kepada rekan bisnisnya itu. Sedari tadi rekan kerja Aksa memperhatikan Riana dari atas sampai bawah. Apalagi melihat Riana kini mengutak-atik ponsel Aksa yang ada di atas meja kerjanya.
"Apa Anda sebebas itu? Tidak membiarkan diri Anda sendiri memiliki privasi." Ucapan dari rekan kerja Aksa membuat Aksa tersenyum tipis. Apalagi Riana kini sudah menatap ke arahnya.
"Privasi?" tanya ulang Aksa. Dia pun tersenyum tipis sebelum melanjutkan ucapannya. "Ketika saya memutuskan untuk menikah, berarti saya sudah tidak memiliki privasi lagi karena kunci keharmonisan rumah tangga adalah keterbukaan dalam segala hal."
Kalimat yang Aksa utarakan sangat tegas dan jelas juga tidak main-main membuat rekan kerja Aksa terdiam.
Setelah rekan kerja Aksa keluar, Riana menghembuskan napas kasar dan bersungut ria. "Lemes banget mulutnya." Aksa hanya tertawa dan mencium gemas puncak kepala Riana.
Sebelum berangkat ke rumah sakit mereka makan siang bersama dan hanya berdua karena putra mereka pun tengah makan siang bersama ketiga sepupunya.
Cukup lama mereka menunggu panggilan, akhirnya tiba saatnya Riana masuk ke dalam ruangan dokter Gwen. Mereka disambut hangat oleh dokter Gwen dan berkonsultasi terlebih dahulu.
"Pelepasannya ketika kamu haid, ya." Riana mengangguk begitu juga dengan Aska. Ada kelegaan di hati mereka berdua karena rahim Riana sangat sehat.
.
Di kediaman Rion, para makhluk tak kasat mata sedang panik karena mendengar kabar dari penghuni pohon sebelah bahwa Gavin akan berkunjung ke rumah itu.
"Ya ampun, kenapa Aleesa gak bilang," gerutu om poci si hantu bungkus permen.
"Terima nasib ajalah," ujar Tante poci yang kini duduk di lantai.
Sudah biasa mereka dijadikan mainan oleh Gavin. Apa Gavin memiliki Indra keenam seperti Aleesa dan juga Iyan? Jawabannya tidak, hanya saja dia masih kecil matanya masih suci bisa melihat siapa saja penghuni tak kasat mata di rumah itu.
"Saya trauma, pocita," sahut om poci. "E'e Empin baunya ampun-ampunan."
"Ah, Om poci mah baru segitu," sahut Dev. "Tuh anak ngajak main bola, tapi sengaja nendang bolanya ke wajah aku," keluhnya. "Aku capek mungutin mata aku yang suka ngegelinding kayak bola. Mana suka ditendangin sama tuh bocah."
Poci dan pocita tertawa mendengar keluhan Dev. Kini, muncul hantu kerdil bertelinga panjang dengan cairan hijau yang keluar di hidungnya.
"Aku suka pusing kalau tuh anak udah bawa kacang hijau. Aku 'kan gak bisa ngitung cuma bisa ngitung dari satu sampai tiga."
Keluhan para sahabat Aleesa dan juga Iyan karena tingkat Gavin yang sungguh luar biasa. Jojo dan Om Uwo hanya tertawa di atas pohon mangga seraya memperhatikan jalanan. Ketika Gavin dan si triplets datang mereka akan memberikan kode kepada para makhluk yang tengah menantikan penderitaan mereka.
"Penderitaan kita sama. Tuh anak pengen banget wajah aku tuh mirip sama si poci. Padahal 'kan wajah aku merah malah terus dielapin pake kanebo. Mana kanebonya bekas ngelap motor pak satpam depan yang motornya gak ketulungan."
Mereka semua menopang dagu, kecuali dua hantu permen bungkus yang hangya bisa duduk di depan teras dengan wajah yang sendu. Jojo, sahabat Iyan hanya tertawa sambil duduk di dahan pohon.
"Kasihan mereka," ucap Jojo seraya tertawa mengejek.
"Anak itu hanya bisa melihat kita sebentar. Nanti juga akan hilang ketajamannya. Jadi, Om Uwo sudah bilang kepada yang lain agar tidak membalas perilaku Gavin. Dia hanya anak kecil yang senang bermain. Di mata Gavin, mereka itu lucu dan menjadi kawan." Jojo setuju dengan apa yang dibicarakan oleh om Uwo. Pernah sekali Jojo menjahili Gavin, tetapi anak itu malah tertawa sangat keras seperti melihat benda yang lucu.
"Satu hal lagi, Gavin memiliki penjaga dua orang wanita. Itulah yang membuat dia menjadi anak pemberani." Jojo pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh om Uwo. Namun, dia, Iyan dan juga Aleesa tidak bisa melihatnya.
Mobil milik Echa sudah mendekat. Om Uwo sudah memberikan kode kepada makhluk yang tengah dilanda gundah. Pada akhirnya, makhluk tak kasat mata itu lari tunggang langgang. Namun, dua hantu bungkus tidak bisa berlari. Mereka hanya melompat-lompat bagai kanguru sedangkan Dev dan hantu kerdil sudah bersembunyi entah di mana.
Tawa renyah Gavin terdengar dan tepat om poci ada di hadapan pintu mobil yang sudah Aleena buka.
"Hihihi ... antu pelmen."
Aleesa yang mengerti ucapan Gavin hanya tertawa karena sepupunya ini tengah meledek om poci.
"Empin, mau digendong atau jalan?" Pertanyaan Echa membuat otak cerdas Gavin berputar. Dia malah melompat-lompat bagai om poci sambil berdendang.
(Pakai nada file kartun P-Man)
"Pomen, pomen, pomen ...."
"Tu pandil dia pomen, potong temen."
(Ku panggil dia pomen, pocong Cemen)
...****************...
Yang rindu sahabat-sahabat Iyan dan Aleesa aku munculkan di sini ya. Semoga terhibur ....
__ADS_1