Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pria Gagu


__ADS_3

Ken dan Juno dengan setia menunggu Aska di rumah sakit. Mereka seperti berada di hotel bintang lima karena segala fasilitas di sana ada. Makanan yang sangat lezat pun disediakan.


Pagi harinya, Ken sudah mandi dan wangi. Dia berniat untuk pergi ke kafe.


"Mau ke mana lu?" tanya Juno.


"Ke kafe lah," sahutnya.


"Lu gak ingat pesan dari Abang si pasien ini?" tunjuknya ke arah Aska yang tengah menyandarkan tubuhnya di ranjang yang sudah sedikit ditegakkan.


Aska tidak menghiraukan perdebatan antara sahabatnya itu. Sudah terbiasa terjadi.


"Apa salahnya gua ngecek kafe?" sergah Ken.


"Lu bukan mau ngecek kafe, tapi Li mau ngecek si Jingga."


Mendengar nama Jingga, Aska membuka matanya. Dia melirik ke arah dua sahabatnya yang tengah beradu mulut.


"Bisa diam gak?" sentak Aska.


Ken dan Juno terdiam seketika. Mereka menatap ke arah Aska yang sudah memasang wajah sengit.


Ponsel Aksa berdering, ternyata sangat abanglah yang menghubunginya.


"Loudspeaker," titahnya. Aska pun menuruti perintah sang Abang.


"Upin dan Ipin, ingat pesan saya. Jangan ada yang berani keluar dari ruang rawat adik saya. Atau kalian akan ditangkap dan dibuang ke rawa oleh orang-orang yang menjaga adik saya di luar," ucapnya penuh penekanan.

__ADS_1


Ken dan Juno saling tatap dengan menelan saliva. Aksa lebih kejam dari Aska dan ternyata semuanya sudah disusun oleh Aksa. Mereka berdua hanya diam saja.


"Dek, dua sahabat lu itu masih hidup 'kan?" tanya Aksa dari balik sambungan telepon.


"Bang Sat!" geram Ken dari dalam hati.


"Bang Ke!" kesal Juno dalam batinnya.


"Mungkin mereka ingin cepat masuk liang lahat," jawab Aska asal.


Ken dan Juno ingin sekali menyerang Aska, tetapi dia tidak tega karena Aska tengah terbaring lemah.


"Kalian dengar gak?" bentak Aksa.


"Dengar, Bang."


"Abang lu emang begitu?" tanya Ken heran. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Aska.


"Lu kenapa jadi pria gagu sih?" kesal Juno.


Semenjak kejadian kemarin, Aska tidak banyak bicara. Hanya satu dua patah kata yang dia ucapkan. Tidak ada jawaban dari Aska. Dia memilih untuk memejamkan matanya kembali.


Dia tahu abangnya sedang melakukan sesuatu untuk kafenya dan dia tidak perlu khawatir. Ken mencari ponselnya, dahinya mengkerut ketika banyak panggilan dari Jingga.


"Bagaimana keadaan sahabat Anda, Pak?"


Pesan yang dikirimkan oleh Jingga. Ken bingung kenapa Jingga mengirim pesan hanya untuk menanyakan Aska. Ada hubungan apa antara Aska dan juga Jingga? Sebuah pertanyaan memutari otaknya sekarang.

__ADS_1


Namun, Ken tidak berani menanyakannya. Biarlah nanti dia yang menanyakannya sendiri pada Jingga. Jika, Aska sudah keluar dari rumah sakit.


Sedari semalam Aska tidak bisa tidur. Dia sudah menginterogasi semua anak buahnya. Namun, tak satupun yang menjawab pertanyaannya perihal Jingga yang ke Jakarta.


Berbeda dengan Aksa, sedari semalam dia sudah menahan amarah yang menggebu. Akan tetapi, dia bersikap baik-baik saja di depan istrinya. Biarlah istrinya menilai dia sebagai pria penuh kasih sayang dan juga bucin, bukan pria pemarah dan juga pendendam.


****


Di lapas, Fajar terus memberontak. Dia ingin menghubungi seseorang.


"Ijinkan saya untuk menghubungi seseorang," teriaknya.


Salah satu orang dari pihak lapas menghampiri Fajar. Membawa Fajar ke ruangan khusus untuk menelepon seseorang. Itupun atas seijin dari Aksa.


"Lu sengaja jebak gua?" sergahnya dengan urat-urat kemarahan.


Di lain Kota, Fahri yang baru saja menerima telepon dari Aksa bergegas mencari adiknya. Dia segera ke ruangan Fahrani dan samar terdengar adiknya tengah berbicara lewat sambungan telepon.


"Saya akan kirim pengacara terbaik."


Tangan Fahri sudah mengepal dengan sangat keras. Ditekannya gagang pintu itu dengan kasar sehingga membuat Fahrani terlonjak dan menjauhkan ponselnya.


"Kita ke Jakarta, SEKARANG!"


Deg.


...****************...

__ADS_1


Komen ya ...


__ADS_2