Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Iblis Betina


__ADS_3

Gio menepuk pundak sang putra. Dia tidak melarang Aksa melakukan hal kejam. Jika, posisi Gio berada di posisi Aksa sudah pasti dia juga tidak akan tinggal diam.


"Jangan gegabah. Ingat, Riana dan Gavin masih membutuhkan kamu." Aksa mengerti akan ucapan sang ayah. Dia juga tidak akan meninggalakan anak dan istrinya untuk sekarang ini.


Aksa memilih untuk kembali ke kamar perawatan Riana. Di sana istrinya sudah terjaga karena Gavin kehausan.


"Dari mana?" tanya Riana.


"Dari luar, bicara sama Daddy. Kalau bicara di sini takut ganggu kalian." Aksa mengusap lembut rambut Riana dan mengecupnya.


"Bang, masalah-"


"Kita semua sudah tahu." Riana hanya terdiam ketika Aksa berbicara seperti itu. "Biarkan iblis itu masuk ke dalam panasnya api neraka."


Riana menatap wajah suaminya yang tengah menahan amarah. Lebih baik Riana diam karena jika dia bersuara lagi pasti akan membuat Aksa tambah emosi.


Gavin menjelma menjadi anak yang sangat manja kepada sang ayah. Bayi itu tahu bahwa ibunya tengah terbaring lemah.


"Lengket banget sih sama Daddy," ucap Riana sambil mencubit gemas pipi Gavin. Bayi berusia tiga bulan itu hanya tertawa.


"Mau makanan luar gak?" tanya Aksa kepada sang istri. Riana menggeleng.


"Jangan tinggalin, Ri. Ri, takut." Aksa segera memeluk tubuh Riana. Kejadian itu banyak sedikit menimbulkan trauma pada diri Riana. Jika, dia tidak memaksa Riana untuk tidak datang ke acara tersebut, sudah pasti anaknya masih ada di dalam kandungan istrinya. Namun, hal yang tidak bisa diulang itu adlah waktu.


Aksa dan Gavin menemani Riana di rumah sakit selama menjalani perawatan intensif. Aksa menjadi ayah dan suaminya hanya siaga untuk anak dan istrinya.


Setelah tiga hari dirawat, Riana akhirnya diperbolehkan pulang ielh dokter. Dia juga sudah memasang IUD agar tak kebablasan lagi.


"Abang, jangan serang Riana dulu. Tunggu tiga bulan." Peringatan yang kedua kali dari sang ibunda membuat Aksa mengangguk untuk kali ini. Dia juga tidak ingin membuat Gavin kehilangan kasih sayang dari mereka berdua jika hadirnya anak mereka lagi.


Pagi ini, Aksa sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Riana sudah berada di lantai bawah karena Gavin sedari tadi ingin keluar kamar. Langkah kaki Aksa terhenti ketika ponselnya berdering. Ternyata dari sang adik. Aksa memilih masuk ke ruang kerjanya untuk berbicara dengan Aska.


"Lu serius?" tanya Aska dari balik sambungan telepon.


"Kesabaran gua udah habis. Nyawa harus dibalas dengan nyawa." Aksa sudah sangat geram. Dia sekalian membalasnya dendam Radit karena sudah membuat Echa menjadi wanita yang tidak sempurna.

__ADS_1


"Kali ini gua dukung lu. Kita terlalu baik sama iblis betina itu. Jadinya ngelunjak." Aksa setuju dengan ucapan dari Aska, dan sekarang sudah waktunya dia bersikap tegas kepada mantan istrinya itu. Aksa bukanlah orang yang tidak tega kepada wanita. Pria wanita pun dia libas kalau memang sudah mengganggu ketenteraman hidupnya.


"Kok lama?" tanya Riana yang baru saja menyusulnya ke ruang kerja.


"Takut ada yang ketinggalan." Aksa tersenyum, lalu merengkuh pinggang istrinya.


"Sun dulu, dong." Aksa sudah menyentuh bibirnya agar dikecup oleh sang istri.


Riana berjinjit dan mengecup bibir Aksa. Tak Aksa sia-siakan kegiatan itu. Dia sudah menyentuh leher istrinya dan semakin dalam menjelajahi rongga mulut sang istri. Setelah napas yang menipis, mereka berdua memundurkan kepala. Masih saling bertatap dengan mata yang penuh gairah. Tangan Riana mengusap lembut pipi Aksara. "Apa Abang tidak kecewa?"


Aksa tersenyum, lalu dia menyatukan kembali bibirnya dengan bibir istrinya. Memberikan sebuah kecupan hangat yang membuat Riana memejamkan matanya.


"Untuk apa? Abang hanya disuruh puasa selama tiga bulan. Lagi pula kita bisa melakukannya setiap hari tanpa takut kamu hamil lagi." Pikiran mesoem Aksa hadir kembali membuat Riana berdecak kesal. Namun, Aksa malah tertawa melihat imutnya wajah Riana.


"Walaupun gak bisa masuk ke gua utama, masih bisa pakai gua atas." Aksa sudah menunjuk bibir Riana hingga yang empunya bibir melebarkan mata.


"Abang!"


Aksa dan Riana dapat bernapas lega karena dokter menyatakan bahwa tidak ada masalah pada rahim Riana. Hanya saja mereka harus menunda kehamilan untuk beberapa tahun ke depan. Jika, ingin melakukan program kehamilan agar berkonsultasi kepada dokter dan melakukan pemeriksaan kembali.


Namun, rasa marah yang menggebu masih bersarang di hati dan kepala Aksa ketika Riana mengatakan bahwa Ziva ingin membuatnya seperti sang kakak. Itulah alasan kenapa Aksa ingin membunuh Ziva dengan tangannya sendiri.


.


"Si Alan! Buka!"


Pekikan suara yang terus menggema di sebuah gudang tua nan kotor dan jauh dari pemukiman warga.


"Ck."


Decakan kesal keluar dari mulut seseorang yang Ziva kenali. "Lepasin gua pengacara bodoh!"


Umpatan yang keluar dari mulut Ziva membuat Christian tertawa terbahak-bahak. "BODOH!" tekannya pada kata itu. "Saya atau kamu yang bodoh?" Kini, dia mengejek Ziva.


"Lepasin gua! Brengsekk!"

__ADS_1


"Tidak semudah itu, wanita gila," jawab Christian.


"Gua gak gila!" sanggah Ziva dengan masih berteriak.


"Gak gila," sindir Christian. Senyum meremehkan pun terukir di wajahnya. "Setiap hari kamu ngegali kuburan emak bapak kamu buat apa? Sampai penjaga kuburan ngasih pagar buat makam kedua orang tua kamu yang udah banyak dosa itu," terangan Christian.


"Mamih Papih Gua belum mati! Mereka masih hidup!"


Itulah alasan kenapa pihak kepolisian memindahkan Ziva ke rumah sakit jiwa. Namun, karena tidak ada yang bertanggung jawab atas Ziva maka dari itu pihak rumah sakit jiwa membebaskan Ziva dengan alasan dia sudah sembuh. Padahal, dia semakin parah. Ziva dipulangkan kepada keluarganya, tetapi tak ada satupun yang mau menerimanya hingga diusulkan lah ke pemakaman kedua orang tuanya.


Di pemakaman pun dia selalu berbuat ulah, ingin menggali makam kedua orang tuanya dengan alasan kedua orang tuanya masih hidup dan ingin membalaskan dendam kepada keluarga Giondra. Hingga ada orang yang berbaik hati membawa Ziva ke psikiater, mengubah Ziva dari manusia berpakaian compang-camping menjadi manusia yang enak dipandang. Dia pun diajak pergi ke mall dan di sanalah dia tak sengaja melihat Aksa juga Riana dan mendengar bahwa Riana hamil anak kedua. Otaknya yang sudah mulai waras berubah menjadi jahat. Apalagi dia melihat undangan yang digenggam Aksa sama dengan undangan yang didapati oleh orang baik yang ada di sampingnya. Maka dari itu, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan.


Suara langkah terdengar semakin mendekat, Christian menoleh ke arah belakang dan mata Ziva sudah melebar dengan sempurna melihat siapa yang datang.


"Lepaskan kerangkengnya," ucap Giondra.


Tubuh Ziva gemetar hebat melihat wajah Aksa yang sangat menyeramkan bagai monster. Christian membuka kerangkengnya dan menarik paksa Ziva dan membawanya ke ruang eksekusi.


"Ma-mau diapain?" Christian sudah mengikat tubuh Ziva di sebuah tiang yang sudah disiapkan. Dia melihat di hadapannya ada Aksara yang tak bersuara.


Beberapa orang mendekat dan membawa beberapa baki. Kemudian, diserahkan kepada Aksara. Mata Ziva melebar ketika melihat alat tembak yang ada di dalam baki itu. Aksa sudah mengangkat pistol genggam jenis revolver. Tanpa banyak orang yang tahu, semasa kuliah dia adalah atlet penembak. Maka dari itu, dia memiliki senjata api yang bisa dia gunakan secara ilegal. Tubuh Ziva benar-benar bergetar hebat.


"Apa Anda serius?" Christian bertanya lagi. Aksa mengangguk cepat dan tegas.


Aksa sudah mengarahkan pistol itu kepada Ziva dari jarak kurang lebih sepuluh meter. "NYAWA HARUS DIBALAS DENGAN NYAWA!"


Baru saja tangannya hendak menekan trigger, suara seseorang membuatnya tak jadi melakukan.


"Jangan kotori tangan Anda, Tuan."


Mereka semua menoleh ke arah belakang, di sana sudah berjalan seseorang yang memiliki badan kekar yang baru saja bebas dari jeruji besi.


"Brandon!"


"Biar saya saja yang membunuh iblis betina itu."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2