
Radit memarkirkan mobil di salah satu rumah sakit yang memintanya untuk menangani satu pasien yang dokter pastikan mengalami guncangan psikis. Terlebih dahulu Radit bertemu dengan dokter yang menangani pasien tersebut. Setelah mendengar penjelasannya, Radit beserta perawat segera menuju ruangan yang dimaksud.
Pintu kamar perawatan terbuka, Radit melihat seorang wanita yang tengah bersandar di kepala ranjang pesakitan dengan wajah yang datar.
"Selamat pagi," sapa perawat. "Kita cek semuanya dulu, ya."
Pasien itu menatap Radit dengan kedua alis menukik tajam. Wajah yang tidak asing dan pernah bertemu, tetapi dia lupa di mana.
"Jingga Andira," batin Radit.
Nama yang tidak asing baginya. Wajahnya pun seperti pernah lihat. Namun, Radit menepis semuanya. Dia harus bekerja profesional karena dia juga masih ditunggu istri dan anaknya di rumah.
Setelah diperiksa, perawat itu mendekat ke arah Jingga. "Kenalkan ini dokter Radit. Kamu akan ditangani beliau dulu, ya." Jingga tidak mengerti dengan ucapan dari perawat tersebut.
Kini, tinggi Radit juga Jingga di kamar tersebut. Radit duduk di kursi samping ranjang pesakitan. Dia menatap penuh selidik ke arah Jingga.
"Ada yang mau diceritakan?" tanya Radit. Jingga hanya diam, kemudian menggeleng.
Radit hanya menghela napas kasar. Tetapi bukan berarti dia menyerah, dia terus mendesak Jingga agar membuka suara. Mengeluarkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya.
"Bagaimana perasaan kamu?"
Jingga yang tengah menunduk kini menegakkan kembali kepalanya. Menatap ke arah Radit yang juga tengah menatapnya.
"Kamu tahu 'kan bahwa tulang kamu mengalami luka yang cukup fatal. Kenapa?" tanya Radit. "Kenapa kamu diam saja ketika dia melakukan itu?" lanjutnya lagi.
Tidak ada jawaban dari Jingga. Hanya air mata yang sudah menganak yang Jingga tunjukkan. Wajahnya terlihat menanggung beban yang berat.
"Katakanlah apa yang mau kamu katakan. Keluarkan segala unek-unek yang ada di hati kamu. Saya siap mendengarkan," tukas Radit.
Jingga hanya diam saja, dia tidak mau membuka mulutnya. Dia tidak ingin menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Cukup dia dan Fajar yang tahu. Begitulah hatinya berbicara.
__ADS_1
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
Dua puluh lima menit.
Tiga puluh menit.
Jingga masih menutup mulutnya, tetapi Radit dengan sabar menunggunya. Radit tahu, Jingga ingin mengungkapkan sesuatu. Namun, dia tidak bisa membuka mulut seakan sudah terikat janji dengan seseorang.
"Aku lelah."
Dua buah kata yang terucap dari mulut Jingga di menit ketiga puluh lima. Radit masih menjadi pendengar setia. Dia tidak memotong ucapan Jingga sedikit pun.
"Aku kira dia pelindung, tetapi semakin ke sini dia semakin menjelma menjadi seorang pembunuh," lanjutnya lagi.
"Tubuhku sakit, hatiku lebih sakit lagi. Ayahku saja tidak pernah memperlakukan aku kasar, kenapa orang yang aku anggap sebagai pahlawan malah seperti itu? Aku hanya butuh tempat untuk berlindung," lirihnya.
Radit merasakan emosi yang tengah Jingga rasakan saat ini. Hatinya ikut sakit ketika mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir Jingga.
"Aku anak sebatang kara. Hidupku bagai terombang-ambing di lautan lepas. Ketika aku terdampar di bibir pantai, aku merasa bahagia karena ada yang mau memungutku. Dia pahlawan untukku, tetapi semakin ke sini semakin terlihat jelas tabiat aslinya. Pukulan ... tamparan ... seperti menu wajib yang harus aku terima," paparnya dengan kepala yang masih menunduk.
"Awalnya aku menangis dan terus memohon ampun. Lama-lama aku terbiasa, aku bersahabat dengan tamparan, tendangan serta pukulannya. Meskipun, aku tidak salah ... aku tidak berani melawan. Aku tahu diri, aku ini siapa, hanya seonggok sampah yang dia pungut," lanjutnya lagi.
"Kenapa kamu tidak mencari perlindungan kepada pihak yang berwajib?" sergah Radit.
Jingga mendongakkan wajahnya, menatap Radit dengan mata yang merah serta sembab.
__ADS_1
"Perlindungan hanya untuk mereka yang berada, sedangkan aku hanya rakyat jelata. Apa masih ada perlindungan untuk rakyat sepertiku? Bukankah hukum itu runcing ke bawah dan tumpul ke atas?"
Radit hanya terdiam, dia tidak bisa menjawab apapun. Pada nyatanya seperti itu. Dia yang notabene orang punya pasti akan mudah menjebloskan siapapun ke dalam penjara. Apalagi, jika lawannya orang yang di bawahnya. Sudah pasti dia yang akan menang.
"Aku tidak percaya dengan perlindungan hukum. Orang salah bisa menjadi benar dan orang benar bisa disalahkan. Lebih baik seperti ini, dari pada hidup di bui tanpa masa depan yang pasti," tukasnya.
Radit tidak bisa menjawab apa-apa, ada luka yang menganga di dalam hati Jingga. Luka lama yang masih belum bisa sembuh dan berubah menjadi trauma sendiri untuknya.
"Sekarang, aku hanya percaya pada diriku sendiri. Orang yang mampu melindungiku hanya diriku, bukan orang lain," tandasnya.
Sedari tadi Jingga berucap dengan pandangan yang lurus ke depan. Di mana otaknya tengah melakukan flashback ke belakang. Memori indah hingga memori buruk serta menyakitkan berputar bergantian.
"Aku ingin memulai hidup baru di sini. Melupakan semua yang telah mereka goreskan. Kota ini membuatku nyaman, aku lahir di sini serta menjalani kerasnya hidup dari sini. Di Kota ini pula aku bertemu dengan orang-orang yang sangat baik. Mampu memberikan aku kebahagiaan yang tak pernah aku dapatkan sebelumnya."
Kini, memori dengan Kalfa serta Satria berputar di kepalanya. Canda tawa, makan bersama, jalan-jalan bersama itulah yang memori otaknya putar.
"Apa kamu tengah merindukan seseorang?" tebak Radit.
"Aku selalu merindukan mereka. Keluarga yang mampu menerimaku dengan tangan terbuka. Memberikanku kenangan yang indah yang tidak bisa aku lupa," jawab Jingga.
"Bagaimana dengan lelaki yang melukai kamu itu? Apa kamu pamit kepadanya? Apa kamu tidak takut jika dia akan mencarimu sampai ke sini?" tanya Radit bertubi-tubi.
"Aku pergi begitu saja. Aku ke sini karena dipindahkan oleh bosku dari restoran yang lama. Ini bukan keinginanku, tetapi tuntutan pekerjaan agar kehidupanku bisa lebih baik lagi," jawabnya. Jingga menjeda ucapannya, sorot matanya memperlihatkan kesakitan yang luar biasa jika membahas pria itu.
"Dia mencariku mungkin untuk membunuhku. Aku sudah tidak takut mati, malah aku bersyukur jika aku dibunuh olehnya. Aku bisa bertemu dengan ibuku di surga," lanjutnya lagi.
Hati Radit bagai ditusuk belati tajam ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Jingga. Jika, menyangkut ibu hatinya akan melemah.
"Jujur, aku sudah lelah hidup. Tidak ada motivasi atau semangat untukku menjalani kehidupan ini. Aku lelah dengan penderitaan, kesedihan, kesendirian serta kesakitan fisik dan hati yang aku terima selama ini. Aku ingin menghadap Tuhan lebih cepat, tetapi Tuhan seolah mencegahnya."
...****************...
__ADS_1
Komen dong, aku usahakan up lebih dari 2bab menemani hari Sabtu kalian.
Oh iya, yang bertanya Yang Terluka kenapa belum up aku belum sempat isi bab-nya. Aku lagi ngejar 2 karya dulu ditambah kehidupan nyata sedang sibuk-sibuknya, jadi gak bisa atur waktu. Biasa aku yang kalong pun kini tidak bisa begadang. Kisah Echa serta keluarganya akan menuju end.