
Nyali Bian seketika menciut mendengar apa yang dikatakan oleh bos besarannya. Dia yang masih bisa menatap ke arah pria tampan di hadapannya, mendadak menundukkan kepala.
"Modal yang saya berikan itu tidak main-main. Itu bukan uang yang sedikit," sentaknya. Urat-urat kemarahannya sudah muncul.
"Kamu selalu bilang begini dan begitu. Oke, awalnya saya percaya, tetapi makin ke sini laporan keuangan kamu dengan laporan anak buah saya jauh sekali. Tidak ada kata keuntungan yang saya terima. Hanya minus," paparnya.
Sebuah lembaran putih pria itu berikan kepada Bian. Dia meraihnya dan dengan tangan yang gemetar Bian melihat kata dan angka yang ada di sana.
"Ke mana uang lima ratus juta perginya?" Pria itu sudah menggebrak meja dengan cukup keras. Bian pun sangat terkejut.
"I-itu ...."
"Kamu tahu siapa saya?" tanya pria tersebut. "Saya bukanlah orang yang baik hati seperti ADIK SAYA."
Dunia Bian terasa runtuh mendengar murkaan Ghassan Aksara Wiguna. Tidak akan ada asap, jika tidak ada api. Aksa tidak akan marah tanpa sebab karena Aksa masihlah pria waras.
"Saya tunggu uang itu kembali dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam. Kalau kamu tidak bisa mengembalikan uang itu, siap-siap mendekam di jeruji besi."
Perkataan yang sangat menakutkan yang terdengar di telinga Bian. Dia sangat tahu bagaimana sikap asli Abang dari sahabatnya itu. Pria kejam yang tak berperikemanusiaan.
Aksa pergi begitu saja, dia hanya menghela napas kasar. Awalnya, dia hanya ingin menyelamatkan Jingga. Namun, berakhir dia harus kehilangan uang setengah milyar. Nominal itu tidak masalah bagi Aksa, hanya saja dia tidak menyangka bahwa sahabat dari adiknya ini malah memanfaatkannya.
"Apa yang harus gua lakukan?" erang Bian sambil menjambak rambutnya sendiri.
Waktu sudah sore, Jingga bekerja hanya sampai setengah jam enam saja. Namun, kali ini dia tidak bahagia karena tidak bisa bersama Aska. Aska memang sudah benar-benar memenuhi hatinya.
Tibanya di kosan, Jingga segera mengecek ponselnya. Biasanya sudah ada pesan dari Aska yang menanyakan dirinya sudah sampai rumah atau belum. Akan tetapi, sekarang tidak ada. Aplikasi pesannya sepi bak kuburan.
"Bang As," lirihnya.
Jingga menatap benda pipih di depannya. Dia sudah membuka kontak Aska. Namun, dia ragu untuk menekan gagang telepon berwarna hijau. Dia takut mengganggu Aska.
"Telepon jangan ya," gumamnya.
Ketukan pintu membuat Jingga tersentak. Dia mencoba untuk mengintip sebelum dia membukakan pintu. Mata Jingga melebar ketika melihat Bian sudah ada di depan kosannya.
"Gimana ini?" Jingga benar-benar ketakutan dengan kehadiran Bian.
Tangannya kini menari-nari di atas aplikasi pesan. Dia segera mensenyapkan ponselnya agar tidak terdengar ada suara di dalam.
"Bang, tolong ke kosan aku. Aku takut."
Pesan yang dikirimkan Jingga kepada Aska. Dia sangat berharap Aska datang tepat waktu. Namun, belum juga ada jawaban dari Aska. Jingga terus merapalkan doa di dalam hatinya. Aska bisa menjadi pangeran berkuda putih untuk dirinya.
__ADS_1
Aska yang baru saja keluar dari kamar mandi segera meraih ponsel yang sedang dia charge. Handuk masih tersampir di pundaknya. Rambutnya pun masih sangat basah karena sengaja dia mengguyur seluruh tubuhnya suapaya pikiran dan hatinya dingin.
Kedua alis Aska menukik tajam ketika melihat pesan yang dikirimkan oleh Jingga. Matanya pun melebar. Aska segra memakai baju tanpa membalas pesan dari Jingga. Dia takut jika terjadi apa-apa dengan Jingga. Tak dia pedulikan hatinya yang masih tak karuhan kepada wanita yang tengah menggantung perasaannya.
"Tunggu aku di sana, Jingga." Itulah yang digumamkan oleh Aska.
Di depan kosan Jingga, Bian sudah mengetjk-ngetuk pintu kosan Jingga. Dari pelan hingga terdengar gedoran.
"Jingga, kamu di dalam 'kan?" teriak Bian dari arah luar. Tubuh Jingga semakin bergetar. Dia terus menatap ponselnya berharap Aska membalas pesannya untuk menyelamatkannya. Dia tidak ingin menyakiti hati Aska lagi.
"Jingga!"
Bian berteriak lagi, tetapi Jingga tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
"Apa dia masih di kafe?" gumam Bian. "Bukankah kemarin dia pulang sebelum Maghrib?" lanjutnya lagi.
Jingga berharap Bian segera pergi. Untung saja Jingga belum menghidupkan lampu kosannya. Jadi, terlihat kosannya kosong.
Jingga masih betah di dalam. Dia tidak ingin keluar, tetapi dia juga takut kegelapan. Menyalakan senter pun itu tidak mungkin karena dia tidak ingin Bian mengetahui dia ada di dalam.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara deru mesin motor. Jingga terdiam dan berusaha menguping. Demi mendengar apa yang terjadi di luar, dia merangkak hingga pintu.
"Ngapain lu di sini?" Suara yang Jingga kenali. Namun, Jingga tidak menyangka bahwa Bian masih menunggunya di depan.
Di depan ternyata sedang ada peperangan tatapan tajam antara Bian dan juga Aska. Aska yang tidak suka dengan kedekatan Bian dan juga Jingga, sedangkan Bian yang tengah memendam rasa kesal karena dia berpikir jika penarikan modal yang dilakukan Aksa merupakan ulah aduan Aska kepada Aksara.
"Kalau lu gak suka gua dekat sama Jingga, bilang!"
Ucapan Bian terdengar sangat emosi, urat-urat kemarahannya pun sudah muncul. Aska hanya berdecih kesal.
"Gak usah nyangkut pautin Abang lu," ujarnya dengan nada masih meninggi. Kedua alis Aska memilih tajam ketika Bian menyebut abangnya. Otaknya tengah berkerja menebak apa yang dimaksud Bian.
"Cemen lu!" Bian berani mendorong tubuh Aska hingga dia terhuyung ke belakang.
Aska mencoba menyabarkan diri. Dia tidak mungkin bersikap arogan. Dia tahu, Jingga ada di dalam sana. Dia tidak ingin terlihat buruk di mata Jingga.
"Jangan karena lu orang berada lu bisa seenaknya," geram Bian.
Aska menatap tajam ke arah Bian dengan tangan yang sudah mengepal. Namun, dia tidak akan sekejam itu memukul sahabatnya. Meskipun, dia sudah mencoba menikung Jingga.
"GUA ENGGAK SERENDAH ITU!" balas Aska dengan penuh penekanan.
Dari arah dalam kamar, jantung Jingga sudah gemetar tak karuhan. Dia yakin Bian dan Aska bertengkar karena dirinya. Wanita yang selalu membuat onar di manapun dia berada. Apa sekarang sudah waktunya Jingga untuk pergi meninggalkan Aska? Menjauhi Bian juga, agar semuanya kembali seperti semula.
__ADS_1
Jingga bergelut dengan pikirannya sendiri, sedangkan di luar hanya ada sorot mata yang sama-sama tajam yang mereka berikan.
"Dasar sahabat licik!"
Bugh!
Sebuah pukulan keras mengenai wajah Bian. Wajah Aska sudah merah padam, dan Jingga yang berada di dalam terlonjak dan mencoba melihat melalui celah gorden. Dia melihat Aska sedang menunjuk-nunjuk wajah Bian. Dia tidak terima disebut seperti itu. Bian seakan membalikkan keadaan.
"Emang benar ya, terkadang kebaikan seseorang itu dibalas dengan kejahatan. Bukan hanya sikap, tapi perkataan lu yang sangat jahat," geram Aska.
"Gua kira lu sahabat gua, ternyata hanya sekedar manusia penjilat," lanjutnya lagi.
"Anyiing!"
Bugh!
Kini, wajah Aska yang terkena bogem mentah dari Bian. Dia pun tersenyum penuh kemenangan ketika melihat sudut bibir Aska berdarah.
"Dasar lemah!" ejek Bian dengan seringainya.
Bian pun meninggalkan Aska yang tengah menyeka ujung bibirnya. Aska tidak tega memukul Bian dengan sekuat tenaga, tetapi Bian malah sebaliknya. Aska hanya tersenyum tipis.
Mendengar suara deru mesin mobil menjauh, Jingga yang tengah mengintip dari balik gorden jendela segera keluar karena dia menyaksikan sendiri bagaimana Aska dipukul oleh Bian.
"Bang As!"
Jingga berlari menghampiri pria yang masih berdiri di tempat dia dipukul oleh Bian. Tangan Jingga meyentuh sudut bibir Aska.
"Berdarah," lirihnya.
Kini, dia menatap ke arah Aska dengan tatapan sendu. Tak ada respon berarti yang Aska tunjukkan. Datar saja.
"Kita ke dalam, aku akan obati lukanya," ucap Jingga dengan nada cemas.
Jingga hendak berjalan mendahului Aska untuk masuk ke dalam kosannya yang masih gelap gulita. Namun, Aska mencekal tangan Jingga hingga langkahnya terhenti. Perlahan dia menatap kembali wajah Aska.
"Bukan luka ini yang harus kamu obati, tetapi ini," tunjuknya ke arah dada.
"Sampai kapan aku harus merasa tersakiti melihat kamu bersama pria lain? Apa kamu tidak berniat untuk mengobati hatiku yang beberapa hari ini sakit karena kedekatan kamu dengan sahabatku sendiri?"
...****************...
Insha Allah crazy up lagi, ya ... asal banyak komennya aja 😁 #ngelunjak
__ADS_1