
"Kamu sudah siap?"
Seorang wanita yang baru saja terlepas dari selang infusnya mengangguk pelan. Ada raut penuh kelegaan di matanya.
"Kamu jangan takut. Aku akan bawa kamu berobat ke luar negeri untuk memulihkan trauma yang kamu alami." Senyum hangat orang itu berikan.
"Kenapa Anda baik sekali kepada saya?" tanya perempuan tersebut.
"Hati kecil saya tergelitik untuk membantu kamu. Jangan khawatir, kamu akan ditangani oleh orang-orang terbaik di sana."
Meninggalkan semua kenangan dan luka itulah pilihannya. Tidak ada kata pamit ataupun pertemuan terakhir. Semenjak orang yang dia cintai tak pernah kembali, dia mencoba untuk menguburnya seorang diri. Biarlah luka itu pergi.
****
Ruang perawatan Riana masih diramaikan oleh keluarga besar serta sahabat Aska. Setelah mendapat nasihat demi nasihat dari orang-orang yang lebih tua akhirnya Aska mengerti akan kehidupan yang sesungguhnya. Banyak musuh dibandingkan dengan teman karena teman itu bisa saja berubah menjadi penjilat.
"Mumpung semuanya lagi kumpul, Adek mau bilang sesuatu," ucapnya.
Semua orang terdiam, Riana malah menggenggam erat tangan Aksa dan membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami sedangkan ibunya sudah menunduk dalam tak bisa berkata apa-apa.
"Mau ngomong apa lu? Berasa serius amat," kelakar Ken.
Aska hanya tersenyum. Dia menatap satu per satu orang yang ada di ruang perawatan kakak iparnya tersebut.
"Aku akan pergi ke Melbourne dan meninggalakan kalian semua."
Suasana mendadak hening, Gio sudah memeluk sang istri tercinta yang sudah menitikan air mata. Echa memandang adiknya dengan nanar, kemudian dia menatap sang suami. Anggukan kecil membuat Echa menggelengkan kepala. Radit segera memeluk tubuh istrinya.
"Jangan pergi!" seru Aleesa.
Dia berlari dan memeluk tubuh sang paman. Diikuti oleh dua saudaranya yang lain.
"Jangan tinggalkan kami," pinta Aleena.
Kedua kakak Aska sudah menitikan air mata. Inilah hal terberat yang harus mereka hadapi.
"Jangan bercanda. Askara!" sentak Ken.
"Gua serius," jawab Aska seraya memeluk ketiga keponakannya.
"Gila! Lu udah gila!" seru Juno. "Apa dengan cara ini lu bisa lupain Jingga?" lanjutnya lagi.
Aska hanya tersenyum. Dia mencium puncak kepala ketiga keponakannya yang pastinya akan sangat dia rindukan.
"Sampai kapanpun gua gak akan pernah bisa lupain Jingga," jawabnya. "Dengan kepergian gua ini, perlahan-lahan gua akan bisa mengikhlaskan dia bahagia dengan suaminya." Seulas senyum masih bisa Aska tunjukkan.
"Ada dua alasan kenapa gua memutuskan untuk pergi," ujarnya. "Pertama, gua gak mau jadi anak pembangkang. Bokap gua nyuruh gua ke Melbourne, tapi bulan depan. Berhubung hati gua sekarang sedang kacau kenapa tidak dipercepat saja besok." Semua orang tercengang mendengar alasan pertama Aska.
"Kedua, dengan gua jauh dari Jingga gua berharap perasaan yang gua punya untuk Jingga bisa memudar dan hilang karena di sana pun gua akan sibuk dengan perusahaan kakek gua."
Penjelasan yang masuk akal, ibarat kata menyelam sambil minum air. Mengelola perusahaan sambil melupakan seseorang.
Semua orang terdiam tidak bisa mencegah ataupun melarang. Apalagi mereka semua melihat betapa terlukanya hati Askara.
"Haruskah Om pergi? Tidak maukah Om memperjuangkan perasaan yang Om miliki?" Pertanyaan dari anak pertama Echa dan Radit. Kepalanya sudah mendongak menatap ke arah Askara.
"Perjuangan Om sudah harus diakhiri, Kakak Na. Om dan Kak Jing-jing tidak berjodoh. Dia sudah memiliki suami yang akan menjaganya," jelas Aska.
"Selalu saja berkata bagai Tuhan. Takdir itu tidak bisa dijangkau oleh nalar manusia."
Kalimat yang membuat semua orang kini menatap Iyan dengan dahi yang mengkerut. Lagi-lagi sebuah clue yang keluar dari mulut Iyan.
__ADS_1
"Apa sih maksudnya? Otak gua gak nyampe," tanya Ken.
"Gua aja bingung," sahut Juno.
Hanya Aleesa yang dapat mengerti ucapan Iyan. Namun, dia juga tidak bisa memastikan karena kemampuannya tidak dapat menjangkau masa depan.
"Ucapan Iyan ini hanya dia dan Tuhan yang tahu," ucap Radit mencairkan suasana. Iyan merengut kesal dan Radit malah mengacak-acak rambut adik iparnya tersebut.
Aska sedari tadi memperhatikan ibunya yang berada di dalam dekapan sang ayah. Dia menghampiri Ayanda dan bersimpuh di hadapan sang ibu.
"Perginya Adek untuk berbakti kepada Daddy juga Mommy. Selama ini, Adek selalu membangkang ucapan Daddy mungkin ini karma yang Adek terima. Selalu gagal dalam mendapatkan hati wanita." Aska tersenyum tipis. Dia meraih tangan ibunya dan menciumnya.
"Mom, Adek ingin menjadi anak yang membanggakan untuk Daddy juga Mommy. Adek ingin seperti Abang, ketika menikah semuanya sudah Adek miliki dari hasil kerja keras Adek sendiri. Adek tidak ingin membuat wanita yang nantinya akan menjadi istri Adek hidup menderita," terangnya lagi.
Mata Ayanda masih berkaca-kaca mendengar ucapan dari sang putra.
"Ijinkan Adek berjuang untuk melupakan orang yang Adek sayang. Kalau Adek di sini terus, Adek yakin Adek tidak akan pernah bisa melupakan dia. Adek hanya menyibukkan diri Adek, siapa tahu dengan seperti itu Adek bisa mengikhlaskan dia juga menjadikan diri Adek lebih baik lagi."
Tidak tega sekali Ayanda mendengar penuturan dari sang putra bungsu. Dia memeluk tubuh Askara dengan sangat erat.
"Jaga diri kamu di sana ya, Dek." Suara Ayanda sangat bergetar. "Selalu hubungi Mommy."
Tangan Aska semakin erat memeluk tubuh Ayanda. Dia pun menganggukkan kepala. "Tentu, Mom. Doakan Adek semoga Adek bisa seperti Kakak dan Abang yang bisa membanggakan Mommy juga Daddy."
"Lebih baik kita mengadakan pesta perpisahan untuk Askara. Besok pagi-pagi dia harus terbang ke Melbourne," ucap Giondra.
Tidak ada jawaban dari mereka, tetapi Aska seakan setuju dengan ide dari sang ayah.
"Kita makan malam disekitaran sini saja biar Riana bisa ikut." Mendengar namanya disebut Riana hanya tersenyum kecut.
Aska mampu menutupi rasa sedihnya kepada semua orang, tetapi tidak kepada kembarannya. Sedari tadi Aksa menatap adiknya dengan tatapan sendu. Hanya seulas senyum yang Aska berikan. Namun, itu bukanlah senyum kebahagiaan melainkan senyum kepedihan.
🎶🎶
Ajarkan aku
Cara tuk melupakanmu
Bila membencimu
Tak pernah cukup
Tuk hilangkan kamu
Aska tersenyum penuh luka. Hatinya menangis keras. Dia tidak ingin meninggalkan Jingga, tetapi dia juga harus tahu diri jika dia siapa? Dia tidak akan menjelma menjadi pria jahat yang akan merebut istri dari sahabatnya. Dia percaya jika cinta di antara Jingga dan Bian akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Apalagi mereka terus bersama. Tidak ada yang tidak mungkin karena Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia.
Hanya kebahagiaan yang mereka coba berikan kepada Askara. Dari bernyanyi dangdut hingga bergoyang bersama. Ide dari seroang Arya Bhagaskara yang tidak tega melihat Aska karena dia sudah menganggap Aska seperti anaknya sendiri.
Ketiga kurcaci itu pun tak mau jauh dari Aska. Mereka terus berada di pangkuan sang om tercinta.
🎶
Ketika kesepian menyerang diriku
Nggak enak badan, resah nggak menentu
Kutahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don't you worry, just be happy
__ADS_1
Temanmu di sini
Kamu sangat berarti, istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti kita telah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
🎶🎶
Suara Ken dan Juno yang membuat hati Aska terenyuh mendengarnya.
"Gua dan Juno sebenarnya ingin melarang lu pergi, tapi kita berdua juga gak mau melihat lu terus-terusan sedih seperti ini. Kita berdua juga gak mau egois," tutur Ken. Wajah Ken sudah sangat serius.
"Gua juga tahu, kita gak mungkin terus sama-sama. Ada perbedaan yang mencolok di antara kita bertiga, tapi lu seakan membuang perbedaan itu malah terus merangkul gua dan Ken sampai kita berdua bisa berdiri di atas kaki kita masing-masing. Bisa membiayai kuliah juga merubah hidup kita meskipun pelan, tapi pasti," papar Juno. Dia tersenyum ke arah Aska. "Thank you so much. You're our bestie."
Aska berdiri dan menghampiri kedua sahabatnya yang sudah membendung air mata. Dia memeluk tubuh Ken dan juga Juno.
"Persahabatan kita untuk selamanya."
🎶
Sahabat ... Untuk selamanya
Kau dan aku sahabat
Untuk selamanya ...
Selama-lamanya ..
Setia.
🎶
Semua orang tertawa mendengar tiga kurcaci itu bernyanyi soundtrack Upin Ipin.
"Ngapa backsound-nya Upin Ipin?" sergah Ken yang mencoba mencairkan suasana.
"Om Ken Upin, Om Uno Ipin," balas Aleeya.
"Bukan Dek, Om Ken Ipin dan Om Uno Upin," ralat Aleesa.
"Udah gak usah ribut," lerai Aleena. "Yang penting mereka itu seperti anak kembar botak. Ke mana-mana berdua. Mending kalau sama pacar," terang Aleena yang berujung mengejek.
"Kalah sama truk dong," timpal Aleesa.
"Truk aja gandengan, masa Om Ken gandeng tangan Om Uno," ejek Aleena.
Suasana pun mendadak riuh karena candaan ketiga kurcaci tersebut.
"Askara!"
Suara seseorang yang baru saja masuk ke restoran dengan wajah penuh kemarahan.
...****************...
Maaf kemalaman ..
Komen dong ....
__ADS_1