Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Benih Cinta


__ADS_3

Semenjak malam itu, Aksa dan Riana harus sembunyi-sembunyi dalam melakukan hubungan pasutri di tengah program kehamilan yang tengah mereka rencanakan. Bagiamana tidak, Gavin selalu bangun dan berpindah tempat tidur setiap malam tanpa mereka ketahui. Kelakuan putranya sungguh membuat Aksa menggila.


Seperti pagi ini, ketika semalam Aksa hendak mencapai puncak, tangisan Gavin membuat Riana yang tengah menikmati puncaknya harus mengakhiri semuanya. Ular phyton yang sudah menjulang pun tertidur lagi. Lahar yang ingin keluar pun, tak jadi. Akhirnya, kepala Aksa pusing dibuatnya. Makan pun tak berselera.


"Bang," panggil sang istri.


Aksa tersenyum perih, hingga Riana berinisiatif membawa suaminya ke ruang kerja Aksa. Menguncinya dari dalam. Riana memulai aksinya, mencium bibir suaminya dengan lembut seperti memancing gairah Aksa. Benar saja, Aksa pun sudah terpancing dan tangannya sudah menggerayangi tubuh Riana ke sana ke mari. Riana pun sudah tak tahan dan tanpa aba-aba dia melucuti pakaiannya sendiri agar suaminya puas. Berharap benih-benih yang ditabur di lahan basah miliknya bisa tumbuh dengan cepat.


Mata Aksa tak berkedip ketika melihat tubuh polos Riana yang benar-benar menggugah selera. Apalagi, melihat sumber asi yang seakan tengah memanggilnya. Riana terus merintih keenakan karena tangan Aksa pun tak mau diam.


"Bang."


Sebuah kode yang membuat Aksa bergerak cepat. Dia sangat tahu titik lemah istrinya di mana. Ular phyton yang menyimpan bisa luar biasa masuk ke dalam ladang basah hingga menimbulkan suara seperti orang yang tengah bermain becek-becekan. Apalagi suara istrinya yang sangat merdu membuat Aksa terus memompanya dan sesekali menggoyang tubuhnya hingga le nguhan keluar dari mulut sang istri tercinta.


"Abang," jerit kecil Riana.


"Keluarkan Sayang, jangan ditahan."


Aksa semakin memberikan rangsangan hingga ladang istrinya terasa sangat hangat karena ada aliran air yang keluar dari mata air kecil milik istrinya.


"Lanjut ya, Yang. Abang gak, tahan."


Kini, Riana menyuruh suaminya untuk berbaring di atas sofa panjang. Dialah yang memandu jalan permainan. Gaya yang membuat keduanya melayang.


"Duh, Yang."


Kepala ular itu sudah masuk ke ladang basah paling dalam hingga si ular sedikit kesulitan bernapas. Namun, menikmati sensasi yang luar biasa nikmatnya.


Istrinya sudah mengeluh tidak kuat lagi sama halnya dengan dirinya yang sudah di ujung. Gerakan sang istri yang sungguh luar biasa nikmatnya juga tangan Riana yang sudah menjelajahi tubuhnya membuatnya semakin tidak kuat.


"Arrgh!" Jeritan keluar dari mulut mereka berdua. Terasa cairan hangat masuk ke dalam ladang basah Riana. Sengaja, Riana tidak segera melepasnya. Dia membiarkannya supaya benih-benih super sang suami tumbuh di rahimnya. Mereka pun harus mandi untuk kedua kalinyan di pagi hari ini.


Aksa tersenyum bahagia dan mencium kening istrinya sangat dalam dan lama sebelum dia berangkat ke kantor.


"Kamu istirahat, ya. Pasti capek." Riana hanya tersenyum dan dia mendekap hangat tubuh suaminya.


.


Waktu terus berputar. Usaha sering mereka lakukan walaupun ketika pagi harinya Gavin akan menangis keras karena leher sang ibu dipenuhi tanda merah. Maka dari itu, Aksa hanya memberikan tanda merah itu hanya di bagian gunung kembar milik Riana agar anaknya tak protes.


Sudah hampir satu tahun Riana melepas IUD. Namun, dia tak kunjung mendapat kabar baik. Pernah beberapa kali dia terlambat datang haid. Hatinya sangat senang, tetapi keesokan harinya tamunya itu datang. Seperti malam ini, Aksa dan Riana duduk di balkon berdua. Gavin tengah dibawa oleh kakek dan neneknya ke mall.


Tangan Aksa sudah tidak mau diam, apalagi Riana tengah duduk di pangkuannya.


"Bang, kalau satu tahun ini Ri gak kunjung ngisi, apa kita ikut program bayi tabung aja?" Aksa menghentikan bibirnya yang tengah menyusuri sumber asi milik Riana.


"Kamu mau?" Riana mengangguk. Aksa hanya tersenyum dan menyetujui keinginan sang istri.


"Sekarang waktunya ...."


Aksa sudah membopong tubuh Riana ke dalam kamar dan mereka pun melakukan hal yang membuat mereka melayang. Kali ini nonstop, mereka berdua sepertinya sedang on fire. Hanya jeda sepuluh sampai lima belas menit, mereka bermain lagi. Riana yang biasanya kalah pun kini seakan tak mau kalah.


Sudah berapa banyak benih yang Aksa tanam di ladang basah milik Riana. Hingga ronde kelima barulah mereka merasa tubuh mereka sudah sangat lemas tak berdaya. Apalagi Riana yang sudah memejamkan mata.


"Tumbuhlah di sana, Nak." Aksa mengecup perut Riana. Berharap ada benih yang tumbuh di dalam sana.


Setiap hari tangan mungil Gavin selalu mengusap lembut perut sang ibu. "My, tapan dede ada di dalam tini?" Usia Gavin sudah memasuki usia hampir tiga tahun. Namun, ibunya belum juga memberikan kabar baik kepadanya.


"Sabar ya, Nak. Mommy dan Daddy sedang berusaha. Semoga secepatnya ada Dedek Empin di dalam sini."


Gavin mengangguk mengerti. Dia memeluk tubuh sang ibu dengan sangat erat. Riana hanya bisa mengusap lembut rambut sang putra.


Sudah beberapa hari ini Riana merasa tubuhnya tidak enak. Kepalanya pusing dan makanan apapun yang masuk ke dalam mulutnya tidak sedap. Namun, Riana tidak memberitahukannya kepada Aksa.


"My, atu mau totish."


Riana yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum. Mengajak Gavin ke dapur untuk memilih sosis yang dia inginkan. Gavin memilih sosis yang ada di freezer. Kemudian, memberikannya kepada sang ibu.


"Ini, My."


"Mau digoreng apa dibakar?" tanya sang ibu.


"Batal pate tetap." (Bakar pake kecap)


Riana mengangguk mengerti dan mempersiapkan alat untuk membakar sosis untuk sang putra. Gavin membuka lemari pendingin miliknya dan mengambil susu kotak kesukaannya. Lalu, dia naik ke atas kursi meja makan menunggu ibunya.


Perut Riana seperti diaduk-aduk. Namun, dia masih menahannya demi sang putra. Setelah sosis selesai dibakar, Riana masuk ke dalam kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Kepalanya terasa pusing dan tubuhnya sudah mulai lemah. Namun, dia tidak boleh sakit karena ada sang putra yang harus dia rawat.

__ADS_1


Ketika keluar dari kamar mandi, matanya melebar ketika semua penghuni rumah itu sudah berada di dapur. Dahinya mengkerut.


"Muka kamu pucat banget, Yang." Aksa menghampiri Riana dan menyentuh dahi sang istri. "Gak panas." Riana hanya tersenyum.


"Ri, bereskan pakaian kamu untuk beberapa hari ke depan. Kita terbang ke Melbourne sekarang."


Perintah sang ibu mertua membuat Riana terkejut. Lalu. Dia menatap ke arah sang suami.


"Kakek drop dan masuk ruang ICU lagi. Kondisinya sudah melemah." Riana mengangguk mengerti.


Dia segera naik ke lantai atas dan memberikan pakaiannya juga pakaian Aksa. Semua peralatan Gavin pun Riana siapkan.


"Sayang, kamu beneran gak apa-apa?"


Aksa sudah berada di belakang Riana yang tengah memasukkan baju ke dalam koper.


"Hanya pusing dan lemas, Bang." Aksa menarik tangan Riana dan memeluk tubuhnya.


"Jangan kecapek-an. Abang gak mau kamu sakit." Betapa lembutnya seorang Aksara. Hanya mengeluh begitu saja sudah diperlakukan seperti ini.


"Iya, Abang." Riana tersenyum seraya menatap wajah suaminya. "Bantuin Ri, ya." Aksa tersenyum dan mencubit gemas pipi Riana.


Setelah pakaian mereka berdua selesai, kini saatnya Riana masuk ke kamar Gavin. Menyiapkan pakaian serta perlengkapan putranya. Ketika sedang serius dia dikejutkan dengan kedatangan Aksara yang tergesa sambil membawa kalendar meja.


"Yang, sekarang udah lewat tanggal tamu bulanan kamu." Riana sedikit terkejut dengan ucapan sang suami. Dia meraih kalendar duduk yang Aksa bawa dan memang benar sudah telat dua Minggu.


Ada binar bahagia di wajah Aksara, tetapi Riana menggeleng pelan. "Jangan berharap dulu ya, Bang."


Riana tidak ingin mengecewakan suaminya. Respon Aksa pun sungguh di luar dugaan. "Iya, Sayang."


Setelah semuanya selesai dan berkumpul mereka semua menuju Bandara. Wajah sumringah Gavin terlihat jelas. Namun, Aksa melarang Riana untuk menggendong sang putra. Aksa merasakan ada sesuatu yang hidup di dalam perut Riana.


"Atu mau tama pipo."


Sedari tadi Gavin melihat wajah kakeknya sendu. Dia ingin menghibur sang kakek. Sedangkan Riana sudah duduk dengan kurs yang sengaja dilandaikan untuk mempernyaman tubuhnya. Tangan Aksa terus menggenggam tangan istri tercinta. Sesekali mengusap lembut perut rata Riana.


"Bang," panggil Riana ke arah sang suami yang tengah terpejam. Perjalanan Jakarta-Melbourne cukup lama.


"Kenapa, Sayang?"


"Pusing."


"Apa kamu sudah berada di sana?" gumam Aksa.


Gavin pun seolah mengerti ibunya. Dia memilih tidur bersama sang Mimo di belakang kursi piponya.


Tibanya di Melbourne, mereka segera bertolak ke rumah sakit di mana kakek Genta dirawat. Tubuh Riana sudah sangat lemas, tetapi dia harus tetap ikut ke sana.


Setelah melihat kondisi kakek, Riana dan Gavin diantar oleh Aksa ke tempat tinggal sang kakek. Dia membiarkan Riana dan Gavin beristirahat.


"Tidur ya, Sayang." Aksa mengecup kening Riana sangat lama. Dia pun mengecup dahi Gavin yang telah terlelap.


"Permen asam ada di meja, ya." Riana mengangguk mengerti. Tubuhnya sudah sangat lemah, dia ingin tidur karena memang tubuhnya tak enak.


Tiga hari di sana, giliran Gavin yang demam. Anak ini sudah mengeluh ingin pulang. Tubuhnya sulit untuk beradaptasi. Di kala Riana tak enak badan dan Gavin demam Aksalah yang menjadi suami sekaligus ayah siaga untuk kedua kesayangannya.


"Mom, Abang gak bisa ke rumah sakit, ya. Empin demam."


"Iya, nanti kalau ada apa-apa Mommy kabarin." Aksa pun mengangguk. Sebelum berangkat, Ayanda mencium kening sang cucu yang tengah terlelap di pangkuan Riana.


"Kamu jangan lupa minum obat, ya." Riana hanya mengangguk seraya tersenyum.


Ketika sakit Gavin akan bermanja dengan ayahnya. Tak mau ditinggal ayahnya barang sedetikpun.


"Itut!"


Gavin merengek ingin ikut Aksa ke kamar mandi. Alhasil, Aksa pun membawa tubuh balita itu. Ketika Aksa mengrluarkan anak ular piton dari sarangnya, dahi Gavin mengerut. Dia pun ikut mengeluarkan phyton mini miliknya.


"Daddy, tenapa puna atu tepelti moncong titus? Puna Daddy tepelti damul."


(Daddy, kenapa punya aku seperti moncong tikus? Punya Daddy seperti jamur)


Aksa pun tertawa mendengar ucapan dari Gavin. Di usia Gavin sekarang ini banyak rasa ingin tahu yang ada pada dirinya.


"Moncong tikus kamu nanti juga akan berbentuk seperti jamur," kata Aksa seraya membersihkan kepala jamurnya.


"Tapan?"


Tatapan Gavin sangat serius, tetapi Aksa sudah memasukkan phyton berkepala jamur ke dalam sangkarnya.

__ADS_1


"Setelah disunat."


"Tu-nat?" Aksa mengangguk. "Apa itu?"


Aksa membersihkan moncong tikus kecil milik Gavin. "Nanti moncong kecil ini dipotong sedikit."


Gavin segera menyingkirkan tangan ayahnya dan menutup moncong tikus itu dengan telapak tangannya.


"Janan, Dad. Nanti atu dak bita pipish."


(Jangan, Dad. Nanti aku gak bisa pipis)


Aksa pun terkekeh. Dia mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum membelai rambut sang putra.


"Katanya ingin punya kepala jamur," goda Aksa.


"Eman bita Montong Titus belubah dadi tepala damul?" Aksa mengangguk mantab dan anak itu pun berpikir sejenak.


Dia membayangkan ketika moncong kecil itu dipotong dengan gunting. Dia meringis sendiri.


"Ta-tit, Dad."


"Enggak sakit. Malah nanti Empin dapat banyak uang dan mainan," balas Aksa.


"Benelan?"


"Iya. " Wajah Gavin pun terlihat sangat bahagia.


"Talau beditu, atu mau tunat bial dapat uan dan mainan."


Aksa pun tertawa mendengar ucapan konyol anaknya ini. Ternyata di pintu luar Riana sudah menunggu dua laki-laki kesayangannya yang sangat lama berada di kamar mandi.


"Ngapain aja? Lama amat," ucapnya setelah Aksa dan Gavin keluar kamar mandi.


"Ulusan lati-lati."


Riana mengerutkan dahi mendengar ucapan Gavin. Namun, Aksa tertawa dan mengecup kening istrinya seraya merengkuh pinggangnya.


"Masalah ular dan moncong tikus." Riana tidak mengerti sama sekali, tetapi Aksa tak melanjutkan ucapannya.


Setelah keadaan kakek Genta membaik, mereka kembali ke Jakarta. Riana ingin melakukan tes kehamilan. Namun, dia masih sangat ragu.


"Kenapa diam terus?" Aksa sudah memeluk tubuh istrinya yang tengah melamun di depan layar televisi.


Riana hanya menatap sang suami tanpa mengeluarkan suara. Tangannya melingkar di perut sang suami tercinta.


"Bang, mau rujak."


Mata Aksa melebar ketika mendengar keinginan istrinya. Dia pun melihat ke arah jam di dinding.


"Ini udah malam, Sayang." Riana hanya terdiam. Kini, dia membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


Aksa mengambil ponsel di saku celananya dan mencari rujak terdekat yang ada di sekitaran tempatnya tinggal. Namun, semuanya sudah tutup.


"Nak, apa kamu tumbuh di perut Mommy kamu?"


Pikiran Aksa tertuju pada itu. Melihat istrinya yang masih memeluk erat tubuhnya membuat Aksa tidak tega. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengajak istrinya keluar menggunakan motor milik Aska. Mengulang romantis yang tidak pernah mereka rasakan.


Riana memeluk erat tubuh suaminya dan meletakkan dagunya di bahu Aksara.


"Kalau gak ada rujaknya gimana?" tanya Aksa.


"Keliling aja." Aksa pun tersenyum dan meraih tangan Riana yang tengah melingkar di pinggangnya. Mencium punggung tangan Riana dengan penuh cinta.


Rujak tidak didapat, jajanan pinggiran jalan banyak sekali yang Riana beli. Aksa tidak melarang karena Aksa melihat wajah istrinya yang sangat bahagia.


Tibanya di rumah, makanan itu hanya diletakkan begitu saja. Tak ada yang Riana sentuh.


"Kenyang ngeliatnya juga." Riana malah merebahkan tubuhnya di pangkuan sang suami. Membenamkan wajahnya di perut Aksara.


Aksa hanya menggeleng dan dia mengusap lembut rambut istrinya. Tak berselang lama, dengkuran halus terdengar. Aksa memindahkan kepala Riana ke atas bantal agar tidak pegal. Dia mengecup kening Riana sangat dalam. Kemudian, turun ke bawah perut Riana. Perut mulus dan rata. Dia menatapnya dengan senyum yang merekah.


"Apa kamu sudah ada di dalam sini, Nak? Mommy, Daddy Dan kakakmu menunggu kehadiran kamu."


...****************...


Komen dong ...


Mungkin Sampai tanggal 28 nanti akan up lebih dari 2bab. Jangan bosan ya. Tolong bantu sampai awal bulan besok. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2