
Plak!
Tamparan keras pun mendarat di pipi Randi.
"Jangan pernah sok tahu tentang kehidupanku!" pekiknya. Randi memegangi pipinya yang terkena tamparan keras Riana. Panas dan perih sampai ke ulu hati.
Aksa segera keluar ruangan dan melihat wajah istrinya sudah merah padam.
"Dan aku juga tidak akan pernah menjelaskan siapa diriku serta bagaimana kehidupanku kepada kamu!" bentaknya.
Baru kali ini Randi melihat sisi garang Riana. Aksa segera memeluk tubuh Riana. Dia menatap tajam ke arah Randi.
"Fahri, keluarkan surat pemecatan secara tidak hormat untuk laki-laki di depan saya ini."
Kalimat yang mampu membuat Randi tak berkutik. Dia mulai berani menatap ke arah Aksa yang tengah murka.
"Salah saya apa, Pak?" tanya Randi.
Aksa berlalu begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Randi dengan membawa Riana. Dia tahu Riana sedang tidak baik-baik saja. Riana masih mencoba membendung air matanya.
Sekarang, Fahri yang menatap nyalang ke arah Randi dengan menggelengkan kepala.
"Kamu punya nyawa berapa? Beraninya mengganggu istri direktur utama," tanyanya dengan tatapan sinis.
Randi tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa kelu. "Jangan gampang terhasut oleh setan berkedok manusia," sindirnya.
Fahri kemudian menoleh ke arah Sarah yang tengah tersenyum tipis.
Seringai licik muncul di wajahnya.
"Cara Anda itu sangat kampungan dan tidak berkelas," cibirnya ke arah Sarah.
Fahri masuk kembali ke ruangan direktur utama. Meninggalkan dua manusia yang sudah keterlaluan. Dia tahu direktur utama akan mengeluarkan taring dan tanduknya setelah ini.
Di dalam mobil, Riana hanya diam. Aksa memilih untuk menutup mulutnya juga. Dia tidak akan bertanya perihal apapun dulu. Lebih baik membawa istrinya ke apartment miliknya agar dia leluasa menumpahkan segala perasaannya.
Tibanya di apartment, Aksa mengajak istrinya untuk duduk di sofa. Dia memandang wajah istrinya yang terlihat pilu. Aksa menangkup wajah Riana agar memandangnya juga.
"Kenapa, Sayang?"
Air mata Riana pun tumpah di hadapan sang suami. Aksa segera memeluk tubuh Riana dengan begitu eratnya. Mendengar Isak tangis istrinya membuat dadanya sakit dan perih.
"Kenapa semua orang mengatakan bahwa ... Ri adalah orang ketiga di dalam runtuhnya rumah tangga, Abang?"
Aksa sudah dapat membaca apa tujuan Sarah ke kantornya. Jika, bukan untuk menyebarkan berita tidak benar perihal Riana. Sarah masih memiliki kesempatan untuk menghancurkan rumah tangga mereka melalui Riana.
"Kenapa orang yang tidak tahu apa-apa men-judge Ri sebagai wanita yang murahan? Wanita yang kejam karena telah merebut suami orang. Padahal, yang merebut Abang itu dia ... bukan Ri."
__ADS_1
Aksa mengusap lembut punggung istrinya. Menenangkan istrinya meskipun emosinya sudah di ubun-ubun.
"Mereka tidak tahu cerita yang sesungguhnya. Tidak ada gunanya juga kita menimpali ucapan mereka. Kebenaran itu nantinya akan terkuak dengan sendirinya," balas Aksa.
Aksa berbicara selembut mungkin. Padahal otak liciknya sudah bekerja sedari tadi. Riana tidak menjawab ucapan Aksa. Dia masih menangis di dalam dekapan suaminya. Perkataan Randi sangat membuat hatinya sakit.
Aksa mengurai pelukannya, dia menghapus air mata di wajah cantik sang istri.
"Jangan terlalu banyak pikiran, ya. Jangan dengerin apa kata orang karena yang tahu sesungguhnya kita adalah kita sendiri dan juga keluarga kita." Kecupan hangat Aksa berikan di kening Riana.
"Sekarang kamu istirahat, ya. Jangan terlalu stres, kita 'kan akan menjalani program kehamilan." Aksa menggendong tubuh Riana ke atas tempat tidur. Dia baringkan dengan sangat hati-hati.
"Temenin," pinta Riana.
Aksa tersenyum dan dia pun ikut berbaring di samping sang istri. Riana dengan nyamannya membenamkan wajahnya di dada Aksa. Tangan Aksa tak henti mengusap lembut rambut Riana. Sesekali dia mengecup ujung kepala Riana. Ternyata di balik kebaikan Sarah tempo hari memiliki niat terselubung.
Selang setengah jam, Riana sudah terlelap dengan damainya. Aksa menghembuskan napas kasar ketika melihat wajah istrinya yang sembab.
"Setiap tetes air mata yang istriku keluarkan. Harus dibalas dengan setiap tetes darah yang ada pada tubuh kalian," batinnya.
Aksa turun dari tempat tidur dengan sangat hati-hati. Sebelumnya dia menyelimuti tubuh Riana terlebih dahulu. Kemudian, mengecupnya.
Aksa keluar dari kamar dan segera menghubungi seseorang.
"Apaan? Gua baru rebahan nih," ucap seseorang dari balik sambungan telepon.
"Bantuin gua."
"Ya udah, nanti gua minta bantuan Mommy. Gua 'kan gak tahu detail fashion lu kayak gimana," ucapnya.
"Makasih, udah mau bantu gua."
"Santai aja. Lu perketat dan awasi istri lu. Gua di sini juga akan nyuruh orang dalam buat awasin tuh si rubah betina," tukasnya.
"Pasti."
Aksa bisa bernapas lega. Amarahnya masih memuncak. Dia menghubungi Fahri.
"Surat pemecatan secara tidak hormat sudah saya berikan. Tidak ada uang pesangon atau apapun. Serta ...." Ucapan Fahri menggantung begitu saja.
"Serta apa?" sergah Aksa.
"Adiknya sudah di drop out dari kampus," lanjut Fahri.
"Jalankan tugasmu dengan benar," pungkas Aksa.
Jakarta.
__ADS_1
Pagi ini seorang pria tampan dengan pakaian rapi datang ke sebuah lapas. Dia didampingi oleh Christian. Mereka juga sudah membuat janji untuk bertemu seorang tahanan.
Salah satu petugas di sana mengantar Christian dan juga klien dari Christian bertemu dengan wanita penghuni lapas.
"Silakan, Pak."
Mereka berdua masuk dan sudah ada seorang wanita yang menunggu mereka di sana. Senyuman bahagia terukir di wajah Ziva.
"Aksa!" Ziva benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia berdiri dan menghampiri pria yang berpakaian rapi tersebut.
"Aku sangat bahagia karena kamu mau menemuiku," tuturnya lagi.
Ziva memeluk tubuh Aksa, respon Aksa yang hanya diam saja membuat Ziva kegirangan.
"Aku merindukan kamu."
Christian hanya menghela napas kasar mendengar ucapan Ziva. Apalagi, melihat tangan Ziva yang tak pernah lepas dari Aksa.
"Mau kamu apa?" tanya Aksa dengan suara dinginnya.
"Mamihku sudah datang ke sana?" tanya Ziva.
"Ada apa? Aku tidak ingin berbasa-basi," tukasnya.
"Aksa ... aku sangat mencintai kamu. Aku tidak ingin berpisah dengan kamu," katanya dengan nada yang serius.
"Jadi, ini yang ingin kamu katakan?" sergah Aksa dengan tatapan datar.
Ziva mengangguk dan menggenggam tangan Aksa yang ada di atas meja.
"Aku mohon ... Aksa," pintanya.
"Kalau aku tidak mau," jawab Aksa.
"Aku akan membuat Riana mati." Seringai licik muncul di wajah Ziva.
"Lihatlah!"
Ziva memperlihatkan video Riana yang tengah meneguk minuman di sebuah kafe seorang diri.
"Minuman itu sudah aku campur racun." Sontak mata Aksa dan Christian melebar dengan sempurna.
"Dan lihatlah hasilnya."
Sebuah foto Riana yang tengah dibawa oleh beberapa orang keluar dari kafe tersebut.
...****************...
__ADS_1
Komen yang banyak ...
Nanti crazy up.