
Tatapan Rion selalu tertuju pada putra pertama Giondra, Aksara. Perlakuan manisnya terhadap Riana membuat hatinya menghangat. Tidak dipungkiri, masih ada rasa kecewa terhadap Aksa. Namun, terlihat sekali Riana nyaman berada di samping Aksa.
Sedangkan putri sulungnya masih dirundung duka yang mendalam. Tangannya tidak mau melepas pelukannya terhadap Radit. Begitu juga Radit.
Ketiga anak kecil yang cantik berhambur memeluk tubuh Radit. Di belakang anak-anak itu ada Nesha dan juga Rindra. Melihat keceriaan ketiga anaknya membuat hati Echa menghangat. Namun, ketika melihat wajah Radit hatinya kembali sedih.
"Sudah ya, Yang. Kamu harus kuat demi anak-anak kita." Mendengar ucapan Radit hati Echa semakin sakit. Sekarang dia bukanlah istri yang sempurna.
"Cha, Mbak juga mengalami hal yang sama seperti kamu," ucap Nesha yang kini sudah mengusap pundak Echa.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Nesha begitu juga Radit.
"Setelah lahirnya Rio dokter menyarankan untuk pengangkatan rahim karena ada sesuatu hal yang akan mengganggu kesehatan Mbak jika masih dipertahankan. Awalnya, Mbak gak mau. Akan tetapi papihnya Rio kekeh harus mengikuti perintah dokter. Ada rasa takut di hati. Apalagi papihnya Rio ...."
Rindra merangkul pundak Nesha dan mengecup ujung kepalanya.
"Pengangkatan rahim berarti sudah tidak bisa hamil lagi. Itu tidak masalah untuk aku. Kenapa? Aku sudah memiliki Rio dan aku juga tidak ingin melihat istriku kesakitan ketika melahirkan. Apalagi ketika mengandung Rio kondisinya sangat lemah. Sedih dan tidak tega rasanya melihat orang yang aku cintai seperti itu," terang Rindra.
"Apa setelah pengangkatan rahim aku berubah? Tidak, hubungan kami malah semakin dekat. Untuk masalah kebutuhan biologis pun masih bisa dilakukan tiap hari dan intens. Tidak ada perubahan yang sangat berarti. Mungkin, harapan kita untuk memiliki anak sudah tidak ada lagi. Tidak masalah, aku sudah memiliki Rio. Bukankah hidupku sempurna? Memiliki istri yang cantik dan juga anak yang tampan," jelas Rindra.
Echa menatap manik mata Radit yang kini tersenyum hangat ke arahnya.
"Kita lebih beruntung karena memiliki tiga anak sekaligus. Inilah jalan Tuhan yang telah dipersiapkan untuk kita. Kita hanya dipercayakan dengan tidak anak saja." Radit mengusap lembut air mata Echa. Lalu, mencium keningnya.
"Abang saja yang bejatnya gak ketulungan setia sampai sekarang. Kenapa aku gak bisa? Nunggu kamu lebih dari lima tahun aja aku bisa."
Semua orang merasa lega ketika senyum hangat terukir di wajah Echa. Mereka semua berharap kepiluan akan berakhir.
"Kenapa senyum-senyum," bisik Aksa.
Riana menatap Aksa lalu menatap kakaknya kembali. "Sungguh manis kisah cinta Kakak dan Abang."
Aksa menautkan tangannya ke tangan Riana, membuat Riana menatap ke arah tangan yang sedang bertaut itu.
"Abang akan mengukir kisah kita yang lebih indah dari mereka," ucapnya. Riana menoleh lagi ke arah Aksa dengan tatapan ragu.
__ADS_1
"Apa mungkin itu bisa terjadi?"
"Abang hanya butuh kamu percaya sama aku." Aska yang sedang bercanda bersama si triplets hanya dapat mengulum senyum ketika mendengar sang Abang menjadi penggombal amatiran.
Riana bergabung bersama para wanita di samping ranjang pesakitan Echa. Sedangkan para pria sedang berbincang di sofa. Masih ada kecanggungan yang tercipta antara Rion dan Aksa.
"Kenapa bisa bawa Riana?" Pertanyaan yang membuat tubuh Aksa menegang. Apalagi, di sana ada Radit, Rindra serta Aska.
Jawab tegas dan jujur. Kamu bisa Aksara. Bisa.
"Abang ada pekerjaan ke Jogja. Sebelum berangkat, Kakak menyuruh Abang untuk membawa Riana pulang. Tidak sengaja, Abang bertemu Riana di kafe dan akhirnya Abang membawa Riana pulang ke sini." Jawaban lugas yang Aksa berikan.
Ini adalah kode agar Aksa berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan Riana. Restu yang belum sepenuhnya di tangan. Apalagi statusnya yang masih menjadi suami orang.
"Kamu masih suami orang. Anggapan orang bahwa Riana adalah pelakor." Ucapan yang membuat Aksa tersenyum.
"Status suami bohongan."
Jawaban Aksa membuat semua orang tercekat. Hanya Aska yang mengulum senyum.
Dasar titisan Gio. Persis bapaknya banget kalo mengenai cewek.
"Tidak apa-apa, jika Ayah belum merestui niatan baik Abang. Setelah semuanya selesai, Abang akan mengejar restu Ayah. Membuktikan pada Ayah, jika Abang memang pantas bersanding dengan putri Ayah," tukasnya lagi.
"Kenapa semua pria yang mendekati putri-putriku sangat keras kepala?" Rion mengerang kesal.
Semuanya pun tertawa, termasuk para wanita. Bukan rahasia lagi, bagaimana perjuangan Radit mendapatkan Echa. Meminta restu sang ayah seperti lagu ninja Hatori. Diuji sedemikian rupa. Ibarat mendaki gunung, lewati lembah dan melewati samudera. Barulah restu itu Radit dapat.
"Berdoalah yang terbaik, Riana. Mommy sangat mengharapkanmu menjadi bagian dari keluarga besar Wiguna."
Riana tercengang mendengar ucapan Ayanda. Dia penasaran bagaimana rumah tangga yang Aksa jalani selama lebih dari satu bulan ini? Bukankah foto yang dikirimkan dulu menandakan mereka bahagia?
Aksa bangkit dari duduknya karena ada panggilan masuk. Mata Riana terus menatap Aksa hingga tubuh itu tidak terlihat lagi. Lima menit berselang, Aksa tidak juga kembali. Riana hanya mendesah kecil.
Ayanda menyentuh pundak Riana dan memperlihatkan layar ponselnya kepada Riana.
__ADS_1
Mom, tolong suruh Riana keluar. Abang mau bicara, hanya saja Abang tidak enak karena ada Ayah di sana.
Riana menatap wajah Ayanda, seulas senyum serta anggukan yang Ayanda berikan.
"Temuilah!"
Riana bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar perawatan Echa. Baru saja menutup pintu kamar perawatan. Dia dikejutkan dengan kehadiran Aksa di belakangnya. Dahi Riana mengkerut ketika melihat wajah Aksa yang terlihat sedih.
"Ada apa?" Aksa menarik tangan Riana masuk ke dalam dekapannya. Tak lama, Aksa membawa Riana pergi dari rumah sakit dan melajukan mobil yang Aska bawa ke rumahnya.
Langkah Aksa terus melaju menuju kamar. Terkejut bercampur takut Riana rasakan. Apalagi, ini kamar Aksa dan juga istrinya. Setelah masuk ke kamar tersebut, Riana tercengang. Semuanya nampak masih sama seperti lima tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah.
"Apa kamu masih ingat apa yang kamu berikan di kamar ini?" Wajah Riana memerah dan kepalanya menunduk.
Hal bodoh yang pernah Riana lakukan. Mencium paksa Aksa di pagi hari dan mencoba merayunya hanya menggunakan tank top.
"Maaf," gumam Riana yang semakin menunduk. Tidak berani menatap Aksa.
Aksa memeluk tubuh Riana dengan begitu erat. Mengecup ujung kepala Riana berulang.
"Sebentar lagi Abang harus pergi ke Singapur. Membantu Daddy menyelesaikan pekerjaan di sana." Riana mendongak ke arah Aksa dengan sorot mata penuh kesedihan. Aksa mengecup kening Riana sangat dalam.
"Abang tidak akan lama. Setelah pekerjaan selesai. Abang akan kembali lagi ke sini. Mengantarkan kamu kembali ke Jogja."
"Kamu fokus belajar dan Abang fokus untuk menyelesaikan masalah Abang. Abang usahakan, ketika kamu wisuda semua masalah Abang sudah selesai. Tinggal, Abang berjuang untuk meyakinkan hati Ayah. Meminta restu kepada Ayah."
Riana tidak bisa menjawab kalimat nan syahdu yang Aksa ucapkan. Lingkaran tangannya sebagai balasan dari apa yang Aksa ucapkan.
"Abang juga berat meninggalkan kamu. Abang ingin menghabiskan waktu bersama kamu di sini. Namun, Abang juga gak bisa abai sama pekerjaan Abang."
"Pergilah! Tetap jaga hati Abang hanya untuk Ri," gumaman yang masih mampu Aksa dengar. Bibir Aksa pun terangkat dengan sempurna.
Di lain tempat, satu keluarga sedang sibuk dengan barang yang akan dibawa oleh mereka.
"Kamu beneran yakin, Ka?" Hanya anggukan yang menjadi jawaban.
__ADS_1