
"Jangan ngintip-ngintip begitu, Uncle. Dedek tahu Uncle dan Aunty ada di kamar mandi. Ayo, cepat ke sini! Kita buka semua hadiahnya."
Tubuh Aksa pun melemah mendengar ucapan Aleeya, salah satu anak dari kakaknya. Aksa menatap ke arah Riana, hanya seulas senyum yang Riana berikan.
"Lebih baik buka hadiahnya terlebih dahulu. Biar mereka senang."
Aksa pun mengangguk pelan. Mereka berdua keluar kamar mandi dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan di sana. Riana dan Aksa bergantian ke kamar mandi untuk memakai baju.
"Ih lama," dengus mereka bertiga.
"Kenapa kalian ada di kamar ini?" tanya Aksa kesal.
"Kami ikut dengan tukang bunga."
Mulut Aksa menganga mendengar ucapan Aleesa. Aksa dan Riana saling tatap dan melebarkan mata. Berarti mereka berdua?
"Kalian tadi ngumpet di mana?" tanya Riana yang mulai panik.
"Di belakang sofa, tetapi kami tertidur di sana. Ketika ada suara di kamar mandi baru kami terbangun," jelas Aleena.
Sungguh Aksa dan Riana bisa bernapas lega. Mereka takut jika ketiga keponakan mereka mendengar suara yang sangat merusak pendengaran mereka.
"Cepat buka, Uncle," titah Aleeya.
Ketiga keponakannya terlihat sangat antusias ketika merobek satu per satu kertas kado yang membalut kado-kado tersebut, sedangkan Aksa memilih tiduran di pangkuan istrinya yang tengah asyik juga membuka setiap hadiah.
"Besok lagi aja buka kadonya," usir Aksa secara halus.
"Enggak mau!" seru mereka bertiga.
Riana pun terkekeh mendengar seruan tiga keponakannya yang lucu itu.
"Sabar ya, Sayang," ucap Riana, sambil mengusap rambut Aksa.
Aksa malah membenamkan wajahnya di perut sang istri. Tangannya pun melingkar di perut Riana.
"Uncle manja!" dengus Aleesa.
Aksa malah mengangkat piyama Riana sedikit. Mencium perut rata istrinya.
"Sayang, kapan bikin baby-nya?" keluh Aksa.
Mendengar kata baby ketiga anak itu pun menghentikan kegiatan mereka.
"Siapa yang akan memiliki baby?" tanya Aleena antusias.
"Uncle lah sama Aunty. Makanya, kalian ke kamar kalian aja. Biar baby-nya cepat jadi." Riana memukul pundak sang suami dan menatapnya tajam.
"Emang baby terbuat dari apa?"
Apa yang Riana takutkan terjadi, Aleena pasti akan ingin tahu semuanya. Aksa nyengir kuda mendapat tatapan membunuh sang istri. Untung saja bel berbunyi, setidaknya menyelamatkan Aksa dari pertanyaan yang sulit untuk dijawab.
__ADS_1
Ada kelegaan di hatinya ketika melihat Aska yang datang.
"Kamu mau jemput mereka?" sergahnya.
Aska malah menerobos masuk tanpa menjawab pertanyaan sang Abang. Tubuhnya dia dudukkan di sofa.
"Enggak. Emak bapaknya lagi bikin adik buat mereka," jawab Aska.
"Astaga! Gua yang pengantin baru kenapa mereka yang malam pertama duluan?" Aska hanya menggedikkan bahunya.
"Lu mau ngapain ke sini?" tanya Aksa.
Dia duduk di sofa sambil memperhatikan istrinya yang tengah bahagia membuka hadiah para tamu undangan.
"Abang kenal Jingga?" selidik Aska.
"Dia cleaning service di WAG Grup."
Mata Aska melebar ketika mengetahui pekerjaan Jingga.
"Ada apa?" Kini, Aksa yang mulai menyelidiki adiknya.
Aska hanya terdiam, dia sangat penasaran akan sosok Jingga. Apalagi, dia mendengar sendiri bahwa Jingga akan segera menikah dengan pria yang memperlakukannya sangat tidak baik itu.
"Apa ada yang tidak Abang ketahui?" selidik Aksa lagi.
"Belum saatnya Adek cerita, Bang. Adek ingin memastikan dulu."
"Mending bawa tiga tuyul tuh ke kamar kamu," titah Aksa.
"Dih, ngapain? Itu bagus dong malam pertamanya seperti live streaming, ditonton keponakan sendiri."
"Bhang Sat!"
Aksa memukul tubuh Aska dengan bantal dan membuat Aska tertawa terbahak-bahak. Kamar khusus pengantin berubah menjadi kapal pecah karena ulah Aska dan ketiga keponakan mereka.
"Hoam!"
Mulut Aleeya sudah terbuka lebar. Dia merebahkan diri di atas kasur empuk ukuran king size itu.
"Dedek mau bobo di sini aja," ucapnya.
"Kakak Sa juga." Aleesa pun mengikuti Aleeya, begitu juga dengan Aleena.
Riana malah tertawa sedangkan Aksa malah mendengus kesal.
"Sayang ...."
Riana menghampiri suaminya dan duduk di pangkuannya. Dia kecup bibir Aksa agar tidak mengeluh lagi.
Tangan Aksa mulai membuka kancing piyama Riana satu per satu. Menyibakkan sesuatu yang dianggapnya menghalangi keseruannya saat ini. Kegiatan Aksa membuat the Sahan lolos begitu saja dari mulut Riana. Perlakuan Aksa sungguh membuat Riana tak mampu mengontrol dirinya.
__ADS_1
"Abang ...."
Aksa terus menjelajahi semuanya. Dia masih ingat jalan menuju titik lemah sang istri. Suara manja Riana pun membuat Aksa semakin bersemangat.
Ketika Aksa hendak meminum susu dari sumbernya langsung, bel laknat kembali berbunyi. Riana segera turun dari pangkuan Aksa dan membenarkan pakaiannya.
"Si alan!" pekiknya.
Aksa melangkah menuju pintu, ketika pintu sudah terbuka Echa sudah menerobos masuk.
"Syukurlah," ucap Echa lega.
"Kakak bisa lega, tapi aku gak leluasa," sarkas Aksa.
"Syukurin!"
Echa berlalu begitu saja meninggalkan Aksa yang dipenuhi dengan emosi.
"Karma itu, Bang. Ingat gak? Lu juga pernah gagalin first night gua. Ketika mau dicelupin lu malah gedor-gedor pintu dan nangis pengen tidur bareng istri gua," terang Radit.
"Ya Tuhan ... kenapa ini harus terjadi kepadaku?" erangnya kesal.
Riana hanya terkekeh melihat Aksa yang benar-benar berbeda. Dari pada Aksa uring-uringan tidak jelas, lebih baik Riana memberikan mainan baru kepada sang suami.
"Abang mau susu 'kan?" Riana menarik tangan Aksa ke arah tempat tidur.
Riana sudah membaringkan tubuhnya terlebih dahulu dan diikuti oleh Aksa. Mereka saling berhadapan. Riana sangat melihat napsu yang tak tertahankan di mata Aksa. Namun, tidak memungkinkan mereka untuk belah duren malam ini. Di mana ada ketiga anak-anak dari Kaka mereka yang tertidur bersama mereka.
Riana sudah membuka kancing piyamanya dan meyuguhkan balon yang membuat mata Aksa tak bisa berkedip.
"Minumlah sesuka hati Abang," ucap Riana.
Tanpa banyak bicara Aksa segera menyergap benda nikmat itu. Meskipun dia sedot pun tidak akan pernah mengeluarkan cairan menyehatkan. Malah membuat istrinya menahan erangan. Riana rela sumber asi miliknya lecet karena ulah sang suami yang sangat rakus. Tak cukup satu, dia membuka sumber asi yang lain dan tak pernah berhenti menyesapnya.
"Bang."
Suara yang membuat aliran darah Aksa semakin memanas. Dia menuntun tangan istrinya untuk mengusap bagian depan celana pendek yang dia gunakan.
Aksa tuntun tangan itu masuk ke dalam celananya. Terasa sangat tegang dan berdenyut.
"Gak tahan, Sayang," bisiknya.
Tangan Riana mencoba mengelusnya dengan lembut membuat Aksa mengerang. Dia malah semakin menjadi menyambar sumber asi seperti orang kesetanan. Tangan Riana terasa basah dan lengket, sedangkan napas Aksa sudah terengah-engah. Deru napas sang suami dapat dirasakan oleh Riana karena wajah Aksa masih menempel di dadanya.
"Kebuang sia-siakan benih Abang," keluhnya.
...****************...
Segini dulu, ya. Aku sedang memperjuangkan hak ku sebagai penulis. ðŸ˜
Padahal gak mood, otak lagi pusing dan hati kecewa, tapi kalian lah yang membuat aku up.
__ADS_1