Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kejutan


__ADS_3

Jam tujuh pagi waktu Melbourne atau jam empat pagi waktu Jakarta, hati Aksa sudah berdegup sangat cepat. Inilah hidup atau matinya perusahaan sekarang.


Genta yang datang ke perusahaan Aksa memberikan tepukan hangat di pundak sang cucu. Sebelumnya, Daddy-nya sudah memberikan wejangan kepada Aksa. Meskipun begitu, tetap saja hatinya berdegup tak karuhan.


Jam tujuh lewat sepuluh, rekan bisnis Aksa datang. Dia adalah orang yang sangat penting dan memiliki pengaruh besar di Melbourne. Jika, ajakan kerjasama ini goal sudah dipastikan perusahaan Aksa akan maju pesat.


Aksa, Genta, Peter dan petinggi yang lainnya sudah berkumpul di ruangan meeting. Suasana mendadak hening juga berdebar. Menunggu sang kolega bisnis berucap. Aksa yang biasanya santai kini terlihat lebih tegang. Dia bukan memikirkan perihal perusahaannya. Isi kepalanya hanya sang istri. Jika, kali ini dia gagal dia kan berpisah lagi dan lagi dengan Riana. Akan tetapi, jika dia berhasil dia hanya akan mengecek perusahaan beberapa bulan sekali atau ketika keadaan perusahaan tengah genting saja.


"Daddy jangan khawatir. Semuanya oke."


Sebuah bisikan yang membuat Aksa menoleh ke arah kanannya. Suara anak kecil yang sangat lembut. Namun, di samping kanannya tidak ada siapa-siapa.


Aksa menepis semua itu dulu. Dia kembali fokus pada pertemuannya. Masih asisten sang kolega yang berbicara, itupun hanya sekedar basa-basi. Dua puluh menit berselang, sang kolega angkat bicara. Dia menatap Aksa dengan tatapan berbeda.


"Perusahaan kamu ini sangatlah besar. Saya tidak menyangka bahwa pemiliknya adalah pemuda tangguh seperti kamu." Seulas senyum sang kolega itu berikan kepada Aksa. Sorot mata penuh kebanggaan terlihat jelas di matanya.

__ADS_1


"Makasih, Pak," jawab Aksa sopan.


Sang kolega itu mengulurkan tangannya ke arah Aksa. Seketika Aksa terdiam. Dia mendadak bingung. Namun, dia pun menyambut tangan sang kolega tersebut.


"Selamat! Saya mau bekerja sama dengan perusahaan kamu."


Semua orang tersenyum gembira, berbeda dengan Aksa yang tercengang dengan apa yang dia dengar. Dia masih membeku, sedangkan Peter sudah memeluk tubuhnya.


"Pak, Anda berhasil!" seru Peter.


Barulah Aksa terbangun dari keterkejutannya. Senyumnya melengkung dengan sempurna dengan hati yang sangat lega.


"Nak, ini rejeki untuk kalian," batin Aksa.


Genta tersenyum ke arah Aksa dengan penuh kebanggaan. Aksa mengahampiri Genta dan memeluk tubuh rentanya.

__ADS_1


"Kakek yakin pasti kamu bisa." Genta benar-benar bangga pada cucunya ini. Aksa benar-benar berjuang sendiri tanpa bantuan dirinya ataupun ayahnya. Kali ini, sudah dipastikan perusahaannya akan lebih besar dari perusahaan ayahnya yang ada di Sydney.


"Ini semua karena didikan Kakek. Makasih banyak, Kek," ucapnya haru. "Ini juga rejeki anak-anak Abang," lanjutnya lagi.


Aksa benar-benar sangat bahagia dengan apa yang dia raih hari ini. Semua perjuangannya membuahkan hasil yang luar biasa. Semua rasa rindunya akan berubah menjadi kebahagiaan yang tak terkira mulai hari ini, esok dan seterusnya.


"Riana ... anak-anak Daddy, kita akan berkumpul bersama kembali," teriaknya dalam hati.


Mereka semua berbincang sejenak, sebelum jam delapan sang kolega Aksa pamit karena harus menemui rapat penting yang lainnya lagi.


"Aarrghh!!" Teriakan Aksa menggema di ruangan. Semua orang bersorak bahagia.


Akhirnya apa yang Aksa perjuangkan berhasil. Kerja kerasnya siang dan malam terbayarkan. Dia percaya tidak ada perjuangan yang sia-sia. Sekitar jam delapan lebih lima menit, Aksa bertolak ke Bandara. Dia akan terbang ke Jakarta tanpa memberi tahu Riana ataupun keluarganya. Dia ingin memberikan kejutan.


"Tunggu Daddy di sana, Nak. Tunggu Abang pulang, Sayang!" serunya.

__ADS_1


...****************...


Ini aku UP lagi, kalau gak komen aku sentil nih!


__ADS_2