
"Saya tidak ingin memakai jasa penyanyi itu!" tunjuk Gio pada Arka.
Tatapan membunuh Gio mampu menciutkan nyali Arka. Dia baru melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa Giondra Aresta Wiguna sebenarnya.
Rektor itu pun segera menyetujui permintaan Gio. Tanpa banyak orang yang tahu, ternyata keluarga Wiguna memiliki peranan penting di universitas tempat Riana menimba ilmu.
Gio membawa Riana pergi meninggalkan aula. Sedangkan Remon masih bergeming dan menatap ke arah para mahasiswi serta Arka. Remon pin mendekat ke arah mereka.
"Kalau mau cari masalah, lihat dulu siapa orangnya. Orang yang terlihat diam dan tidak berdaya belum tentu dia lemah. Dia hanya menutupi siapa dia sebenarnya."
Perkataan Remon bagai belati panjang yang sudah siap membunuh mereka.
"Jangan pernah terkejut jika ada yang berubah dari hidup kalian setelah ini, karena tidak pernah tahu dia memiliki malaikat maut yang kapan pun bisa membunuh kalian." Ancaman yang mampu membuat tubuh ketiga orang di hadapan Remon bergetar.
Gio membawa Riana keluar dari area kampus. Semua orang tertunduk sopan kepada Gio. Namun, selalu Gio abaikan. Wajah murkanya masih terlihat jelas.
"Daddy tidak bisa ikut mengantar kamu pulang."
"Tidak apa-apa, Daddy. Makasih," ucapnya dengan memaksa untuk tersenyum.
"Sama-sama. Sopir Daddy yang akan mengantar kamu." Riana mengangguk patuh. Apalagi, sang sopir sudah membukakan pintu untuk Riana.
Disepanjang perjalanan Riana hanya memandang lalu lalang kendaraan melalui kaca jendela mobil. Pikirannya sedang berkelana ke sana ke mari. Sebutan yang mereka katakan sangat teramat menusuk ulu hati.
Wanita bookingan.
Ri, diam bukan karena Ri takut. Ri, hanya tidak ingin membuat keributan. Ri, ingin berubah menjadi anak yang baik dan tidak membuat masalah. Ri, tidak mau mengecewakan Kakak. Ri, tidak mau membuat Ayah kecewa. Ri, kuliah di Kota orang karena Ri ingin mencari suasana baru dan merubah diri Ri. Ri. tidak ingin mencari musuh.
Itulah isi hati Riana yang sesungguhnya. Semenjak ditinggalkan oleh sang bunda, Riana menjelma menjadi anak yang lebih penurut dan pendiam. Sifat bar-barnya berganti dengan sifat santun. Itulah yang diajarkan oleh sang kakak. Setelah Riana mencoba untuk merubah semuanya, hatinya mulai tenang dan selalu menyikapi masalah dengan kepala dingin. Pada kasus ini, apa Riana harus terus diam? Padahal hatinya sangat sakit. Harga dirinya bagai keset yang siapa saja bisa menginjaknya.
"Non, sudah sampai."
Pak sopir membangunkan Riana dari lamunannya. Riana tersenyum dan mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari mobil.
Aku akan baik-baik saja.
__ADS_1
Kalimat itu yang akan Riana katakan pada dirinya sendiri ketika dia sedang tidak merasa baik-baik saja. Menutup mulutnya dengan rapat dan membiarkan hatinya yang merasakan semuanya. Dia hanya ingin memberikan kebahagiaan kepada orang lain dan tidak ingin mengumbar segala kesedihan yang dia rasakan.
Riana masuk ke halaman kosan. Sudah ada mobil Ari terparkir di sana. Untung saja, Ari tidak ada di teras. Riana buru-buru masuk karena dia tidak ingin terlihat kacau di depan Ari. Feeling Riana mengatakan bahwa Ari ditugaskan untuk memata-matai dirinya oleh Aksa.
Ketika Riana hendak membuka pintu yang terkunci. Sejenak dia terdiam.
"Kok gak dikunci? Perasaan tadi udah aku kunci." Riana segera masuk ke dalam. Dia takut ada pencuri yang masuk ke dalam kosan.
Mata Riana melebar ketika melihat seseorang yang memakai jaket cokelat dengan topi yang menutup wajahnya sedang menyandarkan tubuhnya di sofa yang berada di dalam kosan yang dia tempati.
Riana tidak berani mendekat, dia mulai mundur dan tangannya sudah berada di gagang pintu agar bisa kabur dari dalam kosan. Ketika Riana membalikkan badan dan hendak kabur. Suara seseorang menggema.
"Mau ke mana?"
Riana terdiam sejenak, tetapi tidak segera membalikkan badannya.
"Apa kamu gak kangen?"
Suara yang Riana kenali. Dia pun membalikkan tubuhnya. Pria itu sudah membuka topi. Wajah lelahnya sangat terlihat jelas. Riana mencoba tersenyum ke arahnya.
Langkah pria itu semakin mendekat. Meskipun dalam keadaan lelah, aura ketampanannya tidak bisa terbantahkan.
"Abang tidak suka jika melihat harga diri wanita yang Abang sayangi diinjak-injak." Air mata Riana pun luruh begitu saja. Tangisnya pecah dan Aksa memeluk tubuh Riana yang terlihat sangat lemah.
"Tumpahkan semuanya. Setelah ini berubahlah menjadi wanita yang kuat." Tangan Riana mulai membalas pelukan Aksa dengan isakan yang sangat lirih.
Lima belas menit berlalu, tangis Riana mulai hilang. Aksa membawanya untuk duduk di sofa.
Aksa bersimpuh di hadapan Riana dan menghapus jejak air matanya.
"Maafkan Abang. Abang akan lebih bisa menjaga napsu Abang," imbuhnya, seraya menggenggam tangan Riana.
"Mulai sekarang, kita tahan napsu kita masing-masing hingga buku nikah berhasil kita genggam." Riana mengangguk pelan.
Aksa mulai duduk di samping Riana. Menghadapkan tubuh wanita pujaannya ke arahnya. Menatap manik mata Riana yang pilu.
__ADS_1
"Mungkin Abang akan pergi sedikit lama. Jadilah perempuan kuat. Jangan mau ditindas dan diinjak-injak. Jangan selalu diam jika difitnah." Pesan yang Aksa berikan untuk Riana.
"Abang tahu kamu sudah berubah menjadi wanita yang sangat lembut. Namun, kelembutan hati kamu harus dibarengi dengan sifat bar-bar yang dulu pernah kamu miliki. Jadi, tidak ada orang yang akan berani macam-macam sama kamu," jelas Aksa.
"Hati Abang sakit, jika melihat kamu terus-terusan disakiti oleh ucapan-ucapan orang yang tidak bertanggung jawab," ungkapnya.
Mata Riana nanar ketika mendengar ucapan Aksa. Pria di hadapannya ini sangat melindunginya.
"Tunjukkan pada dunia bahwa kamu bukan wanita lemah. Tegakkan kepala kamu di hadapan orang-orang yang menganggap kamu rendah."
Aksa menangkup wajah Riana. Menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Tidak selamanya Abang berada di sisi kamu dan melindungi kamu. Ada kalanya kamu harus bisa melindungi diri kamu sendiri," tutur Aksa.
"Mau 'kan janji sama Abang?" Riana mengangguk pelan.
Aksa menarik Riana ke dalam pelukannya. "Teguhlah pada pendirian kamu. Jangan pernah terpengaruh oleh apapun. Perjuangan kita baru saja dimulai. Masih banyak kerikil-kerikil kecil yang akan menerjang kisah kita hingga menuju kata sah."
"Abang sangat mencintai kamu, Riana. Apapun akan Abang lakukan untuk kamu." Tangan Riana semakin erat memeluk tubuh Aksa.
Sedangkan di ruang rektor, Gio sudah memasang wajah sangat tidak bersahabat. Para petinggi kampus tidak berani untuk membuka percakapan.
"Pak Giondra, maaf jika saya lancang. Ada hubungan apa Anda dengan Riana? Kenapa Riana memanggil Anda Daddy?" tanya rektor.
Gio menengadahkan tangannya kepada Remon. Remon menyerahkan ipad ke arah Gio.
"Silahkan Anda lihat!"
Rektor dan petinggi kampus pun melihat video tersebut. Mata mereka melebar ketika melihat dengan siapa Riana berjalan menuju suite room.
"Ini ... bukannya putra Anda?" Gio mengangguk.
"Dia calon menantu saya."
...****************...
__ADS_1
Yang tadi minta aku up, kalau gak komen aku sentil hidungnya. 🤧