Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Adik Dan Istri Sultan


__ADS_3

Setelah melakukan briefing, Aska menghubungi Juno. Dahi anak manusia itu mengkerut heran.


"Apaan?" tanya Juno.


"Gua video call."


Kedua alis Juno menukik tajam. Dia bingung dengan apa yang diucapkan oleh Aska.


"Gua mau sidang karyawan baru," ujar Juno.


"Gua ikutan! Lu lupa ya, kalau gua itu atasan lu!"


Sombong sekali ucapan Aska kali ini sampai Juno berdesis bagai ular. Ken yang baru keluar dari kamar mandi merebut ponsel milik Juno dan menatap nyalang ke arah sahabatnya yang tengah asyik memakan buah anggur.


"Lu udah sembuh! Ngapain lu masih di rumah sakit?" ejek Ken.


"Lu lupa, gua ini adiknya Sultan."


Ken berdecak kesal dan ingin sekali mencekik leher Aska. Namun, di lubuk hatinya terdalam dia tengah berbahagia karena Aska sahabatnya sudah kembali sintiing.


Suara ketukan pintu terdengar, Ken dan Juno kompak menoleh ke arah pintu.


"Jangan dimatiin!" teriak Aska dari sambungan video.


"Jangan lupa kameranya ubah, pakai kamera belakang."


Demi Tuhan, Juno dan Ken ingin sekali menambah luka lebam di wajah sahabatnya ini agar Aska lebih lama lagi berada di rumah sakit. Juno mengambil ponselnya di tangan Ken dan mengikuti perintah Aska. Sambungan video memakai kamera belakang sekarang.


Aska dapat melihat wajah wanita yang dia cintai dalam diam. Wajah itu nampak tenang, tetapi Aska melihat ada ketakutan yang mampu dia sembunyikan.


"Permisi, Pak," ucap sopan Jingga yang mencoba tersenyum ke arah Ken dan juga Juno.


Kedua sahabat Aska mengangguk pelan. Mereka menatap Jingga dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Jingga pun menundukkan kepalanya. Tidak sopan jika dia menatap ke arah dua bos muda di depannya.


"Kamu tahu kenapa kami memanggil kamu ke sini?" tanya Ken.


Jingga pelan-pelan menegakkan kepalanya. Dia menatap ke arah Ken seraya tersenyum.


"Mungkin ... akan membahas perihal yang kemarin," jawab Jingga. Kemudian, dia menundukkan kepalanya kembali.


Ken tidak percaya Jingga akan menyahuti ucapannya. Baru kali ini Ken memiliki pegawai seperti Jingga. Dari balik sambungan video Aska sudah tertawa dengan mulut yang sibuk mengunyah.


"Dasar jigong," ucapnya seraya tersenyum.


Juno kini menatap tajam Jingga. Matanya bagai mata elang.


"Kamu tahu kerugian yang menimpa kafe ini karena ulah pacar kamu itu?" sergah Juno.

__ADS_1


Lagi-lagi Jingga menegakkan kepalanya pelan. Dia menggelengkan kepalanya. Tak lama dia membuka suara. "Sudah jadi mantan, Pak."


Jawaban yang mampu membuat laki-laki yang berada di seberang sambungan video tak jadi memakan buah yang sudah menempel di bibirnya. Terkejut sudah pasti dia rasakan. Namun, rasa bahagia tak bisa dia bendung.


"Mantan?" ulangnya.


Sambungan video itu pun segera dia matikan secara sepihak. Hatinya terlalu bahagia mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Jingga.


Aska berdiri di bed rumah sakit. Dia pun melompat-lompat bagai anak kecil yang tengah mendapat kabar bahagia.


"Yes, si Jigong udah putus. Udah putus."


Klek!


Suara pintu terbuka dan perawat serta dokter menatap Aska dengan tatapan bingung. Pria dewasa tengah melompat-lompat di kasur rumah sakit seperti bermain trampolin. Mereka menggelengkan kepala sambil mengulum senyum.


"Untung ganteng," gumam mereka berdua.


Di Jomblo's kafe Jingga masih berdiri di hadapan Juno dan juga Ken. Jingga sudah siap dengan apapun keputusan kedua atasannya.


"Mau kamu apa sekarang?" tanya Ken. Jingga cukup tersentak dengan pertanyaan dari atasannya itu. Kenapa Ken yang atasannya malah bertanya kepada dirinya yang hanya sebagai pegawai.


"Kenapa Bapak nanya saya? Bukankah semua keputusan ada di tangan Bapak," ujar Jingga.


Ken dan Juno sangat salut kepada wanita di depan mereka ini. Dia mampu menyahuti perkataan Ken dan juga Juno. Bukannya Jingga tidak sopan, tetapi dua sahabat Aska itu lebih senang dengan karyawan yang seperti ini. Bukannya melawan atau menantang. Para karyawan juga berhak mengutarakan pendapatnya.


Jingga masih menatap kedua bosnya itu dengan tatapan pilu. Namun, dia mencoba untuk tersenyum.


"Saya akan terima, Pak, tapi ... jika boleh ... saya ingin meminta penangguhan permohonan kepada Bapak untuk memperbolehkan saya tinggal di kosan yang disediakan oleh pihak kafe. Paling lama satu Minggu," terangnya.


Ken dan Juno mulai saling pandang kembali. Mereka berdua tidak mengerti dengan ucapan Jingga tentang kosan kafe. Sejak kapan Jomblo's kafe memiliki tempat tinggal untuk para karyawan?


Belum juga mereka menyanggah ucapan Jingga, suara dering telepon Ken berbunyi. Mata Ken seketika melebar. Dia menunjukkan nama si pemanggil ke arah Juno. Ekspresi Juno sudah tidak bisa dibaca.


"Angkat, entar berabe," ujar Juno.


Ken pun mengangguk dan dia menerima panggilan telepon dari Baginda raja, nama yang tertera di layar ponselnya.


"Istri saya mau ke sana pas makan siang. Siapkan jus buah segar dan juga potongan buah yang masam, tapi sedikit manis. Jangan beri istri saya junk food atau makanan tidak sehat lainnya. Berikan pelayanan yang terbaik untuknya. Jika, tidak ...."


"Baik, Abang Baginda Raja. Perintah Anda akan saya laksanakan dengan sangat baik," potong Ken dengan wajah ketakutan.


Juno dan Jingga segera menatap ke arah Ken. Mereka menatap bingung Ken yang nampak pucat.


"Baiklah! Buat dia senyaman mungkin di sana sampai saya datang."


Ken hanya mengangguk, padahal anggukan itu tidak akan terlihat oleh sang Baginda.

__ADS_1


"Ketika saya datang, saya ingin Jingga yang melayani saya dan juga istri saya. Kamu mengerti?"


Ucapan yang sungguh membuat dada Ken berdegup sangat cepat, seperti tengah berlari dikejar guguk galak.


"Siap mengerti Abang Baginda," jawab Ken.


Akhirnya sambungan telepon pun terputus. Ken bisa bernapas lega. Dia menjatuhkan diri di sofa sambil mengusap dadanya.


"Untung aja gua gak punya riwayat penyakit jantung. Kalau punya mah bisa-bisa gua mati mendadak," gumam Ken. Dia tidak memperdulikan Juno dan juga Jingga yang berada di sana.


"Kenapa?" tanya Juno yang sudah gatal ingin bertanya sedari tadi.


"Istri Sultan mau datang ke sini pas jam makan siang," jawab Ken. Helaan napas kasar keluar dari mulut Juno mendengar jawaban dari Ken.


"Tadi adiknya Sultan, sekarang istrinya," dengkus Juno.


"Jangan banyak bachot! Mendingan suruh karyawan di bawah bekerja dengan baik. Permintaannya lumayan banyak," terang Ken. Juno pun mengangguk mengerti.


"Jingga, sekarang kamu boleh kembali ke dapur." Jingga terkejut dengan ucapan dari Juno.


"Sa-saya tidak dipecat?" Jingga masih berdiri di depan Ken dan juga Juno yang sudah hendak pergi. Wajahnya terlihat bingung.


"Tidak!" jawab Ken kompak.


Di lain tempat ada manusia yang tengah menahan malu karena sedari tadi dokter serta perawat yang bertugas mengurusnya terus menertawakannya tiada henti.


"Anda sangat lucu, Tuan. Saya seperti melihat keponakan saya yang tengah bahagia melompat-lompat di atas kasur," ujar dokter yang sedang mengecek kondisinya.


Telinga Aska sangat sakit mendengar ejekan demi ejekan yang dilontarkan oleh perawat serta dokter yang tengah berada di kamar perawatannya. Setelah mereka pergi, Aska menghembuskan napas kasar dan terus mengumpat dirinya sendiri.


"Kegantengan hakiki gua jadi berkurang 'kan," ucap Aska kesal.


Namun, dia segera menyambar ponsel yang ada di atas nakas. Dia mencari kontak atas nama sang Abang. Lama panggilan itu tidak dijawab mampu membuat Aska mengerang kesal.


"Apaan gua lagi nyetir!"


Semprotan sang Abang memekik gendang telinga Aska.


"Antar gua ke penjara bertemu dengan si Fajar kurang ajar," jawab Aska dengan suara yang nampak bahagia.


"Mau ngapain?"


"Mau nunjukin jempol yang menukik ke bawah."


...****************...


Komen dong ...

__ADS_1


Maaf kalau bosan.


__ADS_2