
Pagi ini, Ghattan Askara Wiguna sudah memakai kemeja berwarna hitam juga jas yang dia sampirkan di lengan. Pemandangan yang tidak biasa bagi penghuni rumah besar Giondra.
"Kakak tampan sekali hari ini," puji Riana, dengan mulut yang tengah mengunyah kacang almond.
"Masih gantengan Abang, Yang." Suaminya sungguh tak mau kalah.
Ayanda hanya tertawa melihat kedua putranya ini, sedangkan Gio sudah menatap Aska dengan raut bahagia.
"Akhirnya ... putra bungsuku mau meneruskan perusahaan yang sudah susah payah aku bangun." Begitulah batinnya berkata.
Aska hanya tersenyum mendengar pujian dari ibunya, serta keributan kecil yang diperbuat abangnya.
"Kamu akan dibimbing oleh si Abang," jelas Gio.
"Iya, Dad."
"Kudu nurut lu sama gua. Kalau gak nurut gua turunin pangkat jadi tukang sapu," ancam Aksara.
Semua orang pun tertawa, sedangkan Aska hanya berdecih kesal. Masalah yang tengah menimpa Askara sama sekali tidak bocor kepada kedua orang tua mereka. Orang-orang suruhan Giondra sudah dibungkam oleh Aksa. Dia hanya ingin melindungi Jingga. Walaupun Jingga sudah membuat hati adiknya sakit, tapi Jingga juga berstatus korban sama halnya dengan Askara.
"Mau berangkat bareng Daddy apa Abang?" tawar Giondra.
"Abang aja, Dad."
Ayanda sebagai seorang ibu merasakan ada sedikit keanehan pada diri Askara. Dari segi tutur bahasanya pun sekarang lebih banyak menurut dibandingkan membantah. Senyum tulus yang selalu Aska berikan, kini terlihat dipaksakan. Apalagi, keputusan tiba-tiba yang Aska ambil. Sungguh membuat Ayanda curiga.
Setelah ketiga pria itu pergi, Ayanda memanggil Riana yang baru saja masuk ke dalam rumah. Kebiasan Riana adalah mengantar suaminya hingga halaman rumah besar.
"Ada apa, Mom?" jawab Riana. Langkahnya mendekat ke arah sang ibu mertua yang sudah duduk manis di sofa.
"Boleh Mommy tanya sesuatu?"
Riana memandang wajah ibu mertuanya yang terlihat sangat serius. Kemudian, dia mengangguk pelan.
"Ada apa dengan Askara?"
Deg.
Jantung Riana terasa berhenti berdetak. Bibirnya tiba-tiba kelu. Dia sudah berjanji kepada Aska maupun Aksa untuk tidak memberitahu perihal Jingga kepada siapapun. Cukup mereka saja yang tahu, juga kedua sahabat Askara.
"Memangnya kenapa dengan Kakak, Mom?" Riana balik bertanya. Wajahnya dibuat sesantai mungkin agar ibu mertuanya tidak curiga.
"Entahlah!" Hembusan napas kasar keluar dari mulut Ayanda. Kemudian , dia menyandarkan punggungnya di kepala sofa. Mimik wajah ibu mertuanya terlihat berbeda.
"Mommy kenapa?" Riana mencoba mendekati sang ibu mertua. Mengusap lembut lengannya.
"Perasaan Mommy mengatakan jika Aska sedang tidak baik-baik saja."
Riana pun terdiam. Naluri seorang ibu yang dimiliki ibu mertuanya sangatlah kuat. Mampu merasakan apa yang tidak anak-anaknya katakan.
__ADS_1
"Itu hanya perasaan Mommy saja. Kakak sepertinya baik-baik saja kok." Riana menenangkan hati Ayanda. Ibu mertuanya pun hanya terdiam.
"Mom, Ri ingin kwetiau goreng seafood."
Riana mencoba mengalihkan pikiran sang mertua dengan permintaannya. Seketika Ayanda tersenyum dan mengusap lembut perut Riana yang sudah terlihat membukit.
"Cucu Mimo yang mau apa Mommy-nya?" candanya.
"Aku, Mimo," jawab Riana menirukan suara anak kecil. Ayanda pun tertawa dan mencubit gemas pipi sang menantu.
"Tunggu di sini, ya. Nanti Mommy buatkan." Riana menuruti perintah Ayanda, dia juga menghela napas lega karena sudah membuat mertuanya melupakan kerisauannya.
Di perusahan Wiguna Grup, Aksa sedang memperkenalkan perusaahan besar se-Asia itu kepada Aska. Dari sejarah pembangunan hingga bisa menjadi besar dan dipandang di mata internasional. Dia jiga memberikan pengarahan juga penjelasan kepada Aska.
"Iya, gua paham," jawab Aska, ketika sang Abang selesai menerangkan.
Plak!
Lengan Aska pun dipukul oleh Aksara sehingga dia mengaduh. "Ini perusaahan besar. Bedakan panggilan di rumah dan juga di kantor karena kita kerja secara profesional," omelnya.
"Iya, Pak Abang."
Pulpen di tangan Aksa kini dipukulkan di dahi Aska. Adiknya ini benar-benar menguras emosi, sedangkan Aska sudah mengulum senyum. Melihat sangat Abang marah adalah hiburan untuknya.
Aksa bukanlah orang baik kepada siapapun, termasuk kepada adiknya. Dia langsung memberi Aska tugas yang lumayan banyak. Namun, Aska tidak menolak ataupun mengeluh. Dari rumah, Aska memang berniat untuk bekerja. Mempelajari semuanya agar dia cepat bisa. Dia harus melayakkan dirinya sendiri sebelum meminang wanita yang dia cinta.
Tak terasa sudah waktunya makan siang, Aksa menutup laptopnya dan beranjak dari kursi kebesarannya.
Aska pun menoleh, dia mengangguk mengerti. Aksa mendekat ke arah meja Askara, memberikannya satu buah kartu berwarna biru.
"Apa ini?" tanya Aska bingung.
"Buat jatah makan siang lu," jawab Aksa.
"Kalau buat beli makan, gua juga punya, Bang," tolak Askara.
"Terima dan pakai kartu ini!" Nada yang penuh dengan perintah yang keluar dari mulut Aksa. Aska pun terpaksa mengangguk.
Aksa sudah pergi, tetapi Aska masih betah di ruangan itu. Ternyata bekerja di perusahaan besar seperti ini bisa membuat dirinya lupa akan masalah yang tengah dihadapi. Baru saja dia melihat pekerjaan, tahu-tahu sudah jam dua belas saja waktunya makan siang.
***
Di perjalanan menuju rumah sakit, Riana menceritakan perihal sang ibu mertua. Aksa masih setia mendengarkan.
"Mommy sangat peka," tuturnya. Riana setuju dengan ucapan Aksa.
Tibanya di rumah sakit, mereka harus menunggu tiga pasien lagi. Namun, Aksa dan Riana bukanlah orang yang menggunakan kekuasaan. Mereka lebih memilih mengantre supaya tertib.
Berkali-kali Riana menguap, membuat Aksa menaruh kepala Riana di pundaknya.
__ADS_1
"Ngantuk?" Riana hanya mengangguk.
"Biasanya jam segini Ri tidur siang," jelasnya.
"Bulan depan atur jadwalnya sore atau malam aja, ya. Biar kamu bisa istirahat dulu."
Setengah jam berselang, nama Riana pun dipanggil. Mereka masuk ke dalam ruangan obgyn dan disambut hangat oleh dokter Gwen.
"Kenapa gak langsung masuk aja tadi? Jadi, gak nunggu lama," ujarnya.
"Tidak apa-apa, dok. Kami juga harus mengantre seperti pasien-pasien yang lain.
Riana sudah berbaring sepertinya biasanya. Setiap kali dilakukan USG empat dimensi, Aksa maupun Riana akan tersenyum bahagia karena bisa melihat bentuk calon anaknya di dalam perut.
"Gak sabar ingin tahu jenis kelaminnya," ucap Riana ketika dibantu turun oleh sang suami.
"Bagi ibu hamil yang mengalami VTS, anak yang dikandung biasanya kembar identik," terang dokter Gwen.
Riana menatap ke arah sang suami dengan lengkungan senyum di bibirnya.
"Cewek," ucap Riana pelan. Aksa hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri.
Bagaimana Riana bisa mengetahui perihal jenis kelamin calon anaknya? Sedangkan dokter belum memberitahukannya kepada Riana. Keyakinan Riana pada anak perempuan yang pernah hadir di dalam mimpinya. Dia memanggil Riana dengan sebutan Mommy. Riana sangat yakin, jika anak itu adalah kakak dari si calon anak yang tengah dia kandung.
Berbeda dengan Aska, hati kecilnya mengatakan hal yang berbeda. Namun, Aksa tidak memberitahukannya kepada Riana.
"Oh iya, dok. Saya mau tanya, apa pada usia kandungan istri saya saat ini boleh melakukan penerbangan?" tanya Aksara.
"Sebenarnya boleh, tapi alangkah lebih baiknya sebelum bepergian dengan menggunakan pesawat, dicek dulu kesehatan si ibu dan calon bayinya. Saya juga akan membekali obat-obatan khusus ibu hamil. Hanya untuk jaga-jaga."
Setelah selesai memeriksa kandungan dan berkonsultasi beberapa hal, Aksa membawa Riana ke perusahaan. Mereka datang untuk menjemput Aska karena dia tidak membawa kendaraan. Pintu ruangan terbuka dan Aska menegakkan kepalanya. Bibirnya tersenyum ketika melihat sang Abang juga istrinya.
"Susah gak?" tanya Aksa.
"Kayak pelajaran anak kelas satu SD," celoteh Askara.
Semakin hari kinerja Aska semakin baik. Aksa bangga menjadi pembimbing untuk Aska. Begitu juga dengan ayahnya.
Dua bulan sudah Aska bekerja di perusahaan sang ayah. Gaji yang dia terima pun sangat banyak. Padahal dia hanya menjadi bawahan dari abangnya. Terkadang terbesit tanya dalam kepalanya. Berapa gaji Abang dan juga ayahnya?
Pagi ini Aksara terlihat sangat sibuk. Banyak sekali telepon yang masuk dan mengharuskan dia menerima telpon sambil memandangi laptopnya dengan sangat serius. Aska tidak berani menanyakan, dia hanya memandangi abangnya dalam diam.
"Baiklah, saya akan ke sana."
Ponsel mahal itu dia letakkan di atas meja dengan cukup keras. Membuat Aska sedikit terkejut. Helaan napas kasar pun terdengar sampai telinganya.
"Besok kita harus terbang ke Jogja."
"Hah?"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....