Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kepanikan


__ADS_3

Aksa segera turun dari mobil ketika mobil itu baru saja berhenti. Dia segera berlari agar bisa cepat tiba di unit miliknya. Aska tidak ikut masuk, dia memilih untuk menunggu di dalam mobil agar bisa cepat membawa Riana.


Ketika Aksa memasuki unit apartment, dia segera menuju ke dalam kamar. Hatinya sangat sakit melihat sang istri yang terus menahan sakit.


"Sayang."


Dua orang pengawal yang berada di sana memundurkan langkahnya. Terlihat Riana masih menyunggingkan senyum.


"Sakit, Bang."


Hati Aksa sangat perih mendengarnya. Dia hanya mengangguk pelan dan segera menggendong tubuh istrinya. Dilihatnya ada cairan di kaki bagian dalam Riana. Hatinya sungguh dag dig dug Tak karuhan.


"Sakit."


Riana mencengkeram dada Aksa karena menahan sakit yang semakin parah. "Iya, Sayang. Kita ke rumah sakit sekarang."


Ingin rasanya Aksa menangis keras. Bukan karena cengkeraman sang istri, melainkan karena rasa sakit yang istrinya rasakan. Rasa sakit itu seperti menular kepadanya.


"Tuhan, jangan berjanji kesakitan yang berlebih kepada istriku. Aku sungguh tidak tega melihatnya."


Aska melihat sang kakak sudah keluar dengan membawa istrinya. Dia segera membukakan pintu penumpang.


"Cepat jalan!"


Aska menuruti ucapan abangnya tersebut. Sesekali dia melihat ke arah bangku penumpang melalui spion depan. Abangnya terlihat sedang menahan air mata dengan mendekap hangat tubuh Riana.


"Sabar ya, Sayang." Hanya kalimat itu yang mampu Aksa ucapkan. Ingin rasanya dia menjerit kencang. Menangis bersama Riana. Namun. itu tidak mungkin dia lakukan. Di saat istrinya tengah merasakan kesakitan, dia harus terlihat lebih kuat walaupun hatinya tersiksa.


"Sakit, Bang." Kecupan hangat Aksa berikan di kening sang istri. Berjarak rasa sakitnya reda. Dia juga terus menggenggam tangan Riana dengan sangat erat.


"Dek, tambah kecepatannya!" Aksa tidak bisa menutupi kepanikannya pada Aska.


Terlihat air mata Riana sudah berjatuhan di ujung matanya. Aksa mengusap pelan air mata itu. Dia tahu istrinya sedang sangat kesakitan. Namun, Riana tidak mengungkapkan kepadanya.


Ponsel Aksa terus berdering begitu juga dengan ponsel Aska. Namun, mereka kompak untuk tidak menjawab. Mereka lebih fokus pada Riana. Apalagi Aska melihat sang ayahlah yang menghubunginya.


"Pasti udah tahu."


Tibanya di rumah sakit, Aksa sudah berteriak keras kepada pihak medis sambil menggendong tubuh istrinya. Aksa menyuruh mereka untuk cepat menangani istrinya yang tengah kesakitan. Riana sudah berbaring di ranjang pesakitan dengan tangan Aksa yang tak lepas sedikit pun.


"Bang." Suara Riana sudah merintih membuat hatinya semakin teriris. Apalagi istrinya sudah me oleh kepadanya.

__ADS_1


"Iya, Sayang." Aksa membubuhkan kecupan di kelopak mata istrinya. "Abang akan selalu ada di samping kamu. Abang akan menemani persalinan kamu. Abang akan berjuang bersama kamu."


Dokter dan perawat yang menangani Riana hanya tersenyum melihat sepasang suami istri ini. Apalagi air mata Riana sudah menetes ketika mendengar ucapan tulus dari sang suami.


.


"Kok bisa? Usia kandungannya masih delapan bulan, Mas."


Keterkejutan Ayanda membuat Gio dan Genta menghampiri Ayanda yang tengah berada di dapur.


"Mommy, ada apa?" Ayanda menoleh dengan wajah cemas. Ponselnya masih berada di telinga. Namun, dia tidak menjawab pertanyaan Giondra.


"Ya udah, aku hubungi dokter Gwen dulu ya, Mas. Nanti aku kirim alamat apartemen mereka."


Dahi Gio dan Genta mengkerut mendengar ucapan dari Ayanda. Dia sangat yakin bahwa Rio yang menghubunginya. Tidak ada laki-laki laon yang Ayanda panghil dengan sebutan mas, kecuali mantan suaminya. Mendengat nama domter Gwen otak Gio sudab mwngarah kepada menantunya. Dia pun menghampiri istrinya yang masih sibuk dengan benda pipih di tangannya. Ketika Gio hendak membuka suara, tangan Ayanda diangkat menandakan bahwa Gio tidak boleh berbicara dulu.


"Halo dokter. Apa ada kemungkinan untuk Riana melahirkan secara prematur?"


Mata Gio dan Genta melebar mendengar ucapan Ayanda. Mereka segera mengambil ponsel dan menghubungi orang kepercayaan mereka masing-masing.


"Angkat dong Askara," erang Gio. Tak berhasil menghubungi anak bungsunya, dia pun menghubungi Aksara. Namun, tetap saja tak ada jawaban.


"Apa?" Ayanda dan Gio sangat terkejut. Mereka menatap ke arah Genta yang ternyata baru saja mendapat kabar dari orang suruhannya. Calon kakek dan nenek itu kelimpungan dan panik.


Ayanda kembali menggunakan ponselnya sama seperti Gio.


"Mas, Riana sepertinya mau melahirkan." Ayanda memberitahukanya kepada Rion, sang besan.


"Siapakan pesawat secepatnya. Kita terbang ke Singapura."


Kepanikan juga kecemasan sangat kentara di wajah mereka berdua. Rencana mereka tidak berjalan dengan sempurna. Apalagi dokter Gwen menjelaskan bahwa ada kemungkinan bagi Riana melahirkan secara normal karena usianya yang masih muda.


"Siap-siap, Mom. Kita akan terbang ke Singapura."


.


Bukan hanya Ayanda yang panik. Rion pun sudah sangat panik hingga dia menghubungi Echa. Padahal, Echa tengah mengadakan rapat penting.


Tak ada jawaban dari putri pertamanya, dia pun hanya mengirimkan pesan.


"Dek, Ayah mau terbang ke Singapura sekarang sama Om Arya karena Riana mau melahirkan. Ayah titip Iyan, ya."

__ADS_1


Dia juga mengirimkan pesan kepada sang putra yang masih berada di sekolah. Ke manapun Rion pergi pasti atas sepengetahuan anak-anaknya.


"Lu gak bawa baju?" tanya Arya yang hendak pulang terlebih dahulu.


"Ada besan gua yang super kaya. Minta beliin aja."


Mata Arya melotot mendengar ucapan ringan dari sahabatnya ini. Kepalanya pun menggeleng serta mulutnya menganga.


"Besan gak tahu malu!"


"Gua justru besan yang sangat tau malu. Makanya gua minta beliin baju ke si Gio karena kalau gua gak lake baju itu lebih malu, Bhaskara."


Ingin rasanya Arta mencekik leher duduk tua si depannya ini. Semakin tua bukannya semakin taubat malah semakin menggila.


"Ya Allah ... sangat malangnya tiga keponakan gua punya bapak macam orang ini," tunjuknya pada Rion. "Kalau gua jadi Echa, Riana dan Iyan gua bakalan minta ganti bapak," sungutnya, dan berlalu meninggalakan Rion.


"Kenapa gua bisa betah banget sahabat sama manusia modelan kayak gitu? Manusia bodong, sedeng gendeng, dan gak tahu malu," umpatnya sangat kesal. "Astaghfirullah ...." Beristighfar sambil mengusap dadanya agar tenang.


.


Tak lama diperiksa, Riana keluar dari IGD dan segera dibawa ke ruang persalinan. Aska yang sedang menunggu di depan ruang IGD segera berdiri ketika melihat Aksa mendorong brankas rumah sakit. Aska mendekat ke arah sang abang, tetapi Aksa sudah mengeluarkan dompet dan ponselnya kepada adiknya.


"Lu urus adminstrasi." Aska pun mengangguk.


Aska dapat melihat wajah Riana yang sudah sangat pucat. Namun, tangan abangnya tak sedikitpun terlepas dari tangan Riana. Perlakuan Aksara membuat hati Aska terenyuh. Bukan hanya Riana yang menahan sakit, abangnya pun seakan tengah menahan perih yang tak terkira yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Apa nanti gua juga akan merasakan hal seperti itu?" batinnya. Aska masih mematung di tempatnya dan memperhatikan abangnya yang semakin menjauhi dirinya karena harus ke ruang persalinan.


"Mbak, aku udah di rumah sakit. Kayaknya aku pulang agak lambat karena harus antre dulu."


Suara seorang wanita di belakangnya membuat Aska yang hendak melangkahkan kaki, kini malah terhenti. Seketika Aska pun terdiam karena dia kenal dengan suara tersebut.


"Apa mungkin? Apa hanya sekedar halusinasi saja? Karena gua merasa tengah dekat dengan dia."


Aska masih bergelut dengan pikirannya sendiri, hingga dia memutuskan untuk menoleh ke arah belakang. Seorang wanita yang berambut sebahu dengan dress sopan berwarna cokelat muda tengah berdiri membelakanginya juga. Aska memberanikan mendekat.


Dan ....


...****************...


Komen atuhlah ...

__ADS_1


__ADS_2