Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Pelajaran


__ADS_3

"Rumah sakit?" ulang Aksa juga Riana.


Aleesa hanya mengangguk. Aleena menjelaskan secara gamblang semuanya sehingga Aksa dan Riana mengangguk mengerti.


"Jadi, Kakak Sa ikut lomba ini hanya ingin hadiahnya?" tanya Riana dengan sangat lembut. Dia tidak mau pertanyaannya itu akan menekan Aleesa.


"Iya," jawab singkat Aleesa.


"Kenapa Kakak Sa tidak meminta bantuan kepada Bubu atau Baba atau juga yang lainnya? Jadi, tidak perlu ikut lomba."


Aleesa memberanikan diri menatap Riana. "Kakak Sa ingin membantunya dengan uang Kakak Sa sendiri," ujarnya.


Aksa yang fokus ke jalanan pun tersenyum bangga akan keponakannya yang satu ini. Mobil pun berbelok ke area rumah sakit yang dituju. Aleesa memberitahukan di mana kamar perawatan itu berada. Mereka berlima segera ke sana.


Pintu kamar perawatan terbuka, hati Riana dan Aksa seketika terenyuh melihat dua orang anak yang tengah duduk di samping ranjang pesakitan. Menggenggam tangan ibu mereka dengan sangat erat.


"Yansen!"


Anak laki-laki berwajah oriental itu pun menoleh. Dia turun dari ranjang pesakitan dan berlari memeluk tubuh Aleesa. Sontak om dan tantenya terkejut.


"Mereka memang sedekat itu," ucap Aleena ketika melihat Aksa ingin menjauhkan Aleesa.


"Papahku ...." Suara Yansen terdengar sangat lirih. "Mobil besar ... nabrak ... dan ... Papah sudah berada di bawah mobil besar itu dengan kaki yang terlindas."


Dia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bocah seusia keponakannya itu.


"Aku juga melihat hal yang sama."


Aksa dan Riana terkejut dengan apa yang dua anak ini bicarakan. Mereka berdua memiliki kemampuan yang sama.


"Yansen ini memiliki kemampuan yang sama dengan Dedek Sa," terang Aleena.


"Hai!" sapa Riana ke arah anak perempuan yang masih berdiri di samping ranjang pesakitan sang ibunda dengan wajah sendu.


Riana menghampirinya dan menjabat tangan anak perempuan yang sangat mirip dengan temannya Aleesa.

__ADS_1


"Maaf, kami ganggu kamu," ucap Riana dengan sopan.


"Tidak apa-apa, Tante." Anak perempuan itu mencoba untuk tersenyum. Namun, Riana mampu melihat ada luka yang sangat besar di hatinya.


"Kalian jaga Mamah kalian hanya berdua?" Anak perempuan itu mengangguk.


"Kak Yohana, kenalin itu Aunty aku." Aleesa yang telah menyudahi pelukannya dengan Yansen pun memperkenalkan anggota keluarganya satu per satu.


Tak lama berselang seorang dokter datang itupun atas callingan dari Aksa.


"Selamat malam, Pak Aksara."


Riana hanya menatap bingung ke arah sang suami. Seluas apakah pengaruh suaminya hingga dengan mudahnya dia bisa menghubungi pihak dalam rumah sakit ini. Padahal, rumah sakit ini bukanlah rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan milik suaminya ataupun milik kakeknya.


"Malam," jawab Aksa singkat. "Saya hanya ingin tahu mengenai pasien ini." Yansen dan Yohana hanya dapat terdiam, mereka berdua juga bingung harus melakukan apa. Mereka masih terlalu kecil.


"Suami dari pasien ini sudah meninggal dunia, dua hari yang lalu karena kecelakaan lalu lintas. Istrinya selamat, tapi dalam keadaan seperti ini. Ada gumpalan darah di kepalanya yang mengharuskan dilakukan tindakan operasi. Namun, pihak keluarga seakan lepas tangan," terang dokter yang merawat Nyonya Yeni, ibu dari Yansen dan Yohana.


"Maksudnya?"


Riana merasa sangat kesal mendengar penjelasan dari dokter tersebut tentang keluarga Yansen dan juga Yohana.


"Apa biaya itu masih tersisa?" tanya Aksa.


"Setelah kami print out semuanya, sisa uangnya hanya bisa untuk perawatan satu hari lagi saja."


Yansen dan Yohana pun menunduk. Inilah yang membuat Aleesa terketuk hatinya untuk membantu Yansen.


"Ini Om dokter." Aleesa menyerahkan amplop berwarna putih kepada dokter tersebut. "Itu ada uang sepuluh juta buat tambahin biaya perawatan Mamahnya Yansen."


Dokter itu pun terkejut dan menatap haru ke arah Aleesa.


"Yansen, uang itu bukan dari Bubu dan Baba aku. Itu uang aku hasil dari juara lomba melukis. Jadi, kamu gak bisa menolaknya."


Hati tiga orang dewasa itupun mencelos mendengar penuturan dari Aleesa. Kepeduliannya sangat tinggi di usianya yang masih dini.

__ADS_1


Aksa mengajak dokter itu keluar dari kamar perawatan diikuti oleh Riana juga.


"Berikan penangangan yang terbaik," titah Aksa. Dokter itu pun mengangguk mengerti. "Semua biaya saya yang akan tanggung semua sampai beliau benar-benar pulih."


Aksa menatap ke arah sang istri dan hanya seulas senyum yang terukir di wajah Riana, menandakan bahwa dia pun setuju. Setelah semua biaya sudah dibicarakan, Riana merangkul manja lengan Aksa dan mampu membuat Aksa tersenyum.


"Ri, ingin memberikan pengasuh untuk Yansen dan juga Yohana." Dahi Aksa mengkerut mendengar ucapan dari istrinya. "Bagaimanapun mereka memerlukan orang dewasa untuk menjaga mereka berdua sampai ibu mereka benar-benar sembuh."


Aksa tersenyum ke arah sang istri dan mengecup ujung kepala Riana penuh cinta. "Istri Abang memang terbaik."


"Anggap aja kita memiliki dua anak asuh. Supaya rejeki yang Abang hasilkan selalu bersih dengan membantu sesama seperti ini juga terus mengalir bagai air," terang Riana. Aksa pun mengangguk setuju. "Kita harusnya malu sama Aleesa. Anak sekecil itupun rasa kepeduliannya sangat tinggi sampai ingin mencari uang sendiri sedangkan kita orang dewasa yang sudah memiliki penghasilan sendiri masih berdiam diri."


Ada pelajaran yang Riana dan Aksa petik untuk hari ini. Riana menatap ke arah kursi belakang ternyata ketiga keponakannya sudah tertidur.


"Kelak kamu seperti Kakak Sa juga, ya." Tangan kiri Aksa sudah mengusap lembut perut buncit Riana.


.


Gio sudah mengumpulkan semua petinggi WAG Grup termasuk Aksa perihal ada even penting di Singapura yang akan diadakan tiga hari lagi. Aksa akan berangkat untuk menggantikan Gio karena dia harus berkunjung ke Melbourne ke tempat sang ayah bersama istrinya. Gio dan Genta hanya mengirimkan Aksa juga Aska. Membentuk para generasi muda penerus mereka.


"Kalian sudah Konsul ke dokter Gwen?" tanya sang ibu ketika melihat putranya tengah memasukkan barang ke dalam koper sedangkan sang istri tengah duduk di kursi refleksi.


"Sudah, Mom. HPL-nya juga masih lama," jawab Riana.


"Bukan begitu, Ri. Terkadang HPL menurut perkiraan dokter berbeda jauh dengan HPL Tuhan," terang Ayanda.


"Kalau lebih cepat dan lahiran normal berarti anak itu mendengar keinginan Mommy-nya," sahut Aksa dengan begitu santai.


"Kamu itu bicara enteng banget sih, Bang." Sang ibu pun sudah menjewer telinga Aksa hingga sang putra mengaduh.


"Melahirkan normal itu sangat sakit, Aksara! Kamu mah cuma tahu enaknya doang!" pekik sang ibu.


"Kuping Abang juga sakit, Mom." Lagi-lagi Aksa menyahuti ucapan sang mommy. Riana hanya tertawa melihat tingkah suami juga mertuanya. Tangannya pun sudah mulai mengusap lembut perut membukitnya. Namun, perutnya tiba-tiba terasa sakit.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2