Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Petuah


__ADS_3

Seorang wanita sudah tersenyum dengan satu bungkus rokok di tangannya. Rokok yang sama persis dengan yang sedang Aska nikmati.


"Ka-kak." Aska nampak terkejut dengan kehadiran Echa di sana.


"Adek mohon ... jangan bilang ke Mommy ataupun Daddy," pinta Aska dengan penuh permohonan. Kedua orang tuanya sangat tidak suka dengan yang namanya rokok juga alkohol. Mereka sangat melarang kedua putranya untuk tidak mengkonsumsi itu.


Bibir Echa memang tersenyum, tetapi Aska tahu ada rasa tidak suka di lubuk hati kakaknya terdalam. Aska segera mematikan rokok yang baru saja dia bakar. Echa mengacak-acak rambut adik bungsunya tersebut.


"Kamu tetap adik kecil Kakak," ucapnya seraya tertawa karena terlihat jelas raut ketakutan di wajah Aska. Aska terperangah, seharusnya kakaknya ini marah, tetapi dia malah terlihat santai. Malah Echa pun duduk di samping Aska.


"Kenapa?" Sebuah kata yang terucap dari mulut sang kakak tercinta yang tengah menatapnya. Echa seakan tahu kegundahan yang tengah menyelimuti hatinya.


Aska ingin berdusta, tetapi sorot mata Echa seperti sudah menghipnotisnya untuk mengatakan semuanya.


"Satu bungkus rokok tidak akan pernah menyelesaikan permasalahan kamu," ujar Echa yang kini mengusap lembut pundak sang adik.


"Bertindaklah! Selesaikan masalahnya," lanjut Echa lagi. "Jangan lupa ambil wudhu dan bersujud kepada sang pemilik semesta," tambahnya.


Hati Aska tergelitik mendengar ucapan sang kakak. Kini, Aska menatap intens manik mata sang kakak. Bola mata yang indah dan membuat tenang. Tutur katanya yang lembut membuat hati Aska menghangat.


"Mencintai ternyata lebih menyakitkan dibandingkan dengan dicintai," balas Aska tanpa ekspresi.


Dahi Echa mengkerut mendengarnya. Dia masih memandangi wajah adiknya. Sorot mata Echa meminta agar Aska melanjutkannya lagi.


"Ketika sudah berjuang untuk membahagiakan, tetapi hanya dianggap teman. Bukankan itu menyakitkan?" Suara Aska terdengar sangat berat. Dia pun tersenyum perih.


Echa sangat melihat betapa terlukanya hati Askara, adiknya. Baru kali ini Echa melihat Aska rapuh. Anak yang biasanya ceria, kini keceriannya hilang diganti dengan kesenduan yang mendalam. Echa merentangkan kedua tangannya dan Aska segera memeluk tubuh Echa yang tidak pernah berubah sedari dulu.

__ADS_1


"Aku cinta dia, Kak. Aku sayang dia," tuturnya dengan nada yang sangat lirih.


Echa akan menjadi pendengar yang baik untuk Askara. Biarlah adiknya ini mengeluarkan semua isi hatinya. Sejujurnya, Echa sangat merindukan momen ini. Di mana adiknya yang selalu bercerita kepadanya dan menangis di pelukannya.


"Adek ... tidak selamanya apa yang kita inginkan diridhoi oleh Tuhan. Ikuti alur yang sudah Tuhan tentukan sambil terus berjuang. Tidak ada perjuangan yang mengkhianati hasil akhir," terang Echa seraya mengusap lembut punggung Aska.


"Jangan menyerah selagi masih bisa diperjuangkan," lanjutnya lagi.


"Adek hanya tidak ingin jadi pecundang," kata Aska, seraya mendongak ke arah Echa.


"Pemenang belum tentu dia yang berjuang mati-matian. Ada faktor lucky yang menyertainya, sedangkan pecundang dia adalah pejuang yang tidak beruntung," jawab Echa dengan seulas senyum.


"Mungkin Tuhan sudah menuliskan bahwa kisah cinta semua anak Mamah tidaklah mudah. Harus ada perjuangan yang dilakukan. Harus ada air mata yang diteteskan agar bisa menghargai apa yang sudah didapatkan," jelas Echa dengan senyum tulusnya. "Mencintai dengan ketulusan yang akan membawa anak-anak Mamah menuju kebahagiaan," tambahnya lagi.


Senyum Echa pun menular kepada Aska. Nasihat kakaknya sangat berguna untuknya. Kini, Aska kembali memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat.


"Siapa sih yang bisa merebut hati Adek Kakak ini? Sampai kamu bisa galau parah?" tanya Echa penasaran sambil meletakkan dagunya di bahu Aska.


"Dia wanita biasa. Dia tidak secantik Kakak ataupun Riana," terang Aska.


"Dia hanya wanita lemah yang berpura-pura bahagia di depan semuanya," lanjut Aska lagi.


"Dia juga tidak kaya, hidupnya sangat sederhana. Apa Kakak berkenan memiliki adik ipar sepertinya?" Sorot mata Aska menunjukkan keseriusan, sedangkan Echa tergelak mendengar pertanyaan sang adik.


"Dengerin Kakak ya, Dek. Harta dan tahta tidak menjamin kita bahagia. Untuk apa kaya jika hati tersiksa?" balas Echa.


"Harus kamu ingat, Kekayaan itu hanya titipan. Lebih baik perkaya hati dengan hal yang baik agar kebaikan itu bisa dikenang," tambah Echa seraya menatap manik adiknya.

__ADS_1


Echa kini mengusap lembut punggubg tangan sang adik. "Kakak yakin, Mamah dan Papah bukan orang tua yang akan memandang perihal itu. Kebahagiaan anak-anaknyalah yang utama." Aska merasa lega dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak. Benar kata orang, kakaknya adalah titisan Ayanda.


"Adek hanya ingin menyudahi kepura-puraannya, Kak. Adek ingin memperkenalkan dia dengan kebahagiaan yang sesungguhnya. Mengisi kekosongan hatinya yang selama ini dia sembunyikan," jelas Aska sambil menatap sendu ke arah Echa.


Echa menangkup wajah adiknya dengan senyum yang terukir di wajahnya. "Mulai sekarang, belajar berjuang, meskipun tidak dihargai. Terus mencintai, meskipun tidak dicintai. Belajarlah!" Petuah sang kakak. Aska terdiam, mencerna ucapan sang kakak.


"Namun, ketika kamu lelah dengan segala bentuk perjuangan kamu yang hanya dianggap angin lalu. Menepilah, balik kanan tidak ada salahnya. Tidak semua manusia memiliki kesabaran yang ekstra 'kan." Echa masih memandang wajah sang adik yang terlihat pilu.


"Padahal itu hanya hal sederhana, tetapi kenapa begitu sulit untuk dilakukan?" tanya Aska.


Lagi-lagi Echa tersenyum. Dia mengusap lembut kepala sang adik


"Kadang kita menganggap remeh sesuatu hal yang mudah. Pada nyatanya hal tersebut sulit untuk kita raih." Aska mengangguk dan dia kembali memeluk tubuh kakaknya untuk kesekian kali. Pelukan hangat sang kakak memberikan kedamaian hingga dia memejamkan mata untuk sejenak.


Echa bukanlah kakak satu ayah dengan Aska juga Aksa. Namun, mereka mampu menjadi saudara yang sangat akrab. Si kembar akan menjadi pelindung untuk Echa sama halnya dengan Echa. Nyawa Echa pun hampir dia korbankan demi menyelamatkan kedua adiknya.


"Ketika kamu dilanda masalah, jangan simpan semuanya sendirian. Jangan jadikan rokok sebagai pelarian, itu akan mengganggu kesehatan." Nasihat yang Echa berikan disela keheningan.


"Kakak tahu ... kamu gak bisa cerita kepada Mamah dan Papah. Harus kamu ingat, kamu masih memiliki Abang, Kakak dan juga Bang Radit. Kamu bisa cerita kepada kami karena kami siap menjadi pendengar yang baik untuk segala keluh kesah kamu." Aska tersenyum mendengar ucapan tulus sang kakak. Kini, dia menatap ke arah kakaknya yang juga sudah tersenyum ke arahnya.


"Makasih, Kak. Dari dulu Kakak gak pernah berubah. Kakak selalu menjadi pendengar yang baik untuk Adek dan juga Abang. Menjadi ibu kedua untuk kami."


Perkataan yang sederhana, tapi mampu membuat Echa bahagia tiada Tara.


"Apa Kakak boleh bertemu dengan wanita itu?"


...****************...

__ADS_1


Doakan aku ya, Mak. Semoga besok dan seterusnya bisa up 2-3 bab per hari.


Jangan lupa komen, komen kalian penyemangat untukku.


__ADS_2