Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Balasan Yang Terlambat


__ADS_3

"Hargai dia yang sudah berjuang, tetapi dia yang harus terlebih dahulu pulang karena sebuah kemalangan."


Jleb.


Ucapan Aksa selalu saja tepat sasaran. Sangat dalam dan membuat orang yang merasa melakukan terdiam. Jingga pun sedikit bingung, untuk apa Aska datang ke Jogja. Otaknya sekarang berpikir perihal kejadian semalam.


"Apa semalam Bang As ada di apartment Pak direktur utama?" gumamnya di dalam hati.


Aksa, Riana juga Fahri meninggalkan Jingga yang masih membeku. Mereka memberi waktu kepada dua insan manusia itu untuk menikmati segala rasa yang berkecamuk di dada mereka.


"Apa tidak apa-apa mereka ditinggalkan berdua? Bukankah orang ketiga itu setan?" ujar Fahri sedikit khawatir.


"Kalau mereka macam-macam, palingan juga nanti dicoret dari kartu keluarga," sahut Aksa.


Riana memukul lengan sang suami. Semakin hari sifat asli Aksa mulai terlihat dan tak kalah menyebalkan dari sang Abang iparnya, yaitu Radit.


Jingga masih mematung di tempatnya. Langkahnya terasa sangat berat. Di atas tempat tidur memang ada tubuh seseorang yang tengah terlelap dalam posisi tengkurap. Tubuhnya terlihat sangat lelah.


Akhirnya, Jingga melangkah mendekat ke arah sang laki-laki itu. Memberanikan diri menatap wajah Aska yang hanya terlihat sebagian. Wajah yang sudah sebulan ini dia rindukan. Laki-laki yang pernah membuat hari-harinya sangat bahagia.


Namun, dia melihat ada gurat kesedihan di wajah pria yang masih terlihat tampan meskipun dalam keadaan terlelap. Hati Jingga menangis, ternyata bukan hanya dia yang merasa sakit. Aska pun mengalami hal yang sama.


Jingga meluruhkan tubuhnya ke lantai. Duduk di samping tempat tidur dengan dagu yang dia letakkan di bibir ranjang. Menatap wajah orang yang dia sayang dengan sangat dalam. Itu tidak membuat hatinya tenang, malah membuat dia semakin dihantui rasa bersalah tak terkira karena sudah mengulur waktu untuk menjawab ungkapan cinta Aska. Kini, berujung petaka.


"Maafkan aku, Bang As."


Permintaa maaf yang membuat Jingga menitikan air mata. Kalimat yang keluar dari mulutnya dengan sangat tulus. Tangannya mulai terulur menyentuh wajah Aska yang sedikit lebih tirus. Rasa bersalah itu semakin menjalar di hatinya.


"Aku mencintai kamu, Bang. Aku tidak mencintai dia," akuinya.

__ADS_1


Jingga menunduk dalam dengan air mata yang sudah berjatuhan. Hatinya sangat sakit dan perih. Hanya sebuah penyesalan yang kini Jingga rasakan. Andai dia tidak mengulur waktu. Andai dia jujur degan perasaannya sendiri. Namun, semuanya sudah terlambat. Waktu tidak dapat kembali lagi.


Tangan Jingga mulai mengusap rambut halus Aska. Hatinya bergetar hebat, sebisa mungkin Jingga menangis tanpa suara. Menahan semuanya dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya.


"Aku gak bahagia, Bang As. Sekarang aku bagai orang gila," tuturnya lagi.


Dua anak manusia yang sama-sama terluka karena sebuah cinta yang tak terwujud. Ketika semuanya hendak menuju bahagia, cobaan tak terkira menghampiri mereka. Kecewa dan terluka semakin bersarang di dada. Namun, tak membuat mereka melupakan cinta yang mereka punya.


"Aku ingin mati saja, Bang As. Psikisku benar-benar terguncang."


Jingga tertunduk dengan punggung yang bergetar. Dia seperti kembali ke tahun di mana dia ditinggalkan oleh ibunya. Dia merasa sendiri dan sudah tak berguna lagi hidup di dunia ini, tanpa ada orang yang menyayanginya dengan tulus. Pertemuannya kembali dengan Aska sedikit mengobati rasa sakit itu. Dia mulai memiliki tempat bercerita. Dia sudah mulai bisa tertawa meskipun tak selepas dulu. Setidaknya Aska menjadi obat untuk kesakita njuga kesedihan atas rasa kehilangan yang pernah Jingga alami.


Namun, sekarang dia yang menjadi racun untuk Aska. Dia yang tidak bisa menghargai ketulusan Aska. Dia adalah wanita egois yang hanya memikirkan dirinya dan juga nasihat mendiang sang bunda.


"Andai, aku tak mengikuti nasihat Bunda ...."


Perkataannya tercekat. Terlalu sakit untuk menyalahkan ibunya sendiri. Setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Begitu juga dengan alamarhum bundanya. Beliau hanya tidak ingin Jingga merasakan kejadian yang sama seperti dirinya. Dilukai oleh orang yang berkasta tinggi.


"Tolong lupakan aku, Bang As," lirihnya. Jingga menatap dalam wajah Aska yang masih terpejam.


"Kamu terlalu baik untuk aku, sedangkan aku sudah sangat jahat kepada kamu," lanjutnya lagi.


"Tidak ada yang dapat kamu banggakan lagi dari aku. Wanita kotor yang sudah seperti barang murah."


Jingga menunduk dalam kembali. Dia menangis untuk kesekian kalinya. Hatinya sangat sakit. Mencintai orang yang juga mencintainya, tetapi takdir sangat jahat dan kejam kepada mereka berdua.


Pandangan Jingga kini lurus ke depan, menatap sebuah benda yang berwarna hijau yang seakan tengah memanggilnya. Senyum Jingga terukir sangat tipis.


"Aku merindukan Bundaku, Bang As. Mungkin, jika Bundaku masih hidup semua ini tidak akan pernah terjadi. Beliau akan selalu melindungiku. Sama seperti dia mengorbankan nyawanya untukku ketika hari di mana aku diantar ke sekolah olehnya. Perjalan terakhir kami berdua yang tidak akan pernah bisa terulang lagi."

__ADS_1


Jingga terus berbicara tanpa ekspresi. Pandangannya sangat kosong, terlihat dia sudah benar-benar ingin menyerah menghadapi semuanya. Dia sudah terlalu lelah.


"Ijinkan aku menyerah untuk mencintai kamu, Bang. Ijinkan aku pergi yang jauh agar kamu tidak bisa menggapai ku."


Jingga mendekatkan wajahnya ke arah Aska. Dia tersenyum bisa melihat wajah Aska secara dekat. Tangannya mengusap lembut rambut Aska untuk kesekian kalinya. Bibirnya mendarat di kening juga pipi Aska.


"Aku akan pergi ke tempat di mana kamu tidak bisa menemukanku. Bukan hanya kamu, semua orang pun tidak bisa menemukanku," ucapnya pelan dengan tangan yang sudah mengusap lembut pipi Aska.


"Maaf, jika aku terlambat menjawab ungkapan cinta kamu. I love you too, Bang As."


Kecupan hangat Jingga bubuhkan lagi di pipi Aska. Setelah itu, dia mulai bangkit dari posisi semulanya. Dia berjalan ke arah pojokan kamar di mana ada yang memanggil-manggilnya. Dia berhenti di samping rak buku. Bibirnya tersenyum penuh bahagia. Tangannya meraih benda itu.


"Bunda, aku akan menyusulmu. Kita akan berdua lagi."


Tutup botol itu pun dia buka dan tercium aroma karbol yang sangat menyengat. Aska segera membuka mata, dan dia mencari keberadaan Jingga. Matanya pun terbelalak.


"Jingga!"


Wanita yang sedang berdiri dan meneguk cairan putih itu tersenyum dengan air mata yang sudah jatuh membasahi pipi. Aska melompat dari tempat tidur dan berlari menuju tempat Jingga berada.


Askara meraih tubuh Jingga yang sudah tak mampu lagi berdiri. Senyum masih terukir di wajah Jingga.


"Love you."


Dua buah kata yang keluar dari mulut Jingga sebelum dia memejamkan mata.


"Jingga!"


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


Katanya suruh up banyak.


__ADS_2