Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Menahan Cemburu


__ADS_3

"Jangan!"


Balasan pesan yang Jingga kirimkan kepada Aska. Aska malah terkekeh membacanya dan dengan sengaja dia tidak membalas pesan Jingga.


Satu pesan.


Dua pesan.


....


Lima belas pesan Jingga kirimkan ke nomor Aska. Tak satupun yang dibaca ataupun dibalas oleh Aska membuat Jingga mengerang kesal.


Tiba di butik ternama, mereka semua turun dan segera masuk. Aska berdecak kesal seperti mengantre sembako. Padat dan sesak dihuni oleh keluarga besarnya.


Orang pertama untuk melakukan fitting adalah Aksa juga Riana. Mereka berdualah yang akan menentukan model dan warna apa yang mereka inginkan.


"Nyonya Ayanda, sungguh cantik sekali menantu Nyonya," puji sang pemilik butik.


"Banyak yang bilang begitu," jawab Ayanda dengan senyum merekah.


"Putra Nyonya pun sangat menyayanginya sekali. Terbukti, sedari tadi tangannya tak lepas menggenggam istrinya."


Ayanda sangat merasa bahagia karena melihat putra pertamanya sudah bahagia. Wanita yang putranya cinta pun kini tengah mengandung buah cinta mereka. Kebahagiaan seorang ibu itu sangat sederhana. Melihat anak-anaknya bahagia itu sudah lebih dari cukup.


Riana memilih desain baju muslim yang sederhana, tetapi modern. Bisa digunakan untuk semua kalangan. Aksa hanya akan mengangguk setuju jika itu yang diinginkan oleh istri tercintanya.


Semua orang sudah mengukur baju satu per satu. Kini, giliran Aska. Para pekerja di sana mengerutkan dahi mereka karena wajah Aska sangat mirip dengan Aksa.


"Cepat ukur! Saya adiknya yang mau ngadain empat bulanan," tukasnya.


Tiba-tiba Aska bersikap judes seperti sang Abang. Ada apa gerangan?


Setelah Aska selesai fitting baju, Ayanda menghampiri putra bungsunya.


"Jadi gak buatin baju buat otw calon mantu Mommy," ujar Ayanda.


Raut kesal terlihat jelas di wajah Aska. Dia masih menatap ke layar benda pipih miliknya. Namun, suara sang ibu membuat Aska merubah raut wajahnya.


"Jadi, Mom."


"Ukurannya?" tanya Ayanda.


Aska mengerutkan dahinya bingung. Dia mencari-cari perempuan yang bertubuh hampir sama dengan Jingga.


"Samain kayak Beeya, Mom." Ayanda pun mengangguk pelan.

__ADS_1


Sang ibu mengusap lembut pundak Aska. "Jangan terlalu lama, nanti diambil orang." Sebuah kalimat yang membuat Aska menatap datar ke arah ibunya.


"Mommy tunggu kedatangannya."


Aska hanya menghela napas kasar. Dia tengah menahan rasa cemburu di dada.


Tidak biasanya Aska membuka statjs orang yang berada di kontaknya. Ketika dia membuka status salah seorang sahabatnya, dadanya terasa bergemuruh sangat kencang.


"Senyum dan tawa kamu selalu membuat hati aku tenang."


Itulah caption yang dibubuhkan pada sebuah foto yang dijadikan status aplikasi pesan dari kontak sahabatnya. Foto tersebut adalah foto Jingga yang tengah tertawa sangat lepas, dan di depan Jingga adalah sahabat Aska.


Rasa cemburu itu semakin menjadi ketika Ken dan Juno semakin memperkeruh keadaan. Sungguh membuat hati Aska semakin tak karuhan.


Ingin sekali Aska segera pulang ke rumah. Namun, ketiga keponakannya terus saja mengoceh ingin pergi ke Taman Safari untuk melihat pinguin.


Di sepanjang perjalanan, Aska hanya terdiam. Si pembuat onar tidak bersuara. Tidak ada juga celotehan yang mengundang gelak tawa. Aksa yang memang berada di kursi samping adiknya itu menatap aneh ke arah Aska. Akan tetapi, dia tidak bisa ke mana-mana karena sang istri tengah terlelap dengan memeluk lengannya.


"Anak lu kenapa pada manja banget sih sama lakinya," gerutu Arya. Ya, dia melihat Riana serta Echa yang tak mau jauh dari suami-suami mereka.


"Gak tahu gua juga," jawab Rion yang tengah memakan kacang almond.


"Lu sangat beruntung," ucap Arya. Dahi Rion mengkerut mendengar ucapan sahabat somplaknya itu. Dia kini menatap ke arah Arya. "Laki-laki yang menjadi menantu lu itu sabar banget. Bisa menghadapi anak-anak lu yang kayak anak bayi sama menghadapi bapaknya yang kayak bayi gorilla."


Awalnya memuji, tetapi berakhir dengan kalimat ejekan. Rion segera memiting kepala Arya hingga Arya tergelak.


Di Taman Safari, teriakan penuh kegembiraan keluar dari mulut ketiga keponakan Aska. Semua orang terlihat bahagia, kecuali Aska. Aksa sudah mendorong tubuh Riana dengan kursi roda.


"Bang, mau itu!" Riana menunjuk penjual sosis bakar besar. Aksa hanya tersenyum dan mengikuti kemauan istrinya. Bukannya mengikuti yang lain, Aska malah membuntuti sang Abang.


"Bang, gua mau juga." Sontak Aksa dan juga Riana menoleh, tenyata ada Aska di belakang mereka.


"Pedes gak?" tanya Aksa pada Aska.


"Pedes banget biar pusing gua ilang," jawab Aska.


Riana menukikkan kedua alisnya. Dia menatap ke arah suaminya dan meminta ijin untuk mendekat ke arah Aska. Suaminya pun tersenyum.


"Dek, bawa Riana ke tempat yang teduh," titah Aksa. Aska tidak akan menolak jika sang Abang sudah menyuruh.


Riana sudah duduk di samping sang adik ipar yang sedang terlihat sendu.


"Kenapa Kak?" tanya Riana


Aska menoleh ke arah adiknya yang sudah menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

__ADS_1


"Apa karena Jingga?" tebak Riana.


Aska hanya menghela napas kasar mendengar tebakan Riana. Dia bukanlah orang yang mudah terbuka dengan orang lain. Kini, Aska hanya menjawab dengan gelengan pelan dan senyum yang dipaksakan.


"Nih."


Satu buah sosis besar Aksa berikan kepada Aska. Aska tersenyum, abangnya selalu menjadi penyelamat untuknya.


"Thank You."


Aksa sudah menyuapi istrinya dengan makanan yang dia inginkan. Riana terlihat sangat menikmati membuat Aksa tersenyum bahagia.


Setelah puas berkeliling taman Safari, mereka kembali ke Jakarta. Ketiga kurcaci itu pun sudah terlelap karena kelelahan. Aska masih terus melihat status sahabatnya. Jari Aska sudah menari-nari.


"Kamu lagi di mana?"


Pesan yang Aska kirimkan kepada Jingga. Aska menunggu cukup lama hingga dia mengerang kesal karena tidak ada balasan dari Jingga sama sekali.


Mereka tiba di rumah menjelang malam. Aska masih betah memandngi ponselnya. Pesannya belum juga dibalas oleh Jingga.


"Ada apa?" Suara Aksa memecah lamunan Aska.


Dia menatap sendu ke arah sang Abang yang kian mendekat.


"Katakan!"


Aksa sudah duduk di samping tempat tidur sang adik. Aska hanya memperlihatkan sebuah foto pada Aksa. Kedua alis Aksa menukik tajam. Dia tahu siapa pria tersebut.


"Cemburu?" sergah Aksa.


"Iya." Jawaban singkat yang sangat jelas.


"Kejar dan katakan yang sejujurnya. Jangan sampai lu kalah start," imbuh Aksa.


"Ini sahabat gua, Bang," desah Aksa. Dia pun menunduk dalam.


"Lalu?" tanya Aksa.


Aska hanya menggeleng. Dia masih menunduk dalam. Aksa mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya ini. Dia juga tahu bagaimana persahabatan antara mereka berempat.


"Bersahabat bukan untuk saling mengalah 'kan?" pungkas Aksa.


"Tanya sama Jingga, dia lebih memilih siapa?" terang Aksa. "Kalau lu hanya diam, lu gak akan perang tahu jawabannya. Hanya bisa mengalah tanpa lu tahu isi hati Jingga yang sesungguhnya."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2