Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tiga Hari


__ADS_3

Di lain tempat, Jingga dan Aska sudah berada di dalam kosan. Mereka hanya terdiam dengan saling memandang. Kotak obat sudah ada di tangan Jingga. Namun, dia belum juga megobati luka Aska yang sudah terlihat membiru. Sorot mata Aska seakan tengah meminta jawaban atas pernyataan-pernyataan cinta Aska yang terdahulu.


"Aku obati ya," ucap Jingga memecah keheningan.


Tangannya sudah meletakkan handuk kecil ke dalam wadah berisi air hangat. Dia peras dan dia letakkan di sudut bibir Aska yang lebam. Tidak ada reaksi apapun dari Aska.


"Sakit?" Aska menhggelang.


"Lebih sakit hatiku melihat kamu dengan pria lain," jawab Aska.


Tangan Jingga yang ada di sudut bibir Aska pun seakan menegang mendengar kalimat yang Aska ucapkan. Matanya menatap ke arah Aska yang juga tengah menatapnya.


"Aku mencintai kamu, Jingga."


Ungkapan hati yang sudah kesekian kali Askara nyatakan. Namun, Jingga seakan tidak mendengarnya. Dia memilih menundukkan kepala.


Tangan Aska meraih tangan Jingga yang ada di sudut bibirnya. Kemudian, menurunkannya. Tangan yang satunya menarik dagu Jingga hingga mereka saling menatap satu sama lain. Bibir Aska pun perlahan bersatu dengan bibir Jingga. Kecupan hangat dan lembut Aska berikan membuat Jingga terhanyut. Tidak ada penolakan dari Jingga. Apa ini tanda bukti bahwa Jingga mencintainya?


Aska sudah seperti orang kesetanan. Kecupan lembut itu berubah menjadi semakin liar. Jingga sedikit kewalahan menghadapi kecupan Aska kali ini. Tangan Aska pun sudah tidak mau diam. Dia menyentuh apa yang bisa dia raih. Mata Jingga pun sudah sangat gelap karena sensasi yang sangat berubah, panas dan penuh gairah. Jingga sudah mengalungkan tangannya di leher Aska. Mereka saling membalas dengan hasrat yang sudah di ujung.


Le nguhan panjang keluar dari bibir Jingga ketika Aska menyentuh dua gunung tak terlalu besar miliknya. Terbesit pikiran jahat di kepala Aska.


"Apa aku menodainya saja?"


Beberapa detik kemudian dia tersadar dan menyudahi aksi tak pantasnya. Terlihat wajah kecewa yang Jingga tunjukkan.


"Aku tidak akan merusak kamu," ujarnya. "Maafkan aku," sesalnya.


Jingga terdiam dengan napas yang tak karuhan. Aska menarik tangan Jingga dan mendekap erat tubuh wanita yang dia cintai.


"Bolehkah aku berjuang?"


Pertanyaan yang masih sama dengan yang dulu. Jingga masih terdiam. Dia belum bisa jujur dengan hatinya.


"Beri aku waktu tiga hari," pinta Jingga. Wajahnya sudah mendongak ke arah Aska.


"Tapi kamu janji akan menjawabnya 'kan?" Aska seakan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Jingga.

__ADS_1


"Iya, aku akan jawab. Semoga dalam waktu tiga hari aku bisa mendapatkan jawabannya," sahutnya.


Ketika Aska pulang, rumahnya nampak sepi sekali. Dia tidak akan mencari tahu, malah ini kesempatan bagus karena dia tidak akan ditanya perihal luka lebam yang ada di sudut bibirnya. Aska segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Dihempaskan tubuhnya di sofa empuk yang ada di kamar. Memejamkan mata sejenak untuk menghilangkan rasa pusing di kepala. Terlebih sikap dan perkataan Bian yang masih belum hilang dalam ingatan.


"Kenapa dia bawa-bawa Abang gua?" gumamnya dengan dahi yang mengkerut.


Ting!


Aska meraih ponselnya, di sana tertulis satu nama. Ketika dia buka pesan tersebut, sebuah foto yang menunjukkan wajah Bian yang nampak frustasi.


"Dia disuruh ganti uang Abang lu."


"Setengah Milyar."


Pesan dari Ken. Aska hanya menghela napas kasar. Dia harus bertanya kepada sang Abang. Ada masalah apa dia dengan Bian.


Jarinya kini menari-nari di atas layar ponsel. Menanyakan keberadaan sang Abang.


"Gua di rumah Ayah."


Di kosan, Jingga terus menatap langit kamar. Dia memegang dadanya yang hampir disentuh secara langsung oleh Aska. Hampir saja mereka melakukan dosa yang sangat besar.


"Aku hanya seperti wanita murahan," gumamnya.


Ya, Jingga teringat ketika Aska mencium bibirnya. Padahal mereka berdua tidak memiliki status apapun. Namun, Jingga seakan menikmati bukan menolak. Logikanya ingin menolak, tetapi hatinya memang ingin menikmati. Apa itu yang dinamakan benar-benar mencintai?


Ketika bersama Fajar, Jingga selalu menolak jika Fajar mendaratkan ciuman di bibirnya. Tidak ada rasa nikmat sama sekali yang Jingga rasakan, hambar. Berbeda jika dia berciuman dengan Aska, dia seperti diajak tebang ke langit ketujuh oleh kecupan yang semakin mendesak. Helaan napas kasar pun keluar dari mulutnya.


"Apa aku harus menerimanya?"


****


"Apa? Setengah milyar." Ken dan Juno merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Bian.


Jam tujuh malam, Bian menghubungi kedua sahabatnya untuk bertemu. Menurut Upin Ipin versi Indonesia, Bian akan menanyakan perihal Aska dan Jingga. Namun, mereka salah. Tujuan Bian itu hendak meminjam uang lima ratus juta.

__ADS_1


"Eh, gila lu!" sungut Ken. "Duit Segede gitu dapat dari mana gua? Ngepet seminggu aja belum tentu dapat," balas Ken.


"Please ... bantuin gua," pinta Bian dengan memohon.


Ken dan Juno terus menatap ke arah Bian dengan tangan yang mereka lipat di depan dadanya. Mereka bingung kenapa Abang dari sahabatnya itu menuntut Bian mengembalikkan uang sebesar itu, dalam tempo waktu tiga hari. Pasti ada malah di antara mereka berdua.


"Si Sultan gak akan minta uang ganti ke lu kalau lu gak buat masalah sama dia," ujar Ken.


"Dia kejam tidak pada sembarang orang," tambah Juno.


Kini Bian menatap kesal ke arah dua sahabatnya itu. Bukannya membantu, malah menyudutjannya. "Lu berdua udah kecuci otaknya sama si Aska." Bian berucap dengan kata penuh kegeraman.


Brak!


Tangan Ken sudah menggebrak meja hingga semua benda yang berada di atas meja bergetar.


"Jaga ucapan lu!" Tangan Ken sudah menunjuk ke arah Bian.


Ucapan Bian sudah sangat keteelaluan. Dia yang memiliki masalah dengan Aksa, tapi malah Aska yang dibawa masuk ke dalam masalahnya. Juno mencoba untuk menenangkan Ken. Dia menyuruh Ken untuk duduk.


"Udah dikasih apa lu sama si Aska?" sentak Bian.


Gigi Ken sudah berbunyi karena menahan emosi. Sebenarnya Juno pun sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh Bian. Dia merasa ada yang berbeda dari diri Bian saat ini.


"Kenapa lu berubah? Gua seperti gak mengenal lu," ucap Juno.


"Sejak kapan dalam persahabatan kita malah saling menjatuhkan dan menyalahkan?" lanjutnya lagi.


"Mungkin dia udah amnesia, No," ejek Ken. "Biasanya orang yang baru megang uang banyak itu merasa dirinya paling hebat. Padahal, tanpa bantuan orang baik hati dia tidak akan memiliki uang banyak."


Jleb.


Sungguh menusuk sekali ucapan Ken. Bian hanya terdiam.


"Kadang, manusai yang sudah diangkat derajatnya malah semakin ngelunjak," tambah Ken lagi.


...****************...

__ADS_1


Lagi gak? Apa udah bosan?


__ADS_2