
Kedekatan Agha dan Ghea semakin hari semakin tak bisa dipisahkan. Kini, Agha akan selalu mengajak adiknya jikalau dia akan pergi bersama teman-temannya.
"Cupu!"
"Gak asyik!"
Seruan dari teman-teman Agha. Namun, Agha tetaplah Agha. Dia belajar dari sang paman. Dia ingin memiliki sahabat yang menerima dia apa adanya. Menerima adiknya juga ke dalam tongkrongan mereka.
Semenjak teman-teman Agha menjauhi Agha dia lebih memilih untuk fokus belajar karena sebentar lagi ujian. Begitu juga dengan Ghea yang semakin rajin belajar.
Kedua orang tua Agha dan Ghea merasa sangat bangga kepada kedua anak mereka.
"Mas, boleh Daddy tanya sesuatu?" Kini, hanya ada Aksa juga Agha. Ghea dan ibunya sudah masuk ke dalam kamar.
"Apa?" tanya Agha.
"Kok sekarang Mas gak pernah keluar sama teman-teman Mas?" tanya Aksa.
Agha hanya tersenyum dan menatap wajah ayahnya. "Teman-teman Mas gak tulus berteman dengan Mas."
Dahi Aksa mengkerut mendengar ucapan dari putranya. Matanya menatap tajam ke arah sang putra.
"Kemarin-kemarin Mas bawa Adek jalan bareng mereka. Eh, Mas yang dibully sama mereka." Aksa terkejut mendengarnya.
"Tapi, gak apa-apa, Dad." Agha tersenyum ke arah sang ayah yang tengah menahan emosi. "Dari situ Mas tahu mana yang tulus mana yang enggak."
Sungguh putra dari seorang Ghassan Aksara Wiguna sangat dewasa dan luar biasa.
"Apa Mas tidak sedih?" tanya Aksa.
"Lebih baik memiliki satu orang teman yang tulus dan selalu ada di saat suka dan duka, daripada punya banyak teman yang hanya ada di saat senangnya Mas saja."
Aksa tersenyum dan mengusap lembut rambut sang putra. Percis seperti Askara, adik dari Aksara.
__ADS_1
"Daddy bangga sama Mas." Agha tersenyum bahagia dan memeluk tubuh ayahnya.
"Daddy adalah panutan untuk Mas."
.
Waktu terus berputar, Agha dan Ghea tengah menghadapi ujian sekolah. Mereka sangat serius mengisi soal ujian.
Agha maupun Ghea akan sama-sama saling menunggu ketika di antara mereka ada yang belum keluar.
"Ah!"
Ghea mengerang kesal ketika masuk ke dalam mobil. Agha tersenyum dan mengusap lembut rambut sang adik.
"Susah?"
"Otak Adek keriting, Mas. Saking keritingnya Adek cuma bisa ngitung kancing sambil cap cip cup."
Tiba sudah acara kelulusan. Di mana akan disebutkan siswa yang mendapatkan nilai tertinggi. Aksa, Riana dan Ghea sudah duduk di kursi tamu.
"Adek yakin, Mas yang dapat nilai tertinggi."
Riana dan Aksa hanya bisa mengaminkan. Walaupun, nantinya Agha tidak mendapat juara umum mereka akan tetap bangga kepada Gavin Agha Wiguna.
"My, liat deh!" tunjuk Ghea ke arah Agha yang tengah diajak foto selfie oleh siswa perempuan.
Pesona Agha tidak terbantahkan. Apalagi ketika dia mengenakan jas hitam juga kemeja putih dengan dasi hitam. Sungguh aura ketampanannya tidak terelakan.
"Kenapa?" tanya sang ibu seraya mengusap lembut pipi sang putri bungsu. Ghea hanya menggedikkan bahu.
"Dad, ada yang marah," ucap Riana ke arah sang suami. Aksa hanya tertawa dan meraih tangan putrinya yang tengah berada di samping sang istri.
"Nanti Adek akan tahu bagaimana rasanya dicemburuin oleh saudara sendiri." Ucapan sang ayah membuat Ghea berpikir keras. Dia belum dapat mencerna ucapan dari ayahnya.
__ADS_1
Belum juga selesai berpikir, acara inti sudah tiba. "Yang mendapatkan nilai tertinggi di pelajaran tahun ini adalah ...."
Ghea yang berada di depan panggung terus merapalkan doa berharap nama sang kakak yang disebut. Matanya terus terpejam dengan mulut yang berkomat-kamit.
"Gavin Agha Wiguna."
"Yeay!"
Ghea berteriak dengan sangat keras. Dia pun berdiri dan berjingkrak-jingkrak kegirangan membuat semua orang menatapnya heran. Riana sudah berkaca-kaca ketika mendengar nama putranya disebut. Aksara terus melengkungkan senyum bangga kepada putranya itu.
Dengan gagah dan tampan Agha naik ke atas panggung. Sungguh seperti model. Kharismanya sudah terlihat walaupun usianya masih belia. Perwakilan pihak sekolah memberikan piala juga medali kepada siswa berprestasi, yaitu Agha. Pembawa acara memberikan microphone kepada Agha agar memberikan satu dua buah kata kepada tamu undangan atas pencapaian yang dia peroleh.
"... Intinya, nilai terbaik ini saya persembahkan untuk Daddy, Mommy dan juga adik saya. Tanpa mereka, saya tidak akan bisa berada di titik seperti ini. I love them."
Riana menitikan air Mata mendengar ucapan dari Agha. Ghea sudah mengacungkan dua jempolnya kepada sang kakak.
"Kepada keluarga Ananda Gavin Agha Wiguna kami persilahkan naik ke atas panggung."
Agha segera mencium tangan ibunya dan Riana memeluk erat tubuh sang putra. Dia sangat merasa bangga. Kemudian, dia mencium tangan ayahnya dengan sangat sopan dan memeluk tubuh ayahnya.
"Makasih atas didikan Daddy selama ini kepada Mas." Terenyuh sekali Aksa mendengar ucapan dari anak pertamanya yang sangat tulus.
Terakhir, dia memeluk tubuh adiknya. Hanya lengkungan senyum bahagia yang tak terkira yang Agha berikan kepada Ghea.
"Mas emang terhebat."
Potret bahagia keluarga Aksa dan Riana menjadi objek foto dari para tamu undangan. Mereka mendadak jadi model. Keluarga yang hangat, penuh kasih sayang mampu Aksa dan Riana ciptakan. Berawal dengan air mata dan berakhir dengan bahagia. Kini, mereka berdua menjadi panutan untuk anak-anak mereka.
...TAMAT...
...****************...
Sampai jumpa lagi di kisah yang berbeda. Terima kasih semuanya yang udah ngikutin cerita Riana dan Aksa yang penuh air mata dan konflik. Makasih banyak semua🙏🏻
__ADS_1