Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Ketakutan


__ADS_3

Riana sudah menangis dan diamankan oleh kedua orang berbaju hitam tak jauh di mana Arka sudah tak berdaya. Tubuhnya masih bergetar karena ketakutan.


"Bang."


Suara yang terdengar sangat bergetar dan berat. Aksa segera menghampiri Riana dan Riana pun berhambur memeluk tubuh Aksa. Tangisnya semakin menjadi di dalam pelukan hangat pria yang dia cintai.


"Kamu gak apa-apa 'kan?" Riana tidak menjawab, dia masih menangis sangat lirih.


"Ri ... takut," ucapnya.


Akas mengurai pelukannya dan melihat wajah Riana. Matanya menajam melihat rahang Riana memerah dan sedikit terluka. Tangan Aksa mulai menyentuh rahang itu dan terdengar ringisan kecil dari Riana.


"Sakit?" Tidak ada jawaban dari Riana. Hanya air mata yang masih menetes membasahi wajahnya.


Sekarang, Aksa menyentuh bibir mungil Riana. "Kalau ini?"


Seketika Riana mematung dengan air mata yang terus mengalir. Aksa menarik Riana ke dalam dekapannya.


"Ri berusaha menghindar karena Ri gak mau. Ri, hanya ingin Abang." Seketika hati Aksa menghangat.


"Nanti akan Abang hapus jejaknya dari bibir kamu," ucapnya sambil mencium puncak kepala Riana.


Tangan Riana semakin erat memeluk Aksa. Sedangkan Arka semakin sakit mendengar semua yang dikatakan oleh Riana. Penolakan yang sangat jelas terdengar dan menusuk hatinya.


Aksa membawa Riana pergi dari hotel tersebut. Sepanjang perjalanan Riana terus memeluk erat tubuh Aksa. Masih ada rasa takut di hati Riana. Mobil berhenti tepat di depan rumah sakit.


"Kita visum dulu. Abang ingin memastikan jika kamu baik-baik saja." Mata Riana seakan menolaknya. Namun, Aksa kukuh pada pendiriannya.


"Tidak ada penolakan ya, Sayang. Semua ini harus Abang pastikan karena Abang sudah janji kepada kakak untuk menjaga kamu tanpa ada luka sedikit pun, oke." Akhirnya Riana mengangguk setuju.


Rumah sakit yang Aksa pilih pun rumah sakit yang masih di bawah naungan Wiguna Grup. Bukan tanpa alasan, Aksa tidak ingin kedatangannya bersama Riana terekspose oleh media.


"Kenapa lewat belakang?" Riana heran karena Aksa membawanya melalui pintu belakang.


"Ikut aja ya," ucap lembut Aksa.


Ternyata di dalam rumah sakit sudah ada pihak kepolisian yang menunggu Aksa. Riana menatap Aksa dengan tatapan bingung, tetapi hanya seulas senyum yang dia berikan.


"Gak apa-apa, hanya diperiksa saja. Aku akan ada di samping kamu," ucapnya seraya menggenggam tangan Riana.


Setelah semua pemeriksaan selesai, dan surat hasil visum sudah di tangan. Aksa pamit kepada pihak kepolisian yang sudah membantunya. Riana tidak mau ambil pusing, dia juga tidak terlalu mengerti hal seperti itu. Sekarang, yang dia pikirkan adalah kembali ke Jogja malam ini. Sedangkan sekarang sudah jam sepuluh malam.


"Kenapa kamu gelisah seperti itu?" tanya Aksa. Riana hanya menggelengkan kepala. Aksa membuka jas yang dia kenakan dan memakaikan ke tubuh Riana. Riana menatap Aksa dengan bibir yang mengembang.


Tangan Aksa tidak pernah melepaskan Riana. Sedari tadi pun Riana menempel kepada Aksa. Hanya dengan berada di dekat Aksa dia merasa terlindungi.


Tibanya di kosan, Riana sudah terlelap. Aksa tersenyum melihat damainya wajah Riana ketika tidur.

__ADS_1


"Semakin ingin cepat menghalalkanmu," ucapnya pelan.


Aksa menggendong tubuh Riana pelan-pelan. Pintu gerbang pun sudah terbuka apalagi pintu kosan. Kedatangan Aksa bagai Baginda raja. Aksa meletakkan tubuh Riana dengan sangat hati-hati karena Aksa tidak mau Riana terbangun.


"Mimpi indah ya, Sayang." Aksa mengecup kening Riana sebelum pergi meninggalkannya.


"Bang, Ri takut ...."


Aksa yang hendak menutup pintu membalikkan tubuhnya. Riana masih dalam keadaan terlelap, tetapi keringat mengucur di keningnya.


"Jangan macam-macam!"


Aksa segera berlari menuju ke arah Riana. Tubuh Riana bergetar dan mulutnya terus merancau seperti orang yang sedang ketakutan.


"Sayang ... kamu kenapa?" Panik sedang melanda Aksa. Punggung tangan Aksa dia letakkan di kening Riana tenyata Riana demam.


Setengah jam kemudian, dokter datang bersama Ari dan juga Rani. Dia memeriksa Riana keseluruhan.


"Dia mengalami syok, makanya demam. Saya berikan obat penenang dan juga obat demam ya. Saya pastikan besok pagi dia sudah sembuh." Aksa mengangguk.


"Apa Anda mau tidur di sini?" Aksa menatap tubuh lemah Riana secara spontan kepalanya mengangguk pelan.


"Pintunya tidak usah ditutup. Saya tidak ingin kalian berburuk sangka," tukas Aksa.


Keesokan paginya, Riana tersentak karena sudah ada Aksa yang berada di samping tempat tidurnya. Dia sudah rapi dengan pakaiannya dan terlihat sangat tampan.


"Masih pusing?" Riana menggeleng.


Aksa tersenyum dan kemudian menarik tangan Riana ke dalam dekapannya.


"Jaga diri kamu baik-baik, ya." Ucapan Aksa membuat Riana mendongak.


Aksa membenarkan rambut Riana yang sudah acak-acakan. Matanya menatap penuh cinta ke arah Riana.


"Abang harus ke Ausi untuk beberapa bulan ke depan." Tangan yang melingkar di perut Aksa terlepas begitu saja. Riana pun menunduk dalam.


"Sayang ... tatap Abang." Aksa menangkup wajah Riana agar menatapnya.


"Abang sedang berjuang untuk menata kehidupan rumah tangga kita kelak. Abang ingin menjadikan kamu ratu dalam rumah tangga yang kita bina. Cukup mengurus Abang serta anak-anak dan menghabiskan uang yang Abang cari." Riana terkejut mendengar penuturan Aksa.


"Abang ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, dan kamu harus bersabar menunggu Abang karena proses perceraian akan terjadi ketika Ziva sudah melahirkan. Kamu sanggup 'kan?" Riana mengangguk.


"Tapi ... Ri takut jika Arka ...."


"Kamu gak perlu khawatir. Banyak orang yang akan menjaga kamu. Jika, tidak ada keperluan yang mendesak jangan pernah ke luar rumah. Mengerti?" Bukannya menjawab, Riana malah memeluk tubuh Aksa.


"Ri ingin ... ketika wisuda nanti ... Abang datang menghadiri," ucap pelan Riana.

__ADS_1


"Abang tidak bisa janji ya, Sayang. Jika, Abang tidak terlalu sibuk Abang usahakan untuk datang. Akan tetapi ... jika Abang sibuk, kamu jangan marah, ya." Tidak ada jawaban dari Riana. Tangannya semakin erat memeluk tubuh Aksa. Seakan Aksa tidak boleh pergi.


Setengah jam berpelukan membuta Aksa enggan untuk berangkat. Namun, dia tidak ingin mengecewakan sang kakek. Akhirnya dia mengurai pelukannya dan pamit pergi.


"Jangan nangis, Abang pasti kembali." Aksa mengecup manisnya bibirnya Riana dengan sangat lembut. Mengukirkan kenangan kepada sang pemilik bibir.


"Abang sudah menghapus jejak mengerikan si berengsek. Menggantinya dengan jejak penuh cinta dan sayang." Riana pun tersenyum mendengar ucapan Aksa.


"Cepat kembali." Tatapan sendu Rian membuat hati Aksa bimbang.


"Tentu, Sayang." Bibir Aksa pun mendarat di kening Riana dengan sangat dalam.


Keesokan paginya, kantor Gio didatangi oleh Rion dan juga Fikri yang sengaja terbang dari Jogja. Dua orang ini memaksa kepada Remon untuk bertemu dengan Gio. Padahal Remon sudah mengatakan bahwa Gio sedang rapat. Namun, mereka berdua tidak percaya.


Setelah satu jam menunggu, Gio ke luar dari ruang rapat disambut bisikan oleh Remon. Seperti biasanya Gio menanggapinya dengan santai.


"Ada tamu ternyata," sapa Gio dengan senyumnya.


"Gua ke sini gak mau basa-basi." Rion meletakkan beberapa foto di atas meja dengan membantingnya cukup keras.


"Bilang ke anak lu, jauhi Riana! Anak lu cuma ngehancurin masa depan anak gua!" seru Rion.


Gio mengambil salah satu foto yang Rion banting. Menatapnya tanpa ekspresi. Kemudian dia menatap Rion dengan tatapan tak terbaca.


"Kalau hidup anak lu gak mau hancur, kenapa gak dinikahkan aja anak lu sama anak gua? Pasti mereka bahagia."


Mata Fikri melebar mendengar ucapan santai Gio yang terdengar sangat serius.


"Lu ke sini dikomporin sama nih orang 'kan," tunjuk Gio pada Fikri.


"Gimana kalau lu liat ini?"


Remon yang sedari tadi berdiri tak jauh dari Gio mengambil iPad. Memperlihatkan rekaman cctv.


"Coba lu lihat tanggal dan tempatnya. Lu lihat siapa yang ada di sana." Gio masih santai tak sedikit pun tersulut emosi.


"Apa ini?" Rahang Rion mengeras dan menatap ke arah Fikri.


"Mon."


Hanya dengan satu kode Remon mengerti apa yang harus dia lakukan. Dia menyerahkan selembar surat kepada Rion. Amarah Rion semakin membuncah tatkala membaca hasil visum yang diserahkan oleh Remon.


"Berengsek!"


...****************...


Baca gratis jangan pelit komen ya ..😁

__ADS_1


__ADS_2