
Kepanikan terjadi pada lima pria yang beda generasi. Gio terus menghubungi anak buahnya begitu juga dengan Aksa. Namun, mereka dikejutkan dengan sebuah video yang baru saja Christian kirimkan.
"Wanita ini ingin bermain-main dengan nyawa. Pada akhirnya, ayahnyalah yang merrgang nyawa dan menjadi korbannya."
Mata Gio melebar dan Aksa pun terdiam. Dua pria ini saling tatap.
"Apa penculik itu orang suruhan Ziva?" Gio sudah bisa menebak maksud dari video yang dikirimkan Christian.
"Bisa jadi." Wajah Aksa sudah sangat datar dan menyimpan amarah yang sangat besar. "Takkan Abang biarkan dia hidup!" erangnya pelan.
Ketika mobil melaju dengan sangat cepat, sebuah pesan masuk dari orang kepercayaan Genta Wiguna.
"Kalian balik kanan. Sudahi pencariannya."
Dada Aksa bergemuruh kencang ketika membaca pesan tersebut. Hatinya benar-benar dilanda ketakutan yang luar biasa. Pikiran jelek sudah menari-nari di kepala. Gio yang melihat kekhawtiran juga kecemasan pada wajah sang putra memilih untuk menghubungi sang ayah. Namun, Genta sama sekali tidak menjawab panggilan dari Gio hingga Gio mengerang kesal.
"Dad."
Suara Aksa sudah bergetar. Dia benar-benar tidak bisa berpikir. Jika, sang kakek sudah bermain dengan nyawa berarti ada nyawa juga yang tengah dipermainkan oleh musuhnya.
"Kita ikuti saja perintah Kakek." Gio pun dilanda keraguan, tetapi jika dilanjutkan pun mereka sudah kehilangan jejak.
Di lain mobil, tiga pria sedang mengoceh tidak jelas. Apalagi Rion yang sudah mengumpat kesal kepada si penculik bayi yang belum diketahui identitasnya.
"Sampe cucu gua lecet, gua gorok tuh rudalnya." Aska dan Arya pun tertawa mendengar ucapan dari Rion.
"Di mana-mana leher yang digorok, bloon," ucap Arya seraya membenarkan ucapan sahabatnya itu.
"Otak lu cetek!" cibir Rion ke arah Arya. Sontak Arya juga Aska terdiam. "Gua mau nyiksa tuh penculik dulu. Enak amat langsung dibuat mati. Gak ada sakit-sakitnya Acan," omelnya.
Arya dan juga Aska hanya mengangguk. Apa yang dia bicarakan memang benar adanya. Lebih baik menyiksa penculik itu lebih dahulu daripada membiarkannya langsung mati tanpa karma. Kadang-kadang otak Rion bisa bekerja dengan baik juga.
Ponsel Aska berdering dan dahinya mengerut melihat nama sang pemanggil.
"Udah ketemu, Bang?" Rion dan Arya menoleh ke arah Aska yang tengah menjawab panggilan.
"Putar balik. Disuruh kembali ke rumah sakit sama Kakek." Suara Aksa sangat lemah membuat Aska berpikiran yang tidak-tidak.
"Bang, ada apa Bang?" Aska terus memaksa kakaknya untuk berbicara.
"Cepetan balik kanan, Dek."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska ketika mendengar perintah dari sang Abang yang semakin lemah. Ada kecemasan hatinya, takut sesuatu menimpa keponakannya.
"Ada apa, Dek?" Rion terus bertanya kepada adik ipar putrinya tersebut. Namun, Aska membungkam mulutnya.
"Dek," panggil Arya.
"Kita disuruh balik kanan, Om." Nada suara Aska sudah terdengar sangat lirih. Arya dan Rion saling tatap dengan dada yang berdegup kencang.
"Cucu Ayah ketemu?"
Aska menghela napas kasar dan berkata, "gak tahu, tapi kita disuruh balik."
Semua rasa berkecamuk di hati Rion. Dia takut terjadi apa-apa dengan cucunya. Dia mencoba menghubungi Echa pun tidak bisa.
"Ya Allah, ada apa ini?"
.
Ayanda, Echa dan Riana sudah berada di lantai bawah. Mereka menunggu kepastian sama halnya dengan orang tua yang lainnya. Air mata Riana tak henti menetes. Dia terus menggenggam tangan kakaknya dan terus merapalkan doa.
"Kakak yakin, itu bukan putra kamu." Echa terus menangkan Riana.
Sedari tadi Ayanda sudah bernegosiasi dengan pihak rumah sakit, tetapi rumah sakit seakan membungkam semuanya. Mereka belum mengeluarkan statement apapun sebelum pemeriksaan di ruangan khusus bayi selesai.
Echa mengusap lembut pundak sang adik. Dia tahu Riana sangat terpukul atas kejadian ini. Apalagi sedari tadi dia mendengar bahwa bayi tampan yang diculik. Bayi yang berbeda dengan bayi yang lain.
"Nak, kamu baik-baik saja 'kan. Mommy ingin peluk kamu, Nak."
Jeritan hati seorang ibu yang tengah menunggu kepastian. Bukan hanya Riana, ibu-ibu yang baru saja melahirkan lainnya pun merasakan hal yang sama. Mereka takut bayi merekalah yang dibawa. Namun, pihak rumah sakit menyuruh mereka semua untuk kali ke dalam kamar perawatan.
__ADS_1
"Saya jamin aman."
Walaupun pihak rumah sakit mengatakan hal seperti itu, tetapi ibu dari bayi-bayi yang ada di dalam ruangan itu tidak percaya begitu saja. Pada akhirnya, pihak keamanan turun tangan dan menyuruh pasien pasca persalinan harus kembali ke kamar perawatan mereka masing-masing.
Riana masih menangis di dalam dekapan sang kakak. "Ri, takut, Kak."
Aleesa yang melihat tantenya sedari tadi menangis hanya menggelengkan kepala. Dia menatap ke arah Iyan.
"Tunggu sampai lima belas menit."
Sebuah clue yang hanya dapat dimengerti oleh Aleesa. Anak kedua Echa pun mengangguk. Tidak sampai lima belas menit, pintu ruangan terbuka. Seorang perawat mendorong boks bayi dan membuat Riana mengurai pelukannya dark sang kakak. Dia segera turun dari ranjang dengan langkah panjang karena ingin segera memastikan.
"Dedek!" Air mata jatuh dengan derasnya ketika melihat putranya terlelap dalam balutan bedongan. Ayanda juga Echa bisa bernapas lega karena cucu dan keponakannya tidak kenapa-kenapa.
Rasa sakit di bagian bawah Riana tak dia hiraukan karena dia ingin segera menggendong putra tercintanya. "Nak, Mommy sangat khawatir sama kamu. Jangan pergi dari Mommy, Nak."
Aleesa dan Iyan hanya tersenyum dan menatap ke arah Aleena juga Aleeya yang sedari tadi mengatainya tidak peka.
"Kakak Sa bilang apa? Dedek tampan baik-baik aja 'kan."
Aleena dan Aleeya menatap sebal ke arah Aleesa. Mereka memilih untuk mendekat ke arah sang ibu, nenek juga sang Tante.
"Anak itu gak akan bisa diculik." Aleesa menoleh ke arah sang om kecil yang tengah fokus pada gadget-nya. "Penjaga dia itu banyak. Anak itu gak akan bisa disentuh oleh orang jahat," lanjutnya lagi.
Aleesa mengalihkan pandangannya kepada sang sepupu. Dia tersenyum karena apa yang dibilang Iyan itu sama dengan penglihatannya.
"Sakti, ya." Iyan hanya tersenyum.
.
Tiga pria yang baru saja turun dari mobil segera masuk ke rumah sakit. Lobi sudah nampak seperti sedia kala. Tidak ada keramaian sama sekali. Mereka berdua saling tatap dan segera naik ke lantai atas di mana Riana dirawat. Aksa terus mengumandangkan doa karena sesungguhnya dia merasa takut yang tak terkira.
Aksa membuka gagang pintu dengan kasar dan tubuhnya menegang seketika melihat istrinya yang tengah menyusui putra tercintanya. Rasa takut itu melebur begitu saja. Beban besar yang dia pikul seolah hilang dan kini hanya seulas senyum yang dia tunjukkan.
"Bukan anak kamu yang diculik," ujar sang ibu. Aksa segera menghampiri istri dan mengecup kening istrinya dengan sangat dalam. Mencium pipi sang putra yang tengah asyik mimi.
"Daddy sangat takut, Nak."
"Daddy akan gila kalau kamu hilang." Mendengar ucapan sang suami, Riana menatap dalam wajah suaminya. Matanya sudah berkaca-kaca dan Aksa mengecup kelopak mata Riana secara bergantian.
"Abang gak akan bisa kehilangan kamu dan anak kita."
Keharuan pun mencuat, Ayanda sudah memeluk pinggang sang suami. Sama halnya dengan Echa yang kini menatap ke arah Radit. Radit hanya tersenyum dan menarik tangan Echa ke dalam dekapannya.
"Love you so much and ... I'm sorry."
Ketiga anak Echa tersenyum bahagia melihat kedua orang tua mereka seperti itu. Mereka melihat kejujuran, bukan kebohongan yang selalu ibu mereka tunjukkan di hadapan mereka.
Tiga orang pria baru saja masuk ke dalam ruang perawatan. Mereka kompak menghentikan langkah mereka karena melihat tiga pasangan yang tengah berpelukan.
"Kita berada di situasi yang salah."
Arya dan Rion mengangguk, menyetujui ucapan dari Aska.
"Hargai jomblo kenapa sih!"
Arya dan Rion terkejut ketika Aska berseru dengan sangat lantang. Mereka yang tengah berpelukan pun dengan kompak mengurai pelukan merek pada pasangan masing-masing.
"Ada toleransi sedikit kenapa sih!" omel Aska lagi. Ketiga pasangan itu pun tertawa melihat Aska yang tengah merajuk. Mengehentakkan kaki menuju keponakannya yang tengah menyusu. Untung saja, Riana selalu memakai penutup dada ketika menyusui putranya.
"Lu ke mana? Masih kecil aja udah ngeribetin semua orang. Gimana kalau udah gede?" omel Aska ke arah sang keponakan. Aska mengganggu Aksa junior dengan menekan-nekan pipi merah itu. Bayi itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tidak mau disentuh oleh tangan Aska.
"Ngerti dia," ucap Gio seraya tertawa melihat cucunya.
.
Di Singapura tengah dilanda kebahagiaan dan di Jakarta seorang wanita gila tengah dilanda kemalangan. Dia sudah kehilangan ibundanya, kini dia kehilangan ayahnya. Orang yang selalu membelanya kini sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Papih ... jangan tinggalin Zi, Pih." Suara itu terdengar sangat lirih. Ziva terus menangis di samping jenazah sang ayah. Tangannya masih memeluk erat tubuh ayahnya yang sudah tak bernyawa.
"Kenapa Papih tinggalin Zi sendirian? Kenapa Pih?"
__ADS_1
Jenazah Mahendra segera dikebumikan. Ziva menolak dan terus berteriak histeris. Dia terus memanggil kedua orang tuanya yang kini dimakamkan secara berdampingan.
"Zi, ingin ikut Papih. Zi, ingin ikut Mamih!"
Pihak keluarga pun seolah acuh dengan keadaan Zivanna. Apalagi ketika mereka mengetahui bahwa dalang di balik penculikan cucu Genta Wiguna adalah Ziva, mereka seakan sudah menutup akses silaturahmi dengan anak dari Mahendra tersebut. Apa yang keluarga Mahendra lakukan kepada Ziva malah disalahgunakan dan pada akhirnya Mahendra yang harus menebus segala kesalahan Ziva.
"Om malu punya keponakan seperti kamu!" Di depan pusara sang ayah Ziva dibentak dan dimaki-maki. Ziva tidak bisa melawan, dia hanya bisa menangis.
"Laporan Tuan Genta Wiguna sudah masuk ke pihak kepolisian Indonesia. Semua pengacara yang Om tugaskan untuk membantu kamu, mulai detik ini juga akan Om tarik." Mata Ziva melebar mendengarnya. Dia menatap ke arah omnya yang berwajah serius.
"Om malu punya keponakan seperti kamu! Sudah dibantu, tetapi tak tahu diri. Malah mencoreng nama keluarga." Kalimat yang sangat menusuk sekali. "Om berharap Tuan Genta akan menuntut kamu dengan seberat-beratnya agar kamu jera."
Tidak ada tempat untuk pulang, tidak ada tempat untuk bersandar. Semua orang yang membantunya kini telah berbalik arah. Dia hanya sendirian dan tak memiliki siapa-siapa lagi. Ketika pihak kepolisian menarik tubuhnya, Ziva terus memberontak dan berteriak. Di lapas pun dia seperti itu. Tiba-tiba menangis, menjerit, tertawa bagai orang gila.
.
Tiga hari sudah Riana berada di rumah sakit, kondisinya sudah semakin membaik dan sudah diperbolehkan untuk pulang. Gio sudah menyiapkan rumah satu lantai yang minimalis, tetapi nyaman untuk ditempati daripada harus tinggal di apartment.
Mereka berada di ruang keluarga yang tak besar sambil menatap bayi mungil yang tengah terlelap di atas kasur bayi.
"Engkong akan merindukan kamu," lirih Rion. Besok dia harus kembali ke Jakarta karena banyak rapat penting. Sama halnya dengan Arya dan keluarga Echa.
"Dedek akan merindukan dedek tampan," keluh Aleeya yang selalu setia berada di dekat Aksa junior. Aleeya menginginkan seorang adik karena dia ingin merasakan bagaimana memiliki adik. Namun, kedua kakaknya menolak karena memiliki adik seperti Aleeya saja sudah merepotkan. Apalagi memiliki adik yang lainnya bisa-bisa mereka tambah pusing.
"Gak apa-apa 'kan cuma Mamah yang temani kamu," ujar Echa kepada Riana.
"Gak apa-apa, Kak," jawabnya. "Kalian 'kan harus kerja, sama halnya dengan Abang," lanjutnya lagi.
"Abang 'kan kerjanya di rumah, Yang." Riana pun tersenyum. "Gak mungkin Abang akan ninggalin kamu sama Aksa junior."
"Aksa junior, Aksa junior aja," sungut Aleesa. "Siapa sih nama dedek tampan itu?" tanya Aleesa dengan wajah lucunya jika tengah marah.
"Jangan-jangan lu belum nyiapin nama buat anak lu lagi," kata Aska.
"Sinilah Ayah aja yang ngasih nama," timpal Rion.
Decakan kesal keluar dari mulut Aksa. "Sabar kenapa sih?" Aksa pun sewot mendengar ucapan dari Aska juga mertuanya.
"Iya, siapa Bang? Biar enak gitu manggil cucu Mommy-nya," balas Ayanda.
"Berhubung Abang memiliki anak kembar, jadi namanya juga dua." Semua orang tercengang mendengar ucapan dari Aksara.
"Tapi 'kan yang satu gugur Bang." Aska mencoba mengingatkan.
"Gua tahu. Walaupun kakak dari Aksa junior telah gugur, dia tetap hidup dalam hati gua dan juga Riana."
Semua orang terenyuh mendengar ucapan dari Aksa. Mereka melihat ketulusan yang Aksa katakan. Sama halnya dengan senyuman yang Riana berikan. Senyum yang menyiratkan akan kesedihan.
"Nama kakak dari Aksa junior adalah Gavina Aishlaa Wiguna." Aksa menjeda ucapannya karena hatinya sedikit perih mengatakan itu.
Dia menghela napas kasar terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya lagi. Riana menggenggam erat tangan Aksa dengan senyuman yang mengembang.
"Aksa junior ... Gavin Agha Wiguna," ucapnya seraya tersenyum. Kini, dia menatap ke arah sang putra yang malah membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Artinya, pemimpin seperti elang yang memilik hati yang bersih, murni dan suci."
Sungguh indah sekali nama putra Aksara ini. Gio dan Ayanda melengkungkan senyum penuh kebahagiaan. Sama halnya dengan Rion dan juga Echa. Tidak disangka bayi yang masih merah itupun tersenyum.
"Dedeknya ketawa," kata Aleena yang melihat sepupunya tersenyum.
"Panggilannya siapa, Bang?" tanya Aska. "Si empin," lanjut Aska lagi. Mereka pun tertawa dan mengangguk setuju dengan ucapan Aska.
"Masih bayi sih dipanggilnya Gavin, entar kalo udah bisa ngomong kagak mau dipanggil empin," oceh sang engkong.
Semua orang mengerutkan dahi karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh duda tua itu.
"Kalian lupa?" sergah Rion. Orang dewasa itu pun terdiam. Kemudian, Rion melanjutkan ucapannya, "Si Abang dan si Adek pas kecil dipanggilnya Ghassan dan juga Ghattan. Pas sekolah paud malah gak mau dipanggil itu. Malah minta dipanggil pake nama tengah."
...****************...
Komen dong...
__ADS_1