
Setelah sarapan Riana kembali ke kamar, yang dia lakukan hanya memandangi wajah sang suami didalam ponselnya. Dia pun menunggu Aksa menghubunginya kembali. Sebelum turun untuk sarapan, Riana sudah berjanji kepada anak-anaknya untuk tidak marah lagi kepada Aksa.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Tidak ada panggilan dari Aksa ke ponselnya. Riana membuka aplikasi pesan, aplikasi itu pun dilihat terakhir kalinya ketika Riana merajuk. Ada kekhawatiran serta kegelisahan di hati Riana. Dia takut Aksa kenapa-kenapa.
Jam dua belas siang perut Riana semakin terasa kram. Namun, dia terus memperdengarkan suara ayah dari anak-anaknya itu ke perutnya. Berharap mereka akan tenang. Perlu waktu satu jam untuk perutnya pulih.
Di lantai bawah, Ayanda membawakan makan siang untuk sang menantu tercinta. Mereka biasa makan jam satu siang. Ketika pintu kamar Riana dibuka. Hati Ayanda sangat pedih ketika menantunya tidur terlentang dengan ponsel yang memperdengarkan suara Aksa di atas perutnya. Ayanda tahu maksudnya itu apa. Dia meletakkan nampan berisi makanan dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Di tidak ingin mengganggu tidur menantunya.
Setiap satu jam sekali, Ayanda melihat keadaan Riana. Menantunya itu masih terlelap. Ketika sarapan, memang terlihat jelas wajah Riana yang kurang tidur. Lingkaran hitam di matanya pun nampak sangat jelas.
"Sabar ya, Ri. Mommy yakin, sebentar lagi juga suamimu akan terus mendampingi kamu serta anak-anak kamu," gumamnya.
Jam empat sore, Riana terbangun dari tidurnya. Lengkungan senyum treukir di wajah cantiknya. Dia bermimpi bermain dengan anak perempuan kecil nan cantik. Anak itu sangat manja kepadanya. Selalu merangkul lengannya dan tertidur pun di pangkuannya.
__ADS_1
"Boleh aku meminta Mommy mengusap rambutku? Ini untuk terakhir kalinya karena aku yakin, kita tidak akan bisa bertemu lagi," tutur si anak perempuan yang cantik.
Hati Riana mencelos mendengarnya. Tangannya segera mengusap lembut rambut anak perempuan itu.
"Kenapa kamu panggil saya Mommy?" tanya Riana penasaran.
"Aku selalu memanggil setiap wanita dengan sebutan ibu," jawabnya.
Di dalam mimpi itu Riana sangat merasa dekat dengan anak itu. Seperti ada ikatan batin di antara keduanya. Tangan Riana terus membelai lembut rambut anak perempuan yang tidak memberitahukan namanya itu. Riana senang sekali memandangi wajah anak itu. Cantik sekali parasnya dan sangat menggemaskan.
Tak lama, ada seorang berbaju putih yang menjemputnya. Riana sedikit terkejut karena wajah orang itu berupa cahaya.
"Mommy, aku pergi dulu, ya. Semoga ini akan menjadi kenangan termanis untuk kita," ujarnya.
Terasa tercabik-cabik hati Riana mendengarnya. Dia segera merentangkan tangan dan tidak disangkanya anak perempuan. itu memeluknya dengan sangat erat.
"Sampaikan salamku untuk Daddy," bisknya dengan suara yang sangat pelan.
Hati Riana bertanya-tanya siapa anak itu? Ketika anak itu mengurai pelukannya, dia tersenyum ke arah Riana. Tangan mungilnya menangkup wajah Riana.
__ADS_1
"Aku sayang kalian." Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi kanan Riana. Anak itu kemudian tersenyum dan membalikkan tubuhnya menjauhi Riana.
Sebelum dia masuk ke sebuah pintu, anak itu melambaikan tangannya ke arah Riana dengan terus tersenyum.
"Bye! Jangan sedih Mommy!" teriak anak perempuan itu.
Ucapan itu membuat air matanya seketika menetes seperti perpisahan yang nyata.
Jam empat sore, Riana terbangun. Dia menghembuskan napasnya karena mimpi itu terasa nyata. Dia melihat ke arah perutnya. Ponselnya masih ada di atas perutnya. Suara sang suami pun masih terdengar. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika dia tidak merasakan apapun lagi di perutnya.
"Kalian anak baik," ucap Riana sambil mengusap lembut perutnya.
Dia hendak turun dari tempat tidur. Namun, ada yang basah di bawah sana. Matanya melebar ketika melihat bercak merah di atas tempat tidur dan juga baju yang dia gunakan.
"Mommy!" teriak Riana sekuat tenaga.
...****************...
Up lagi jangan?
__ADS_1