Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Racun Serangga


__ADS_3

"Mommy ... Abang ingin cepat kawin!"


Pukulan keras mendarat di punggung Aksa hingga dia mengaduh. Tarikan di telinga pun Aksa rasakan.


"Ampun ... Mom," ucapnya, sambil memegangi tangan sang ibu yang sedang menarik telinganya.


"Ribut kawin kawin aja, restu Ayah aja belum kamu dapat," omel Ayanda.


"Iya, Mom. Maaf," sesalnya.


"Berani *****-***** Riana, Mommy sunat burung kamu!"


Tangan Aksa segera menutupi ular kadut miliknya. Bergidik ngeri mendengar ucapan sang ibu yang terdengar sangat mengerikan.


"Jangan atuh, Mom. Nanti Abang gak bisa kawin."


Teriakan Riana membuat Aksa menepuk jidatnya. Kekasihnya meminta dibawakan baju.


"Mom, udah ya jewernya. Calon menantu Mommy kedinginan."


Mata Ayanda melebar, tarikan di telinga Aksa semakin menjadi hingga Aksa berteriak.


"Sakit, Mom!"


"Kamu apain calon menantu Mommy?"


"Astaghfirullah Mom, belum Abang apa-apain. Aw .... sakit Mom ...."


Ayanda semakin kejam mendengar ucapan putra pertamanya. Dia tidak habis pikir, kenapa putranya yang seperti kanebo kering bisa bersikap mesoem seperti ini.


"Mom ... telinga Abang entar lepas ini. Mommy tarik-tarik terus," keluh Aksa.


"Makanya jangan mesoem! Diajarin siapa kamu?"


"Daddy."


Mata Ayanda melebar mendengar penuturan dari Aksa. Memang sebelas dua belas anak dan bapak. Ayanda melepaskan jewerannya. Menatap Aksa dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Tolong cariin baju untuk Riana, Mom. Dia kedinginan di kamar." Wajah Aksa sudah memelas.


"Ngomong dari tadi!" sentak Ayanda. Kemudian melenggang begitu saja tanpa merasa berdosa.


"Ya Tuhan ... kenapa sekarang Mommy menjelma menjadi ibu tiri," gumamnya, sambil mengusap telinganya yang terasa panas.


Getaran terasa di saku celana yang Aksa gunakan. Matanya memicing ketika Christan lah yang menghubunginya.


"Saya jemput Bapak sekarang."


"Ada apa?"


Bukannya menjawab, Christian malah mematikan sambungan telepon. Kata-kata mutiara nan indah keluar dari mulut Aksa.


Aksa merasa ada yang tidak beres. Tidak biasanya Christian seperti ini. Baru saja dia memasukkan ponselnya, Christian sudah tiba di kediaman kedua orang tuanya.


"Apa ada yang genting?" tanya Aksa, ketika sudah masuk ke dalam mobil.


Christian masih terdiam. Mulutnya seolah terkunci rapat.


"Tian!" seru Aksa.


"Kita masuk, Pak."


Christan membawa Aksa menuju kamar yang tadi juga dia datangi.


"Jika, saya mengatakan hal ini kepada Bapak. Pasti Bapak tidak akan mau ke sini," ujarnya.


Sekarang, Aksa yang terdiam. Ketika Christian membukakan pintu untuk Aksa, mata Aksa melebar ketika melihat sang ayah dan Remon sudah ada di sana.


"Aksa ... tolong Tante," lirih Sarah.


Aksa mendekat dan melihat Ziva sudah menggenggam cairan pembasmi serangga.


"Kalian jahat sama aku, lebih baik aku mati!" teriak Ziva.


Sarah sudah berderai air mata. Dia tidak bisa mendekat, atau Ziva akan nekat.

__ADS_1


"Kalau mau mati ... ya mati aja. Ngapain bilang-bilang."


Remon dan Christian mengulum senyum mendengar ucapan Aksa. Sedangkan Gio terperangah mendengar ucapan putranya.


"Aksa ... tolong bujuk Ziva. Jangan sampai dia mencelakai dirinya sendiri," pinta Sarah.


"Apa untungnya buat aku?"


"Kamu jahat Aksa ... Aku sayang sama kamu," teriaknya


"Tapi, akunya gak sayang sama kamu. Gimana dong?"


Ingin rasanya Christian dan Remon tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Aksa. Seperti lawakan bagi mereka. Jarang-jarang manusia macam Aksa berkata seperti ini.


"Oke ... aku akan minum racun serangga ini sekarang juga."


Ziva sudah mengarahkan botol racun serangga yang berwarna hijau ke mulutnya.


"Silahkan. Apa perlu ditambah es batu biar lebih segar."


"Hahahaha ...."


Akhirnya tawa Remon dan juga Christian pecah mendengar guyonan Aksa.


"Sakit perut gua," ucap Remon, yang masih tertawa terbahak-bahak.


"Gak guna banget datang ke sini cuma buat liat Siarang langsung orang yang mau bunuh diri," sungutnya.


"Aksa!"


Panggilan Gio menghentikan langkah Aksa. Dia membalikkan tubuhnya. Menatap ke arah sang ayah yang tengah menatapnya tajam.


"Keren!"


Racun serangga yang dipegang Ziva tumpah seketika mendengar ucapan Gio. Padahal dia berharap, Gio akan menyuruh Aksa untuk membujuknya, tetapi ini malah sebaliknya.


...****************...

__ADS_1


Ketawa gak?


Komennya jangan lupa.


__ADS_2