
"Ikut abang dangdutan, yuk."
Wajah yang sama dengan pujaan hatinya, tetapi senyum dan cara bicaranya sangat berbeda sekali.
"Ngapain bengong? Cepat masuk, nanti telat loh." Riana melihat jam di tangannya. Tanpa banyak bicara dia masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh Aska.
"Kok Kakak bisa ke sini?" Mata Riana mencari tahu.
"Lagi ada kerjaan di dekat sini. Terus yang punya kosan ini juga 'kan teman Kakak," ujar Aska.
Padahal tidak seperti itu ceritanya. Aska berbohong kepada Riana agar dia tidak merasa dikekang oleh sang Abang yang kelewat bucin.
Pagi hari di mana Aska masih terlelap karena baru datang ke Jakarta jam empat pagi. Suara ponsel terus saja berdering. Namun, Aska tidak menghiraukannya. Memilih untuk mematikan ponsel miliknya. Apalagi yang telepon Abang kandungnya. Ketika Aksa menghubungi Aska, sudah dipastikan akan ada tugas untuknya.
Ponsel berhenti berdering, berganti dengan gedoran pintu seperti peringatan adanya gempa.
"Adek ngantuk, Mom!" teriak Aska.
"Om Aska ... bangun ..."
Ternyata bukan Ayanda melainkan si triplets, keponakan kesayangannya. Kelemahannya adalah anak-anak dari kakaknya yang sangat menyebalkan, tetapi menggemaskan.
Aska melangkah dengan gontai menghampiri ketiga keponakannya. Ketika pintu sudah dibuka, mereka bertiga sudah berkacak pinggang.
"Kata Mimo ... bangun siang itu akan sulit mendapat jodoh," omel Aleesa.
"Nanti rezeki Om dipatuk ayam," timpal Aleeya.
"Om ditunggu Bubu di bawah," ujar Aleena.
Aska mengusap wajahnya dengan kasar. Kakaknya adalah orang yang tidak bisa dia bantah berbeda dengan kedua orang tuanya, masih bisa sesekali dibantah.
"Si Alan nih si Abang," gerutunya.
"Gak boleh ngomong kasar!" hardik ketiga keponakannya.
Aska tersenyum kecut dan mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Tibanya di lantai bawah, gelengan kepala dari sang kakak menjadi sapaan yang mengerikan.
"Adek baru pulang, Kak. Masih ngantuk," terang Aska yang kini meletakkan kepalanya di atas meja makan.
"Kamu diminta ke Jogja." Gio kini membuka suara.
"Lah ... Adek masih capek, Dad," keluh Aska.
"Naik pesawat pribadi," balas Gio.
"No!" tolak Aska.
"Kenapa sih, Dek? Kamu itu senangnya nyusahin diri kamu sendiri." Ayanda mulai angkat bicara.
"Mommy sudah tahu jawabannya 'kan. Cukup Abang yang dikenal oleh orang banyak," jawabnya.
Beginilah sikap Aska, sedari kecil tidak mau diajak ke acara apapun yang berhubungan dengan pekerjaan sang Daddy, hingga para kolega Gio dan Ayanda hanya mengetahui Aksa sebagai anak mereka.
__ADS_1
"Bantu si Abang, Dek." Echa mulai berucap.
Baru satu kalimat yang Echa ucapkan sudah membuat Aska diam dan mengangguk pelan. Echa pun tersenyum ke arah Aska.
"Kadang Mommy tuh heran sama kamu, Dek. Sekalinya kakakmu nyuruh langsung manggut-manggut. Giliran Mommy yang nyuruh nanti-nanti aja," keluh Ayanda.
"Mommy nyuruhnya nikah. Tidak semudah itu Mommy, Sayang," ucap Aska sambil menggigit roti bakar Ovaltine kesukaan Aleeya.
"Om!" pekik Aleeya dengan wajah marahnya.
Aska tertawa dan meninggalkan meja makan dengan sedikit berlari.
"Cucu Mimo gak boleh cemberut dan marah begitu. Nanti kita buat roti panggang Ovaltine Lagi yang banyak."
"Benar?" Ayanda mengangguk.
Di kamarnya, Aska menghubungi Aksa.
"Gak ada akhlak!" Umpatan yang keluar dari mulut Aska ketika sambungan telepon itu dijawab oleh Aksa.
"Bantuin untuk kali ini. Riana harus ke kampusnya siang ini. Abang takut jika dia bertemu sama si berengsek itu."
"Adek capek, Bang. Baru balik jam empat pagi," balas Aska.
"Please ... Dek, bantuin Abang. Abang gak tenang di sini. Kalau kamu yang jaga Riana Abang merasa sedikit tenang."
Helaan napas berat terdengar, akhirnya Aska mau membantu sang Abang. Terkadang dia kasihan kepada Aksa, selalu banyak cobaan untuk bersatu dengan Riana.
Kembali ke Riana dan juga Aska yang sedang berada di mobil. Tidak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Aska yang fokus pada kemudi dan Riana yang masih diam seribu bahasa. Tak lama mobil pun terparkir di depan gerbang kampus.
"Tidak ada penolakan," tegasnya.
"Iya, Kak. Ri, turun dulu, ya."
Aska hanya menghela napas berat, bagaimana pun dia masih sangat mengantuk dan lelah. Namun, selama dia mengantar Riana ada sebuah motor yang terus mengikuti mobilnya. Namun, Aska tak mengucapkan apapun kepada Riana. Dia tidak ingin Riana khawatir.
Aska masih menerawang ke depan. Motor besar berwarna hitam yang mengikutinya pun berhenti di depan gerbang. Aska tidak bisa melihat siapa orangnya karena orang itu sengaja tidak mau membuka helm.
"Mencurigakan," gumamnya.
Aska segera menghubungi seseorang. Orang itu menjelaskan semuanya.
"Oke, gua mau ganti mobil. Ketemu di perempatan jalan. Gak pake lama." Sambungan telepon pun berakhir. Sedangkan di seberang panggilan telepon Fahri sudah mendengus kesal.
"Gak kakaknya gak adiknya. Nyusahin semuanya," gerutu Fahri.
Meski gerutuan terlontar dari mulut Fahri, dia tetap melakukan tugasnya. Berada di sisi kedua cucu Genta Wiguna sudah harga mati untuknya.
Tiba di perempatan jalan, Fahri terus saja mengomel. Apalagi wajah Aska terlihat sangat menyebalkan di matanya.
"Kagak usah begitu tampang lu. Gua laporin Abang loh," ancam Aska.
Fahri mencebikkan bibirnya dan Aska segera mengambil kunci mobil yang ada di tangan Fahri. Meninggalkan Fahri yang masih mengumpat kesal.
__ADS_1
Satu jam berselang, Riana keluar bersama Raisa. Mata Riana melebar ketika melihat Arka sudah ada di depannya.
"Oh, kamu ternyata dijemput sama Kak Arka. Bilang dong, Ri. Jadi, 'kan aku gak khawtir," ucap Raisa.
"Bukan dia, tapi ...."
"Iya aku yang jemput dia, Sa. Kamu jangan khawatir, ya." Raisa mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.
Kini, hanya tinggal Riana dan juga Arka di depan gerbang kampus. Arka hendak menarik tangan Riana pun Riana hempaskan.
"Maaf, aku sudah dijemput," kata Riana.
"Tidak ada yang menjemput kamu Riana," balas Aska.
Hawa takut kini mulai hadir ketika mobil yang dibawa Aska sudah tidak ada di depan kampus. Padahal Aska lah yang berjanji akan menunggunya.
"Aku ingin bicara sama kamu," pinta Arka.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," ketus Riana.
"Aku mencintai kamu, Riana. Kenapa kamu seolah tidak memberikanku kesempatan? Hanya dia ... dia dan dia yang selalu memiliki kesempatan untuk menikmati senyummu. Menikmati bibirmu."
"Apa jangan-jangan mahkota berhargamu juga sudah kamu serahkan pada pria itu?"
Plak!
Tamparan keras mendarat di wajah Arka. Riana sudah sangat murka sekarang.
"Aku tidak serendah itu!" bentaknya.
"Mencintainya bukan berarti aku menyerahkan semuanya. Aku tahu batasan." Suara Riana terdengar sangat marah. Wajahnya sudah merah padam.
"Batasan ... dengan berciuman di depan lift? Lalu, dibawa ke suite room. Kemudian kalian melakukan hal yang saling mendesah, begitu?" Arka sengaja berkata dengan suara lantang. Mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang pun menatap sinis ke arah Riana.
"Cukup Arka! Cukup!" Riana menatap Arka dengan air mata yang sudah terjatuh.
"Sudah cukup aku bersabar dan menuruti kemauan orang tua kamu. Sekarang, aku cukupkan juga pertemanan kita sampai di sini. Jangan pernah menampakkan wajah kamu di depan aku lagi," ucapnya sambil menahan rasa sesak di dada karena sudah dipermalukan di lingkungan kampus.
Riana melenggang pergi, tetapi Arka mencegahnya. "Maafkan aku," kata Arka.
Mobil putih mengkilap berhenti di depan gerbang kampus. Turun seorang pria yang memakai hoodie warna putih dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Kalau sudah kalah, menyerahlah!"
Suara yang Riana kenali, Arka menoleh ke asal suara dan ketika itu Riana berhasil melepaskan cekalan tangan Arka pada tangannya. Berlari menuju Aska dan melingkarkan tangannya di lengan Aska.
"Jangan terlihat seperti pria yang sangat menyedihkan seperti ini," ucapnya sambil melepaskan kacamata.
...****************...
Jangan timbun-timbun bab ya ...
Terbit langsung baca dan jangan pelit komen.
__ADS_1
Semangat aku nulis cuma itu. 🤧