Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Jaga Atau Pergi


__ADS_3

Keseriusan mereka harus terganggu dengan langkah kaki seseorang yang mendekat. Mereka berdua menoleh dan seorang dokter cantik menatap Aska dengan sorot mata yang sulit diartikan.


"Apa boleh aku berbicara sama kamu?" tanyanya kepada Aska.


Aska menatap ke arah Aksa. Tidak ada ekspresi yang Aksa perlihatkan.


"Hanya sebentar," ucapnya lagi karena tidak ada jawaban dari Aska.


Aska masih bergeming, lagi-lagi dia menatap ke arah kakaknya. Bukannya memberikan jawaban, Aksa malah pergi meninggalakan Aska.


"Bang," panggil Aska.


Aksa tidak menoleh sedikit pun. Dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar perawatan. Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska. Dia sangat tahu abangnya itu tidak suka.


Jingga dan Riana menoleh ke arah pintu yang terbuka. Riana tersenyum ke arah Aksa, sedangkan Jingga masih mencari satu sosok yang dia harap ada di belakang Aksa. Namun, tidak ada siapa-siapa di belakang Aksa.


"Kak Aska ke mana, Bang?" Riana bertanya ketika Aksa sudah merengkuh pinggangnya dan mengecup samping kepala Riana.


"Di luar." Terlalu singkat jawaban Aksa membuat Riana mengerang kesal.


"Sama siapa?" Riana seakan tengah mewakili keingin tahuan Jingga.

__ADS_1


"Dokter wanita."


Dada Jingga mendadak sesak ketika mendengar jawaban Aksa. Riana menginjak sepatu Aksa dengan sengaja dan penuh tenaga. Suaminya pun mengerang kesakitan.


"Kenapa sih, Yang?" ucapnya penuh penekanan.


"Kenapa gak bohong sedikit. Lihat wajah Jingga," bisik Riana dengan penuh kegeraman.


"Terus Abang harus bohong gitu perihal si Aska," balasnya bukan dengan bisikan. Malah dengan suara yang lantang. Riana menepuk dahinya kesal.


"Tidak perlu berbohong kok, Pak. Saya dan Bang As tidak ada hubungan apa-apa. Jadi, tidak masalah," sahut Jingga.


"Kamu dengar 'kan," ujar Aksa kepada Riana. "Lebih baik jujur di awali meskipun menyakitkan," tukasnya lagi.


Riana hanya menghela napas kasar mendengar ucapan sang suami. Mulut suaminya bagai emak-emak lambe murah. Tidak seperti iklan Lek mineral yang ada manis-manisnya.


Aksa melihat ke arah jam di tangannya. Sudah pukul setengah delapan.


"Sayang, aku harus ke kantor."


Di depan kamar oerawat, dokter Melati Sudan duduk di samping Aska Tidak ada reaksi apa-apa dari Aska. Membuka mulutnya pun tidak, hanya keheningan yang tercipta.

__ADS_1


"Aska ... boleh aku bertanya?" kata dokter Melati yang sudah melepas jas putih kebesarannya. Jas putih itu tengah dia sampirkan di lengannya. Sudah waktunya dia berganti sift dengan yang lain.


"Tanya saja." Jawaban Aska sangat datar dan dingin. Dia pun sama sekali tidak menatap ke arah dokter Melati.


"Apa pasien yang bernama Jingga itu hanya sahabat kamu?" Dahi Aska mengkerut mendengar ucapan dokter Melati. Apalagi dia sangat mendengar pebekantan pada kata 'hanya' yang dokter Melati ucapkan. Kini, Aska menatap dokter Melati tanpa ekspresi.


"Kenapa Anda mendadak kepo dengan kehidupan pribadi saya?" sergahnya. Dokter Melati cukup tersentak mendengar sergahan dari Aska. Dia kira Aska adalah pria yang manis dan lembut, ternyata tidak begitu.


"Mau dia sahabat saya atau lebih dari sahabat, itu bukan urusan Anda," papar Aska penuh penekanan.


Dokter Melati hanya terdiam, apa yang diucapkan oleh Aska memang benar. Tidak seharusnya dia menanyakan perihal kehidupan Aska. Memangnya dia siapa?


Klek!


Pintu ruang perawatan terbuka. Aska segera menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka.


"Gua sama istri gua mau ke kantor," ucap Aksa. "Jaga wanita yang ada di dalam, atau lu tinggalin dia sekarang juga supaya kesedihannya tidak terlalu dalam."


...****************...


Aku tunggu komennya.

__ADS_1


__ADS_2