
Kisah hidup itu seperti kisah Jingga. Akan tetapi, Aska menepis semuanya. Dia ingin melihat sang Abang bahagia terlebih dahulu dengan menjaga Riana. Dia tahu, banyak orang yang menjaga Riana. Mereka hanya bertugas di luar. Tugasnya adalah memastikan Riana baik-baik saja selama abangnya tugas di Melbourne.
Setelah dua sahabatnya pulang, Aska menuju ke kamarnya. Dia tidak sengaja melihat kamar Riana yang terbuka sedikit. Diintiplah oleh Aska, hatinya terenyuh melihat Riana yang tengah menatap foto USG anak-anaknya serta foto sang suami.
Aska tidak ingin mendekat. Dia sudah pasti akan teriris. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dengan sang kakak.
Rasa kram di perut Riana makin hari semakin bertambah. Itu terjadi ketika anak-anaknya rindu akan sang ayah. Seminggu sudah Aksa di Melbourne. Rasa rindu di antara keduanya sudah sangat menggebu. Tak ayal ketika mereka berdua berbincang via sambungan video Aksa maupun Riana menitikan air mata. Terasa sangat berat hari-hari mereka tanpa satu sama lain.
Malam ini, Riana ingin tidur di rumah sang ayah. Ayanda dan Gio mengijinkan, tetapi Aska harus ikut ke sana. Dia juga sudah ijin kepada Aksa. Sambutan hangat diberikan oleh Echa serta ayahnya. Begitu juga dengan si triplet yang sangat antusias.
Riana terus memeluk erat tubuh ayahnya. Dia membayangkan tengah memeluk tubuh sang suami.
"Jangan banyak pikiran, ya. Kasihan anak-anak kamu," ujar Rion.
Echa dan Radit sangat tahu keilmuan Riana. Meskipun mereka jarang bertemu, tetapi setiap hari mereka saling berkomunikasi.
Riana masuk ke dalam kamarnya yang masih seperti dulu. Tidak ada yang banyak berubah, hanya saja foto pernikahan serta wisuda dia yang terpajang di sana. Kamar yang bernuansa soft pink tidak membuat Aksa sakit mata jika tenaga menginap di sini. Tujuan hidup Aksa menikahi Riana karena ingin membahagiakannya.
"Ri, kangen Abang," lirihnya.
Aska masih berbincang dengan sang kakak juga sang kakak ipar. Ketiga anak Echa sudah tertidur begitu juga dengan Rion yang sudah tidak sanggup bergadang.
"Kak, biasnya Riana selalu ngerepotin aku di tengah malam. Sudah seminggu ini dia sama sekali gak pernah ngerepotin aku. Makannya pun sedikit seperti orang yang tak bernapsu," ucap Aska.
"Bawaan bayi itu. Kamu tidak usah khawatir," balas Echa.
"Mood orang hamil bisa berubah dalam sekejap. Makanya sebagai pria yang penuh pengertian kita harus bisa mengerti keadaan istri kita
Jangan gampang marah. Dalam keadaan hamil muda itu wanita akan berada di mode melow," papar Radit.
"Curhat Bang?" sergah Aska.
__ADS_1
"Hanya memberikan ilmu kepada lajang buluk. Biar ketika dapat jodoh udah punya banyak ilmu," ungkap Radit.
"Dengar tuh!" balas Echa.
Aska mendelikkan matanya kesal ke arah sang kakak. Jika, hal seperti ini kakaknya pasti akan semangat.
Hari terus berganti, komunikasi Riana dan Aksa pun semakin intens. Walaupun isi percakapan mereka hanya rindu, rindu dan rindu. Riana pun berpindah-pindah tempat untuk tinggal dan Aska akan selalu mendampingi Riana dengan setia.
"Ri, boleh kakak tanya sesuatu?" tanya Aska ketika Riana dipijat kakinya oleh Mbak Ina.
"Apa?" jawab Riana yang masih fokus pada layar televisi besar.
"Lu kenapa gak pernah ngerepotin gua lagi? Biasanya 'kan ingin ini itu selalu ngereptin gua," jelasnya.
Riana menolehkan kepalanya ke arah Aska yang juga sedang menatapnya.
"Kalau ada laki lu, wajar lu gak mau ngerepotin gua. Apa lu gak enak sama gua?" tanyanya lagi.
"Semenjak Abang pergi, hanya Abang yang Ri inginkan. Hanya Abang yang anak-anak butuhkan. Rasa ngidam ingin ini dan itu pun hilang begitu saja," jelas Riana dengan suara yang sangat lemah.
Aska tidak ingin membahas apapun lagi. Dia tidak ingin kakak iparnya bersedih lagi.
"Abang kalau mau ke kafe pergi aja." Riana memberikan ijin kepada Aska.
"Enggak, lu lebih penting selama Abang belum balik," jawabnya dengan cepat. Riana sedikit tersentak mendengar ucapan dari Aska. Namun, dia melihat tidak ada kebohongan di raut wajah Aska ketika mengatakan hal itu.
Hari ini sudah lima belas hari Aksa berada di Melbourne. Tepat di hari ini pula Riana benar-benar merajuk. Sudah lebih dari dua Minggu Aksa belum bisa pulang juga.
"Kemarin Abang bilang dua Minggu. Kenapa sekarang nambah lagi? Abang itu gak kasihan sama Ri dan juga anak-anak."
Ingin rasanya Aksa menjerit kencang ketika istrinya mengucapakan kalimat seperti ini. Ini juga bukan keinginannya. Akan tetapi, hari ini keputusan dari sukses atau gagalnya perusahaan yang tengah Aksa bangun. Jadi, dia harus mengundur kepulangannya.
__ADS_1
Sambungan telepon Riana putuskan secara sepihak. Wajar jika Riana sedikit kecewa. Biasanya Aksa hanya sembilan hari di sana, tetapi sekarang sudah lima belas hari tak kunjung pulang.
Seharian ini berkali-kali Aksa menghubungi Riana, tetapi tidak pernah dijawab oleh Riana. Dia ingin berdamai dengan rasa kecewa yang ternyata tidak mudah. Jika, dalam keadaan tidak hamil mungkin dia tidak akan seegois ini. Pada kenyataannya dia tengah mengandung dan anak yang ada di dalam kandungannya selalu menginginkan keberadaan ayahnya.
Rasa kram yang menjadi membuat Riana harus menahannya dengan sekuat tenaga. "Maafkan Mommy, Nak," lirih Riana.
Aska terus mengetuk pintu kamar Riana, dia takut terjadi apa-apa dengan kakak iparnya. Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Aska mengetuk pintu kamar sang ibu, wajah panik Aska membuat Ayanda juga Gio ikut panik. Mereka segera ke kamar Riana. Gio menekan gagang pintu ternyata tidak dikunci. Hati mereka sangat pedih ketika melihat Riana yang tengah meringkuk bagaikan anak bayi.
"Sampai kapan Abang ada di sana? Adek gak sanggup melihat Riana seperti itu, Mom," lirih Aska.
Kedua orang tua Aksa hanya terdiam. Dia tidak ingin memberikan angin segar kepada Aska maupun Riana. Keberhasilan dan kegagalan perusahaan Aksa masih lima puluh banding lima puluh. Sedikit saja melenceng, bisa gagal. Sedikit saja memiliki nilai plus pasti berhasil.
"Biarkan Riana istirahat," ujar Gio.
Pintu kamar pun ditutup. Setelah tidak mendengar suara lagi, Riana membuka matanya. Ujung matanya mengeluarkan bulir bening kembali sambil memegangi perutnya yang semakin kram.
"Ijinkan Mommy melepaskan rasa kecewa ini, Nak. Setelah ini Mommy tidak akan marah lagi sama Daddy kalian." Ucapan yang terdengar sangat pelan. Namun, sangat menyedihkan.
Dari semalam sampai pagi ini, Riana terus memandangi ponselnya. Namun, suaminya tak kunjung menghubunginya. Ada rasa bersalah di hati Riana.
"Maafkan Ri, Bang," lirihnya. "Ri, terlalu egois," lanjutnya lagi.
Rasa kram di perutnya belum menghilang juga. Namun, masih bisa Riana tahan. Riana beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan tubuhnya. Ketika dia membuka celana bagian dalamnya, dia sedikit terkejut karena ada flek yang menempel. Riana segera mandi dan dia ingin mencari tahu semuanya di mesin pencarian pintar.
Sambil mengeringkan rambut, Riana terus mencari artikel. Ternyata itu hal yang sering terjadi. Jika, sudah lebih dari tiga hari barulah konsultasi ke dokter kandungan. Riana bisa bernapas lega.
...****************...
Komen dong ...
Komen kalian adalah mood booster untuk aku.
__ADS_1