Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Usaha Baru


__ADS_3

Foto \= 100.000


Cubit Pipi \= 200.000


Gendong+Foto \= 500.000


Sebuah kertas putih yang sudah dilaminating dipasang di stroller Gavin Agha Wiguna. Kali ini, bayi tampan itu didandani seperti boneka gajah kecil, sangat menggemaskan. Ketiga anak Echa membawa Gavin keliling komplek untuk mencari sebongkah berlian. Gavin adalah ladang uang bagi mereka bertiga. Hanya menjual gambar Gavin saja, sudah menjadi uang lembaran merah. SUngguh sangat menguntungkan.


"Ya ampun, lucu banget." Seorang wanita muda menghentikan langkahnya ketika melihat bayi lucu tengah terjaga dan mengoceh tak jelas di dalam stroller.


Wanita itu terus mengajak bicara Gavin dan anak itu terus menimpali ucapan dari wanita tersebut, Sesekali dia tertawa membuat wanita itu semakin gemas kepada Gavin.


"Ini adik kalian?" tanya wanita itu. Balita tampan itu masih terus mengoceh.


Ketiga anak yang berusia enam tahun itu mengangguk kompak. Wanita itu tersenyum. Kemudian, mendekat dan mengajak bicara Gavin kembali. Tangannya menyentuh pipi gembul Gavin.


"Dua ratus ribu," ucap Aleeya.


Wanita itu tercengang mendengar ucapan Aleeya. Aleena sang kakak pertama menunjukkan kertas yang sudah dilaminating tersebut dan membuat wanita itu menggelengkan kepala tak percaya.


"Kecil-kecil udah bisnisin bayi," decaknya. Ketiga bocah itu hanya tersenyum. Lalu, tangan mereka menengadah ke arah wanita tersebut. Meminta uang sesuai yang ada di depan stroller depan.


Dua ratus ribu untuk menyentuh bayi tampan sangat mahal bagi mereka yang tinggal di pinggiran. Lain halnya di mana si triplets sekarang ini berada. Komplek perumahan mewah yang dihuni oleh para pengusaha ternama.


Nesha dan Echa hanya tertawa melihat tingkah di luar nalar si triplets. Setiap berkunjung ke rumah Nesha dan Rindra, mereka akan membawa Gavin berkeliling komplek. Kemudian, pulang dengan uang yang banyak.


"Jiwa pebisnis mereka sudah terlihat," ujar Nesha yang sudah tertawa.


Echa pun ikut tertawa, sedangkan dua bapak-bapak dan bocah berusia hampir sepuluh tahun tengah asyik bermain game. Mereka tengah bertarung.


"Uncle, jangan curang ih!" Rio tengah mengomeli sang paman. Radit pun acuh dan masih fokus pada layar ponselnya. Kelakuan tiga pria jika sudah berkumpul ya seperti ini.


Wajah ketiga anak Echa dan Radit berubah menjadi garang ketika mendengar tawaran dari seorang wanita seksi.


"Tante akan bayar satu juta, asalkan kalian mau memberikan nomor ponsel ayah kalian kepada Tante," usul wanita yang mengenakan pakaian tanpa lengan berwarna merah menyala. Dia juga sudah mengeluarkan uang sepuluh lembar untuk memancing tiga anak kembar itu.


Aleesa sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Maju satu langkah dan menatap tajam ke arah wanita penggoda itu.


"Tante punya nyawa berapa emang?" tantang Aleesa. "Berani sekali," decak anak kedua Echa dan Radit.


Wanita itu pun tercengang mendengar ucapan dari bocah enam tahun.


"Satu juta mah kami juga punya," sambung Aleeya. Dia pun mengeluarkan uang dari saku celananya. Memperlihatkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah.


"Satu juta mah dibawa ke midi-midi juga abis." Kini, Aleena membantu kedua adiknya melawan wanita tak tahu diri itu.


Nesha yang melihat dari kejauhan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi janda gatal di komplek ini. Echa menatap bingung ke arah Nesha yang tertawa puas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Echa. Nesha menunjuk ke arah tiga keponakannya yang tangan menatap tajam perempuan seksi berbaju merah.


"Dia janda gatal. Gak boleh lihat pria tampan dan tajir," terang Nesha. Echa mengangguk pelan.


"Sayang." Radit sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang membuat Echa sedikit terkejut.


"Kenapa sih, Ay?" Terkadang dia risih dengan sikap manja sang suami ini. Namun, ada segelumit kebahagiaan juga yang dia rasakan.


"Bawa cemilan aku gak?" tanya Radit yang kini malah meletakkan dagunya di bahu sang istri.


"Di tas aku, Ay," jawab Echa. "Mau aku ambilin?" tawarnya. Namun, Radit menggeleng dan mengambil cemilannya itu sendiri.


"Udah berubah, ya," tebak Nesha.


Echa hanya tersenyum dan masih memperhatikan ketiga putrinya. "Dia kembali kepada Radit yang dulu."


"Mbak salut sama kamu." Nesha memandang wajah Echa dengan penuh rasa kagum.


"Biarlah itu menjadi jalanan curam yang hampir membuat kami masuk ke dalam jurang."


Ketiga anak Echa pulang dengan membawa uang yang mereka taruh di dalam kantong keresek berwarna hitam.


"Kalau Om dan Tante kalian tahu ngebisinisin si Gavin pasti diceramahin," tegur Rindra kepada tiga keponakannya yang ajaib.


"Makanya Uncle Papih jangan bilang-bilang." Aleeya membalas ucapan dari Rindra. Orang dewasa itu pun tertawa mendengarnya.


"Kakak Sa sebal sama wanita yang ada di ujung jalan sana." Wajah Aleesa sangat masam membuat Radit tersenyum. Tangannya mengusap lembut kepala putrinya.


"Kenapa emang?"


"Palingan juga nanyain Uncle." Kedua alis Radit menukik dengan tajam mendengar jawaban dari Rio. Dia memandang wajah Rio meminta penjelasan lagi.


"Iyo sering disapa sama Tante bahenol itu, tapi nanyain nomor ponsel papi. Ya, Iyo tolak lah," terang keponakannya yang sudah mulai beranjak remaja. "Mana pakai bajunya kurang bahan terus." Rio mengomel.


"Sama, Kakak Sa juga tolak. Berani-beraninya nanyain nomor ponsel Baba. Belum pernah dicium genderuwo kali tuh orang." Aleesa bersungut-sungut dan berakhir membawa sahabat tak kasat matanya.


Radit pun tertawa dan mencium gemas pipi sang putri. Dia merasa ketiga anaknya ini sangat melindungi dirinya.


"Jangan jadi manusia bodoh lagi." Rindra memperingatkan adiknya itu.


"Iya, Bang."


.


Di sebuah mall, dua insan manusia yang diberi waktu berdua ini masih memutari mall untuk sekadar melepas rasa penat yang ada. Sudah beberapa jinjingan belanjaan di tangan mereka berdua.


"Aksara!"

__ADS_1


Panggilan seseorang membuat Riana juga Aksa menghentikan langkah. Mereka menoleh dan Riana menghela napas kasar.


"Ri, mau beli baju buat Empin." Riana tidak.akan pernah siap melihat Aksa kembali dekat dengan mantan pacarnya yang sudah menyakitinya.


Riana membalikkan tubuhnya lagi dan segera melangkah meninggalkan semuanya. Namun, cekalan tangan Aksa membuat langkah Riana terhenti.


"Udah lama ya gak ketemu," ujar perempuan yang masih sangat manis ketika tersenyum. Namun, Aksa sudah tidak tertarik lagi..


"Ada apa?" Datar dan dingin.


Mendengar suaminya membuka suara membuat Riana mengibaskan tangan Aksa dan pergi meninggalakan suaminya.


"Nih!" Devita menyerahkan kartu undangan. Aksa mengambilnya dan dia segera mengejar istrinya yang tengah merajuk.


"Dih! Masih aja dingin." Devita mencebikkan bibirnya karena Aksa tetaplah Aksa, dingin dan cuek.


"Sayang, tunggu." Aksa berhasil menghadang tubuh istrinya. Dia mengangkat kedua tangan di atas kepala seperti orang yang tengah menyerahkan diri.


"Dia cuma ngasih ini." Kartu undangan Aksa serahkan kepada Riana.


"Gak penting!" Riana pun hendak melanjutkan langkahnya. Namun, Aksa segera memeluk Riana dari arah belakang. Semua orang yang berlalu lalang menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.


"Jangan marah," pinta Aksa. Kelemahan Aksa adalan istrinya. Riana hanya terdiam, dia tidak menjawab ucapan suaminya itu.


Tidak ada respon dari sang istri membuat Aksa melepaskan pelukannya. Dia meraih tangan istrinya dan mengajaknya pergi dari sana. Aksa bukanlah orang yang akan menjadi api jika pasangannya tengah marah. Dia akan menjadi peredam agar semuanya kembali menghangat.


Baru beberapa langkah berjalan, teriakan histeris beberapa wanita terdengar. "Aksara!"


Mata Riana melebar, lalu melihat ke arah sang suami. Aksa menjawab dengan bahu yang terangkat. Apalagi melihat para wanita itu mendekat dan semakin mendekat.


"Ternyata aslinya tampan banget," puji salah seorang wanita. "Boleh minta foto?" tanyanya lagi.


Aksa meminta persetujuan dari istrinya. Namun, Riana memasang wajah super galak.


"Boleh, ya." Mereka terus mendesak Aksa dan semakin ingin menempel ke tubuh Aksara. Namun, Aksara terus menghindar hingga tangannya semakin merengkuh tubuh Riana.


Pemaksaan itu membuat Riana risih dan pada akhirnya Aksara menyetujuinya. Senyum mereka pun mengembang dan segera mengeluarkan ponsel mereka. Riana pun mengambil sesuatu dari tasnya dan memasangkan kepada suaminya.


"Loh kok pakai masker?"


Tangan Riana ketahui, Aksa adalah salah satu brand ambassador pakaian formal pria. Namun, semua uang yang dia terima dia berikan kepada Riana.


...****************...


Komen dong ...


Kalau gak suka yang manis-manis bisa di skip aja, ya.

__ADS_1


__ADS_2