Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Kemiripan


__ADS_3

"Ayah."


Suara sang putri memecah kesedihan. Eki yang tengah bergelut dengan rasa sedih harus menyudahinya. Dia pun tersenyum ke arah Melati yang baru selesai berbincang dengan sang teman.


"Sudah bicaranya?" Melati pun mengangguk.


"Ayah antar kamu ke rumah sakit lagi."


Perlakuan Eki terhadap Melati sangat berbeda. Dia akan selalu ada untuk Melati, sedangkan pada Jingga dia selalu abai. Malah, dia membiarkan anak pertamanya tumbuh tanpa kasih sayang darinya. Seharusnya dia memberikan kasih sayang yang sama seperti kepada Melati.


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Eki menyadari kesalahannya ketika Jingga lulus SMA. Ada salah seorang sahabat Jessi yang datang menemuinya. Tiba-tiba dia mendaratkan tamparan di pipi Eki dengan cukup keras.


"Ini anak lu 'kan?" Perempuan itu menunjukkan sebuah foto kepada Eki dengan wajahnya yang sudah memerah.


"Ayah macam apa lu? Membiarkan anak lu kerja kayak gini!"


Nada bicara yang sangat meninggi dengan emosi yang membuncah.


"Jessi udah meninggal dua tahun lalu ... apa lu gak tahu? Apa lu hanya pura-pura gak tahu?" terang sahabat Jessi dengan air mata yang sudah menetes.


Seketika Eki terdiam, dia pernah mendengar desas-desus seperti itu. Namun, dia tidak mempercayainya.


Sahabat Jessi pun sedikit geram melihat reaksi Eki. Dia mengeluarkan sebuah foto lagi dan memberikannya kepada Eki.


Mata Eki melebar, tubuhnya bergetar ketika dia melihat wajah tak bernyawa Jessi.


"I-ini--"


"Itu istri siri lu. Ibu dari anak yang sekarang jadi ART di rumah gua," tekannya.


Dari situlah Eki mulai mengetahui semuanya. Dia benar-benar menyesali perbuatannya terhadap putrinya. Anak yang lahir dari rahim Jessi.


"Lu sekolah tinggi, tapi akhlak lu gak kaya orang yang gak sekolah," cibir sahabat Jessi dengan amarah yang masih meletup.


"Anak ini sudah dua tahun hidup sendirian. Anak ini tidak mendapatkan kasih sayang dari siapapun. Masihkah lu tega membiarkan anak ini hidup sebatang kara? Padahal dia masih memiliki bapak," geram sahabat ibunya Jingga.


Pada saat itu, Jingga bekerja di sebuah rumah megah sebagai asisten rumah tangga. Ternyata, rumah itu adalah rumah dari sahabat almarhumah Jessi.


Sahabat Jessi ini adalah orang baik. Melihat Jingga seperti tak asing baginya. Perlahan, dia mendekati Jingga dan menanyakan perihal kehidupan Jingga. Awalnya Jingga enggan menceritakan siapa dirinya. Namun, perlahan-lahan Jingga menceritakan semuanya dan siapa ibunya. Majikan Jingga itupun sangat terkejut mendengar penuturan Jingga bahwa anak di hadapannya ini adalah anak sahabat baiknya.


Dia tidak percaya, dan akhirnya menunjukkan foto mendiang Jessi kepada Jingga. Dia mengangguk pelan dengan air mata yang sudah berjatuhan.

__ADS_1


"Iya, itu Bunda."


Sahabat ibunda dari Jessi sangat bersedih. Hatinya terasa sakit dan perih. Ketika ditanya perihal ayahnya, Jingga hanya tersenyum dengan mimik wajah sendu.


"Ayahku sudah hilang ditelan bumi."


Bagaimana tidak marah sahabat Jessi itu mendengar ucapan Jingga. Dia pun nekat menemui Eki dan tak segan bersikap kasar kepada pria pecundang.


***


Ketika senja datang, barulah jingga beranjak dari pusara sang ibu. Dia mencium nisan kayu tersebut dengan sangat dalam.


"Aku pulang dulu ya, Bun. Aku janji, bulan ini aku akan mengganti nisan Bunda."


Jingga tersenyum ke arah pusara sang ibu. Biarlah dia dikatakan gila. Dia hanya seorang anak sebatang kara yang tidak tahu mengadu kepada siapa.


Langkah kakinya membawanya menyusuri jalanan yang sudah mulai ramai dan macet. Jingga hanya berjalan pelan, seperti tengah merasakan setiap jengkal kesakitan yang pernah ayahnya torehkan. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya.


Dulu, dia sering merasa iri kepada teman-temannya yang selalu diantar sekolah oleh ayah mereka. Dia juga ingin merasakan bagaimana bahagianya diantar oleh ayahnya. Namun, sampai Jingga lulus sekolah pun keinginan itu tidak pernah terwujud.


Sebuah mobil tiba-tiba menepi tepat di samping Jingga yang tengah berjalan di bahu jalan.


"Nak."


"Senang sekali saya bisa bertemu dengan kamu," ucapnya dengan begitu tulus.


Sontak mata Jingga berkaca-kaca. Dia menatap nanar ke arah wanita tersebut.


"Nak, kamu kenapa?" tanya wanita tersebut.


Jingga menggelengkan kepala, lalu berkata dengan sangat pelan, "bolehkah aku memeluk tubuh ibu?"


Suaranya bergetar, air matanya sudah menganak. Tak menunggu lama, wanita itu segera memeluk tubuh Jingga dengan sangat erat. Jingga terisak dengan sangat lirih.


"Kamu kenapa, Nak?" Tangan halus wanita tersebut mengusap lembut punggung Jingga yang bergetar.


"Aku rindu bundaku," jawabnya.


Sungguh wanita itu tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar alasan Jingga menangis. Dia teringat akan menantunya yang juga sudah ditinggalkan sang bunda.


Wanita itu sangat sabar dan keibuan. Setelah tangis Jingga reda, dia mengajak Jingga ke suatu tempat, yaitu taman. Hari hampir malam, lampu taman pun sudah dihidupkan.

__ADS_1


"Kamu anak yang kuat."


Jingga yang tengah memandang lurus ke depan pun menoleh ke arah wanita tersebut. Ada kehangatan yang sorot mata wanita itu pancarkan.


"Kamu sama seperti menantu saya, mencoba pura-pura kuat padahal hatinya mengerang kesakitan," tuturnya.


Tangan wanita itu sudah menggenggam erat tangan Jingga. Menatapnya dengan sorot penuh cinta dan sayang.


"Nak, bahumu terlalu lemah untuk memikul ini sendirian. Berhentilah berpura-pura kuat, kamu juga boleh mengeluh. Kamu boleh menangis," ujar wanita itu.


"Saya tahu, hati kamu sedang tidak baik-baik saja."


Tak terasa bulir bening itupun menetes kembali di pelupuk matanya. Ucapan lembut dari wanita itu sangat tulus. Dia merasakan kehangatan apalagi tutur bahasanua sama seperti sang bunda. Dekapan hangat tubuhnya membuat Jingga sangat nyaman, seakan wanita itu tahu apa yang Jingga butuhkan.


"Makasih, Bu. Anda sudah sangat baik kepada saya," ucap Jingga dengan sangat tulus.


Wanita itu hanya tersenyum. Dia menghapus jejak air mata Jingga dengan tangan yang sangat halus.


"Sejak pertemuan kita pertama kali, hati saya seakan klik dengan kamu. Kamu adalah anak yang baik, anak yang kuat dan anak yang berbeda," paparnya.


"Saya merasa, kamu itu mirip dengan anak dan menantu saya," ungkapnya.


Senyum tulus wanita itu menular kepada Jingga. Wanita itu mampu mengisi kekosongan hatinya yang sudah hampir enam tahun.


"Kapan-kapan, saya akan mengenalkan kamu kepada anak-anak dan menantu saya," imbuhnya dengan senyum yang sangat indah.


Wajah Jingga terlihat berubah ketika mendengar apa yang diucapkan oleh wanita tersebut.


"Jangan minder, Nak. Mereka bukanlah orang yang sombong yang mempermasalahkan kasta. Mereka adalah anak-anak yang baik. Pasti mereka menyukai kamu," terangnya.


Rasa sedih Jingga sedikit terobati dengan hadirnya wanita yang berhati malaikat. Wanita yang memberikan kasih sayang bak seorang ibu kepada dirinya yang tengah dilanda kesedihan. Tanpa Jingga bercerita, seolah dia tahu kegundahan hati Jingga.


"Jangan merasa sendiri. Masih ada saya yang peduli."


Deg.


Kalimat itu adalah kalimat yang sering Aska katakan padanya. Jingga menatap wajah wanita tersebut dengan lamat-lamat. Ada sedikit kemiripan dengan Aska.


"Apa ibu ini ibunya Bang As?"


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2