Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Memaksa


__ADS_3

Raut sangat tidak suka serta tatapan tajam Aksa berikan kepada Fahri. Sungguh Aksa tidak ingin menemui orang ini. Cukup sebelum menikah dia bertemu dengan orang itu.


Wanita itu berdiri dan hendak mendekat, Aksa yang mengetahui istrinya tengah dilanda ketakutan segera merengkuh pinggang sang istri. Mendaratkan kecupan hangat di kening Riana menandakan semuanya akan baik-baik saja.


"Jangan mendekat!" cegah Aksa kepada orang itu.


"Duduk di tempat semula," tegasnya.


Fahri hanya menghela napas kasar. Dia tahu pasti direktur utama ini akan murka. Apalagi, dia tahu list nama manusia di dunia ini yang tidak ingin Aksa temui. Namun, permintaan orang itu yang secara tidak langsung menyebarkan gosip tidak-tidak tentang direktur utama dan juga istrinya membuat Fahri serba salah.


Setelah kepergian Aksa makan siang bersama istri dan ketiga keponakannya, seorang wanita datang dan keras kepala ingin menemui Aksa. Security yang menghadangnya pun bisa dia lawan.


"Saya mantan mertuanya Aksa." Itulah yang Sarah katakan.


Sontak semua karyawan yang hendak keluar makan siang terkejut. Status asli direktur utama WAG grup tidak pernah dipublikasikan. Mereka hanya mendengar bahwa direktur utama menikahi sekretarisnya. Di balik itu semua mereka tidak mengetahuinya.


Ada salah seorang karyawan yang bertanya dengan sengaja. "Apa perceraian Pak Aksa dengan putri Ibu karena orang ketiga?" Pertanyaan yang sangat memancing.


"Iya."


Sungguh kabar yang luar biasa dan mampu menggemparkan seisi kantor WAG grup. Tak terkecuali Randi yang juga ikut terkejut dengan berita tersebut.


Randi sangat tidak menyangka, di balik kepolosan Riana menyimpan aura hitam dan mampu menjadi perusak rumah tangga orang lain. Apa yang dikatakan oleh karyawan lain karena Riana matre benar adanya. Begitulah isi kepala Randi.


Fahri yang juga hendak makan siang memicingkan mata ketika melihat ibunda dari Ziva sedang bersama security dan beberapa karyawan.


"Ada apa ini?" Fahri segera merangsek masuk ke dalam kerumunan.


Sarah mengenali Fahri karena dia pernah melihat Fahri selalu bersama Aksa.


"Saya ingin bertemu Aksa," ucap Sarah.


"Pak direktur tidak ada," jawabnya.


"Kenapa dihalang-halangi sih Pak. Mantan mertuanya ingin bertemu mantan mantu itu," celetuk seorang karyawan wanita.


Mata Fahri melebar mendengar ucapan dah salah satu bawahannya. Tatapan tajam mampu membuat si karyawan tersebut menunduk dalam.


"Saya ingin berbicara langsung dengan Aksa, perihal mantan istrinya."


Air muka Fahri sudah berubah. Dia sudah menyangka ini akan terjadi.

__ADS_1


"Kenapa wanita ini tidak sekalian saja dimasukkan ke dalam penjara?" geramnya dalam hati.


Bisik-bisik di antara karyawan makin menjadi membuat Fahri segera membawa Sarah ke ruangan Aksa. Di sana dia bertemu dengan Fahrani.


"Urus para karyawan di bawah. Atau kemurkaan sang tuan muda akan terjadi," ujar Fahri.


Fahrani segera turun ke lantai bawah dan benar saja gunjingan perihal istri direktur utama terdengar.


"Apa yang kalian bicarakan?" sergah Fahrani dengan suara lantang.


Semua karyawan yang tengah bergosip pun seketika diam. Fahrani menatap tajam ke arah masing-masing karyawan yang ada di hadapannya.


"Jika, kalian tidak tahu kronologi sebenarnya jangan menjelma menjadi manusia sok maha tahu," tekan Fahrani.


"Kalian di sini untuk kerja bukan untuk mengghibah orang. Percuma perusahaan menggaji karyawan seperti kalian karena pekerjaan kalian hanya menggosipkan orang. Sebelum men-judge orang lain. Nilalah diri kalian sendiri. Apa sudah benar?" Semuanya terdiam mendengar ucapan Fahrani.


Fahrani bukanlah orang yang banyak bicara. Sekali tatapannya tajam mengarah pada seseorang menandakan orang itu yang bersalah.


Di dalam ruangan direktur utama, Fahri terus mengusir Sarah. Namun, Sarah tak pernah mau untuk pergi dari ruangan ini.


"Direktur utama kamu masih punya tanggung jawab atas mantan istrinya," ujarnya.


"Anda mau memeras bos saya? Saya pastikan sebentar lagi juga Anda akan menyusul anak Anda." Mendengar kalimat itu, Sarah melirik tajam ke arah Fahri. Namun, tak Fahri ladeni.


Padahal sudah dua jam menunggu, tetapi Sarah masih betah menunggu membuat Fahri akhirnya menyerah. Menghadapi Sarah yang keras kepala membuat kepalanya pusing. Akhirnya, dia memutuskan untuk menghubungi Aksa. Biarlah dia dimarahi Aksa yang terpenting kepalanya sembuh.


Setelah Aksa datang, Fahri melihat ketidak sukaan serta kemurkaan dari wajah direktur utama. Namun, dia mencoba untuk diam.


"Ada apa? Cepat katakan! Saya tidak punya banyak waktu," ujar Aksa yang sudah duduk di kursi ke kebesarannya sambil memangku sang istri.


Tangan Aksa memeluk tubuh Riana yang duduk menyamping di pangkuannya. Rengkuhan itu mengatakan 'It's oke.'


"Ini masalah Ziva," jawab Sarah.


Hati Riana sudah bergemuruh sangat cepat. Menyebut nama Ziva seakan membuka luka yang mencoba untuk pulih. Hanya decakan kesal yang keluar dari mulut Aksa.


"Tolong temui Ziva, Aksa," pinta Sarah.


"Kenapa dengan anak Anda? Ingin bunuh diri lagi? Atau mau saya bantu untuk lebih cepat menghadap sang ilahi?"


Sungguh ucapan yang menusuk ulu hati. Riana mendongak ke arah sang suami, dia sungguh tidak percaya mulut Aksa memiliki bisa mematikan seperti itu. Pria yang selalu manis di depannya, tetapi garang di hadapan para musuhnya.

__ADS_1


"Aksa, kenapa kamu seolah sangat membenci Ziva?" tanya Sarah dengan tatapan sendu.


"Tidak perlu memasang wajah melas di hadapan saya. Saya tidak akan pernah merasa iba sedikitpun," tukasnya. Sarah pun terdiam.


"Harus Anda ingat, seumur hidup saya ... saya tidak akan pernah melupakan hal itu. Di mana kalian telah jahat kepada keluarga saya begitu juga kepada saya. Jika, saya mengikuti naluri hati saya, sudah pasti saya akan membunuh kalian semua," ungkapnya dengan emosi yang membuncah.


Riana yang semula membenamkan wajahnya, kini dia memeluk tubuh suaminya dengan erat. Mulutnya memang tidak berbicara, tetapi tangannya seolah memberikan isyarat bahwa Aksa harus meredam emosinya.


"Maafkan Tante, Aksa. Tante menyesal," lirihnya.


"Percuma Anda berkata menyesal, tetapi Anda masih memaksa saya untuk bertemu dengan anak Anda yang kelakuannya melebihi kupu-kupu malam," sarkasnya. Sarah tidak dapat berkata mendengar ucapan Aksa.


"Secara tidak langsung, Anda sudah menyakiti hati istri saya dengan permintaan aneh Anda. Harusnya Anda berpikir menggunakan otak jernih, bukan dengan otak jahat terus menerus. Akta cerai sudah anak Anda terima. Begitu juga dengan saya. Saya sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan anak Anda. Saya juga sudah memiliki istri yang sangat saya cintai. Saya harap Anda mengerti," tegas Aksa.


"Aksa, dia hanya ingin berbicara dengan kamu." Sontak mata Riana melebar mendengar ucapan Sarah.


Dia yang semula diam kini menatap Sarah dengan tatapan tajam.


"Mau Tante apa sebenarnya?" tanya Riana dengan suara lantang.


"Apa masih kurang kalian menyakiti saya dan suami saya?" sergahnya.


Aksa memeluk tubuh Riana. Dia tahu istrinya akan merasa tersinggung jika membahas Ziva.


"Asal Anda tahu, untuk saat ini dan ke depannya saya tidak akan pernah mengalah lagi. Tidak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga saya," terang Riana.


Dia bangkit dari pangkuan suami dan memilih untuk keluar. Hatinya tengah dilanda emosi ketika masa lalu Aksa dibahas kembali. Apalagi Sarah terus memaksa suaminya. Baru Lima langkah menjauhi ruangan direktur utama, seruan seseorang membuat langkahnya terhenti.


"Aku gak nyangka kamu adalah orang ketiga dari hubungan direktur utama dengan istrinya," ujar Randi.


Perkataan Randi mampu membuat aliran darah Riana semakin mendidih.


"Kamu wanita, istri dari direktur utama itu pun wanita. Di mana hati kamu Riana? Aku kira kamu wanita polos, ternyata kamu hanya wanita yang bisanya mempoloskan diri dengan kaki yang terbuka lebar di depan suami orang."


Plak!


Tamparan keras pun mendarat di pipi Randi.


...****************...


Komennya atuh ....

__ADS_1


__ADS_2