
Pulang dari Jogja Aksa segera ditodong oleh sang putra. Gavin ingin segera disunat dan terus merengek.
"Biarkan Daddy istirahat dulu, Nak."
Riana menghampiri suaminya. Kemudian memeluk tubuh Aksa dengan erat. "Kangen." Manja, itulah Riana dikehamilan kedua.
"Abang lebih kangen." Aksa mengecup kening Riana sangat dalam.
"Daddy, tapan tunatna?" Gavin terus merengek tak karuhan.
"Boleh gak Daddy istirahat dulu. Nanti kita bicarakan lagi."
Alhasil, Gavin pun mengangguk. Aksa tersenyum dan memilih masuk ke dalam kamar bersama sang istri.
"Abang yakin?" Riana masih ragu dengan keputusan sang suami.
"Udah nanya-nanya ke dokter ahli juga. Katanya yang paling gak sakit pake metode smart klamp."
Mereka tengah membicarakan perihal sunatnya Gavin. Riana hanya mengangguk. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. Membenamkan wajahnya ke perut Aksa.
"Kamu jangan khawatir, ya. Nanti malam kita akan ke rumah sakit bertemu dengan dokter yang akan menangani Gavin."
.
"Bhas, tuh cucu gua minta hadiahnya mahal banget dah." Arya mengernyitkan dahi mendengar ucapan dari Rion.
"Lu sama cucu sendiri aja itu-itungan banget," omel Arya.
"Lah tuh bocah minta kuda poni dari Eropa. Kisaran harganya aja tujuh puluh jutaan," keluh Rion.
"Ya elah, transferan lu dari Echa aja lebih dari segitu per bulannya."
Rion mendengkus kesal. Dia ingin sekali mencubit gemas Arya dengan menggunakan tang.
"Lah entu kuda pan kudu dikasih makan, vitamin, biaya onoh itu kucrut. Per bulannya aja gede banget," terang Rion lagi.
"Kalau gak ikhlas mah gak usah beliin. Gitu aja kok repot," sungut Arya. "Biar semesta tahu kalo Rion Juanda adalah kakek yang pelit sekali."
"Bang sat!"
.
Setelah lepas rindu dengan sang suami. Kini, Riana mencari keberadaan putranya.
"Empin!"
"Den Empin lagi berenang, Nyonya." Riana mengangguk mengerti. Dia
menghampiri putranya yang sudah jago berenang.
"My, Daddy mana? Ayo belenang."
"Daddy lagi tidur, Nak." Wajah Gavin merengut kesal dan Riana pun tertawa. Pelayan yang tengah mengawasi Gavin kini beringsut mundur. Sudah ada ibunya di sana.
"My, belenang ayo!" Gavin terus memaksa sang ibu dan akhirnya Riana ikut turun juga ke dalam air. Dia bermain bersama sang putra hingga putranya tergelak.
"My, boleh pinjam hape?" Gavin melihat ponsel sang ibu ada di atas kursi di samping kolam renang.
"Buat apa?" tanyanya.
"Mu banunin Daddy." Riana pun tertawa dan dia memperbolehkannya.
Ponsel itu Gavin bawa ke dalam air dan melakukan sambungan video kepada ayahnya. Melambaikan tangan dan mengajak sang ayah untuk turun berenang.
"Daddy masih ngantuk. Main sama Mommy dulu, ya."
Kecewa sudah pasti. Namun, Gavin juga harus mengerti. Gavin melanjutkan acara mainnya dengan sang ibu. Dia tertawa keras dan terlihat bahagia.
Satu jam sudah, suara sang ayah mulai terdengar. "Mommy, kok Daddy telepon gak bisa." Aksa sudah masuk ke area kolam renang.
"Tadi ponselnya dipegang Empin."
Gavin teringat sesuatu. Kemudian dia mencoba menyelam dan ternyata ponselnya sudah berada di bawah kolam.
"My, pontelnya ... di bawah." Gavin terlihat ketakutan dan Aksa mencoba melihat ke bawah. Ternyata benar.
Riana sudah memasang wajah garang membuat Gavin menunduk takut. "Gak apa-apa, Sayang." Riana memeluk tubuh putranya yang sudah dingin. Dia mengecup pipi Gavin dengan lembut.
"Gak apa-apa. Nanti kita mall dan beli lagi." Sang ayah pun tidak marah, malah sebaliknya. Gavin merasa sangat lega.
Bukannya mereka tidak menghargai barang yang telah mereka beli, tetapi ketika barang sudah rusak, lalu anak dimarahi apa akan mengembalikkan barang itu lagi? Tidak seperti itu 'kan. Hal yang paling penting Gavin mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sudah cukup untuk Aksa dan Riana.
Sore hari mereka pergi ke sebuah mall terlebih dahulu sebelum mereka pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi. Aksa yang memilihkan ponsel untuk sang istri. Harganya sungguh fantastis. Ketika Riana hendak membayar pun Aksa melarangnya. "Hadiah untuk kamu."
Suami idaman, suami pujaan dan suami idola kaum ibu-ibu muda. Gavin pun merengek ingin iPad. Alhasil Aksa pun membelikannya sebagai hadiah sunatnya.
Selesai dari mall mereka bertolak ke salah satu rumah sakit. Aksa sudah membuat janji dengan dokter spesialis bedah. Mereka dipersilakan masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.
"Malam dokter," sapa Aksa.
"Malam Pak Aksa."
Dokter Surya tersenyum ke arah Gavin yang sedari tadi menggenggam tangan ayahnya.
__ADS_1
"Anaknya yang minta atau keinginan orang tua?" tanya sang dokter.
"Anak saya yang minta, dok." Dokter itu pun mengangguk. Dia menjelaskan tentang metode sunat yang dipilih oleh Aksa.
"Sunat klamp adalah metode sunat (sirkumsisi) yang menggunakan clamp alias klem, yakni tabung plastik khusus yang memiliki ukuran bervariasi sesuai dengan ukuran peniss. Prinsip sunat ini adalah dengan menjepit kulit di ujung peniss (kulup) menggunakan alat sekali pakai. Nantinya, kulup tersebut dipotong dengan pisau bedah tanpa dijahit." Dokter menjelaskan seraya memperlihatkan video tentang sunat menggunakan metode tersebut. Gavin pun ikut melihatnya.
"Ta-tit dak?" tanya Gavin.
"Tidak, Sayang." Mendengar jawaban dari dokter itu pun Gavin menyunggingkan senyum.
"Kelebihan smart klamp, proses sunat sangat cepat, yakni hanya sekitar 7-10 meni. Anak tidak merasakan sakit ketika disunat, bahkan bisa langsung memakai celana dan beraktivitas seperti biasa setelahnya. Tidak memerlukan jahitan maupun perban karena perdarahan minimal dan terakhir luka sunat boleh ken air."
Aksa dan Riana mengerti dan Gavin pun terlihat tidak ketakutan sama sekali.
"Takut gak?" Kepala Gavin menggeleng.
"Tapan ditunatna?" Anak ini sungguh tidak sabar.
"Lusa." Aksa menjawab dengan tegas dan dokter pun setuju akan ucapan Aksa.
"Yeay!"
.
Satu hari sebelum Gavin disunat dia bermimpi didatangi dua orang perempuan berbeda usia. Satu anak-anak dan satunya lagi dewasa.
"Hai, Agha!"
Dahi Empin mengkerut ketika mendengar nama Agha. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan memastikan apakah ada orang di sana selain dirinya.
"Kamu, kamu itu Agha," ucap anak perempuan yang sangat mirip dengan wajah ibunya.
"Atu Empin."
Anak perempuan itu tertawa mendengar ucapan dari Gavin. Kemudian, dia menggeleng. "Kamu Agha."
Gavin hanya terdiam. Dia tengah mencerna ucapan dari anak perempuan tersebut. Dia harus mencari tahu siapa Agha. Begitulah otaknya berputar.
Datanglah seorang perempuan senja menghampiri Gavin. Dia tersenyum sembari menangis. Dahi Gavin mengkerut lagi. Dia bingung, siapa mereka berdua ini.
"Cucu Nenek."
"Ne-ne."
Perempuan itu mengangguk. Dia mengusap lembut kepala Gavin dan memeluknya dengan sangat erat. Gavin merasa sekujur tubuhnya menghangat.
"Tugas Nenek sudah selesai ya, Nak. Jadi anak yang baik dan membanggakan untuk kedua orang tua kamu. Juga adik kamu." Sentuhan lembut itu membuat Gavin merasa nyaman.
Perempuan tua itu mulai menjauhi Gavin. Dia melambaikan tangan kepada Gavin dengan air mata yang masih menetes.
"Selamat tinggal cucuku."
Tak terasa bulir bening itupun menetes di wajah Gavin. Dia merasa sangat kehilangan sosok perempuan itu. Kini, anak perempuan yang mirip dengan sang ibu mendekat dan mengusap lembut pipi Gavin. Dia tersenyum dan berkata, "masih ada kakak yang akan jagain kamu."
Senyum itu pun mengembang di wajah Gavin. Anak perempuan itu mengusap lembut rambut Gavin yang sangat lebat. "Jangan cengeng, Mas Agha. Sebentar lagi kita akan punya adik."
Mimpi itu seperti nyata. Tidur Gavin sangat nyenyak. Dia bermain bersama Kak Aish, itulah nama anak perempuan yang ada di mimpi Gavin.
Pagi harinya, setelah mata Gavin terbuka dia segera berlari ke kamar ibunya. Dilihatnya sang ibu masih tertidur. Dia merangkak menaiki tempat tidur Riana juga Aksa.
"My," ucap pelan Gavin. Mata Riana segera terbuka ketika mendengar suara sang putra.
"Kok udah bangun? Masih gelap, Nak." Riana memeluk tubuh Gavin.
"My, atu mimpi."
Riana yang hendak memejamkan mata pun tidak jadi. Dia menatap lekat wajah Gavin yang amat serius. Mata putranya terlihat sangat sembab.
"Ada apa, Nak?"
Gavin menceritakan semuanya dengan ucapannya yang cadel. Riana mencoba menahan rasa sedih itu.
"Nenek bilang talam wat Mommy dan Daddy."
Air mata yang sedari tadi Riana tahan akhirnya tumpah jua. Gavin panik dan segera memeluk tubuh sang ibu tercinta.
"My, Mommy tenapa? Maapin atu."
Mendengar suara putranya yang sedikit berteriak Aksa mulai membuka mata. Dia melihat Riana sudah menangis dan Gavin sudah memeluk tubuh istrinya tersebut.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Aksa. "Ada yang sakit? Kita ke dokter." Riana menggeleng dan dia memeluk tubuh suaminya dengan Gavin yang berada di tengah-tengah mereka berdua.
"Maapin atu, Dad."
Ucapan Gavin membuat Aksa menukikkan kedua alisnya. Dia menatap Gavin dengan tajam agar melanjutkan ucapannya.
"Atu telita tentan mimpi atu temalam. Ada pelempuan tua yan bilan talo dia nene atu. Eh, Mommy lantun Nanis."
Aksa menghembuskan napas kasar. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Gavin.
"Nenek bilang apa?" tanya Aksa.
"Talam wat Daddy dan Mommy. Tama dia bye-bye te atu." Aska mengusap lembut punggung Riana. Di sinilah letak rapuh istrinya. Ketika dia merindukan sosok ibunya yang sudah lama pergi meninggalkannya dengan cara sangat tragis.
__ADS_1
"Ata ladi pelempuan yan bilan talo dia tata atu. Namana ta Aish."
(Ada lagi perempuan yang bilang kalo dia kakak aku. Namanya kak Aish)
Tubuh Riana dan Aksa menegang mendengarnya. Mereka berdua saling pandang.
"Ta Aish bilan talo atu dak boleh nanis, tapi ta Aish bilan namatu butan Empin." Aksa dan Riana semakin tak mengerti dengan ucapan sang putra.
"Lalu siapa?" tanya Aksa.
"Agha. Mash Agha."
Aksa tersenyum mendengar ucapan dari Gavin. Anak perempuan yang hadir ke dalam mimpinya Gavin adalah kembaran Gavin yang telah gugur. Namanya Gavina Aishlaa Wiguna, dan nama Agha adalah nama tengah dari Gavin.
"Tata tata, Danti nama pandilan atu, dadi Agha." Riana dan Aksa pun tertawa. Kisah nama Gavin dan ayahnya ternyata sama. Meminta nama panggilannya diubah ketika usia tiga tahun.
"Baiklah, Daddy akan manggil kamu Mas Agha." Senyum bahagia pun terlukis di wajah Gavin.
"Mommy juga."
Setelah kejadian itu, mereka memutuskan untuk ziarah ke makam sang bunda terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit. Gavin sudah memakai baju Koko berwarna hitam sama halnya dengan Riana juga Aksa yang memakai baju dengan warna yang sama. Gavin memeluk bunga lili putih.
"Assalamualaikum, Bun."
Riana mengusap lembut nisan sang ibu. Dia menyuruh Gavin untuk ikut berjongkok bersamanya juga ayahnya.
"Bun, maafin Ri dan Bang Aksa. Kami jarang nengokin Bunda." Mata Riana sudah berkaca-kaca.
Aksa mengusap lembut punggung istri tercinta dan kini dia yang melanjutkan bicara.
"Bun, doakan cucu Bunda ya agar acara khitanannya berjalan dengan lancar. Serta kandungan Riana sehat sampai HPL-nya." Aksa ikut mengusap lembut nisan ibu mertuanya.
"Doakan Ri ya, Bun. Supaya Ri bisa jadi ibu dan istri yang baik untuk anak dan suami Ri." Tubuh Riana sudah bergetar dan Aksa memeluk tubuh Riana dengan erat.
Rindu, itulah yang Riana rasakan. Rindu yang tak pernah terwujud adalah ketika kita merindukan seseorang yang sudah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Hanya air mata dan doa yang menjadi penawar rindu tanpa bertemu.
"Nene, atu tayan Nene."
Ucapan Gavin membuat Aksa dan Riana tercengang. Putranya ini seolah mengerti bahwa pusara yang ada di depannya adalah pusara sang nenek tercinta.
Gavin pun meletakkan bunga lili di atas pusara tersebut. "Matatih udah dadain atu."
Setelah nyekar ke pusara Amanda, mereka kembali ke rumah dan ternyata semua orang sudah berkumpul di kediaman Ayanda.
"Udah selesai ziarahnya?" tanya sang Mimo.
"Udah don. Atu duda udah minta idin Tama Nene." Senyum semua orang pun merekah mendengarnya. Gavin adalah balita yang luar biasa.
"Sakit tahu disunat," goda Aska.
"Endak."
Anak laki-laki itu sangat percaya diri sekali. Riana dan Aksa hanya tersenyum melihat putranya yang sangat berani.
"Sepuluh libu dolal singapul." Gavin meminta kepada Aska.
"Gak punya," jawab Aska.
"Pipo ... antel pelit nih. Petat dadi anat." (Pipo ... uncle pelit nih. Pecat jadi anak)
Semua orang tergelak mendengar ucapan dari Gavin. Kini, Gavin menodong Arya.
"Kagak usah nodong Wawa. Kucing Mamah Beby noh gantiin tujuh puluh juta," omel Arya sebelum Gavin meminta hadiah.
Aksa dan Riana tercengang mendengar ucapan dari Arya.
"Anak kalian, dan cucu lu Ndra, bocah tengil ini udah buat kucing pitbald gua ngambang di kolam ikan koi," terang Arya dengan penuh emosi.
"Kok bisa?" tanya Giondra santai.
"Bisa dong orang Ama ini bocah dikejar-kejar sampe nyemplung tuh kucingnya. Bukannya ditolongin malah diketawain," terang Arya seraya bersungut-sungut.
"Tutin tombon dipiala!" (Kucing sombong dipiara)
Lagi-lagi mereka pun tertawa dibuatnya.
"Ntu engkongnya bukannya ganti cuma ngucapin bela sungkawa. Asem 'kan." Gelak tawa pun riuh terdengar. Kelakuan Gavin selalu menimbulkan kelucuan.
"Eh iya, Ayah ke mana Kak?" tanya Riana kepada Echa.
"Katanya mau nyari hadiah buat Empin."
Baru saja Echa selesai berbicara, suara bising terdengar dari luar. Si triplets segera berlari ke teras dan berteriak, "Engkong!"
Semua orang yang berada di dalam pun keluar takut terjadi apa-apa dengan Rion.
"Empin, cucu Engkong!" panggilnya. "Engkong bawain kuda sama delman-delmannya nih buat Ngarak Empin. Ada juga ondel-ondel buat ngehibur Empin," teriaknya.
"Atu mau tuda poni. Butan tuda bedituan!" (Aku mau kuda poni. Bukan kuda begituan!)
...****************...
Jangan bosan ya ...
__ADS_1