Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Perjuangan


__ADS_3

"Abang juga siap menunggu Riana, Kak."


Suara lantang yang menggema di ruang perawatan. Mata semua orang tertuju ke arah suara tersebut.


Seorang pria dengan wajah lelah berdiri di hadapan mereka. Masih menggunakan baju yang sama ketika dia pergi siang tadi.


"Abang," lirih Riana.


"Jika, Kakak memberikan kesempatan kepada laki-laki itu," tunjuknya pada Arka. "Berarti, Kakak juga akan memberikan kesempatan kepada pria yang lain juga. Pria yang mau berjuang untuk mendapatkan hati seorang Riana Amara Juanda. Sebelum kata iya atau tidak keluar dari mulut Riana ... dan sebelum buku nikah di tangan bukankah masih ada kesempatan," lanjutnya lagi.


Echa mengukirkan senyum ke arah Aksa. Adiknya yang lemah kini sudah berubah. Hanya ada keseriusan di mata Aksa.


"Kesempatan terbuka lebar untuk siapapun. Syarat yang saya ajukan hanya satu. LAJANG. Mau itu perjaka atau duda yang penting statusnya sendiri," tegas Echa.


Echa memposisikan diri bukan sebagai kakak dari Aksa. Melainkan pihak dari kelurga Riana. Dia tidak ingin dianggap pilih kasih.


"Akan Abang ubah status Abang secepatnya."


Wajah tegang Riana kini memudar. Terlihat senyum tipis di bibirnya mendengar keseriusan Aksa. Senyum yang menyiratkan akan kelegaan hatinya. Sedangkan Rion masih menatap lamat-lamat wajah Aksa. Menimbang-nimbang semuanya. Apa bisa putrinya bahagia dengan pria yang sudah membuat Rion kecewa?


"Saingan kamu berat, Ka," ujar Fikri, sambil menepuk pundak Arka.


"Tak masalah, Pa. Ini membuktikan bahwa Riana memang wanita yang sangat berharga," sahutnya.


Riana menoleh sejenak ke arah Arka yang terlihat biasa. "Ketika aku yang menjadi pemenangnya, kamu tidak akan bisa menolakku lagi," seloroh Arka.


Aksa masih mematung di tempatnya melihat Riana dan Arka yang sedang saling tatap. Cemburu itu pasti ada. Ingin rasanya Aksa memutus tatapan mereka.


"Bukankah kamu putra dari Giondra Aresta Wiguna?" Fikri mulai membuka suara karena telah mengingat sosok yang masih berada di depan pintu.


Beruntung, suara Fikri dapat memutus tatapan antara dua anak manusia yang sedang diawasi oleh elang jantan. Aksa hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Fikri.


"Wah, sangat luar biasa. Bukankah kamu sudah menikah? Apa kamu mau menjadikan Riana istri kedua? Syarat yang diajukan sudah jelas 'kan. Lajang," cerca Fikri.


Aksa hanya tersenyum tipis mendengar pertanyaan bertubi-tubi yang dilayangkan oleh Fikri.


"Tidak ada yang namanya kedua. Hanya ada yang PERTAMA DAN TERAKHIR," tukas Aksa.


"Kenapa harus duda jika perjaka masih ada?" Fikri menatap ke arah Riana. Bibir Riana kelu dia hanya bisa memilin ujung bajunya.


"Kenapa bertanya seperti itu kepada Riana? Apa status duda sangatlah hina? Apa duda tidak diperbolehkan untuk menikahi seorang gadis? Apa ada aturan seperti itu?" Telak sekali Aksa membalas ucapan Fikri.

__ADS_1


Jika, Arya ada di sana mungkin dia sudah bertepuk tangan dengan kerasnya mendengar ucapan Aksa yang sangat mematikan lawan. Mulut pedas Aksa sama persis seperti Echa.


"Saya harap, saya dan anak Anda bisa bersaing secara sehat. Tidak ada saling menjatuhkan ataupun campur tangan dari pihak keluarga. Biarlah perjuangan saya dan anak Anda dinilai oleh keluarga Riana. Siapa yang pantas untuk menjadi pendamping Riana kelak? Siapa juga yang akan Riana terima? Saya atau anak Anda," tandas Aksa.


Riana menegakkan kepala menatap ke arah Aksa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aksa menggelengkan kepalanya pelan. Menandakan dia tidak apa-apa.


Arka beranjak dari duduknya, dia menghampiri Aksa membuat Riana takut. Tidak disangka, Arka menjabat tangan Aksa.


"Kita bersaing secara sehat," kata Arka. Sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Aksa.


Fikri dan keluarga meninggalkan rumah sakit tepat pukul sepuluh malam. Aksa pun memilih untuk pulang. Apalagi, wajah Rion terlihat sangat tidak bersahabat.


"Kak, ke depan rumah sakit, yuk. Iyan lapar," ajaknya pada Riana.


"Pesan lewat online aja, Yan," timpal sang ayah.


"Iyan ingin nasi goreng yang masih mengepul asapnya," tukas Iyan.


"Ya udah gak apa-apa, Yah. Ri, antar Iyan ke depan. Ri, juga lapar," jawab Riana.


Kakak beradik ini keluar dari area rumah sakit. Tak jauh dari sana ada tukang nasi goreng gerobakan. Namun, mata Riana memicing ketika melihat mobil yang dia kenali.


Sebuah tawa yang keluar dari mulut Iyan. "Disuruh sama Abang," jawabnya.


Riana menghela napas kasar ketika Aksa sudah keluar dari mobil dan tersenyum ke arahnya. Berjalan menghampirinya kemudian memeluknya.


"Maaf, pergi tanpa pamit," ucapnya.


Sebenarnya ingin sekali Aksa memeluk Riana sebelum dia meninggalkan ruang perawatan sang kakak. Namun, semua itu tidak bisa dia lakukan karena Rion. Rion masih menunjukkan wajah kecewanya terhadap Aksa.


"Makasih telah datang," Riana mendongak menatap manik mata Aksa.


"Semuanya akan Abang perjuangkan untuk kamu, Ri." Bibir Aksa sudah akan didaratkan di kening Riana.


"Bang, Iyan dua piring, ya." Teriakan Iyan membuat hal romantis itu batal dan gagal. Membuat Riana terkekeh melihat wajah Aksa yang terlihat kesal.


"Makan, yuk. Ri, juga lapar," ajak Riana.


Mereka berdua tertawa melihat Iyan yang dengan rakusnya memakan nasi goreng.


"Nih anak kayak kesurupan," kekeh Aksa.

__ADS_1


Aksa menatap lekat ke arah Riana yang sedang memakan nasi goreng. Ada kekhawatiran yang Aksa rasakan.


"Jika, Abang tidak datang. Apa kamu akan menerima lamaran pria itu?"


Riana menghentikan suapannya dan menatap ke arah Aksa.


"Sepertinya dia pria baik," ucap Aksa lagi.


"Apa Abang mulai ragu? Mau mundur?" sergah Riana dengan wajah datarnya.


"Abang yakin dengan keputusan yang Abang ambil. Namun, Abang ragu dengan perasaan yang kamu miliki. Bukankah perasaan itu bisa berubah-ubah? Apalagi, masih memerlukan waktu beberapa tahun lagi untuk kamu memilih antara Abang dan dia."


"Lalu, Abang menganggap apa perasaan yang masih Ri simpan selama enam tahun ini untuk Abang? Apa itu kurang membuktikan cinta yang Ri miliki untuk Abang?" Aksa menggeleng dengan cepat.


"Ayah."


Helaan napas berat keluar dari mulut Riana ketika mendengar nama itu. Riana pun tidak bisa menjawab. Dia melihat bahwa ayahnya masih memendam rasa kecewa terhadap Aksa.


Suasana beribah hening dan hanya suara sendok yang beradu dengan piring.


"Bang, nasi goreng tiga, ya."


Suara yang Riana kenali. Ketika menoleh ternyata Arka lah yang berbicara.


"Eh, ada kamu," ucap Arka ke arah Riana.


Arka bergabung dengan Riana, Aksa serta Iyan di meja panjang. Membuat Aksa berkali-kali menghembuskan napas kesal.


Sabar Aksa ... sabar. Perjuangan baru akan dimulai.


Terlihat Riana serba salah. Berada di antara dua pria yang menyayanginya. Namun, hatinya sudah terkunci pada satu pria yang berada di depannya, Aksara. Tatapan datarnya membuat Riana semakin merasa tidak enak hati. Apalagi, Arka yang terus mengajaknya bicara.


Bukan hanya Aksa yang menatap Riana dan Arka. Iyan fokus menatap Arka dengan tatapan pilu.


Kenapa begitu tragis? Iyan tidak mau melihat Kakak menangis. Kepergiannya akan membuat hati semua orang teriris.


...****************...


Ayo dong komen, Jangan selalu bersembunyi. Tunjukkan diri kalian ...


Kalo kalian suka sama cerita ini, bagikan cerita ini kepada teman-teman kalian, keluarga kalian, tetangga kalian agar banyak orang yang baca karya remahan peyek aku ini.

__ADS_1


__ADS_2