
Sebelumnya ....
Aksa dan Fahrani mendarat di Magelang pukul empat sore. Dia menyerahkan pakaian yang akan dikenakannya ke acara pesta kepada Fahrani. Aksa memilih menyewa kamar hotel di hotel yang sama dengan diadakannya resepsi. Tentu saja yang Fahrani pesankan suite room.
"Titipkan saja bajunya kepada petugas hotel." Fahrani mengangguk.
Jam tujuh malam, Aksa baru ke luar dari kamarnya dengan memakai setelan jas warna hitam. Ketampanan Aksa terlihat sangat sempurna. Di depan kamar yang Aksa tempat sudah ada Fahrani yang menunggunya.
"Lebih baik kamu kembali ke Jogja. Saya bisa di sini sendiri. Besok saya minta Fahri untuk jemput saya."
Ketegasan Aksa membuat Fahrani mengangguk setuju. Lagi pula dia sudah lelah. Dua hari di Jakarta kerja bagai kuda di bawah perintah Aksa. Mengeluh pun dia tidak bisa karena ini sudah menjadi tugasnya.
Kedatangan Aksa seorang diri di sebuah hall mewah membuat para wanita menatap kagum padanya. Apalagi berita yang kemarin beredar, membuat para wanita berlomba-lomba mendekati Aksa. Calon duda muda kaya raya.
Banyak para rekan bisnisnya yang menyapanya dengan hangat. Ada juga para penjilat yang sok akrab. Seperti biasa Aksa menimpali ala kadarnya. Banyak juga yang menawarkan putri-putri mereka bagai barang dagangan. Aksa hanya menggelengkan kepala.
"Selamat datang Pak Aksa." Faisal menyapa Aksa dengan sopan.
"Selamat malam Pak. Selamat atas pernikahan putri Anda," jawabnya.
Beberapa menit mereka mengobrol ringan hingga seorang wanita memanggil Faisal. Aksa menatap sekilas ke arah wanita seumuran ibunya tersebut.
"Seperti pernah lihat," gumamnya.
Ponsel Aksa berdering, ternyata panggilan dari sang Daddy. Aksa mencari tempat yang cukup sepi karena suara sang Daddynyang tak jelas di telinganya. Tangan Aksa masih memegang ponsel yang dia letakkan di telinga. Namun, telinganya yang lain menangkap suara yang dia kenali.
I wanna grow old with you ....
Mata Aksa berkeliling mencari asal suara. Seketika matanya terkunci ketika melihat wanita yang dia cintai bergenggaman tangan dengan rivalnya. Dia masih terpaku dengan tatapan yang sangat datar. Hingga semua orang berteriak karena sebuah kecupan manis yang Arka berikan di punggung tangan Riana.
Hati Aksa bergemuruh, dadanya menyimpan amarah yang luar biasa. Tanpa kata dia pergi dari tempat itu dengan langkah yang sangat lebar dengan rasa kecewa yang mendalam. Dia mendengar ada suara yang memanggilnya dari arah belakang. Namun, tidak dia hiraukan. Sesak di dadanya membuat dia merasa tuli dan buta.
"Abang!" Suara itu terdengar jelas.
__ADS_1
Ketika pintu lift hendak tertutup, dia melihat seorang wanita yang tengah menenteng high heels-nya dan berdiri sekitar seratus meter dari depan lift. Terlihat jelas matanya nanar dan napasnya tersengal.
Riana hanya mematung melihat lift itu tertutup. Matanya yang sudah berair kini menetes juga.
"Maafkan Ri, Abang," lirihnya.
Riana tak beranjak dari tempatnya. Dia memilih menyandarkan tubuhnya di dinding. Mengatur napasnya yang masih tersengal seraya tangannya menghapus air mata yang terjatuh.
"Ri, tidak mengkhianati Abang." Lagi-lagi Riana berbicara sendiri dengan sangat lirih.
Arka sebenarnya ingin menyusul Riana, tetapi dia masih harus membawakan dua buah lagi. Bagaimana pun Arka harus profesional. Walaupun banyak tamu yang menatap bingung dan bertanya kenapa penyanyi wanita pergi begitu saja. Apa wanita itu malu?
Pada nyatanya, Riana merasa marah dengan apa yang dilakukan oleh Arka. Riana seperti dijebak oleh Arka dan kedua orang tuanya. Kehadirannya seperti mengatakan kepada keluarga besar Arka bahwa dia yang akan menjadi pendamping Arka kelak. Sedangkan hatinya, hanya untuk Aksa bukan pria lain. Sebaik-baiknya Arka tidak akan mampu menggeser posisi Aksa di dalam hatinya.
Riana kini menunduk dalam. Memikirkan bagaimana membuat Aksa yakin padanya bahwa dia juga merasa tidak nyaman berada di samping Arka apalagi orang tuanya.
Ting!
Suara lift terbuka membuat Riana menoleh. Matanya kembali nanar ketika melihat seorang pria baru saja keluar dengan wajah yang masih sama.
Heels yang dipegang Riana jatuh begitu saja. Dia berhambur memeluk tubuh Aksa yang masih mematung di depan lift. Tidak ada balasan dari Aksa. Dia bagai patung bernapas. Merasa Aksa masih menunjukkan kemarahan dengan diamnya, Riana mengurai pelukannya. Menatap manik mata Aksa yang sulit dibaca.
"Itu tidak seperti yang Abang pikir. Ri ...."
"Sudah bicaranya," potong Aksa dengan suara dingin.
Hati Riana bagai ditusuk pisau yang tajam mendengar ucapan pria di hadapannya. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Aksa dia lepaskan.
"Ri, berbicara jujur Bang. Ri juga tidak nyaman," jelasnya dengan sorot mata penuh kesungguhan.
"Buktinya kamu diam saja." Jawaban Aksa menandakan dia benar-benar marah sekarang.
"Malah kamu juga menatap ke arahnya 'kan," lanjut Aksa. Riana terdiam mendengar lanjutan ucapan Aksa. Mulut Riana tercekat, tidak dapat menimpali ucapan Aksa. Padahal dia terkejut mendapat perlakuan Arka.
__ADS_1
"Kenapa diam? Apa sekarang kamu sudah luluh kepadanya?" Enggan Aksa menyebut nama Arka.
"Apa kehadiranku mengganggu kemesraan kalian?" Perkataan yang sangat menusuk. Riana menggelengkan kepalanya dengan mata yang nanar.
"Ri hanya mencintai Abang," ucapnya dengan suara berat.
"Dia memang baik, jika memang dia mampu masuk ke dalam hati Ri, sudah dipastikan posisi Abang bisa dia gantikan. Pada nyatanya tidak begitu 'kan. Hanya Abang ... hanya Abang yang ada di dalam hati Ri," ungkapnya.
Tidak ada jawaban dari Aksa, matanya tak sedikit pun menatap ke arah Riana. Sedari tadi pandangannya lurus ke depan. Lama mereka berdiam tanpa bicara. Akhirnya, Riana menghela napas kasar.
"Ri, mengerti jika Abang marah. Ri, tahu kalau Abang kecewa. Ri, juga tidak bisa memaksa Abang untuk percaya pada Ri. Ri, hanya ingin menjelaskan apa yang Ri rasakan. Jika, Abang tidak suka Ri dengan Arka. Malam ini juga Ri akan pulang ke Jogja." Riana menatap wajah Aksa sebelum dia pergi.
"Ri, pergi." Riana membalikkan tubuhnya dan menjauhi Aksa.
Namun, tangan Riana berhasil Aksa tarik hingga tubuh bagian depan Riana membentur dada bidang Aksa. Mata mereka berdua bertemu, dan bibir Aksa pun mendarat manis di bibir mungil Riana. Perlahan mata Riana terpejam menikmati pergerakan lembut bibir manis Aksa. Momen yang sangat romantis di depan lift.
Sedangkan dari jarak lima belas meter, seorang pria yang masih terengah-engah mematung melihat adegan romantis layaknya drama Korea. Perlahan tapi pasti, tangan Riana mulai melingkar di leher Aksa menandakan Riana menikmati kegiatan tersebut. Pria itu meratapi kemirisan nasibnya. Sudah tidak mampu mendapatkan, tetapi dipaksa menyaksikan.
Mungkin lagu ini yang pantas untuk pria itu sekarang.
🎶
Kau ...
Harusnya memilih aku
Yang lebih mampu menyayangimu
Berada di sampingmu ...
...****************...
Hayo .... !!
__ADS_1
Bahagia gak? Apa malah miris?