Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Terkejut


__ADS_3

"Aku ke sini mencari Askara." Mata Aska seketika melebar.


"Eh apaan lu? Gua gak merasa punya masalah sama lu, ya," sergah Aska.


Wanita itu malah mendekat, tetapi Aska malah bersembunyi di belakang tubuh Ayanda.


"Pait, pait, pait," ucap Aska.


"Emang gua tawon," sergah wanita itu.


Aksa dan Riana yang melihat Aska ketakutan malah terkekeh.


"Mom, usir wanita tak tahu malu itu," pinta Aska.


"Kamu mau apa, Devita?" tanya Giondra.


Wanita itu adalah mantan cinta monyet dari Aksara. Namun, sepertinya dia sudah berpaling hati. Berpindah kepada Askara.


"Aku cuma ingin berbicara dengan Askara, Om. Aku gak akan ganggu rumah tangga Aksa kok. Aku wanita berkelas," terangnya.


Aksa dan Aska menatap Devita dengan tatapan jengah. Ingin sekali mereka berdua menendang Devita ke samudera Antartika.


"Gua mah OGAH!"


Aska buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Begitu juga dengan Aksa yang sudah membawa istrinya ke samping mobil yang akan mengantarnya ke Bandara.


"Jangan kecapek-an ya, Sayang. Jangan banyak pikiran. Kalau mau pergi usahakan bersama keluarga. Kalau mau nongkrong, ajak Aska. Jangan pergi sendirian," papar Aksa.


"Iya." Aksa memeluk tubuh istrinya. Kemudian, mengecup kening Riana sangat dalam.


"Abang berangkat, ya. Kalau kekurangan uang segera bilang."


Riana terkadang bingung dengan sang suami. Uang belanja yang dia berikan pun belum dipakai sepeser pun. Ketika keluar untuk makan dan segala macam selalu Aksa yang membayarnya. Sekarang, Aksa sudah membahas uang lagi.


Selepas kepergian Aksa, Riana memilih untuk masuk ke dalam rumah. Namun, tangannya dicekal oleh Devita. Riana menatap ke arah tangan Devita yang tengah mencekalnya.


"Aku tidak memiliki niat yang buruk," ucapnya tulus.


Riana menatap wajah Devita dengan tatapan datar, sedangkan Devita sudah mengulurkan tangan.


"Bisa kita berteman?" Wajah penuh ketulusan Devita tunjukkan. Namun, Riana tersenyum tipis.


"Maaf, saya tidak bisa berteman dengan wanita yang sudah membuat suami saya hancur sehancurnya. Meskipun, kejadian itu sudah sangat lama. Bekasnya akan tetap ada sampai sekarang." Ucapan yang mematikan yang keluar dari mulut Riana. Riana yang dulu telah kembali lagi. Devita tercengang mendengar ucapan Riana.


Ketika Riana masuk ke dalam rumah, kedua mertuanya pun ikut masuk. Gio sudah menyiapkan pengawalan yang ekstra di rumahnya maupun di rumah Echa.

__ADS_1


"Mom, Daddy berangkat dulu, ya."


Melihat keromantisan kedua mertuanya membuat Riana merasa senang. Diusia senja mereka, mereka masih tampak seperti pengantin baru.


"Riana, Daddy berangkat, ya. Kalau mau apa-apa minta kepada pelayan. Kalau bosan dan mau pergi ke luar, minta temani Kak Echa atau Adek. Bisa juga pergi bareng Mommy."


Perlakuan kedua orang tua Aksara sangatlah luar biasa. Mampu menyayanginya dan menerimanya apa adanya, dengan segala kekurangan yang Riana miliki.


Ketika Ayanda hendak mengantar suaminya ke teras depan, Riana ijin untuk masuk ke dalam kamar. Tubuhnya masih lemas dan tulangnya seperti remuk. Lebih dari tiga ronde semalam. Belum yang di kamar mandi.


Riana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tak lama dia terlelap kembali. Sudah beberapa hari ini Riana memang kurang tidur karena banyak pikiran. Setelah berada di kamar Aksa barulah dia dapat tidur dengan nyenyak.


Malam ini adalah malam pertama bagi Riana tidur sendirian. Kesepian sudah pasti. Untuk mengobati rasa sepi itu, dia memakai kaos yang biasa suaminya gunakan malam hari. Seperti tengah memeluk tubuh suaminya jika seperti ini.


Riana turun dengan menggunakan baju Aksa. Aska hanya menatapnya bingung, sedangkan Ayanda sudah tersenyum simpul.


"Dulu, Mommy juga merasakan hal yang sama seperti kamu," tutur Ayanda.


"Mengikuti ke mana Daddy pergi, tetapi di sana pun Mommy ditinggal sendirian karena Daddy harus pergi ke Kota A lanjut lagi ke B Dan seterusnya. Kami bertemu hanya ketika akhir pekan. Itupun hanya satu hari," ungkapnya.


Askara dan Riana mendengarkan cerita sang mommy dengan seksama. Ternyata didikan kakek Genta masih sama seperti yang dulu.


"Padahal, pada waktu itu Daddy sudah mengambil alih perusahaan. Ketika Mommy tela'ah lebih dalam lagi, ternyata begitulah cara didikan kakek Genta. Apalagi, Aksa masih tahap awal mendirikan perusahaan sendiri." Riana mengangguk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh ibu mertuanya. Apa yang dilakukan oleh kakek Genta itu yang terbaik untuknya dan juga Aksa.


"Adek mah nyimak ajalah," ujar Aska yang sudah asyik makan.


Ketika ditanya tentang perusahaan, Aska akan menjawab tidak tertarik dan itu bukan passion dia. Aska adalah manusia yang terlalu santai. Dia tidak mau digembleng layaknya warga Korea yang diharuskan melakukan wajib militer. Meskipun satu kandung, Aska dan Aksa memiliki watak dan tujuan hidup yang berbeda.


Seminggu sudah Aksa dan Riana menjalani pernikahan jarak jauh. Setiap malam, Aksa selalu memeluk piyama yang digunakan Riana ketika malam terakhir mereka di Jakarta.


"Sayang, Abang kangen."


Kalimat itulah yang selalu dia ucapkan ketika melakukan panggilan video. Wajah kusut Aksa nampak terlihat jelas. Mata lelahnya sangat kentara.


"Abang, istirahat yang cukup, ya. Jangan dipaksa, Ri gak mau mendengar Abang sakit," lirihnya.


"Iya, Sayang. Abang juga gak mau kalau Abang sakit. Nanti pertemuan kita akan sia-sia," imbuhnya.


"Sia-sia?" ulang Riana. Aksa mengangguk.


"Jadinya 'kan Abang gak bisa buka puasa, Sayang. Bukan hanya Abang yang rindu berat sama kamu. Adik Abang pun sangat rindu dengan kegiatan menggarap ladang basah."


Riana menggelengkan kepalanya tak percaya. Masih saja hal itu yang menjadi poin utama di dalam kepala suaminya.


Setiap hari Aksa selalu menyempatkan telepon ataupun video call meskipun hanya sebentar. Setidaknya dia bisa mendengar atau melihat wajah istrinya yang pastinya akan menjadi mood booster untuknya.

__ADS_1


Apa yang dikatakan oleh Kakek Genta benar adanya. Jikapun, Riana ikut ke Melbourne, dia akan terabaikan. Dari pagi hingga tengah malam Aksa harus berada di kantor. Belum dengan pembelajaran yang Aksa ambil secara online karena dia tidak bisa datang ke kampus. Ketika dini hari Aksa baru akan terlelap. Waktu tidurnya pun hanya dua sampai tiga jam. Menurut orang lain menjadi pengusaha muda kaya raya itu sangat enak, tetapi ada cerita di belakang layar yang tidak orang lain ketahui.


Sembilan hari sudah Riana ditinggal oleh suaminya. Keberadaan si triplets mampu membuat hari-hari Riana tidak kesepian. Apalagi, jika mereka tengah meminta didandani dan akan berlenggak-lenggok di depan kamera. Berhubung hari ini si triplets jadwalnya di rumah opa Addhitama, Riana merasa bosan. Dia mencoba menghubungi suaminya karena ingin pergi ke sebuah kafe. Di panggilan kelima barulah tersambung.


"Iya, Sayang."


"Boleh gak Ri keluar? Hanya nongkrong di kafe untuk menghilangkan suntuk. Si triplets sedang ke rumah Opanya, Mommy sedang ke Depok dan Kak Aska lagi ke kampus. Ri, bosan Bang," bujuknya.


"Boleh, tapi dikawal ya, Sayang."


"Makasih, Abang."


Riana bersiap untuk pergi ke kafe yang letaknya memang tak jauh dari rumah ibu mertuanya. Tak apa dikawal oleh beberapa orang. Toh mereka berjaga di kejauhan.


Kafe yang nyaman membuat Riana betah berlama-lama. Sudah satu setengah jam Riana duduk di sana sambil menikmati secangkir cappuchino panas dan juga waffle. Apalagi dia mendengar alunan musik yang membuat Riana tersenyum tipis.


🎶


Tuhan kucinta dia


Ku ingin bersamanya


Ku ingin habiskan


Nafas ini berdua dengannya


Jangan rubah takdirku


Satukanlah hatiku dengan hatinya


Bersama sampai akhir


Lagi dari Andmesh adalah lagu favorit Riana ketika ditinggal Aksa menikah. Lagu itu seperti doa yang selalu dia panjatkan. Meminta dipersatukan bagaimana pun caranya. Tuhan pun akhirnya menjawab doanya.


Senyum Riana memudar ketika ada seorang pria yang menggunakan Hoodie berwarna gelap duduk di meja yang Rian tempati. Percis di hadapannya. Wajah takut Riana nampak sangat jelas.


Setangkai mawar merah pria itu keluarkan dari saku hoodie-nya. Namun, tak berani Riana ambil. Rasa takut masih memenuhi hatinya.


Melihat bunga yang dia berikan tak juga diterima, pria itu pun membuka kupluk yang menutupi kepala dan wajahnya.


Rasa takut di wajah Riana menguap begitu saja dan berubah menjadi raut terkejut tak terkira.


"Abang!"


...****************...

__ADS_1


Komen lagi atuh. Biar UP lagi.


__ADS_2