Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tak Bisa Membedakan


__ADS_3

"Jingga!"


"Bangun, Jingga. Bangun!" teriak Aska cukup keras.


Fahri yang sedang meminum kopi terdiam seketika mendengar teriakan yang samar. Begitu juga dengan Aksa yang sedang bermain dengan sang jabang bayi pun terdiam. Mereka saling tatap dan tanpa aba-aba mereka berdua berlari ke kamar yang ditiduri Aska. Meninggalkan Riana yang kebingungan sendirian.


"Kamu jangan ikut!" larang Aksa kepada sang istri, setelah menghentikan larinya. Riana mengangguk sangat pelan, tetapi hatinya bergemuruh kencang.


"Ada apa, ya?" gumamnya.


Fahri dan Aksa terkejut, benar dugaan mereka berdua. Jingga sudah berada di dalam pelukan Aska dengan wajah yang sudah pucat dan ada busa yang keluar dari mulutnya. Wajah Aska pun sudah tak karuhan.


"Bantuin gua!" teriak Aska bagai orang kesetanan. Mendadak tubuhnya ikut lemas melihat Jingga seperti ini tepat di hadapannya.


"Kenapa kamu harus melakukan ini? Biarlah kita tidak bisa bersatu, tetapi kamu harus tetap hidup. Jangan buat aku lebih menderita," lirihnya.


Fahri membantu Aska membawa tubuh Jingga, sedangkan Aksa keluar kamar dan segera menyiapkan mobil.


"Bangun Jingga! Bangun!" Aska terus berteriak.


Aksa dengan langkah tergopoh menuju halaman depan. Hampir melewati istrinya yang tengah dilanda rasa penasaran.


"Bang."


Panggilan sang istri membuat Aksa menoleh. Dia menghampiri istrinya yang sudah berdiri di ruang tamu. Aksa menyentuh punggung tangan Riana dan mengusapnya dengan lembut.


"Ikut Abang!" titahnya dengan sangat pelan.


Wajah Aksa sudah berbeda membuat perasaan Riana tak karuhan. Dia ingin membuka suaranya kembali, tetapi Aksa segera menarik tangannya dengan pelan.


"Genting." Jawaban yang membuat Riana semakin panik.

__ADS_1


Riana tidak bisa berpikir, dia hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh sang suami. Langkahnya mengikuti ke mana Aksa membawanya. Baru saja Aksa menutup pintu mobil untuknya, mata Riana melebar ketika Aska membopong tubuh Jingga dengan raut yang sangat khawatir. Wajah yang sudah basah karena deraian air mata.


Dia menatap ke arah sang suami yang sudah duduk di balik kursi kemudi. Riana menatap dalam ke arah Aksa. Gelengan kepala yang menjadi jawaban.


"Cepetan!"


Seruan Aska membuat Riana menoleh ke arah belakang. Matanya terbelalak ketika melihat kondisi Jingga. Aksa menarik tangan Riana dan menggelengkan kepala kembali.


"Jangan banyak bertanya."


Itulah kode dari gelengan kepala tersebut. Riana masih patuh pada suaminya, meskipun hatinya masih diselimuti rasa penasaran yang tak terkira. Hatinya sangat sakit ketika melihat Jingga lemah seperti itu. Wajahnya pucat pasi dengan mata yang terpejam dengan sangat rapat.


"Bertahan, Jingga. Bertahanlah," ucap lirih Aska.


Dia terus memegangi pergelangan tangan Jingga tepat di urat nadinya. Dia benar-bemar ketakutan sekarang ini. Fahri yang berada di samping Aska, hanya dapat megusap pundak Aska. Mereka bertiga sangat merasakan kesedihan yang Aska rasakan. Emosi Aska yang tidak bisa terkendali dan air mata yang tak bisa tertahan karena takut kehilangan.


"Jangan pergi, Jingga. Biarkan aku saja yang pergi."


Mendengar ucapan Aska membuat Aksa sedikit tersentak. Dia menatap Aska dari spion depan dan melihat wajah Aska yang terlihat sangat serius. Aksa sudah berfirasat buruk tentang adiknya itu. Ada makna yang terkandung dalam ucapan seorang Askara. Ada apa gerangan? Begitulah batin Aksara berkata.


Terkadang Fahri juga bingung dengan sikapnya. Dia lebih membela Aksa juga Aska dibandingkan dengan Fahrani, adiknya. Dia juga yang menentang Fahrani untuk menjalin hubungan dengan Aska. Dia cukup tahu diri siapa dia sebelum menjadi orang yang dihormati oleh semua orang. Dia dan adiknya hanya seonggok sampah di pinggir jalan yang diambil oleh orang yang berhati malaikat, dan mengaggap seperti anaknya. Mau membimbing, mendidik juga merangkulnya juga adiknya hingga mereka sukses seperti ini. Dia sudah berjanji akan mengabdi kepada keluarga Genta Wiguna sampai akhir hayatnya. Apalagi, dua orang ini yang sangat menerimanya dengan tangan terbuka. Tidak membedakan dari mana asalnya. Mereka berdua sangat tulus berteman dengan Fahri.


"Bapak, tunggu di luar, ya."


Perawat melarang Aska untuk masuk ke ruang IGD. Aska mengerang kesal dan membentur-benturkan kepala belakanganya ke dinding. Aksa menyuruh Riana untuk duduk, sedangkan dia menghampiri adiknya yang terlihat sangat kacau. Tepukan di pundak sang Abang membuat Aska menoleh.


"Dia minum karbol, Bang."


Aksa mengangguk kecil dan memeluk tubuh adiknya yang terlihat sangat rapuh. Dia bisa merasakan kesakitan juga kesedihan Askara.


"Sabar dan tenang, ya. Gua akan mendatangkan dokter terbaik untuk keselamstan Jingga."

__ADS_1


Ucapan Aksa bukanlah untuk sekadar menenangkan adiknya. Dia sungguh serius dengan ucapannya. Dia bukan manusia yang tidak memiliki hati. Jiwa kemanusiaannya sangat besar.


Riana yang melihat suaminya berkata dengan tulus ikut terharu. Dia sangat bangga karena memiliki suami yang berhati sangat baik. Walaupun wajahnya terkadang menyeramkan.


"Nak, lihatlah bagaimana Daddy kamu menyayangi Uncle. Bagaimana pengorbanannya untuk kebahagiaan Uncle? Daddy kamu adalah penyayang keluarga," gumamnya seraya mengusap lembut perutnya.


Setelah selesai mengurus adminitrasi. Fahri menghampiri Aksa, Aska juga Riana di depan ruang IGD. Melihat kedatangan Fahri, Aksa pun mengurai pelukannya terhadap sang adik tercinta. Baru saja Fahri mendekat, mata Aska sudah memerah dan dia segera menarik kerah kemeja Fahri hingga Fahri terkejut. Bukan Fahri saja, tetapi Aksa juga terkejut. Aksa hendak memisahkan, tetapi alasan kemarahan Aska membuatnya mengurungkan niat.


"Kenapa lu naruh karbol di dalam kamar?" geram Aska dengan wajah yang sangat murka.


Aksa mengulum senyum mendengar kemarahan Aska, begitu juga Riana yang kini malah menjadi penonton antara Askara juga Fahri.


"Suka-suka gua mau naruh karbol di mana aja. Rumah-rumah gua."


Jawaban Fahri semakin membuat Aska naik pitam. Dia semakin menarik kerah kemeja Fahri, sontak Fahri semakin terkejut. Dia baru melihat seorang Askara murka, lebih sering dia melihat abangnya, Aksara yang murka.


"Gak lucu!" bentak Aska. "Ini menyangkut nyawa orang, bukan lelucuan," lanjutnya lagi Dnegan suara yang masih meninggi.


"Dia cuma minum seteguk, gak bakal mati."


Bugh!


Sebuah tonjokan mengenai pipi Fahri dan membuat Aksa serta Riana terkejut. Aksa segera menjauhkan tubuh Aska yang hendak menyerang Fahri lagi, sedangkan Fahri hanya tersenyum kecil.


"Lepasin gua, Bang! Ini semua gara-gara dia. Gua harus buat perhitungan ke dia," teriak Aska. Namun, Aksa berusaha untuk menenangkan Aska.


"Jangan salahin gua, Nyuk!" sergah Fahri. "Si Jingga aja yang gak bisa bedain mana karbol, mana spr*te. Main minum aja, jadinya abok 'kan."


Ucapan Fahri membuat Aksa juga Riana tergelak. Sungguh Fahri memang manusia tak berhati. Ketika sahabatnya sedang bersedih, dia malah bercanda.


"Bhang Ke!"

__ADS_1


...****************...


Komen dong ....


__ADS_2