Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Harus Pergi


__ADS_3

Fikri dan Arka sudah masuk ke dalam kandang binatang buas. Berbeda dengan keadaan di dalam kosan Riana yang masih nampak hening.


".... tolong restui hubungan Abang dengan Riana, Ayah."


Sebuah permintaan yang keluar dari mulut seorang putra pengusaha kaya. Meskipun, Aksa memiliki kesempatan emas, dia tetap bertindak fair. Cinta itu butuh perjuangan bukan hanya sekedar sebuah kata manis.


"Apa Ayah masih membenci Abang karena Abang mengkhianati Riana? Abang sungguh tidak mengkhianati dia, Yah. Sampai sekarang Abang masih sangat mencintai dia."


"Maaf ... jika pernikahan Abang membuat Ayah kecewa. Bukan hanya Ayah yang kecewa, Abang juga sangat kecewa dengan keputusan sepihak yang diambil oleh pihak Tante Sarah. Abang terpaksa," lirihnya.


Rion bergeming, dia masih diam seribu bahasa.


"Abang tidak akan memaksa Ayah untuk menerima Abang. Namun, Abang juga tidak akan menyerah untuk bersatu dengan Riana. Abang akan terus mengejar restu Ayah untuk hubungan Abang dengan putri Ayah," tegasnya.


"Restu dan ridho orang tua adalah sebuah doa menuju kebahagiaan."


Hati Rion melemah mendengar ucapan Aksa yang begitu tulus. Akan tetapi, dia masih teguh dengan kekeras kepalaannya.


"Ayah ... Ri, hanya ingin Abang. Ri tidak ingin pria lain." Riana mulai berucap.


"Ri, sangat mencintai Abang, Ayah."


"Apa kamu tidak malu menjadi perusak rumah tangga orang lain? Lalu menikahi pria yang harusnya bahagia dengan istrinya?"


Pertanyaan Rion membuat hati Riana bagai dicabik-cabik. Sakit sekali. Ayahnya sendiri mengatakan bahwa dia adalah perebut suami orang.


"Ri, tidak merebut Abang. Ri, hanya menjaga cinta Ri untuk Abang. Apa Ri, salah?" Suara Riana terdengar bergetar menimpali ucapan sang ayah. Sangat sakit, itulah yang Riana rasakan.


"Ayah tidak tahu bagaimana hati Ri ketika mengetahui Abang menikah dengan wanita lain. Ayah tidak pernah tahu juga bagaimana hati Ri ketika Ri ditunjukkan foto Abang dengan istrinya yang tengah tidur dalam satu selimut tanpa penutup. Hati Ri sangat sakit, Ayah. Namun, rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa yang Ri miliki untuk Abang. Ri sadar bahwa bukan hanya Ri yang tersakiti di sini. Abang pun menjadi korban di sini. Korban pembohongan yang dilakukan oleh keluarga mantan istrinya," ungkap Riana.


"Selama ini Ri tidak pernah membahas perihal ini. Ri tahu, Abang dijebak untuk menikah karena surat wasiat bodong. Abang yang melakukan konferensi pers dan membela Ri di depan semua orang perihal video panas. Abang yang mencari bukti tentang bagaimana istrinya di belakangnya. Ri, tahu semua Ayah. Makanya, Ri berani dekat dengan Abang lagi karena itu. Abang memang tidak mencintai istrinya. Abang dikhianati istri yang tidak dicintainya. Sikap Ri memang salah, tetapi hati Ri tidak pernah salah untuk mencintai seseorang yang memang pantas bersanding dengan Ri."


Hati Rion tersentak mendengar ucapan Riana. Riana putrinya yang dulu telah kembali.


"Kenapa sekarang kamu berani menentang Ayah?" sentak Rion.

__ADS_1


"Ri, lelah Ayah ... Ri, ingin memperjuangkan kebahagiaan Ri. Ri, tidak ingin terus-terusan mengalah. Apa Ri tidak berhak untuk bahagia?"


Wajah pilu Riana terlihat jelas, sedangkan Aksa terus mengusap lembut punggung tangan Riana yang terus Aksa genggam.


"Apa Ayah ingin Ri pergi dari hidup Ayah?"


Mata Rion melebar mendengarnya. Wajah Riana berubah menjadi datar.


"Ri, sudah menjadi anak yang penurut. Ri, sudah menjadi anak yang baik untuk Ayah. Apa kali ini Ayah masih akan memaksa Ri? Ri, capek," tukasnya.


"Lebih baik Ri yang pergi dari hidup Ayah. Mungkin, jika Ri pergi beban hidup Ayah akan berkurang."


Inilah titik di mana Riana lelah dengan sikap ayahnya. Riana juga berhak memperjuangkan kebahagiaannya.


"Apa kamu diajarkan melawan seperti itu oleh Aksa?" tuduh Rion.


"Ayah ... jangan selalu menuduh orang tanpa bukti. Abang tidak pernah mengajarkan hal buruk kepada Ri. Berkali-kali Ri meminta Abang untuk membawa pergi Ri, tetapi Abang tidak mau. Abang tidak ingin Ri menjadi anak durhaka. Abang tidak ingin terus-terusan membuat Ayah kecewa."


Rion terdiam mendengar ucapan Riana. Matanya menatap tajam ke arah Aksa.


Diperlakukan seperti apapun Aksa oleh Rion, tidak membuat emosi Aksa mudah terpancing. Bagaimana pun, Aksa sudah menganggap Rion seperti ayahnya sendiri. Laki-laki yang sangat dia hormati.


"Apa yang diucapkan anak gua benar." Suara seseorang membuat Rion menoleh.


"Kalau gua mau pakai cara licik, bisa aja gua bawa kabur Riana dan menutup jejak Riana agar lu gak bisa nemuin putri lu. Anak gua gak seperti itu, berkali-kali lu maki-maki anak gua, kasarin anak gua, dia masih bersikap sopan sama lu. Gak ada sedikitpun niatan dari anak gua buat berkata kasar sama lu. Gua harap, lu bisa buka mata lu yang lebar. Lihat betapa tulusnya anak gua mencintai anak lu. Betapa bahagianya anak lu jika bersama anak gua. Apa sebagai seorang ayah lu gak bisa merasakannya?"


Sebenarnya Gio tidak ingin ikut campur tentang perjuangan Aksa mendapatkan Riana. Mendengar ucapan Rion yang terus-terusan menjatuhkan Aksa membuat mulutnya gatal ingin menimpali.


"Daddy ...." Aksa menggelengkan kepalanya.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Gio. "Baiklah," pasrahnya.


"Maafkan Daddy, Ayah. Itulah cara Daddy melindungi Abang. Sama halnya dengan Ayah yang melindungi Riana," ujarnya.


Rion memang melihat jelas bagaimana tulusnya Aksa mencintai Riana. Akan tetapi, hatinya masih belum bisa melepaskan Riana begitu saja.

__ADS_1


"Sekali lagi, Abang tidak akan memaksa Ayah untuk cepat-cepat merestui hubungan Abang dan Riana. Abang akan membuktikan kepada Ayah bahwa Abang layak menjadi pendamping Riana, hingga Ayah sendiri yang merestui Abang," terangnya dengan seulas senyum.


"Ri, jangan pernah melawan kepada Ayah. Kamu harus berbakti kepada Ayah seperti Kak Echa. Bagaimana pun Ayah adalah orang yang mencintai kamu dengan sangat tulus. Sudah banyak yang Ayah korbankan untuk kamu dari kamu lahir hingga saat ini."


Hati Riana benar-benar terenyuh mendengar ucapan Aksa. Tak pernah sekali pun Aksa mengajarkan Riana untuk membenci ayahnya. Bagaimanapun perlakuan sang ayah kepada dirinya.


"Sudah saatnya Abang harus pergi," ucap Aksa.


Mata Rion melebar mendengar ucapan Aksa. Apalagi melihat wajah Riana yang kembali sendu.


"Mau ke mana kamu?" sergah Rion.


Aksa menoleh ke arah Rion yang sudah tak semurka tadi.


"Abang ingin memantaskan diri untuk menjadi suami Riana. Abang akan buktikan kepada Ayah, bahwa Abang memang layak menjadi menantu Ayah." Aksa membawa Riana ke arah Rion. Menautkan tangan Rion dengan Riana.


"Titip Riana, Ayah. Jaga Riana dan lindungi dia. Sampai Abang kembali ke tanah air ini."


Rion benar-benar bingung mendengar ucapan Aksa. Apalagi, senyum tulus terukir dari bibirnya. Dia menatap ke arah Gio menginginkan penjelasan.


"Aksa akan tinggal di Aussie untuk beberapa tahun ke depan. Dia sedang membangun perusahaan atas namanya sendiri di sana. Sebagai bukti bahwa dia bisa membahagiakan Riana dengan kerja kerasnya sendiri. Bukan dari harta warisan keluarga."


Sebelum meninggalkan Rion dan Riana, Aksa tersenyum ke arah sang pujaan hati. Tak lupa melambaikan tangannya ke arah Riana. Tubuh Aksa semakin menjauh. Riana, menatap ke arah sang ayah dengan sorot mata pernah permohonan. Sebuah anggukan yang menjadi jawaban dari Rion.


Riana berlari mengejar Aksa dan memeluknya dari belakang hingga langkah Aksa terhenti. Lengkungan senyum terukir di wajah Aksa. Dia membalikkan tubuhnya tanpa mengurai pelukannya.


"Jangan pergi!" Gelengan kepala yang menjadi jawaban dari permintaan Riana.


"Abang harus pergi demi masa depan kita. Kamu adalah berlian langka yang harus Abang genggam, dan untuk menggenggam kamu pasti tidak mudah. Saatnya Abang berjuang." Aksa mengusap lembut pipi Riana.


"Tunggu Abang, Abang akan datang dengan sebuah kejutan."


...****************...


Tembusin dong 100 komentar. Nanti aku up lagi.

__ADS_1


__ADS_2