
Ghea terus mengaduk-aduk makanan tanpa dia makan sama sekali. Riana hanya menghembuskan napas kasar.
"Dek," panggil sang ibu. Aksa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak bungsunya.
"Mas pakai jam tangan gak sih, My? Kenapa jam segini Mas belum pulang?"
Anak kedua dari Aksa dan Riana itu tengah bersungut-sungut membuat kedua orang tuanya mengulum senyum.
"Mas pergi sama teman cowoknya kok," ucap sang ibu.
"Ada ceweknya juga, My. Mas itu punya genk gitu. Ada tiga teman Mas, tapi semuanya pada punya pacar. Nah, itu si Sean-"
"Kakak, Dek," ralat sang ibu.
Sedari kecil Rianalah yang mengajarkan sopan santun kepada kedua anaknya. dia tidak ingin sikap suaminya menurun kepada kedua anaknya. Memanggil ipar juga adiknya dengan tidak sopan.
"Iya, itu namanya." Ghea yang masih ingin melanjutkan ocehannya, akhirnya terdiam dengan wajah yang merengut karena dipotong oleh sang ibu.
"Kenapa dengan teman-teman Mas Agha?" Kini, Aksa yang berbicara. Seringnya Ghea bersitegang dengan Riana. Seperti kucing dan tikus jika bertemu. Maklum, wajah Ghea mirip dengan Riana.
"Teman-teman mas Agha itu pada punya cewek. Tuh si perempuan lenjeh ntu, lagi mepet Mas Agha."
"Gak boleh suudzon." Aksa mengusap lembut rambut sang putri.
"Siapa yang suudzon?" sergah Ghea. "Adek bicara sesuai kenyataan kok. Adek 'kan lihat sendiri gimana kelakuan Mas sama teman-temannya." Ghea terlihat sewot sekali. Ya, dia sekolah di satu yayasan yang sama dengan sang kakak. Satu Komplek sekolah juga. Jadi, Ghea benar-benar mematai sang kakak.
__ADS_1
Agha sebenarnya akan di sekolahkan di sekolah internasional oleh kedua orang tuanya karena melihat potensi yang ada di dalam diri putra Aksa. Namun, Ghea sangat menolak akan hal itu.
"Pokoknya Mas harus sekolah SMP-nya di tempat Adek. Adek gak mau tahu!"
Begitulah ucapan Ghea ketika sang kakak sudah lulus SD. Saking sayangnya kepada sang adik, Agha pun menuruti apa yang diinginkan oleh Ghea.
Dari jauh-jauh hari, Aksa dan Riana sudah memikirkan di mana kedua anaknya akan bersekolah nanti. Sudah pasti kedua anak mereka harus sekolah dalam satu lingkungan sekolah yang sama agar Ghea tak mengancam-ancam lagi.
.
Sekarang, Ghea dan juga orang tuanya ada di ruang keluarga. Ghea merangkul manja sang ayah dan terus menanyakan Agha.
Suara langkah kaki terdengar. Semua orang menoleh dan senyum Agha terukir dengan sempurna.
"Kirain gak bakal pulang." Ghea berubah menjadi anak yang judes membuat Agha mengernyitkan dahi. Matanya menatap ke arah ayah dan ibunya. Namun, mereka hanya menggedikkan bahu.
Riana membutuhkan kesabaran yang ekstra menghadapi Ghea. Sifat posesif kepada sang kakak membuat Riana merasa bersalah pada sang putra. Pasalnya, Agha tidak bebas bergerak, kecuali sekolah. Padahal, di usia Agha seperti ini sedang ingin bermain bersama teman-teman.
"My, Dad, Mas 'kan udah minta izin ke Adek. Kok Adek masih marah sih sama Mas," keluhnya. Wajah Agha pun kini berubah.
"Mas jalan sama teman-teman Mas?" tanya Aska dengan lembut. Agha pun menganggukkan kepala.
"Bawa gandengan masing-masing?"
"Mas mah enggak." Agha pun membela diri. Sambil mengibaskan kedua tangannya.
__ADS_1
Aksa hanya tertawa mendengarnya. Kemudian, sang ayah menceritakan apa yang Ghea katakan membuat Agha menghela napas kasar.
"Jangan macam-macam, Mas. Ada cctv berjalan yang akan memantau setiap langkah kamu."
Agha pun menatap ayahnya. Sepertinya sang ayah tahu apa saja yang dia lakukan dan adiknya menjadi pengadu nomor satu yang tidak bisa terbantahkan.
"Iya, Dad. Mas mau ke atas dulu. Mau bujuk Adek dulu." Aksa pun mengangguk.
"Gimana kalau punya pacar? Adik sendiri aja berasa pacar, ngambek mulu kerjaannya."
Hal yang paling Agha tidak suka ketika didiamkan adiknya. Senyum Ghea adalah penyemangat untuknya.
"Dek, maafin Mas."
Agha sudah duduk di pinggiran tempat tidur. Terus membujuk sang adik untuk memaafkannya.
"Udah pergi aja sama si spion sana!" Ghea berucap di bawah selimut tebal.
"Siapa Spion?" Agha benar-benar tak mengerti.
"Jangan berlagak oon deh, Mas."
Seketika otak Agha berpikir dan dia menemukan jawabannya. "Sean, Dek. Bukan spion."
"Bodo amat!"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....