Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Tamparan Keras


__ADS_3

Di kediaman Ayanda, Riana sudah turun ke lantai bawah mencari sang kekasih.


"Mom, Abang ke mana, ya?"


Ayanda yang sedang membuat salad buah menoleh ke arah sang calon menantu seraya tersenyum.


"Di kamarnya kali, Ri."


"Tidak ada, Mom. Ri, sudah ke sana."


"Mungkin dia sedang keluar. Lebih baik kamu makan dulu. Mau makan apa? Biar Mommy masakin," ujarnya.


"Nanti aja, Mom. Nunggu Abang aja." Ayanda mengangguk.


"Lebih baik kamu istirahat aja dulu," imbuh Ayanda.


Riana mengangguk, tubuhnya pun sudah ingin diistirahatkan.


Di rumah sakit, tawa yang semakin pecah membuat Aksa jengah.


"Abang mau pulang," tukasnya.


Aksa meninggalakan kamar perawatan Ziva diikuti oleh Christian, sedangkan Gio masih berada di sana.


"Kamu dengar 'kan Zi. Aksa adalah orang yang tegas. Dia tidak akan mengubah keputusannya."


"Tapi ... Zi sayang sama Aksa, Om."


"Cinta dan obsesi beda tipis, Zi. Bukankah kamu memiliki pangeran berkuda hitam?"


Sarah menatap Gio dengan tatapan tak mengerti, sedangkan Ziva malah sudah menangis.


"Siapa pangeran berkuda hitam yang kamu maksud, Gi?"


Sarah benar-benar penasaran dengan apa yang dikatakan Gio. Mata Gio menatap ke arah pintu kamar. Seorang pria berdiri tegak di sana.


"Kamu terlalu menutup mata, Sarah. Padahal ada seorang pria yang dengan tulus mau menerima anakmu," hardik Gio.


Sarah membisu mendengar ucapan dari Gio. Apalagi, dia melihat Rakha yang sudah berdiri di sana.


Gio memilih untuk pergi, diikuti oleh Remon. Dia tidak ingin mengurusi urusan orang lain. Kedatangannya ke sana hanya untuk mengatakan bahwa Ziva akan terus menjalani proses hukum bersama Mahendra. Tidak akan ada keringanan ataupun apapun. Itulah keinginan Radit dan juga Echa.


Tibanya di rumah, Aksa menemui sang Mommy yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Riana mana, Mom?"


Ayanda menatap Aksa yang baru saja masuk ke dalam rumah. "Kamu dari mana? Riana cari kamu."


Aksa segera bangkit dari duduknya tanpa menjawab ucapan sang ibu, dan segera menuju lantai atas. Membuka pintu kamar Riana dengan pelan. Senyumnya melengkung ketika melihat sang kekasih hati tengah terlelap dengan damainya.


Langkahnya mendekat dan duduk di lantai sambil memperhatikan wajah Riana yang sangat cantik.


"Pasti kamu sangat lelah. Maafkan Abang, ya."


Aksa mengusap rambut Riana. Mengecup keningnya dengan sangat dalam.


"Selamat beristirahat, Sayang."


Aksa menaikkan selimut ke tubuh Riana. Dia tidak ingin mengganggu tidur sang calon istri yang sangat nyenyak.


Malam pun tiba, Aksa sudah berkutat dengan laptopnya di kamar. Pintu kamar terbuka pelan, tetapi si penghuni kamar tidak menoleh sama sekali. Riana melangkahkan kakinya menghampiri Aksa.


"Bang," panggil Riana.


Suara yang merdu itu membuat Aksa tersadar dari kefokusannya. Senyum manis terukir di wajahnya.

__ADS_1


"Udah bangun?"


Aksa segera menarik tangan Riana yang tengah berdiri di samping tempat tidur agar duduk di sampingnya.


"Mau apa?"


Aksa bagai cenayang yang selalu tahu isi hati Riana. Namun, Riana enggan untuk mengutarakan keinginannya.


"Mau apa, Sayang? Mau makan di luar? Atau pergi ke mall?"


"Mau semuanya," jawab Riana yang kini sudah melingkarkan tangannya di pinggang Aksa.


"Tumben manja."


Tidak ada jawaban dari Riana, dia malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Ya udah, Abang ganti baju dulu, ya."


Aksa mengecup kening Riana, kemudian masuk ke ruanh ganti. Riana sendiri kembali ke kamarnya dan bersiap juga.


Setelah keduanya siap, tangan Aksa sudah menggandeng tangan Riana dengan sangat mesra.


"Mau ke mana?" sergah Gio yang sedang menikmati secangkir kopi.


"Mau pacaran dulu lah, Dad. Mumpung algojonya lagi di Jogja."


Pukulan di bahu Aksa terdengar sangat keras. Siapa lagi jika bukan Riana yang melakukannya.


"Durhaka loh! Mau dikutuk jadi jelek sama Ayah," sungut Riana.


Gio terkekeh mendengar ucapan Riana dan dia sangat terhibur melihat wajah Aksa.


Belum juga jadi suami, udah ada ciri-ciri suami takut istri.


Gio menggelengkan kepala melihat tingkah Aksa seharian ini. Anak yang kaku, dingin ternyata tidak jauh berbeda dengan adiknya. Askara, si playboy tengik yang sudah dua malam tidak pulang.


Kini Ayanda yang sudah menakut-nakuti putranya.


"Jangan ngomong gitu dong, Mom. Ucapan adalah doa," keluhnya.


Riana tertawa melihat wajah memelas Aksa. Sangat lucu dan juga tampan.


Mereka pergi ke sebuah mall yang cukup besar. Aksa dengan posesifnya menggenggam tangan Riana.


"Mau nonton gak?"


Riana menggeleng, dia masih asyik berkeliling tanpa tujuan. Padahal, kaki Aksa sudah pegal sekali.


"Sayang, sebenarnya kamu mau beli apa?"


Sudah tidak tahan berkeliling mall. Dari lantai satu sampai lantai tiga.


"Ri cuma ingin berkeliling aja."


Jawaban Riana membuat Aksa ternganga. Kenapa Riana melakukan hal sia-sia seperti ini.


"Mau beli apapun pasti Abang beliin kok. Jangan nyiksa kaki kamu dong, Yang."


Riana menggeleng, dia merangkulkan tangannya di lengan kekar Aksa.


"Nggak Sayang, Ri cuma ingin jalan-jalan."


Dipanggil sayang hati Aksa berbunga-bunga. Baru kali ini Riana memanggilnya dengan sebutan itu. Benar kata Fahri, sebutan Abang seperti sebutan ke tukang bakso.


"Kok Abang bahagia banget ya, kamu panggil sayang."

__ADS_1


Wajah Riana bersemu dan dia menatap manik mata Aksa penuh dengan cinta.


"I love you, Sayang."


"Love you too my future wife."


Aksa mengecup ujung kepala Riana dan senyum mereka pun melengkung di bibir masing-masing.


Mereka terus berkeliling dan memilih bermain di tempat permainan yang semua orang juga pasti tahu, zona waktu. Gelak tawa tercipta ketika mereka tidak berhasil mencapit boneka besar.


"Ngabis-ngabisin saldo doang. Lebih baik beli bonekanya, Yang."


Aksa sangat geram karena sudah sepuluh kali menggesek kartu, tetapi boneka yang dia inginkan selalu gagal dicapit. Riana hanya tertawa melihat wajah Aksa yang terlihat lucu di matanya jika tengah emosi.


Lelah bermain, mereka beristirahat di food court. Riana meminta Aksa untuk membelikan es booba yang tak jauh dari tempatnya duduk.


"Mau rasa apa?"


"Cokelat."


Aksa bangkit dari duduknya, dia mengusap lembut rambut Riana sebelum pergi. Ponselnya pun dia tinggalkan di meja bersama Riana.


Riana penasaran dengan ponsel Aksa. Dia mencoba membuka ponselnya, ternyata tidak dikunci seperti ponsel para pria lain. Senyumnya melengkung dengan sempurna ketika melihat wajahnya yang menjadi wallpaper di ponsel Aksa.


"Sweet banget sih, Bang."


Di stand booba, Aksa terus mendengus kesal ketika para remaja dan juga perempuan dewasa selalu ingin berdempetan dengannya.


"Hanya ini saja, kak?" tanya seorang penjual booba. Hanya anggukan yang menjadi jawaban.


Akhirnya, Aksa terbebas dari para remaja serta wanita yang menyebalkan di matanya.


"Ini, Sayang."


Riana menatap ke arah Aksa yang sudah menekuk wajahnya.


"Kok mukanya begitu?"


"Tuh!" tunjuk Aksa memakai mulutnya ke arah para remaja dan perempuan yang masih memandanginya.


Riana mengusap lembut punggung tangan Aksa. "Maaf, ya."


"Gak apa-apa. Kamu minum boobanya."


Aksa tersenyum ke arah Riana yang sudah merasa bersalah.


"Abang gak beli?"


"Gak suka."


Riana mengangguk, lalu dia memberikan booba kepada Aksa untuk diminum. "Coba deh, enak."


Aksa meminumnya, dan tetap saja Aksa tidak suka.


"Udah ya, Abang gak suka."


Mereka berbincang santai dengan sesekali tertawa dan tangan Aksa yang terus mengusap lembut punggung tangan Riana.


Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba tamparan keras terdengar nyaring.


"Jahat kamu! Ternyata kamu selingkuh!"


...****************...


Hayo .... ?

__ADS_1


Komenlah ...!


__ADS_2