Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Asisten


__ADS_3

Di lain tempat, Raditya Addhitama tengah makan siang dengan sang ayah juga sahabat serta junior ayahnya, yaitu dokter Eki. Mereka berbincang santai sambil menikmati makan siang.


"Sepertinya jadi pengusaha lebih menguntungkan ya, Dit, dibanding jadi dokter," singgung dokter Eki.


Radit tertawa dan menyesap kopi yang sudah ada di hadapannya. "Dokter juga gajinya gak kalah besar, kok," sahut Radit, kemudian meletakkan kembali cangkir kopi ke atas meja.


"Iya, kalau sekelas dokter Addhitama sih gajinya gede," kelakar dokter Eki.


Addhitama pun tertawa mendengar candaan dokter Eki. Sungguh sangat menghiburnya ketika kondisi kesehatannya tengah menurun.


"Bagaimana keadaan anakmu?" tanya Addhitma.


Mendengar kata anak wajah dokter Eki sedikit berubah. Dia teringat akan seseorang yang telah hilang entah ke mana.


"Melati baik, dok. Dia malah sudah bekerja di rumah sakit ternama di sini," jawab Eki.


Radit sedikit menangkap wajah murung dokter Eki, seperti ada yang tengah disembunyikan oleh dokter Eki. Namun, Radit terlihat biasa saja. Dia tidak ingin dianggap sok tahu.


"Wah, hebat sekali anak kamu," puji Addhitama.


Dokter Eki hanya tersenyum. Banyak orang yang memuji tentang kehebatannya. Akan tetapi, dia merasa tidak sehebat itu. Dia merasa telah gagal dalam menjadi ayah. Sampai detik ini dia hidup di dalam kubangan penuh penyesalan.


Aku tidak seperti yang kalian lihat. Aku adalah ayah yang jahat. Ada anakku yang aku terlantarkan. Di manapun dia berada aku pun tak tahu.


Begitulah hati dokter Eki berkata. Radit yang mempelajari ilmu psikolog dapat paham betul mimik wajah dari dokter Eki. Keadaan mendadak hening, kemudian Radit membuka suara. "Anak dokter Eki umur berapa?" tanya Radit memecah keheningan.


"Dua puluh lima tahun," ujarnya.


"Wah, seumuran dengan adik ipar saya, dong," sahut Radit.


Mereka bertiga banyak berbincang perihal rumah sakit. Bagaimana pun Radit masih bertanggung jawab di salah satu rumah sakit yang papihnya miliki.


"Kamu punya anak berapa, Dit?" tanya dokter Eki.


"Tiga, Dok. Umur mereka baru enam tahun." Dokter Eki sedikit terkejut dengan ucapan dari Radit.


"Kembar tiga?" tebaknya. Radit pun mengangguk sambil menunjukkan foto ketiga putrinya yang cantik jelita.


"Lucu sekali dan cantik-cantik," puji dokter Eki.


"Istrinya Radit juga cantik sekali," timpal Addhitama.


"Ya, sudah pasti itu. Mana mau Radit sama wanita jelek," balas dokter Eki.


Mereka bertiga pun tertawa. Obrolan ngalor-ngidul mereka harus terhenti karena Radit harus kembali ke kantor. Sebelumnya, dia mengantar Addhitama ke rumah untuk beristirahat.


Selepas kepergian Radit juga Addhitama, dokter Eki kini kembali tenggelam dalam penyesalannya. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Dia menatap pilu ke arah seorang anak kecil yang tengah digendong oleh pria yang wajahnya mirip dengannya.


"Andira, kamu di mana, Nak? Ayah sangat merindukan kamu," lirih dokter Eki.

__ADS_1


Di Jomblo's kafe, semua pesanan Sultan dan istrinya sudah siap. Jingga sudah membawa nampan berisi makanan yang mereka pesan.


"Hati-hati Jingga bawanya. Nanti kita semua disemprot sama duo bos jomblo itu." Sang koki memperingati Jingga.


"Iya, Kak."


Jingga selalu bersikap sopan kepada semua karyawan di sana. Meskipun, dia selalu digunjing dan segala macam, Jingga tidak pernah mempermasalahkannya. Dia membawa nampan dengan hati-hati dan menghampiri meja yang Juno maksud tadi.


"Permisi," ucap sopan Jingga. Dia mulai meletakkan satu per satu makanan yang dipesan.


"Silahkan dinikmati," ucap Jingga lagi.


"Maka ...."


Mata Riana melebar ketika melihat Jingga di sana. Sama halnya dengan Jingga yang nampak terkejut.


"Jingga!"


"Mbak Riana!"


Riana segera berdiri dan memeluk tubuh perempuan yang pernah menjadi sahabatnya di WAG Grup. Orang yang tidak pernah mengucilkan Riana. Orang yang menjadi teman pertama Riana. Dia merasa amat bahagia.


"Sayang, hati-hati! Kandungan kamu," tegur Aksa.


"Ah iya, Ri lupa," sesalnya.


Riana mengusap perutnya yang masih rata itu. "Maafkan Mommy ya, Nak."


"Bang, boleh Jingga bergabung dengan kita di sini?" tanya Riana.


"Makan dulu ya, Sayang. Setelah itu kamu boleh berbincang." Riana merasa sangat bahagia dan memeluk tubuh suaminya yang tengah duduk.


"Makasih Daddy." Aksa pun tersenyum mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut Riana.


Para karyawan yang berada di belakang ternyata masih mengintip Sultan dan istrinya. Mereka seperti sedang merasakan kedengkian yang hakiki. Ada yang menggigit serbet, memilin ujung bajunya dan juga ada yang memeluk orang yang berada di sampingnya.


"Baru kali ini lihat pasangan romantis kayak mereka," ujar salah seorang karyawan.


"Kenapa sih Tuhan kadang tuh gak adil?" kata karyawan wanita. "Pasangan itu prianya ganteng maksimal, wanitanya cantik beut dah. Sempurna banget." Dia menjeda ucapannya kembali. "Tapi, kenapa gua yang idungnya mancung ke dalam, kulit sawo busuk, gigi pakai kawat besi punya pacar bagai kedelai hitam si Malika," tuturnya.


Semua orang yang mendengarnya tertawa terpingkal-pingkal.


"Harusnya gua itu dapat pacar atau pria yang kayak Sultan itu. Biar memperbaiki keturunan. Kalau sama si kedelai hitam yang dijaga sepenuh hati itu akan seperti apa anak gua nanti?" ucapnya lagi.


"Boneka santet!" jawab salah seorang karyawan yang lain.


Lagi-lagi keadaan riuh di belakang. Jingga yang baru selesai mengantarkan pesanan mengerutkan dahinya tak mengerti dengan tertawaan mereka semua.


"Jingga, lu kenal sama pengunjung onoh?" tanya karyawan yang berhidung minimalis bernama Wati.

__ADS_1


Jingga mengikuti arah telunjuk Wati. Kemudian, Jingga mengangguk. Semua mata kini tertuju kepada Jingga dengan segala keingintahuannya.


"Siapa?" tanya mereka kompak.


"Pria itu adalah direktur utama WAG Grup yang memiliki kantor pusat di Jogja." Mata semua karyawan tersebut melebar sempurna.


"WAG Grup perusahaan besar itu?" tanya sang koki di sana. Jingga pun mengangguk.


"Istrinya ... dulu adalah sekretaris dari direktur utama WAG Grup."


Para karyawan di sana menggelengkan kepala mereka. Pantas saja Ken dan Juno menyebut mereka Sultan. Ternyata memang benar.


"Sudah ya, saya permisi," ucap sopan Jingga.


Masih banyak pekerjaan yang harus Jingga kerjakan. Namun, ucapan direktur utama tadi masih terngiang-ngiang di telinganya.


"Kamu boleh di sini lebih lama. Abang mau ke rumah sakit."


Jingga sangat yakin, direktur utama yang dia lupa namanya itu akan menemui Aska. Dia sungguh ingin bertemu dengan Aska. Bertanya kepada Ken dan Juno pun tak pernah ada jawaban. Padahal Jingga tahu bahwa mereka berdua kenal dengan Aska.


"Semoga dari Mbak Riana aku bisa mendapatkan banyak informasi."


Di ruangan atas, Ken dan Juno tengah bersungut-sungut kepada Aska yang tengah menikmati es kopi dari restoran ternama.


"Orang sakit gak boleh minum es," sergah Ken.


"Emang gua bocah! Yang gak boleh minum es karena pilek," balas Aska. "Minuman Sultan ini," ucapnya.


"Bodo amat!" sahut Ken dan Juno kompak.


Aska pun terkekeh dan wajahnya sudah kembali seperti sedia kala.


"Lu gak pecat karyawan baru 'kan?" tanya Aska.


"Enggak!" jawab Juno.


"Gua rada curiga, sepertinya ada udah di balik bakwan nih," tuduh Ken.


"Ya enak dong tinggal di makan bakwan udang mah," jawab santai Aska.


"Gua serius cunguk!" pekiknya.


Aska menghela napas kasar. Dia menatap ke arah dua sahabatnya.


"Gua butuh karyawan untuk mengurus pembukuan sekaligus asisten buat gua," imbuh Aska.


"Apa?"


...****************...

__ADS_1


Lagi nih


__ADS_2