Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Hari Kepedihan


__ADS_3

🎶


Ku lepas, dirimu dengan ikhlas


Semoga Tuhan jagakan


Dirimu dan dia


Ku datang memberikan selamat


Walau langkah kaki gamang


Untuk kamu aku datang


Semoga dirimu bahagia


🎶


Lagu yang diputar sama seperti perasaan Riana saat ini. Sedari tadi Riana tidak sanggup melihat ke arah dua insan manusia yang sudah sah menjadi sepasang suami-istri.


"Kak, boleh Ri istirahat? Resepsinya 'kan tiga jam lagi," ujar Riana.


Echa mengangguk seraya tersenyum ke arah Riana. Riana melangkahkan kaki menjauhi semua orang yang tengah berbahagia. Sedangkan hatinya sangat kecewa.


Di dalam kamar hotel, Riana merebahkan tubuhnya yang masih berbalut kebaya di atas tempat tidur. Matanya terpejam dan sudut matanya mengeluarkan bulir bening. Menandakan hatinya memang benar-benar sakit.


"Cukup sampai hari ini aku menangis. Esok dan seterusnya aku akan menjadi Riana yang baru," gumamnya.


Entah hotelnya terlalu nyaman atau Riana yang memang kurang istirahat. Dirinya mulai terlelap dengan wajah yang menyiratkan kesedihan luar biasa.


Seseorang masuk ke dalam kamar Riana. Dia mematung di depan pintu ketika melihat Riana yang sudah terlelap. Langkah kaki membawanya mendekat ke arah wanita yang masih terlihat cantik meskipun matanya tengah terpejam. Hatinya sungguh tidak sanggup melihat wajah Riana. Matanya yang bengkak dan juga siluet kesedihan terlihat jelas. Dia pun duduk di samping tempat tidur. Menatap lamat-lamat wajah tenang Riana yang tengah tertidur.


Tes.


Air matanya pun menetes. Bukan hanya Riana yang kecewa dan juga sedih. Dia lebih kecewa dan sedih dengan kenyataan yang harus dia hadapi.


"Sampai kapanpun, aku akan tetap menyayangimu, Riana." Tangannya mulai mengusap lembut kepala Riana. Sungguh pedih hatinya melihat wajah Riana dengan dekat.


Kemudian, dia mengecup kening Riana sangat dalam. Menumpahkan segala rasa kecewa, sakit, sedih dan bersalah. Air matanya pun menetes membasahi wajah Riana.


"Aku memang suami orang. Tetapi, kamu adalah wanitaku yang sebenarnya," gumamnya pelan.


Satu jam berselang, mata Riana mulai terbuka. Dia melihat ke sekelilingnya. Senyum penuh kesedihan terukir di bibirnya.


"Aku mimpi, kamu datang dan mencium keningku. Apa itu kamu, Bang?"


Acara sudah akan dimulai. Lagi-lagi, gaun yang dikenakan oleh Riana berbeda dengan yang lain. Riana hanya menghela napas kasar.


Aksa dan Ziva diapit oleh para bridesmaid dan groomsmen yang sangat cantik dan juga tampan. Tema hari ini adalah abu-abu. Hanya Riana yang memakai gaun berwarna baby blue. Riana pun menjadi pusat perhatian semua orang.


Tamu undangan sudah banyak yang berdatangan. Riana sama sekali tidak ingin melihat ke arah pelaminan. Di mana ada Aksa dan juga Ziva yang tengah berbahagia. Riana memilih untuk duduk di pojokan. Terlalu sakit baginya untuk ikut bersua foto bersama sang pengantin.

__ADS_1


Seorang anak perempuan yang cantik menghampiri Riana. Lalu menarik tangannya.


"Ayo, kita foto bareng Uncle. Eesa ingin punya foto bareng Aunty dan juga Uncle," ajak Aleesa.


"Aleesa, Aunty ...."


Tiba-tiba mata Aleesa sudah nanar. Air matanya sudah mulai menggenang. Membuat Riana tidak tega melihat keponakannya menangis. Dan dia pun menyetujui ajakan Aleesa meskipun hatinya terasa berat.


"Satu kali aja, ya." Aleesa pun tersenyum dan mengangguk.


Dengan riang gembira, Aleesa membawa Riana ke atas pelaminan. Melewati mimo dan juga akinya. Serta melewati orang tua Ziva.


"Tante, minggir dulu. Aku mau foto sama Uncle aku," usir Aleesa pada Ziva yang tengah duduk di samping Aksa.


"Ini tempat Tante, Sayang," sahut Ziva lembut.


"Udah sih minggir dulu sebentar. Ngalah sama anak kecil." Ucapan Aksa sangat ketus dan tidak ada lembut-lembutnya terhadap istrinya.


Ziva pun mengalah dan pindah tempat duduk dengan wajah ditekuk. Aleesa tersenyum penuh kemenangan. Aleesa menarik tangan Aksa hingga Aksa sejajar dengan tubuh Aleesa.


"Uncle harus foto dengan Aunty. Karena Eesa gak suka sama Tante itu," bisik Aleesa di telinga Aksa. Aksa tersenyum bangga kepada Aleesa. Anak ini seperti pintu penghubung antara dua kamar yang berbeda.


"Aunty, ayo." Aleesa menarik tangan Riana dan fotografer sudah siap untuk mengambil foto.


Tangan Aksa dan juga Riana, Aleesa tautkan. Hingga mereka saling pandang. Dan si fotographer segera mengambil gambar foto Riana dan Aksa. Aleesa sudah menghilang entah ke mana.


"Sangat indah sekali. Tatapan kalian terlihat penuh cinta," ucap si fotographer terdengar sedikit berteriak. Mata Ziva melebar begitu juga dengan mata kedua orang tua Ziva. Sedangkan Ayanda dan juga Gio tersenyum mendengar ucapan si fotographer.


Riana segera turun dari pelaminan dengan wajah yang sudah merah karena malu. Hingga Beeya menarik tangan Riana menuju mini panggung yang ada di sana.


"Bee tahu, suara Kakak bagus. Ayo nyanyi untuk menghibur semua orang," pinta Beeya.


"Aku yang butuh dihibur, Bee," batin Riana.


Beeya menyerahkan microphone ke arah Riana. Dengan ragu diterima oleh Riana. Dia menghela napas berat sebelum menyanyikan sebuah lagu.


🎶


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia


Sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


🎶


Suara Riana mampu membuat semua orang terdiam. Terlebih keluarga Riana dan juga Aksa yang menatap ke arah Riana dengan tatapan penuh iba.

__ADS_1


🎶


Kan ku ikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


Akan ku terima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


🎶


Air mata Echa, Ayanda, Rion, Keysha, Beby, Sheza dan juga Beeya menetes mendengar lagu yang dibawakan oleh Riana. Seakan mereka merasakan kesakitan yang Riana rasakan.


Dan Aksa, dia terus menatap nanar ke arah wanita yang sangat dia cintai. Ingin rasanya dia memeluk tubuh Riana. Menebus segala kesalahannya terhadap Riana. Lagu yang Riana nyanyikan menggambarkan isi hatinya yang sesungguhnya.


"Aku akan selalu menyayangi kamu, Ri." Ucapan Aksa membuat Ziva menoleh ke arah Aksa. Namun, Aksa seolah acuh. Sama sekali tidak menganggap Ziva ada.


Riana turun disambut haru oleh pelukan Keysha dan juga Echa. Dua orang ini yang sangat tahu bagaimana Riana sesungguhnya.


"Maafkan, Bee, Kak," sesal Beeya.


Riana tersenyum ke arah Beeya. Dan memeluk tubuh bocah bandel kesayangannya. "Hari ini hari kepedihan, Kakak." Beeya semakin mengeratkan pelukannya. Mendengar ucapan Riana membuat Beeya terisak. Sakit hatinya walau hanya mendengarnya.


"Kamu mau mengucapkan selamat kepada Abang?" tanya Echa.


"Apa harus?" tanya balik Riana.


"Sebagai perpisahan," ucap Echa. Riana pun mengangguk ragu.


Echa membawa Riana ke atas pelaminan. Ayanda menangis kembali sambil memeluk tubuh Riana. Sudah ratusan kata maaf yang Ayanda ucapkan kepada Riana. Seakan dia memiliki kesalahan yang besar terhadap Riana. Dan kini, Ayanda mengecup kening Riana sangat dalam. Menuangkan kasih sayangnya dalam kecupan hangat itu. Membuat air mata Riana menetes kembali.


"Makasih, Mommy telah menyayangi Ri dengan tulus," ucap Riana yang kini memeluk erat tubuh Ayanda.


"Mommy masih berharap kamu yang menjadi menantu, Mommy," ujar Ayanda dengan suara berat. Hanya senyum kepedihan yang Riana tunjukkan.


Langkah kaki Riana terhenti tepat di depan Aksa. Manik mata mereka bertemu. Sorot mata mereka menyiratkan kepiluan yang sangat mendalam.


"Selamat, semoga Abang mampu melupakan Ri," ucap Riana kepada Aksa sambil mengulurkan tangannya.


Aksa menyambut uluran tangan Riana dan menariknya ke dalam pelukan. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan kamu. Kamu tetap wanitaku."


...****************...


Mohon maap, kemarin kalian komen curang. Satu orang ada yang ngasih sampe 20 biji 🤣.


Doain aja semoga aku khilaf dan ntar double up. Terus komen yang banyak tapi harus fair. 😁


100 komen up lagi+ditambah kalo aku khilaf 🤣


Jangan timbun-timbun bab ya, nanti Aksa dan Riana gak aku lanjut.

__ADS_1


Yang mau tau lagu di atas ada di insta story aku. follow @fiet82


__ADS_2