
Dua hari menjelang pernikahan Aksa dan Riana, mereka harus dipingit layaknya pengantin-pengantin lain. Aksa mengerang kesal ketika mendengar ajakannya ditolak oleh Riana.
"Jangan ngebantah, Bang. Ri, tidak ingin terjadi sesuatu kepada Abang." Itulah yang Riana ucapkan dari balik sambungan telepon.
"Kamu sekarang lagi apa, Sayang?" tanyanya.
"Sebentar lagi ada pengajian, Bang. Sore mungkin baru ke makam Bunda, tapi Ri gak tahu Abang diajak atau enggak. Soalnya Kakak belum bilang apa-apa."
"Ya udah, yang penting kam jangan keluar rumah tanpa didampingi keluarga kamu. Abang juga sepertinya akan mengatur jadwal untuk kita honeymoon," tuturnya.
Riana kira Aksa adalah pria biasa yang tak memiliki pikiran fantasi yang menggila. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Pantas saja Radit selalu memarahi Aksa jika mereka tengah berdua.
Acara pengajian pun dimulai, Echa sekeluarga memakai pakaian yang senada. Terlihat anggun dan cantik. Para ibu-ibu pengajian pun tak hentinya memuji Echa dan keluarganya yang memang sangat cantik dan tampan.
Setelah acara pengajian selesai, Rion sekeluarga pergi ke makam Amanda. Namun, sudah ada Aksa di depan pintu. Riana cukup terkejut dibuatnya.
"Kakak yang nyuruh Abang ikut. Abang harus meminta restu langsung di depan pusara Bunda," ungkap Aksa.
Mereka menggunakan dua mobil. Riana dan Aksa berada di mobil yang berbeda.
"Kamu cantik banget," puji Aksa seraya mengemudi.
"Abang juga semakin tampan memakai baju Koko itu."
Mereka saling memuji satu sama lain karena pasangan mereka itu memanglah sangat mempesona.
Tibanya di pemakaman, Aksa dan Riana berjalan berdampingan. Sedangkan Echa dan keluarganya serta ayah dan adiknya sudah berada di samping pusara sang bunda. Mereka menghaturkan doa untuk Amanda. Ibunda dari Riana yang tak bisa menyaksikan putri pertamanya menikah. Setelah acara doa dan tabur bunga selesai, Echa meninggalkan Riana serta Aksa agar lebih leluasa berbicara.
"Bunda, Ri datang lagi dengan kabar bahagia. Lusa, Ri akan menikah dengan orang yang sangat Ri sayangi, yaitu Abang Aksara." Lengkungan senyum terukir di wajah cantiknya.
"Assalamualaikum, Bunda," ucap Aksa seraya mengusap nisan Amanda.
"Abang minta doa restunya, semoga acara lusa bisa berjalan dengan lancar dan doakan semoga Abang dan Riana selalu dilimpahkan kebahagian setelah membina rumah tangga."
Riana tersenyum ke arah sang calon suami. Begitu juga Aksa.
"Bunda jangan khawatir. Insha Allah Abang akan menjadi imam yang baik dan mampu membimbing Ri. Ri, sayang Bunda. Tenang di sana ya, Bun."
Riana menundukkan kepala seraya berdoa sebelum dia meninggalakan pusara tersebut. Aksa mengantarkan Riana ke kediamannya. Jarak rumah mereka memang hanya beberapa meter saja. Namun, Aksa enggan pergi untuk meninggalakan Riana barang sedetik pun.
"Lu itu lagu dipingit," tukas Radit yang duduk di samping Aksa, sambil menikmati makanan sisa pengajian.
"Masih zaman begitu-begituan," sergah Aksa.
Tarikan di telinga Aksa membuat Aksa mengerang kesakitan. Ternyata tangan Rion lah yang berulah.
"Pulang sana!" usir Rion.
Aksa mendengus kesal mendengar usiran dari calon ayah mertuanya. Terlebih Radit yang terus mengompori Rion.
"Hafalin ijab kabul. Kalau sampai diulang, Ayah akan membatalkan pernikahan kalian."
Aksa menelan ludahnya mendengar ancaman Rion yang sangat menakutkan di telinganya.
"Tuh dengar! Sekarang mah gampang kita ngucapinnya, tapi ketika menjabat tangan Ayah beuh ... rasanya semua tubuh mendadak gemetar," terang Radit.
Apa yang dikatakan Radit benar adanya. Dia merasakan sendiri udara tiba-tiba dingin dan mencekam ketika ijab kabul akan dilaksanakan. Bibirnya tiba-tiba kelu susah untuk berucap.
"Atuh lah, Bang. Jangan nakutin," ujar Aksa.
"Makanya pergi," usir Rion lagi, dengan sangat terpaksa Aksa pun bangkit dari duduknya.
"Boleh ya, Abang pamit kepada Riana."
"Enggak!" seru Rion dan Radit bersamaan.
Akhirnya Aksa pulang tanpa pamit terlebih dahulu kepada Riana. Dia hanya pamit kepada Echa.
"Bang, titip mobil. Malas ngeluarinnya," teriak Aksa kepada Radit.
Aksa berjalan kaki menuju rumahnya. Dia masih memikirkan perihal ijab kabul nanti. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Tibanya di rumah ternyata ketiga keponakannya tengah asyik menikmati es krim rasa cokelat yang dibelikan oleh aki mereka.
"Uncle, mau?" Aksa menggeleng.
Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar. Merebahkan tubuhnya yang sudah tidak pernah mengenal tidur siang. Dalam waktu sekejap, Aksa pun terlelap.
Dari sore hingga malam tiba, Aksa tidak keluar kamar membuat kedua orang tuanya sedikit khawatir.
"Abang lagi tidur. Mungkin dia lelah, baru hari ini 'kan dia istirahat," ujar Aska yang kini duduk di ruang makan.
"Kamu kapan menyusul Abang? Daddy dan Mommy sudah tua loh," imbuh Gio.
"Setelah Abang bahagia," jawabnya.
Aska bukan tidak ingin menikah. Hanya saja hatinya masih terpatri pada sosok yang belum bisa menguap dari hatinya. Malah semakin hari dia merasa semakin dekat. Siapa wanita itu? Aska belum bisa menjelaskannya karena dia belum bisa menemukan wanita masa lalunya yang masih bersarang di hatinya itu.
__ADS_1
Keesokan paginya, Aksa mengerjapkan mata karena bias mentari yang sangat menyilaukan. Namun, matanya terpana pada sosok perempuan yang tengah berdiri menatapnya dengan senyuman sangat manis.
"Capek banget, ya?"
Riana kini duduk di tepian tempat tidur, membuat Aksa mulai mendudukkan dirinya.
"Mandi terus sarapan. Abang 'kan udah melewatkan makan malam."
Aksa pun tersenyum mendengar ucapan Riana. Dia menarik tangan Riana agar masuk ke dalam dekapannya.
"Siapain baju, Abang," titahnya. Riana mengangguk patuh. Dia harus terbiasa dengan hal kecil seperti ini.
Aksa masuk ke dalam kamar mandi dan Riana merapihkan tempat tidur calon suaminya. Kemudian, menyiapkan pakaian untuk Aksa kenakan hari ini. Baju santai lah yang Riana siapkan.
"Bang, sudah Ri siapkan. Ri, tunggu di bawah, ya."
"Iya!" jawab Aksa dari dalam kamar mandi.
"Calon suami kamu sudah bangun?" tanya Ayanda.
"Sudah, Mom. Abang sedang mandi," jawab Riana.
Mereka yang berada di lantai bawah asyik berbincang dan sesekali menggoda si triplets.
"Sayang, temani Abang makan."
Suara Aksa membuat semua orang menoleh, Aska menatap jengah ke arah Abangnya.
"Gegayaan!" seru Aska.
"Sirik aja yang jomblo," cibir Aksa.
Sudah lama Ayanda dan juga Gio tidak mendengar ledekan demi ledekan kedua putranya. Riana pun bangkit dari duduknya dan menemani sang suami yang sedang manja-manjanya.
Riana mengambilkan nasi goreng kornet sosis dan telur mata sapi ke dalam piring. Memberikannya kepada Aksa yang sedang bergelut dengan benda pipih di tangannya. Merasa kesal, Riana mengambil ponsel yang Aksa pegang.
"Makan dulu," titahnya.
Aksa pun tersenyum dan menganggukkan kepala. Bahagia sekali rasanya jika setiap hari selalu dilayani seperti ini. Dimarahi bagai anak kecil oleh sang istri tercinta.
"Abang mau kopi atau teh?" Riana hendak menuju dapur, tetapi tangannya dicekal.
"Nanti saja, temani Abang."
Setelah selesai makan, Riana mengambil piring kotor dan mencucinya. Riana tersentak ketika ada tangan yang melingkar di perutnya.
Riana menyelesaikan cucian piringnya. Kemudian membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan tangan Aksa yang tengah melingkar di pinggangnya.
"Ini juga kewajiban Ri sebagai istri, Bang," imbuhnya.
"Pasti Ri bosan kalau diam terus gak ngapa-ngapain," lanjutnya lagi.
"Tapi, jangan kecapek-an, ya." Riana mengangguk dan tersenyum.
Kecupan hangat Aksa daratkan di kening Riana. Deheman seseorang membuat momen romantis itu cepat berakhir.
"Jangan bikin orang jomblo makin ngenes," sindir Aska.
Aksa dan Riana pun tertawa. Mereka memilih meninggalkan dapur karena Aska terus bersungut-sungut bagai anak perawan yang baru datang bulan.
Aksa dan Riana menuju hotel di mana akan diadakannya resepsi, sedangkan akad nikah akan diselenggarakan di kediaman Riana.
Tangan Aksa terus menggenggam tangan Riana selama mengemudi. Ada rasa was-was di hati Riana karena sedari tadi Aksa mengemudi hanya dengan satu tangan. Akhirnya mereka tiba di hotel yang kemarin mereka sambangi dengan selamat.
Riana harus menyiapkan hati karena dia akan bertemu dengan Devita lagi, mantan terburuk yang Aksa miliki. Tatapan horor Devita tunjukkan. Namun, Riana malah semakin sengaja mengumbar kemesraan di depan Devita
"Bagaimana?" tanya Devita dengan nada sinis.
Dia tidak bisa mangkir dari pekerjaannya karena Gio sudah membayar lunas semuanya. Ini juga adalah ide Gio supaya Devita merasakan karma yang harusnya dia dapatkan.
"Oke," jawab singkat Aksa.
"Menurut kamu bagaimana, Sayang?" Kalimat yang memuakkan yang Devita dengar.
"Oke, tapi satu hal yang Ri gak suka," jawab Riana seraya menatap manik mata Aksa.
"Apa?"
"Ri, tidak suka dengan yang punya WO ini." Aksa pun tertawa dan mengecup ujung kepala Riana.
"Bukan hanya kamu yang tidak suka dengannya. Abang lebih sangat muak melihatnya."
Tangan Devita mengepal dengan sangat keras mendengar ucapan dari pasangan absurb tersebut. Ingin rasanya dia menggagalkan pernikahan Aksa dan Riana. Akan tetapi, dia masih punya perasaan dan Devita tidak akan pernah melakukan hal yang sangat merendahkan dirinya tersebut.
Semuanya pun sudah Aksa dan Riana cek, sudah sembilan puluh lima persen. Lengkungan senyum terukir di wajah dua manusia itu.
__ADS_1
"Kamu mau punya anak berapa?" Mereka tengah memandang langit cerah di dalam kamar suite room.
"Jangan banyak-banyak. Nanti Ri dikatain kucing sama Papah Arya." Aksa pun tertawa mendengarnya.
Jam seakan lambat sekali berputar, membuat Aksa mengerang kesal. Aksa mengantarkan Riana ke rumahnya. Namun, dia malah dihadang oleh Rion.
"Ini kenapa mas kawinnya cuma uang dua seperempat miliar?"
Dua seperempat miliar hanya, sungguh mertua matre. Aksa menghela napas dengan kasar. Dia mendudukkan diri di samping calon ayah mertua . Di sana juga ada Radit, Echa, Riana serta Iyan.
"Ini hanya yang tertulis, Ayah. Mas kawin yang lainnya ada pada seserahan yang akan keluarga Abang bawa. Ada kunci rumah, kunci apartment serta mobil untuk Riana. Kalau disebutin semua mas kawinnya entar kelamaan, Yah," terang Aksa.
Echa dan Radit pun tertawa, ayah mereka memang mata duitan.
"Gak usah riya, Ayah. Itu cincin berlian 5,5 karat aja udah ketahuan harganya. Belum lagi uang yang nol-nya banyak banget. Jangan bikin para kaum menengah ke bawah merasa iri dong, Yah," cerca Iyan.
Akhirnya, Rion mengalah. Mas kawin yang akan disebutkan hanya uang dan juga cincin berlian.
Malam harinya, dua keluarga ini sangat sibuk. Keluarga Aksa sibuk dengan barang seserahannya yang sangat banyak, sedangkan Rion menjadi mandor orang-orang yang sedang mendekor rumahnya.
Jantung Riana sudah berdegup sangat kencang. Tinggal menghitung jam status lajangnya akan berubah. Tidurnya tidak akan sendirian lagi. Ada Aksa yang akan menemani malam-malamnya.
Berbeda dengan Aksa dia tengah menghapalkan ijab kabul untuk besok. Bukan hanya Radit yang menakutinya, ayahnya pun melakukan hal yang sama.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rion Juanda binti Riana Amara Juanda." Aksa menghentikan ucapannya. Dia memukul kepalanya sendiri.
"Bodoh! Masa iya gua mau kawin sama bapaknya," sungutnya pada diri sendiri.
"Sekali lagi sekali lagi," gumamnya.
Sebelum mencoba lagi Aksa menarik napas terlebih dahulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Riana Juanda binti Rion Amara Juanda ... Arrgg! Bhego! Bhego! Bhego!"
Suara tertawa seseorang terdengar. Apalagi langkah orang yang menertawakan Aksa semakin mendekat.
"Tarik napas, lalu hembuskan. Katakan dengan pelan dan juga lantang." Aska memerintahkan kakaknya, seraya tangannya menepuk pelan pundak Aksa.
"Saya terima nikah dan kawinnya Riana Amara Juanda binti Rion Juanda dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah," ucap kedua orang tua Aksa.
Ternyata bukan hanya Aska yang berada di kamar Aksa. Mommy dan Daddy-nya juga sudah berada di sana.
"Jadi suami yang baik ya, Bang. Jangan pernah membuat Riana menangis. Satu tetes air mata yang Riana keluarkan akan menjadi penyesalan yang mendalam untuk kamu." Aksa pun mengangguk mendengar nasihat dari sang ibu tercinta.
"Keluarga yang utama. Itulah prinsip yang harus kamu pegang," tegas Gio.
"Makasih sudah menasihati Abang. Doakan Abang semoga bisa menjadi suami dan imam yang baik."
Suasana haru pun tercipta, mereka saling berpelukan termasuk Aska. Beberapa hari ke depan, rumah besar ini akan terasa sepi karena Aksa akan memboyong istrinya ke istana mewah miliknya.
Sabtu pagi, hari masih gelap karena sang Surya belum menampakkan dirinya kepada dunia. Namun, kesibukan sudah terlihat di kediaman Rion. Di mana calon pengantin wanita sudah siap dirias. Walaupun matanya masih menunjukkan kantuk yang teramat menyiksa. Belum lagi kakak dan ketiga anaknya yang ikut dirias membuat kesibukan semakin menjadi.
Melihat hasil riasan wajahnya, Riana nampak pangling pada dirinya sendiri ketika berada di depan cermin.
"Cantik sekali," puji Echa yang ternyata baru masuk ke kamarnya.
Riana hanya tersenyum dan tidak banyak bergerak karena riasannya belum selesai. Setengah jam berlalu, Riana sudah siap dengan riasan serta kebaya modern yang memperlihatkan kecantikan Riana sesungguhnya.
"Masha Allah, cantik sekali Riana," puji Nisa.
"Makasih, Aunty."
"Aunty jamin, Aksa gak akan berkedip lihat kamu seperti ini." Riana hanya menyunggingkan senyum. Tidak dipungkiri, dadanya terus berdegup sangat cepat. Telapak tangannya sudah sangat dingin.
"Apa begini jika jadi calon pengantin?" batinnya.
"Setelah kata sah diucapkan, nervous itu akan berubah menjadi kelegaan." Nisa seolah tahu apa yang isi hati Riana katakan.
"Rombongan pengantin pria sudah datang," ujar Iyan.
Hati Riana semakin berdegup sangat cepat. Wajahnya sudah berubah pucat. Campur aduk yang Riana rasakan kini.
"Sebelum Kakak menjemput kamu, kamu gak boleh keluar, ya," kata Echa. Dia bergegas turun ke lantai bawah menyambut kehadiran sang calon mempelai pria.
Bukan hanya Riana yang merasakan degupan jantungnya seperti tengah lari maraton. Aksa juga merasakan hal yang sama. Telapak tangannya sudah sangat dingin seperti es dan wajahnya nampak pucat karena sedikit takut.
Sekarang, Aksa sudah duduk di depan penghulu dan juga wali dari Riana, yaitu ayah kandung Riana.
"Bagaimana saudara Aksara? Sudah siap?" tanya pak penghulu.
Aksa pun mengangguk dan kemudian Rion menjabat tangan Aksa.
...****************...
__ADS_1
Sah?
Komen atuh lah ... Apa udah bosan?