Jodoh Rahasia

Jodoh Rahasia
Menjelang Pernikahan


__ADS_3

Aksa memutuskan untuk melakukan foto pre wedding di studio foto saja. Cuaca di luar sangat terik, dia tidak ingin kulit calon istrinya menggelap karena terkena sinar panas matahari. Berkali-kali Riana membujuk, tetap saja Aksa bergeming. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat.


"Jangan manyun terus dong," bujuk Aksa ketika Riana sudah cantik dengan riasannya.


Aksa menggenggam tangan Riana dengan dia bersimpuh di hadapan sang calon istri.


"Dengar Abang ya, Sayang. Pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Kamu tidak punya cukup waktu untuk perawatan. Jadwal kita tiga hari ke depan sangatlah padat. Jadi, Abang harap kamu mengerti. Abang melakukan ini semua supaya kulit kamu tetap terawat dan sehat."


Riana seakan terhipnotis akan perkataan manis calon suaminya. Ditambah penampilan Aksa yang luar biasa tampannya membuat Riana semakin terpesona. Betapa lemah hati Riana jika berhadapan dengan Aksa.


Ada tiga sesi foto, ada yang mengenakan pakaian formal, pakaian muslimah dan juga pakaian santai. Semua hasil jepretan sang photografer membuat Aksa melengkungkan senyum lebar.


"Kirim ke ponsel saya," titahnya.


Lengkungan senyum mengembang di bibir Aksa dengan mata yang fokus pada layar segiempat miliknya.


"Bang."


Riana sudah duduk di sebelahnya dan Aksa menunjukkan hasil foto pre wedding mereka.


"Bagus banget," ucap Riana.


Aksa merangkul pundak Riana, bibirnya mendarat di pipi Riana.


"You're so beautiful."


Riana pun tersenyum dan membalas mengecup pipi Aksa. "You're so handsome," bisiknya.


Jadwal hari ini sangatlah melelahkan, Riana memijat betisnya yang terasa sangat sakit. Mereka sudah kembali ke kantor WAG Grup.


"Maaf ya," ucapan Aksa sambil memberikan minuman kepada Riana.


"Gak apa-apa, Bang. Hitung-hitung training jadi istri Abang." Aksa pun tergelak mendengar ucapan Riana.


"Cepatlah hari Sabtu! Aku ingin segera memilikinya." Aksa berteriak dalam hati.


Baru saja Aksa dan Riana hendak pulang, seorang pria paruh baya menatapnya sengit di ambang pintu. Di belakangnya ada Denisa membuat Aksa malas meladeninya.


"Masuk! Biar saja jelaskan."


Dalam hal pekerjaan Aksa bagai cenayang, tanpa orang memberi tahu maksud dan tujuannya dia bisa cepat tahu niatan dari orang itu. Aksa menuntun Riana untuk duduk di kursi kebesarannya.


"Tunggu di sini, ya." Riana pun mengangguk.

__ADS_1


"Kenapa kamu memecat anak saya?" bentak ayah dari Denisa.


"Sudah jelas 'kan di sana ada keterangannya. Saya bukan orang bodoh yang akan memecat karyawan sembarangan," tegasnya.


"Asal kamu tahu saya ini ...."


"Teman dari almarhum Kakek Winarya," potong Aksa.


"WAG Grup memang perusahaan gabungan kakek Winarya dan juga Kakek Genta Wiguna. Akan tetapi, semua kepemilikan dipegang teguh oleh Kakek Genta Wiguna. Kakek saya sendiri pun tidak tahu siapa Anda. Jadi, jangan pernah mencari perkara dengan saya karena saya bukanlah orang yang baik."


Ayah Denisa pun tak berkutik ketika Aksa menyebut nama Genta Wiguna. Dia memasukkan Denisa pun karena mengancam Winarya.


"Saya harap Anda mengerti dengan ucapan saya. Jika, Anda merasa keberatan. Hubungi pengacara saya," tukasnya.


Aksa bangkit dari duduknya dan menghampiri Riana. "Kita pulang."


Ayah Denisa dan Denisa pun tercengang ditinggalkan di dalam ruangan direktur. Tak lama dua orang petugas keamanan mengusir mereka.


"Mau makan di mana?" tanya Aksa.


"Ri, ingin makan bakso, Bang. Ada bakso yang enak di sekitaran sini," ucap Riana.


Tanpa perlu beradu argumen, Aksa menyetujuinya. Riana pun menyunggingkan senyum. Setelah tiba di tempat bakso, Aksa membuka jasnya sebelum turun. Riana mengernyitkan dahinya.


Aksa terus menggenggam tangan Riana menuju kedai bakso. Riana merasa kesal karena semua mata perempuan tertuju pada Aksa.


"Kenapa sih, Yang?" tanya Aksa yang tengah mengaduk baksonya.


"Pengen aku siram pakai sambal mata mereka," gerutu Riana. Aksa pun tertawa melihat Riana cemburu.


"Ya udah bungkus aja kalau begitu," tawar Aksa.


"Gak enak," dengus Riana.


Aksa bangkit dari duduknya dan membisikkan sesuatu kepada pelayan kedai bakso. Kemudian, Aksa kembali menghampiri Riana dan segera menarik tangannya.


"Kenapa?" Aksa tidak menjawab.


Dia masih membawa Riana menjauh dari kedai bakso itu. Mereka masuk ke dalam mobil dan semakin membuat Riana mengerucutkan bibir. Namun, ketukan jendela membuat Riana menoleh. Ternyata Aksa meminta dibawakan bakso yang baru dan ingin menyantapnya di dalam mobil.


"Biar gak ada yang bikin kamu cemburu."


Setelah kenyang mereka memutusakan untuk pulang. Riana terlelap di dalam mobil menuju apartment milik Aksa. Sebenarnya Riana ingin tidur di kosan Fahrani, tetapi Aksa melarang dan akhirnya Riana menuruti saja. Tibanya di apartment, Aksa membopong tubuh Riana hingga ke lantai di mana unit miliknya berada. Dia meletakkan tubuh Riana dengan sangat hati-hati di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Selamat tidur, Sayang." Aksa mengecup kening Riana sangat dalam. Dia terpaksa harus tidur di kamar sebelah. Dia tidak ingin merusak Riana sebelum waktunya.


Pagi pun tiba, Aksa tidak tega membangunkan Riana yang masih betah bergumul di bawah selimut.


"Abang berangkat, ya." Aksa mencuri kecupan di bibir Riana sebelum pergi. Dia juga sengaja tidak membuka tirai agar Riana tidak terganggu dengan bias matahari.


Sebelumnya dia sudah menyuruh dua orang untuk menjaga Riana dari kejauhan. Aksa akan melakukan meeting di pagi ini sebelum kembali ke Jakarta untuk mengecek semua persiapan pernikahannya.


Jam delapan pagi, Riana baru membuka matanya. Suasana kamar yang gelap membuatnya merasa nyaman. Namun, ketika melihat ke arah jam dinding matanya melebar.


"Jam delapan," gumamnya.


Riana segera turun dari tempat tidur. Dia mencari calon suaminya, tetapi tidak ada. Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah catatan kecil di pintu lemari pendingin.


Abang ada meeting pagi ini. Kamu nikmati sarapan yang sudah tersedia di meja. Maaf, Abang tidak tega membangunkan kamu. Kamu terlihat lelah sekali. Love you.


_Calon suamimu_


Hatinya terasa sangat lega ketika membaca catatan tersebut. Riana memilih untuk mandi dan sekalian bersiap untuk ke Jakarta agar Aksa tak menunggu lama. Setelah selesai mandi, Riana membawa sarapan ke ruang tamu. Merasa bosan dan sepi dia menghidupkan televisi dan juga mengaktifkan ponselnya yang mati.


Telah terjadi kecelakaan lalu lintas tadi pagi sekitar pukul tujuh dua puluh lima menit di jalan utama menuju pusat kota Jogja. Dikabarkan satu orang meninggal dalam kecelakaan tersebut.


Riana mulai melihat ke arah layar televisi, matanya membulat ketika melihat mobil yang dia kenali. Mobil yang semalam dia tumpangi bersama Aksa sudah tak berbentuk.


Dari data yang kami terima, korban yang meninggal dari kecelakaan tersebut adalah seorang direktur utama dari salah satu perusahaan terbesar di Jogja.


Roti yang baru saja Riana pegang pun terjatuh. Matanya sudah merah, air matanya menganak.


"Pasti bukan Abang," gumam Riana.


Namun, ketika dia membuka ponselnya banyak sekali panggilan masuk dari keluarganya yang berada Jakarta. Termasuk calon mertuanya. Tubuh Riana sudah mulai lemas, hatinya sudah tidak karuhan. Dia mencoba menghubungi Aksa, tetapi tidak tersambung. Menghubungi Rani maupun Fahri pun sama juga.


"Abang."


Dia teringat akan kisah nyata teman kampusnya. Ketika tiga hari menjelang pernikahannya, calon pengantin pria dipanggil sang maha kuasa. Teman Riana pun menangis histeris dan terus pingsan tidak sanggup menahan sakit karena kehilangan.


"Enggak ... itu bukan Abang. Bukan," gumam Riana.


Riana bergegas ke kamarnya dan mengambil tas. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat orang yang dibawa pihak kepolisian ke dalam ambulance sama dengan postur tubuh Aksa.


"Itu bukan Abang." Air matanya pun menetes.


...****************...

__ADS_1


🤧🤧🤧


__ADS_2