
Wajah murka Fahri sudah terlihat jelas. Apalagi dia mendengar sendiri apa yang dikatakan Fahrani tadi. Api amarahnya sudah tidak terbendung lagi. Tanpa segan dia menarik tangan Fahrani hingga adiknya itu mengaduh.
"Sakit!" seru Fahrani.
Bukannya mengendurkan cengkeramannya, Fahri malah semakin mencengkeram keras pergelangan tangan adiknya.
"Kenapa lu selalu cari mati?" geramnya.
Tangannya terus mencengkeram pergelangan tangan Fahrani dan menyeretnya hingga keluar dari gedung WAG Grup. Fahri mendorong dengan kasar tubuh Fahrani ke jok
mobil. Ponsel Fahrani pun sudah di tangannya.
"Gua gak mau ke Jakarta!" tolak Fahrani.
"Sekuat apapun lu menolak, sehebat apapun lu bersembunyi, lu gak akan pernah bisa lepas dari Aksara!" ucap Fahri dengan emosi yang menggebu.
Di lain Negara seseorang sedang berjalan dengan napas turun naik. Dia sedang menahan amarahnya karena baru saja mendapat makian dari seseorang yang berada di lndonesia.
Brak!
Suara pintu didorong dengan sangat keras. Seorang wanita yang tengah memainkan ponsel di dalam kamar tersentak dan menatap bingung ke arah pria yang baru saja datang. Kedua alisnya menukik tajam. Baru saja dia hendak membuka mulut, pria itu sudah berucap, "ke Indonesia sekarang!" Kalimat yang penuh dengan penekanan juga kemarahan.
Deg.
Jantungnya terasa berhenti berdetak mendengar perintah itu. Wajahnya berubah pias dan terlihat jelas sorot ketakutan yang tak bisa disembunyikan.
"Gak mau," balas wanita itu dengan penuh penolakan. Dia memasang wajah biasa saja, walaupun pria itu tahu wanita di depannya tengah ketakutan. Pria itu semakin mendekat, dia menatap penuh kemurkaan wajah yang tidak mirip dengannya itu.
"Ke Indonesia atau aku lapor ke Papah?" ancamnya.
Nyali wanita itu pun menciut. Pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan untuknya. Dia hanya diam membisu. Tidak bisa menjawab pilihan yang diberikan.
"Kenapa kamu selalu memaksa? Sekarang kamu malah hampir membunuh Aska."
Mata wanita itupun melebar mendengar ucapan sang kakak. Dia tidak menyangka rencananya malah hampir membunuh orang yang dia cinta.
"Dia memiliki tameng yang sangat kuat. Kamu harus ingat itu!"
Tubuh wanita itu bergetar sangat hebat ketika mendengar kata tameng. Dia terlalu bodoh karena menyetujui perkataan wanita yang sama-sama menyukai Aska dan ingin menyingkirkan Jingga.
__ADS_1
"Tian ... bantu aku," pintanya dengan nada yang sangat bergetar.
"Aku tidak bisa membantumu, Tina. Aku akan menjebloskan pria itu ke dalam jeruji besi karena semua bukti kuat sudah Aksa berikan. Aku juga tidak akan menjamin kamu lolos dari jeratan hukum karena ini sudah tindakan perencanaan." Christian berlalu begitu saja meninggalakan adiknya.
Christian segera menghubungi wanita yang sudah berkerja sama dengannya. Namun, sambungan telepon itu tidak ada yang menjawab. Disambungan telepon yang ketiga kali barulah ada dijawab. Suara lelakilah yang menjawabnya. Christina terdiam.
"Rubah betina licik," ucap pria dari balikaasambungan telepon tersebut.
Christina tersentak mendengar ucapan itu. Seketika sambungan telepon pun diputus oleh Christina. Dia mengenali suara itu.
***
Aksa cukup lama berada di ruangan Aska. Sedari tadi dia menghubungi orang-orang yang bekerja sama dengannya. Raut tidak bersahabat Aksa tunjukkan. Sekitar jam satu siang, Aksa turun ke lantai bawah. Dilihatnya kafe adiknya itu sudah mulai rapih kembali. Seorang pria paruh baya menghampirinya.
"Sudah lima puluh persen, Tuan. Saya pastikan ketika menjelang malam semuanya sudah kembali seperti semula," tuturnya dengan sangat sopan. Aksa memberikan jawaban dengan sebuah anggukan. Kemudian, dia berlalu meninggalakan kafe tersebut.
Aksa sudah hendak membuka pintu mobil karena dia janji kepada istrinya untuk makan siang bersama. Namun, panggilan dari seseorang menghentikan gerakan tangannya.
"Pak Direktur!"
Aksa tahu siapa orang yang memanggilnya itu. Namun, dia tidak menoleh sama sekali.
"Pak, saya mohon ... Saya ingin tahu kabar Bang Aska," pinta Jingga dengan suara yang terdengar lirih.
"Maafkan saya," sesal Jingga.
"Maaf? Di saat semuanya sudah terlambat," balasnya.
Jingga semakin menunduk dalam mendengar ucapan dari Aksa. Dia merasa sangat bersalah karena dirinyalah Aska babak belur.
"Harusnya kamu sadar siapa yang memang benar-benar tulus." Aska membuka pintu mobil dan dia pun meninggalakan Jingga dengan mobil yang dia kendarai.
Ucapan Aksa membuat rasa bersalah di hati Jingga semakin besar. "Kenapa penyesalan harus datang belakangan?" lirih Jingga.
Di rumah sakit, Ken dan Juno tengah membahas perihal kafe. Mereka sedang berbicara masalah kerugian secara finansial. Seketika ponsel Juno berbunyi dan itu pesan dari karyawan Jomblo's kafe.
"Pak, kami disuruh pulang sama orang yang mirip dengan Pak Aska. Dia mengatakan bahwa kami besok sudah mulai bisa bekerja kembali. Semuanya akan kembali seperti sedia kala."
Dahi Juno mengkerut, dia menatap Aska yang sedari tadi hanya terdiam. Juno memperlihatkan pesan tersebut kepada Ken. Diapun dibuat terkejut ketika membaca pesan itu.
__ADS_1
"Aska, Abang lu ke kafe?" tanya Ken. Aska hanya menggedikkan bahunya menandakan tidak tahu.
"Aska, gua serius ini. Tadi salah satu karyawan kita bilang kalau Abang lu ada di sana dan menyuruh karyawan yang sedang membersihkan kafe untuk pulang. Besok mereka disuruh bekerja lagi. Gimana caranya coba?" tanya Juno berapi-api.
"Abang gua tinggal menjentikkan jarinya doang. Semuanya akan sesuai dengan ucapannya," balas Aska.
Ken dan Juno tercengang mendengar ucapan dari Aska. Siapa sebenarnya kakak dari Aska ini?
"Emangnya Abang lu Pak Tarno!" sergah Ken.
Aska tersenyum tipis mendengar ucapan dari Ken. Dia menatap wajah kedua sahabatnya itu.
"Dia bisa melakukan apapun. Bahkan melenyapkan lu berdua dalam waktu satu menit dia juga bisa," balas Aska dengan seringainya.
Ken dan Juno mulai waspada mendengar ucapan dari Aska. Apalagi melihat wajah Aska yang sangat berbeda. Mereka berdua saling lirik dan segera berlari ke arah Aska. Mereka menahan tubuh Aska dari arah kanan dan kiri.
"Sakit anyiing!" pekik Aska. Tangannya yang terluka malah dicengkeram oleh Juno.
Ken sudah meletakkan telapak tangannya di atas kening Aska.
"Saha ieu?" tanya Ken.
(Siapa ini?)
"Aing lain maung, Bagong!" sahut Aska.
(Gua bukan harimau, pig!)
Juno pun tergelak mendengar jawaban dari Aska. Seringnya bolak-balik Jakarta-Bandung membuat mereka mengerti sedikit demi sedikit bahasa Sunda. Meskipun, bukan bahasa sunda halus melainkan bahasa sunda kasar.
"Kehed siah!" geramnya ke arah Ken yang sudah ikut tertawa.
"Tah, ieu! Si Aska buaya rawa," ucap Ken.
(Nah ini! Si Aska buaya rawa)
Juno sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Aska juga Ken. Jujur, semalaman ini dia merindukan Aska yang banyak bicara. Setelah kejadian kemarin Aska menjelma menjadi manusia gagu. Aska terlihat seperti orang lain bagi mereka berdua.
Sebenarnya Aska tengah berpikir keras perihal Jingga yang bisa datang ke Jakarta. Dia ingin sekali memaki anak buahnya via sambungan telepon, tetapi dia tidak ingin kedua sahabatnya ini curiga. Dia juga sedikit bertanya-tanya tentang abangnya. Kenapa abangnya bisa tahu jika dirinya tengah berduel. Dia sangat yakin, ada campur tangan Aksa dalam kejadian ini.
__ADS_1
...****************...
Lanjut jangan?