
Di lain tempat, Aksa tertawa melihat sebuah video yang dikirimkan oleh orang suruhannya. Riana yang masih betah memeluk pinggang sang suami ikut melihat ke arah ponsel milik Aksa.
"Ck, kakar ipar Abang tuh," sungut Riana.
"Lah, Abang ipar kamu juga, Sayang," balas Aksa yang tertawa sambil mencubit pipi mulus sang istri.
Di mata adik-adik iparnya Radit memanglah kakak yang menyebalkan. Namun, dia juga memiliki kebaikan yang luar biasa.
Aska kembali ke rumah sakit dengan hati riang. Senyumnya terus mengembang. Semoga kejutannya membuahkan hasil yang memuaskan. Dia pun tak memikirkan ucapan sang Abang ipar laknat yang menyebut dirinya melamar wanita dengan cara dihutang. Toh, setelah ponselnya hidup dia akan mentransfer kepada Radit.
Tibanya di rumah sakit, dia segera naik ke lantai tiga di mana Jingga berada. Pintu pun terbuka, dia melihat seorang wanita yang tengah tertidur di pembaringannya. Terlihat ada jejak air mata yang membasahi wajah cantiknya. Tidurnya memang nyenyak, Aska yakin hatinya tengah gundah gelana karena terlihat beberapa kali dahinya mengkerut.
"Aku akan membahagiakan kamu," ucapnya pelan, seraya mengusap lembut rambut Jingga.
Jingga adalah perempuan yang jauh dari kata sempurna. Wajahnya tak secantik Riana, keluarganya pun Aska tidak tahu. Namun, Jingga mampu merebut hati Aska sedari masa putih abu-abu. Dia memiliki sesuatu yang sangat spesial yang tidak banyak orang ketahui.
Aska masih betah memandang wajah Jingga. Satu jam pun berlalu, Jingga belum membuka matanya. Aska menjelma menjadi manusia yang sabar. Selang sepuluh menit, Jingga terlihat mengerjapkan matanya. Bibir Aska pun terangkat dengan sempurna. Ketika posisi Jingga sudah setengah terduduk, Aska pun terduduk di samping kaki Jingga. Mata mereka berdua pun bertemu. Hanya tatapan datar yang Jingga tunjukkan. Berbeda dengan Aska yang sudah tersenyum penuh cinta memandang wajah Jingga.
Aska mencoba untuk tidak terburu-buru karena dia tahu nyawa Jingga belum sepenuhnya kumpul.
"Will you marry me?"
Sebuah kalimat yang keluar dari mulut Aska sembari tangannya memperlihatkan sesuatu yang sangat cantik, yaitu cincin yang baru saja dia beli. Dia pun sudah bersimpuh di samping ranjang pesakitan Jingga.
Tidak ada reaksi apapun dari Jingga. Flat saja, tidak ada keterkejutan ataupun kebahagiaan dari raut wajahnya. Mereka berdua hanya terdiam dengan saling menatap.
"Jingga ... Will you marry me?" ulang Aska lagi. Hatinya sudah berdegup sangat cepat. Tidak dipungkiri, ada ketakutan yang Aska rasakan karena sedari tadi Jingga tak merespon apapun.
"Jika, kalimat itu hanya untuk membuatku bahagia. Tolong cabut kembali ucapan itu," jawabnya. "Aku sudah terbiasa hidup dengan penuh kesendirian juga kesedihan," lanjutnya.
Jawaban Jingga mampu membuat Aska tersentak. Dia tidak percaya Jingga akan mengatakan hal tersebut.
__ADS_1
"Aku sungguh mencintai kamu, Jingga," terang Aska yang kini sudah mulai berdiri.
Jingga yang awalnya menatap ke arah Aska, kini meluruskan pandangnya ke arah depan.
"Aku ingin menikah dengan kamu," tambah Aska lagi dengan penuh keseriusan.
Bibir Jingga terangkat sedikit mendengar ucapan dari Aska. "Kita ini berbeda," sahutnya.
"Apa maksud kamu?" Aska benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jingga
"Aku bukan Mbak Riana yang cantik. Aku juga bukan anak dari keluarga berada. Kasta kita berbeda, Bang."
Jingga teringat akan ucapan sang ibu. Dia tidak ingin kejadian yang menimpa ibunya menimpa dirinya juga.
"Kenapa kamu harus berbicara seperti itu? Aku tidak peduli perihal itu," sergah Aska.
"Abang memang tidak perduli. Bagaimana dengan keluarga Abang?" tanyanya.
"Lebih baik Abang lupakan perasaan Abang kepadaku. Begitu juga dengan perasaan yang aku miliki untuk Abang." Kini, Jingga menatap ke arah Aska.
"Lebih baik saling menyakiti sekarang, selagi perasaan kita belum terlalu dalam," imbuh Jingga dengan mata berkaca-kaca.
Aska pun tak dapat berbicara. Tubuhnya mematung seketika. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang diucapkan Jingga.
"Aku tidak pantas untuk Abang. Siapalah aku?" tekannya.
"Kamu wanita yang Abang sayangi. Kamu wanita yang mampu merebut hati Abang," balasnya.
Jingga menunduk dalam mendengar ucapan Aska. Seketika air matanya menetes. Tangannya segera menyeka air mata dan dia mulai menegakkan kepalanya kembali.
"Kamu mencintai Abang juga 'kan?" Kini suara Aska sudah mulai sangat lemah.
__ADS_1
"Cinta itu akan hadir dan hilang seiring berjalannya waktu. Jadi, lupakanlah aku, Bang. Aku tidak pantas untuk kamu," pungkasnya. Aska terdiam, dia hanya bisa menatap wajah Jingga.
"Kamu laki-laki baik, pasti kamu akan mendapatkan perempuan yang baik pula," imbuh Jingga lagi.
"Aku hanya menginginkan kamu," ucap Aska.
"Lupakan aku, Bang. Dan simpan cincin itu untuk wanita yang pantas bersanding dengan kamu."
Seketika hati Aska luluh lantah mendengar ucapan Jingga. Hatinya sakit dan terluka. Berharap bahagia, tetapi inilah yang harus Aska terima. Ingin rasanya dia memaksa, tetapi dia tidak bisa.
"Baiklah!"
Sebuah kata yang menjadi balasan untuk perkataan Jingga. Aska pun memilih untuk balik kanan dan pergi keluar kamar perawatan. Ketika pintu tertutup, air mata Jingga terjatuh pada saat itu juga. Dia memang membohongi dirinya karena dia masih ragu akan ketulusan cinta yang Aska miliki. Ditambah ucapan ibunya yang masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Semoga keputusanku ini benar," gumamnya.
Aska tersenyum kecut ketika menutup pintu kamar perawatan. Hatinya sakit, dadanya sesak dan ingin rasanya dia berteriak sangat keras. Dia melihat ke arah tangan kanannya yang masih menggenggam erat kotak kecil berwarna merah hati. Mata Aska nanar memandangnya.
"Apa harus aku buang cincin ini?"
...****************...
Bagaimana kisah cinta Aska dan juga Jingga? Apakah mereka akan bersatu? Atau malah sebaliknya?
Nantikan kisah mereka berdua di judul yang berbeda.
Coming Soon.
Jangan tanya kapan terbitnya? Karena aku gak mau kalian malah fokus baca Bang Aska, dan Bang Aksa ditinggalin, pan sedih hati aku nantinya.
__ADS_1