
Plak!
"Jahat kamu! Ternyata kamu selingkuh!"
Pekikan suara seroang wanita membuat orang yang berada di food court tersebut menatap nyalang ke arah tempat duduk Aksa dan juga Riana. Aksa sudah memegang pipinya yang memerah, serta tatapan tajam diberikan oleh Riana.
"Ganteng-ganteng tukang selingkuh," bisik para perempuan yang tadi menatap kagum ke arah Aksa.
"Apa kurangnya aku dibanding wanita ini?" tunjuk perempuan berbaju seksi ke arah Riana.
"Bang ... ada apa ini? Coba jelaskan!"
Riana sudah membuka suara. Kobaran api sudah terlihat di matanya.
"Abang juga gak tahu, Sayang. Abang gak kenal sama dia."
"Berlagak bhego lagi. Kita itu sering jalan bareng, nongkrong bareng dan kamu juga udah nerima aku pas aku nyatain cinta ke kamu."
Ocehan perempuan itu bagai knalpot motor yang dibobok. Sangat nyaring dan tidak tahu malu.
Riana sudah berdiri dan hendak meninggalkan Aksa, dengan cepat Aksa mencegahnya.
"Abang serius, Sayang. Abang benar-benar gak kenal. Sebentar ...."
Baru saja Aksa meraih ponsel, siraman booba mendarat tepat di wajah Aksa. Kali ini mata Aksa memerah dan menatap marah ke arah perempuan tak tahu malu itu.
"Saya tidak kenal kamu! Jangan terus memancing emosi saya. Atau kamu saya laporkan ke polisi!"
Mata Riana membola melihat kemarahan Aksa. Ternyata Aksa adalah orang yang tak pandang bulu. Kepada wanita pun dia lawan.
"Silahkan mau lapor polisi juga. Aku gak takut," tantang si perempuan tadi.
Aksa meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Di mana lu?"
"Ada apa?"
"Gua tunggu lu di mall. Sekarang gua kirim lokasinya. Gak datang, gua tonjok lu!"
Api amarah masih berkobar di wajah Aksa. Riana hanya terus menatap wajah Aksa yang sedang dilanda emosi.
"Kamu juga tunggu di sini!" Suara tegas Aksa membuat nyali perempuan tak tahu malu itu ciut.
Wajah Aksa yang basah membuat Riana iba. Dia mengeluarkan tisu basah di dalam tas kecil yang dia bawa. Mengelap wajah calon suaminya yang terlihat sangat lengket.
"Cuci muka dulu, Bang." Aksa masih bergeming.
"Baju Abang juga basah," imbuhnya lagi.
"Nanti beli," jawabnya, pandangannya masih fokus pada layar ponsel.
Perempuan tak tahu malu itu menatap jengah ke arah sepasang manusia ini.
Masih bisa-bisanya mesra-mesraan di depan gua.
Seseorang terus bersungut-sungut ketika turun dari mobil. Mulutnya tak berhenti berkomat-kamit meluapkan kekesalannya.
"Food court-nya di lantai berapa sih?"
Dia terus melangkahkan kaki menuju food court. Langkahnya terhenti ketika dia melihat seorang pria yang tengah diapit oleh dua wanita. Dua wanita itu sangat dia kenali.
"Salah sasaran," kekehnya.
Pria itu melanjutkan langkahnya dengan santai dan duduk di depan mereka. Senyum merekah di bibirnya. Mata Riana dan wanita tak tahu malu itu memicing, sedangkan Aksa sudah menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Loh ...."
Wanita tak tahu malu menunjuk ke arah pria itu dan juga Aksa secara bersamaan.
"Kenapa? Sama?" sergah Aksa.
Tawa Aska pun pecah, melihat wanita di depannya kebingungan.
__ADS_1
"Kenapa lu? Bingung?"
"Jadi ...."
"Dia itu Abang gua, cicak-cicak di dinding," dengus Aska.
Wanita yang bernama Cica terkejut mendengar ucapan dari Aska. Kemudian, dia melihat ke arah Aksa yang sudah menunjukkan kemarahan yang luar biasa.
"Ma-maaf, soalnya ... wajahnya mirip."
"Bhang Sat lu berdua!" Aksa benar-benar geram.
"Gua tunggu lu di rumah!" serunya pada Aska.
Aksa membawa Riana pergi. Meninggalakan adik laknatnya dan juga wanita tak tahu malu.
Mulut Aksa terus menggerutu kesal membuat Riana terus mengulum senyum.
"Cuci muka Abang dulu. Baru ke toko baju."
Aksa bagai anak kucing, sangat penurut sekali. Dia melakukan apa yang diperintahkan oleh Riana.
Di food court, kembaran Aksa sudah melipat kedua tangannya berhadapan dengan Cica.
"Apa yang udah lu lakuin ke Abang gua? Sampai dia marah begitu," hardik Aska.
Cica terdiam, dia tidak mau menjawab. Semua orang tahu bagiamana jika Aska marah.
"Apa lu udah tampar dia?" Mulut Cica terbungkam.
"Diam lu gua anggap iya. Sekarang kita PUTUS!"
Aska melenggang begitu saja meninggalakan Cica yang tercengang. Bagi Aska, memutuskan hubungan dengan seorang wanita sangatlah mudah. Toh, dia menjalani hubungan tanpa adanya cinta. Hanya karena iba. Mereka yang memohon-mohon untuk menjadi pacarnya.
Riana membawa paper bag berisi baju kotor Aksa. Sedari tadi wajah Aksa ditekuk. Akhirnya Riana memutuskan untuk mengajaknya pulang.
Tibanya di rumah, Ayanda menatap heran ke arah sang putra sulung yang sudah berganti pakaian.
Riana menggelengkan kepala, menyuruh Ayanda untuk diam. Apalagi Aksa yang sudah berwajah datar.
"Pasti ulah si playboy tengik 'kan."
Gio sudah dapat bisa menebak. Apalagi, Riana menenteng paper bag toko ternama yang ada di dalam salah satu mall.
"Siapa lagi," jawab Aksa dengan sangat ketus.
Ayanda dan Gio tertawa mendengar jawaban dari Aksa. Inilah yang menjadi alasan kenapa Aksa enggan pergi ke mall. Selalu menjadi salah sasaran dari ke-playboy-an adiknya. Namun, entah kenapa malam ini dia sendiri yang mengajak Riana ke mall dan harus berakhir tragis seperti ini.
"Si Adek yang makan nangkanya, kamu yang kena getahnya," ejek Ayanda.
Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Aksa. Sial, sungguh sial hari ini.
"Kamu diapain? Ditampar? Atau disiram?" tanya Gio.
"Dua-duanya."
Tawa pun menggema kembali, Ayanda sampai memegang perutnya yang terasa sakit.
"Malang sekali nasibmu, Bang," ucap Ayanda sambut terbahak.
"Karma itu, Bang. Tadi, kamu nyuruh si Ziva minum racun serangga pakai es batu," kelakar Gio.
Dengusan kesal keluar dari mulut Aksa. Tak berselang lama, orang yang Aksa ingin caci maki datang. Siapa lagi jika bukan adiknya. Cengiran khas terukir di wajahnya.
"Jangan kayak kuda lu! Cengar-cengir gak jelas," sungut Aksa.
Kedua orang tua si kembar hanya menjadi penonton saat ini. Tidak ingin melerai dan membela siapapun. Mereka berdua sedang bernostalgia melihat pertengkaran si kembar yang sudah sepuluh tahun terakhir sangat jarang terjadi.
Aksa menyerahkan selembar kertas kepada adiknya. Mata Aska melebar ketika melihat apa yang Aksa tulis.
"Eh, gila lu ya, Bang! Ganti rugi semahal ini."
Aska benar-benar murka melihat nominal ganti rugi yang Abangnya inginkan.
__ADS_1
"Kebeli mobil satu ini," lanjut Aska lagi.
"Gak usah ngedumel. Bekas tamparan cewek si Alan lu aja masih panas nih."
Aksa memamerkan pipinya yang memang masih merah.
"Udah jadi mantan," balas Aska.
"Bodo amat! Gua pengen lu cepat ganti rugi," desak Aksa.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aska.
"Atuh lah Bang ... jangan segitu dong. Kasihanilah adikmu ini."
Aska mulai memasang wajah memelas, tetapi tidak dapat membuat Aksa iba.
"Cepatan Askara!"
Suara Aksa sudah menggema. Jika, sudah begini nyali Aska pun menciut.
"Mom ... Dad ...."
Aska mulai mencari pertolongan kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, kedua orang tuanya hanya mengangkat bahu. Decakan kesal pun keluar dari mulutnya.
"Diskon atuh, Bang. Jangan segitu," tawar Aska.
"Mau lu berapa?" Aksa sudah mulai luluh membuat seringai tipis muncul di bibir Aska.
"Sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen."
"Bhego! Itu sama aja gratis!"
Tawa Aksa dan yang lain pun pecah mendengar perdebatan mereka berdua. Riana baru mengetahui sisi lain dari Aksara. Perpisahan mereka selama hampir lima tahun membawa banyak perubahan pada diri Aksa.
"Cepetan ih! Kirim ke nomor rekening itu." Aksa sudah mulai memaksa.
"Bawel lah! Besok malam deh baru gua kirim. Gua mau ngepet dulu. Lu kira duit seratus juta sedikit."
Mulut Aska sudah berkomat-kamit bagai Mbah dukun. Namun, Aksa sudah tidak sabaran dan memiting kepala Aska hingga adiknya mengaduh.
"Ketek lu bau, Bang!"
"Biarin! Cium sampai lu puas."
Ayanda dan Gio hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku putra kembar mereka. Meskipun sudah dewasa, tetapi kelakuan masih seperti anak-anak.
"Cepetan!"
Aksa semakin keras memiting kepala Aska hingga Aska menyerah.
"Iya nih, gua transfer. Lepasin!"
"Punya Abang perhitungan banget," gerutunya setelah kepalanya terlepas.
Aska membuka m-banking di ponselnya. Dia mengetikkan nominal. Namun, Aksa segera menggeplak kepala adiknya.
"Itu seratus ribu, bukan seratus juta!"
Aska malah tertawa, dia senang sekali menggoda sang abang. Apalagi, sampai membuatnya marah.
"Nih udah," tunjuknya pada Aksa.
Aksa hanya mengangguk. Akan tetapi, notifikasi itu masuk ke ponsel Riana. Mata Riana membulat ketika mendapat laporan dari internet banking miliknya.
"Sengaja, itu emang buat kamu."
Belum juga Riana membuka suara, Aksa sudah terlebih dahulu mencela. Sedangkan Aska sudah menganga.
"Cowok gak modal!" umpat Aska.
...****************...
Jangan lupa komen ....
__ADS_1